Medan – Liputan68.com – Gangguan dan kerusakan saraf, kini tidak hanya berisiko menyerang orang usia lanjut atau yang memiliki penyakit kronis seperti diabetes.
Anak muda usia produktif pun banyak yang mulai mengalami gejala gangguan dan kerusakan saraf tepi atau neuropati. Gejala awal yang paling sering dirasakan ialah kesemutan, pegal, kram, dan kebas.
Hal ini tentu saja tidak lepas dari kebiasaan dan gaya hidup anak-anak muda yang sering melakukan berbagai aktivitas yang berisiko merusak saraf-saraf tepi.
Berdasarkan hasil survei Consumer Behavior dari Merck yang mengikutsertakan 900 responden di 6 kota besar, ditemukan bahwa orang dengan rentang usia 26 – 30 tahun merupakan yang paling tinggi mengalami gejala neuropati, diikuti dengan orang berusia di atas 30 tahun. Lebih dari 50% terjadi di kota besar.
Kebiasaan sederhana yang sering dilakukan seperti mengetik di gawai bisa menjadi penyebab utama munculnya gejala neuropati (61,5%). Selain itu, melakukan gerakan yang berulang, duduk dengan posisi yang sama dalam waktu lama, mengendarai motor dalam jarak jauh, dan mengetik komputer dengan meletakan tangan di atas tetikus, bisa menyebabkan munculnya rasa kebas dan kesemutan.
Dokter Spesialis Saraf, Manfaluthy Hakim, mengatakan bahwa neuropati akan memberikan ketidaknyamanan dalam beraktivitas sehari-hari. Gejala awal tersebut harus diantisipasi, sebab, jika terus dibiarkan, bukan tidak mungkin gejala-gejala yang terlihat ringan tersebut dapat menyebabkan kelumpuhan.
“Gejala kebas dan kesemutan ini sering kali diabaikan. Padahal jika dibiarkan terus dapat menurunkan fungsi saraf seperti hilangnya sensasi rasa dan gerak hingga kecacatan permanen. Apalagi jika kerusakan saraf sudah lebih dari 50% itu akan sulit untuk diperbaiki,” ujarnya.
Salah satu contoh kerusakan saraf ialah Carpal Tunnel Syndrome (CTS), penyakit yang terjadi di pergelangan tangan karena saraf yang tertekan dan menimbulkan gejala nyeri, mati rasa, dan parestesia (kesemutan atau seperti terbakar). Saraf yang tertekan adalah saraf median yang terentang antara lengan bawah dan telapak tangan di dalam lorong karpal.
“Ini terjadi karena kebiasaan mengetik dan memegang mouse dalam jangka waktu lama dengan gerakan yang berulang,” tuturnya.
