“Jembatan Tanpa Besi”

Selama ini, jembatan Titi Besi sudah menjadi penghubung lintas kabupaten bagi masyarakat. Sebab jalur alternatif Lubuk Pakam–Tebing Tinggi itu dulunya sangat primadona dilalui. Yakni sebelum ada jalan tol Medan-Tebing Tinggi. Bahkan hingga kini bagi truk-truk bertonase sedang dan tinggi. Lebih suka melewati jalur dimaksud ketimbang masuk tol. Alasannya, tarif tol dinilai selangit.

Selain melintas, banyak truk yang mengangkut material pasir dan batu (sertu) dari kedua daerah tersebut. Sehingga Jembatan Ular berperan amat besar bagi aktivitas bisnis. Konektivitas, mobilitas, dan perekonomian masyarakat tentu sangat terganggu bila infrastruktur itu rusak.

Tahun lalu pada 28 Juni, seingat saya lagi, ada permintaan dari camat Serbajadi untuk perbaikan jembatan. Ke Pemerintah Provinsi Sumut melalui Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi (BMBK). Perbaikan jembatan tersebut dimulai dari 27 Oktober sampai 10 November. Selama pengerjaan infrastruktur hampir dua pekan itu, jalan pada titik tersebut ditutup sementara. Dialihkan ke jalan yang sebelumnya saya jelaskan.

Perkembangan anggaran yang saya ikuti di Pemprov Sumut, Gubernur Edy Rahmayadi dan wakilnya, Musa Rajekshah (Ijeck), telah alokasikan buat pembangunan jalan, jembatan, dan saluran drainase secara jamak. Mulai 2022 hingga 2024. Angkanya fantastis: Rp 2,7 triliun.

Berdasarkan data Dinas BMBK Sumut, ada sekitar 580 km jalan provinsi dengan status rusak total. Namun dana Pemprov Sumut sebesar Rp 2,7 triliun itu, hanya bisa dimaksimalkan untuk 450 km atau 81% dari total jalan yang rusak. Sepanjang 450 km yang akan dibangun dan ditingkatkan terdapat 250 km yang masih jalan tanah. Sedangkan untuk drainase, Pemprov Sumut akan membangun sepanjang 71 km dan jembatan sebanyak 20 titik.

“Kami optimis pekerjaan ini bisa selesai tepat waktu, dan akhir 2022 bisa tercapai 33%,” kata Bambang Pardede, Kepala Dinas BMBK Sumut kepada media belum lama ini.

Lantas sisa 67% lagi, menurut Bambang, ditargetkan selesai akhir 2023. Ia tegaskan, di 2022 ini anggaran telah tersedia sebesar Rp500 miliar, sisanya dianggarkan tahun depan senilai Rp1,5 triliun dan akhir 2024 sebesar Rp 700 miliar.

Proyek prestisius Edy-Ijeck ini, sebelumnya telah dimulai alias di-groundbreaking. Tepatnya di Desa Suka Makmur, Kutalimbaru, Deli Serdang, 27 Juni lalu. Di Suka Makmur jalan yang akan dibangun sepanjang 12 km ditambah jembatan. Jalan ini akan menjadi jalur alternatif yang sejajar dengan jalan utama Medan-Berastagi. Jalan di Desa Makmur juga termasuk prioritas utama karena Berastagi merupakan kawasan pariwisata unggulan Sumut.

“Kita maunya semua, tetapi dana sampai 2024 yang kita miliki Rp2,7 triliun dan itu hanya bisa untuk 450 km, jadi kita harus memilih yang prioritas. Ke depan kita akan selesaikan semuanya,” kata Gubernur Edy Rahmayadi.

Jalan sepanjang 450 km yang dibangun dan diperbaiki ini tersebar di 33 kabupaten/kota (kecuali Labusel). Ada tiga skala prioritas pada pembangunan jalan, drainase dan jembatan ini yaitu jalan strategis pariwisata unggulan, jalan penunjang prioritas nasional dan usulan kepala daerah.

“Labusel tidak termasuk karena di sana tidak ada jalan berstatus provinsi,” kata Edy Rahmayadi.

Semoga saja dari sekian titik jembatan yang mau dibangun atau diperbaiki itu ada ‘jatah anggaran’ untuk Jembatan Titi Besi. Setidaknya dapat ditampung di Perubahan APBD Sumut tahun ini juga. Mengingat jembatan ini juga memiliki multi efek bagi perekonomian masyarakat Sumut. Dan perbaikannya tahun lalu pun, melalui PAPBD Sumut. Jangan sampai nama jembatan itu tak sesuai dengan kondisinya lagi: Jembatan Tanpa Besi! (*)

TEKS FOTO

RUSAK: Sejumlah warga tampak sibuk mengarahkan pengendara yang mau melintas di Jembatan Titi Besi, perbatasan antara Kabupaten Deli Serdang dan Sergai, yang kini dalam kondisi rusak, Minggu (21/8/2022). PRAN HASIBUAN

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *