Pernyataan Nasmur didukung oleh Syahriani Jarimollah, guru penggerak lain di SMPN 7 Makassar. Guru yang akrab dipanggil Ani ini mengungkapkan bagaimana menjadi guru penggerak mengubah pola pikirnya.
Sembilan bulan pendidikan guru penggerak, membentuknya memahami bagaimana cara memperlakukan murid, teknik membuat anak kembali ke ruang belajar, dan bagaimana membuat orang bergerak bersama tanpa disuruh atau dipaksa.
“Saya sebenarnya memaksa, tapi mereka tidak merasa dipaksa,” ujar guru matematika ini.
Program guru penggerak yang diterapkan Ani dan Nasmur di SMP N 7 Makassar salah satunya adalah dengan membawa siswa ke luar ruang kelas. Kegiatan yang disebut outing ini, kata Ani, terbukti mempercepat peningkatan semangat anak untuk kembali belajar setelah dua tahun belajar dari rumah. Anak-anak dibawa untuk mencari ilmu baru di tempat-tempat yang berada di luar sekolah.
“Dibawa ke tempat pembuangan sampah untuk belajar membuat pupuk kompos saja mereka sangat senang,” katanya.
Dalam kurikulum merdeka, 25% waktu pembelajaran dilakukan dengan kegiatan di luar kelas atau proyek. Anak-anak dapat mengerjakan tugas atau proyek dari gurunya dengan mencari tahu langsung di lapangan.
Kegiatan seperti ini, kata Ani, adalah bentuk layanan guru kepada siswa yang diibaratkannya sebagai pelanggan.
“Kami guru ini tidak akan ada kalau tidak ada siswa. Siswa itu pelanggan kami yang harus kami puaskan,” tutur Ani.
Menurut Ani, kebutuhan alat dan sarana dalam pembelajaran selama ini begitu membelenggu guru untuk berkreativitas. Setelah menjadi guru penggerak, pola pikirnya berubah menjadi berbasis aset. Pembelajaran tidak berhenti karena alat dan sarana tidak tersedia, namun setiap aset yang ada di sekitar bisa jadi alat atau sarana pembelajaran.
“Jangan sampai kalau ada masalah yang tidak ketemu solusinya kita berhenti, justru manfaatkan aset yang ada untuk berkreasi,” jelasnya. Tidak hanya siswa yang dibimbing untuk berdiferensiasi, tetapi juga guru.
Untuk proyek penguatan profil pelajar Pancasila, Ani keluar dari jalur basis pendidikannya yaitu matematika, untuk memfasilitasi siswa pada proyek suara demokrasi dan kearifan lokal.
Ani membimbing anak didiknya untuk mengenal bahasa adat di salah satu daerah Sulawesi Selatan yang disebut kelong.
“Saya mengajar matematika, tapi proyeknya bukan sains, karena saya sadar guru juga perlu berdiferensiasi,” pungkasnya.(SS)
