Kehadiran Logee Efisiensikan Proses Operasional di Terminal Peti Kemas

JAKARTA — LIPUTAN68.COM — PT Telkom Indonesia Tbk (Telkom) melalui Leap menghadirkan platform digital Logee untuk dapat mendigitalisasi ekosistem logistik.

Logee diinisiasi untuk dapat memberikan solusi terkait ekspor-impor menjadi lebih efektif dan efisien melalui pemanfaatan teknologi digital.

Ekosistem digital yang dihadirkan Logee juga sejalan dengan cita-cita pemerintah untuk menurunkan biaya logistik nasional, yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 18 tahun 2020 Tentang Rencana Aksi Penataan Ekonomi Logistik Nasional.

Sejalan dengan itu, upaya ini guna memenuhi amanat menteri BUMN RI untuk mengakselerasi ekosistem digital tanah air.

Diketahui saat ini, biaya logistik di Indonesia mencapai 26% dari Produk Domestik Bruto (PDB), dengan rata-rata biaya logistik di negara sekitar sebesar 13%.

Direktur Digital Bisnis Telkom, Fajrin Rasyid mengatakan bahwa upaya Telkom dalam mengakselerasi ekosistem digital logistik terkhusus di pelabuhan saat ini, telah mengubah proses konvensional menjadi digital secara paperless yang lebih sederhana dan transparan untuk mengurangi cost operational logistics PPJK.

“Saat ini, Logee telah terintegrasi dengan Terminal Peti Kemas NPCT1 (New Priok Container Terminal One), TPK KOJA, National Logistic Ecosystem (NLE), dan yang terbaru yaitu JICT (PT Jakarta International Container Terminal),” ujar Fajrin.

Menurutnya dengan digitalisasi, pemerintah berharap biaya logistik bisa ditekan hingga 17% pada 2024 mendatang.

“Telkom sebagai BUMN dengan fokus penguatan digital, memiliki tanggungjawab untuk mengakselerasi ekosistem digital ini,” pungkas Fajrin.

Pengurusan gate pass di pelabuhan sudah menjadi kegiatan operasional sehari-hari oleh Pemilik Barang atau PPJK.

Pemanfaatan teknologi juga sudah merambah di terminal pelabuhan dikarenakan sudah menggunakan Terminal Operating System (TOS).

Meski begitu, pemesanan truk untuk pengiriman kontainer masih cenderung sulit dan lambat, karena harus menghubungi pemilik truk satu per satu guna memastikan ketersediaan. Terlebih lagi, ketika kontainer sudah diangkut dalam truk, pemilik barang tidak dapat memantau lokasi truk secara real time.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *