Gangguan Emosi Mental Jadi Ancaman Serius Generasi Muda Indonesia

Jakarta – Liputan68.com – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengungkapkan Mental Emotional Disorder menjadi salah satu dari tiga ancaman yang dialami generasi muda Indonesia.

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo menyebutkan ada tiga ancaman utama terhadap generasi muda Indonesia. Ketiga ancaman tersebut adalah stunting, Mental Emotional Disorder serta disabilitas dan narkotika.

“Ketiga hal ini yang menjadi ancaman untuk mencapai generasi muda Indonesia yang unggul,” katanya dalam sambutan peringatan ke-29 Hari Keluarga Nasional (Harganas) tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Rabu (29/06/2002).

Menurut Hasto, berdasarkan riset kesehatan dasar, Mental Emotional Disorder atau gangguan emosi mental di kalangan remaja dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan.

Tahun ini kata dia berdasarkan data, remaja yang mengalami gangguan emosi mental meningkat menjadi 9,8% dari sebelumnya 6,1%.

“Ini cukup serius untuk menjadi perhatian kita semua, bagaimana mencapai generasi muda yang unggul untuk masa depan Indonesia,” tuturnya.

Selanjutnya Hasto menyebutkan, perilaku remaja-remaja yang brutal dan mudah terpancing untuk bertindak kriminal, juga akibat dari Mental Emotional Disorder.

“Mohon maaf ini, perilaku klitih di kalangan remaja di Yogyakarta, kemungkinan indikasinya dari Mental Emotional Disorder. Meskipun ini angka peningkatan secara nasional,” ujarnya.

Hasto menjabarkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan gangguan emosi mental adalah gangguan keseimbangan pribadi secara klinis, gangguan pengaturan emosi dan perilaku. Hal ini biasanya dikaitkan dengan adanya tekanan kepribadian.

WHO juga menyatakan pada 2019, satu dari delapan orang atau 970 juta orang di seluruh dunia mengalami mental disorder.

Hasto juga menyebutkan angka perceraian di Indonesia mengalami peningkatan tajam dari tahun ke tahun. Berdasarkan data statistik, angka perceraian pada 2015 jumlahnya sekitar 350 ribu pasangan keluarga yang bercerai.

“Tetapi pada tahun 2021, jumlah yang bercerai meningkat menjadi 580 ribu. Jadi perlu jadi perhatian ada sekitar 580 ribu anak-anak yang kurang mendapat perhatian dari orang tuanya akibat broken home,” katanya.

Karena itu Hasto menekankan, perlunya membangun keluarga yang berkualitas untuk mencapai generasi muda Indonesia yang unggul dan maju.(SS)

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *