Filosofi Meja Makan

Begitu juga di tempat ini mereka dididik menghargai nasi dan mendoakan petani agar tetap sehat dan terus bisa bekerja dengan cara tidak menyisakan nasi di pinggan agar ia tak menangis karena disia-siakan. Di sini juga bagaimana nasi “dihormati” sebagai makanan utama pulau ini tanpa perlu menggantinya dengan spaghetti atau semacamnya yang terasa asing di lidah.

Mereka juga menjadi mengerti semua yang dimakan itu sumbernya harus bersih. Jangan sampai sekali pun datangnya dari hasil mencuri, apalagi korupsi. Biar hidup dengan apa adanya dan kerja dengan keringat sendiri tentu lebih terasa kenyang daripada memburu uang tapi lupa makan dan lupa kumpul di tempat ini untuk saling bertatapan sebagai warga dari rumah dan keluarga.

Tempat ini juga sebagai tempat privat menurunkan ajaran kebijaksanaan kepada mereka dalam menjalankan kehidupan dan menjaga persahabatan dan keluarga. Menghargai perbedaan dalam berteman dan menahan diri untuk merasa paling benar. Sampai membicarakan kawan pilihan hidup mereka hingga membina keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Ialah ruang makan yang merangkap dapur dan meja makan yang merangkap meja “belajar hidup” dalam keluarga saya.

Sebagai ayah dari anak-anak, aku suka mendengar sembari mengajarkan cara-cara alternatif ketika menghadapi permasalahan keluarga dan pekerjaan yang selalu dihadapi baik dalam keluarga anak-anakku maupun dalam keluarga kami. Bagi kami mencari solusi jauh lebih penting ketimbang mengungkit-ungkit masalah. Ya di tempat ini juga. Hanya empat kursi dan satu meja.

Oppungleladjingga
26 September 2019

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *