Tapi kini, ada yang awak rasakan perubahan itu
terutama membaca koran, apalagi menulis
(apakah itu esai, opini dan sesekali puisi) tak lagi tertarik. Padahal, awak tahu itulah cara-cara
(menurut pandangan tertentu) mempublikasi pikiran-pikiran dan karya-karya.
Perubahan ini sebenarnya sudah mulai muncul
sejak akhir reformasi, atau persisnya awal tahun 2000-an. Walau aktifitas membaca masih ada. Aktifitas diskusi ada, tentu memilih milah tema yang menarik. Ke perpustakaan masih sering. Belanja buku (tertentu) masih terus. Kadang-kadang aku bertanya, “Mengapa demikian?”
Selanjutnya juga prihal tempat berkiprah dengan kawan yang berbeda latar belakang agama, budaya dan status sosial dan ikut merintis berdirinya wadah guyub bersama ini, seperti Kelompok Studi Padang Bulan (belakangan berubah nama jadi Komunitas Sastra Padang Bulan), Komunitas Taman, Komunitas Beranda,
dan Budaya Hijau Indonesia. Tetap untuk Medan.
Sedikit Tentang Komunitas Taman
Persentuhan dengan banyak orang yang dengan latar belakang budaya, agama, status sosial dan profesi yang berbeda ternyata memberi kekayaan batin tersendiri. Dengan mengenal dan memahaminya melalui “titik temu” tanpa menafikan “titik tengkar” adalah sebuah dinamika pergaulan yang nyaris tak membawa diri ke dalam interaksi yang antisosial.
Sampai hari ini, aku masih ingat setidaknya inilah gagasan awal dari Komunitas Taman
yang pernah ada di kota Medan.
Dengan cara mengembangkan tikar di taman-taman kota pada Sabtu petang dalam dwibulanan kawan-kawan datang berkumpul. Para inisiator partisipan duduk bersila di taman kota. Mulai dari mahasiswa hingga guru besar. Mulai dari juruwarta hingga penulis bebas. Mulai dari budayawan, agamawan dan birokrat hadir sebagai warga kota.
Sempat hampir dua tahun mengkhususkan diri membincangkan tema yang fokus pada Kekerasan dilihat dari berbagai dimensi kehidupan dalam konteks kota. Kadang nyaris bersentuhan juga dengan tema konflik-konflik di ruang publik antara kepentingan pribadi/kelompok berhadapan dengan kepentingan umum (publik). Yang kesemuanya itu dibincangkan dalam suasana santai dan nyaris melahir banyak anekdot.
Selanjutnya, komunitas taman mencoba menurunkannya menjadi aksi-aksi budaya dan lingkungan. Melepas burung merpati di taman kota dan menanam pohon. Tentu ini kegiatan positif buat menumbuhkan semangat keberanekaan warga kota, Tanpa kepentingan individu, golongan dan identitas apapun. Kecuali semangat kebersamaan yang tumbuh dari masing-masing yang hadir.
Persaudaraan dan kebersamaan. seperti sebuah taman dengan beraneka tanaman. Begitu juga warni-warni puspa dan aroma. Sayang..sepertinya ia hilang tanpa bayang-bayang. Ia pergi tak pernah pulang untuk sekadar saling bersulang. Harapannya kecil tapi tetap ada dan berulang. Semoga tak sampailah tergerus oleh arus deras politik identitas.
Kapan ya bisa kita ulang?
SELAMAT HUT KOTA MEDAN KE-432
1 JULI 2022
Kota tempat awak berguru dan menjadi guru.
Kota tempat awak cari makan seharian sejak umur belasan,
Kota tempat awak belajar hidup bersama dengan
kawan, tetangga dan keluarga yang berbeda keyakinan dan kepercayaan,
Kota tempat awak dilatih punya pendirian dari sekadar mencari nyaman dan aman tentang hidup,
Kota tempat awak yang sempat lulus jadi wartawan, tapi tak ingin kulanjutkan,
Terakhir kota yang memberi kesempatan kepada awak menanam sebatang dua batang pohon, melepas ikan dan burung merpati di taman kota, sekadar ingin melihatnya tetap hijau. Kini aku kembali mengayuh sepedaku meninggalkan kota ini ingin lelap di Deli Serdang.
Salam rinduku buat Pak Walikota
Semoga Medan menjadi kota yang terpandang
Medan, 30 Juni 2022
Oppungleladjingga

