(3)
Seteguk, Turun Minum
andaikan nusantara itu
hamparan sawah
yang mulai berbuah
di dusun tunggurono
rambutan merah
yang manis
lekang tak berair
di kampung tanjung
jembatan panjang
yang melintang di atas
sungai wampu yang tenang
bunyi sentuhan angklung
rampak akordion kecik
seketika melantun tanjung katung
gaung harmoni kehidupan
dari balik rumpun-rumpun aur
di huta tinggi
tarian kipang, kerang dan kepah
di pangkalan biduk
pasir putih serdang bedagai
aku akan bangun lebih pagi
menjaga embun setiap hari
agar tak jatuh karena terik matahari
sunday bike
dusun tunggurono
24082014
(4)
Entah ini Puisi atau Bukan?
yang kutanam kali ini
di sekitar halaman rumahku
tumbuh jadi pepohon rindang
menaungi sisi beranda depan
di kala terik mentari datang
banyak orang berteduh
dan pembecak yang ngetem
menanti penumpang
ada sepetak tanah di belakang
tempat memelihara ikan
dan itik serati yang mengiring
anak-anaknya pergi ke kolam
ya…cukuplah sebuah keluarga
tak ditimpa terik ketika siang
tak terlalu basah ketika hujan
bertiang bambu beratap nipah
kalau pun ada tamu yang datang
ada tempat bersila sekedar bercengkrama,
menukar rasa,
menunggu waktu berbuka
yang kutanam kali ini
di sekitar halaman rumahku
tumbuh beraneka warna bunga
selalu indah dipandang mata
sejuk terasa hati sesiapa yang lalu
sebab ia hendak turut menjaga
rahasia nama-nama
dari luka dan bencana api manusia
ya…cukuplah untuk istri dan anak-anak
menabur cinta menebar rasa pada yang beraneka,
tanpa bibit curiga
di tanah kata tak perlu bernama
oppungleladjingga
16ramadhan1436H
