Tanpa Judul

(2) Kepada Laut-Mu

entah laut-Mu yang membuatku terpaut
Kusebut pada angin. Gelombang mencari pantai hendak menghela. Siapa yang memukau?

Pasir putih tempat berkaca, matahari telanjang
di hadapan siang, nyiur melambai-lambai
sepanjang pantai segara-Mu membuka rasa
rasa cemburu camar pada jermal
yang membuatku seperti sampan
tak mampu mengubah rindu
anak-anak laut
pada cangkang kepah, cucut
entah lautMu yang membuatku jadi begitu larut

8 Mei 2016
Oppungleladjingga

(3) Pasang Mati

Kulabuhkan sampan mendekat dermaga
Tiang-tiang merapuh, tali kutambat
ujung senja memerah di kaki langit sana

Laut itu sempat jadi tempat kita bicara
Tentang ombak, pasang yang berkali-kali datang
Angin yang kencang memaksa haluan berpaling

Sepenggal waktu telah mengoyak rindu
Pulang ke tanah asal yang terlupa
Ibu yang melahirkan kata sewaktu menyusu aku

Nyanyian ratapan mengumandang
Anak-anak sudah tak mengenal kampung neneknya
Menjadi asing di tanah ayah ibunya

Pasang laut terus berulang, musim berganti
Kemana hendak mengayuh sampan?
Angin selalu tak pasti membawa gelombang bimbang

Deli, 25 April 2018
Oppungleladjingga

(4) Padahal Pasang ‘kan Naik

Kemana angin
Sembunyikan ombak petang
Padahal pasang ‘kan naik?

Menatap ke laut lepas
Namun tak terlihat riuhmu menari

Mengayun-ayun sampan nelayan
Dan jejaring jermal selepas pantai
Kemana sapa sendaguraumu?

Yang kunanti ketika kau menghempas diri
Di batang-batang dan akar bakau

Hari ini sepertinya pasang ‘kan naik
Pupus rasa tiba menghela
Tapi tiada mengada

Mengapa kau tak jua berada?

Bukan pula janji semesta
Ketika samudera mengulum senyum
Riak gelocak ombak yang mengabar

Sampaikan pada daun angin tak selalu merayu
Walau ombak tak beranjak pulang
Pasang mengendap-endap datang

Mengapa?

Kulihat bakau telah merindu
Sapa lembut angin yang membawa
Kekasihnya ombak mendendang jerambai

Angin tak jua tiba, ombak hampir tiada
Pasang datang, paluh-paluh meninggi
Melarung sampan ke ujung hutan nipah

Ombak, izinkan aku pulang!
Bolehlah aku menanam barang sebatang
Agar jadi kenangan

Oppungleladjingga
April 042010. 20.57

(5) Sedalam Lautkah?

Kutambatkan sampan
di tiang penyangga dermaga tua
Aku hendak mengingat-ingatmu

Dalam lautmu
: engkau datang dari muara
tempat mengalir segala sungai.
tempat berdiam segala warna
tempat bertarung segala rasa
di hulu yang hening

Sering di antaranya hanyut patahan ranting
Pepohon waktu
Hingga ke hilir arus yang menderas

Bimbang datang mengulang
Lalu keruh, mengalir lumpur
Mengendap jadi delta
Lautmu kehilangan rasa

Bau garammu menjadi payau di paluh-paluh
Ikan-ikanmu menjadi takut di dua alam
Lautmu tak lagi seperti samudera

190415
23.30 tengah malam
Oppungleladjingga

(7) “Akulah laut! Akulah laut!” sahut Sang Pemungut

laut surut. pasir mengerut. anak-anak riang melempar cangkang. bermain perang
dan menari sembarang-sembarang
di pasir beting petang. kilau
mentari memantul dari pecahan beling ke dinding sampan yang bertaut pada tiang-tiang. angin memagut rerumput lembut, terbang lalu hinggap ke pucuk ketapang. mengajaknya berdendang hingga ke ujung petang.

biru langit sedikit sempit dikepit awan putih silih beralih. deru gelombang sayup-sayup terdengar nun jauh melabuh
jejak laut terbayang di sudut-sudut
tepi, sang sepi. cucut sembunyi. anak-anak mencari sambil bernyanyi menjauh dari tepi
menjemput sampan yang sengkarut di tengah pasir yang mengerut. apa yang hendak diturut? angin laut pun renggut pucuk bakau yang menghalau. mereka yang bertelanjang kaki, lari mencari.
memapah kepah dalam kantong daun nipah.

sayang, pasang akan datang sebentar lagi hingga jauh ke tepi-tepi
cangkang, cucut akan direbut laut
hingga petang bersungut. malam pun larut. “akulah laut.. akulah laut..akulah laut,” sahut sang pemungut kepah, cangkang dan cucut

Beting, 12.11.15
Oppungleladjinggaku

(7) Selaut Harap Pulang ke Ujung Selat

sebab gunung-gunung aku tersanjung
takkan di laut lamunanku silang sengkarut

kepada langit mendung senja terkurung
ingin kupetik senar agar bunyi gitar bergetar

mengiring lagu deruan ombak
dan sayup-sayup tawa anak-anak

menanti senja tiba
perempuan memanggang ikan di atas bara

asap membawanya penuh selera
di tapian nauli terpaut rindu hatipun surut

sebab gunung-gunung aku merenung
takkan dari bunian terawang jiwa ditenung

bukan karena laut yang membawaku larut
wangi sombam sekalangan selera terpaut

kepada kelam langit rindu birahiku bangkit
bertandan-tandan memerah buah sawit

andai pun kausangkakan kayuh sampan
mungkinkah sampai ke depan angin senja?

adalah haru yang membuatku cemburu, sebab rambutmu itu yang sebahu

tetapi kuhalau rasa ragu yang datang memburu
kepadaMu aku memulangkan segala puja-puji

Engkaulah mahapencipta segala rindu
ketika tiba aku bersujud padamu sang waktu

Kalangan, Sibolga
7.5.2016
Oppungleladjingga

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *