SMA Negri 1 Dolok Masihul Nilai Tertinggi Se-Indonesia dalam “Kompetisi Antar Sekolah, Menjawab Tantangan Perubahan Iklim”

Perubahan iklim memiliki dampak signifikan terhadap sektor pertanian di seluruh dunia. Di Indonesia, sektor pertanian memiliki kontribusi emisi gas rumah kaca 13% terhadap total emisi gas rumah kaca (GRK), meskipun demikian sektor pertanian merupakan sektor yang paling rentan dan sensitif terhadap perubahan iklim. Pernyataan data ini dirilis Low Carbon Development Indonesia – LCDI Bappenas.

Perubahan iklim mengakibatkan dampak; peningkatan suhu rata-rata dan periode kekeringan yang lebih panjang. Hal ini dapat mengurangi produktivitas tanaman dan meningkatkan risiko gagal panen. Terjadi fluktuasi curah hujan yang tidak teratur. Banjir yang lebih meluas dan lama surut juga kekeringan panjang yang jauh lebih kering, datang tiba-tiba dapat merusak tanaman dan mengganggu siklus pertanian.

Dampak terus berlanjut pada ketersediaan air yang digunakan dalam irigasi pertanian. Penurunan keluarnya debit air dari sumber mata air, daerah tangkapan air dan aliran sungai atau perubahan pola curah hujan dapat mengurangi pasokan air, yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Pada sisi lain, terjadi perubahan pola serangan hama dan penyakit. Peningkatan suhu dan kelembaban yang tidak biasa dapat mempengaruhi pola serangan hama dan penyakit pada tanaman. Beberapa hama dan penyakit mungkin menjadi lebih meluas atau lebih sulit dikendalikan bahkan sebahagian kecil diantaranya merupakan hama baru yang bermutasi dari jenis hama yang lama (mutan).

Karena beberapa hal tersebut, Bina Keterampilan Pedesaan (BITRA) Indonesia berkomitmen untuk melakukan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, utamanya pada bidang pertanian wilayah pedesaan. Inisiatif ini akan menggunakan pendekatan partisipatif yang mendorong masyarakat untuk mengajukan solusi lokal dan menentukan kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang relevan dengan konteks lokal.

“Karena dampak yang begitu luas dari perubahan iklim dan akan mengakibatkan ancaman serius bagi generasi baru, maka sangat penting mendisiminasikan pemahaman dan kesadaran dampak perubahan iklim kepada generasi muda, termasuk siswa/pelajar, agar sejak dini terlatih akan upaya mitigasi, adaptasi, resiliensi, dan juga menggagas solusi dan aksi dalam upaya-upaya menghentikan bahkan mencegah perubahan iklim.” Demikian disampaikan Rusdiana Adi, Direktur BITRA Indonesia.

“Generasi Z dan milenium (lebih dari setengah populasi muda) akan menjadi kunci dalam transisi energi menuju net-zero emission hingga tahun 2060. Mereka diharapkan aktif dalam mengurangi gas rumah kaca (GRK), mendukung transisi energi, dan menciptakan solusi inovatif,” lanjut Diana.

Rural Youth Climate Action Movement (RYCAM)  merupakan Gerakan Aksi Iklim Pemuda Pedesaan untuk Pertanian Keren di Indonesia adalah program kerja sama antara Non Goverment Organization (NGO) Indonesia dan para pihak di internasional, seperti The Centre for Rural Development (SLE) Humboltd University of Berlin, Germany, Motivator Pembangunan Masyarakat (MPM), dan Jaringan Masyarakat Tani Indonesia (JAMTANI) yang tergabung di dalam Indonesia Climate Change Aliance (ICCA) yang melibatkan siswa dalam kegiatan School Challenge untuk berperan aktif dalam adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, bekerja sama dengan sekolah-sekolah di 16 wilayah di Indonesia yang mencakup 6 pulau; Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan Papua  untuk mengedukasi dan melibatkan mereka dalam isu-isu lingkungan. Pada Wilayah Barat Indonesia, program ini bekerja sama dengan Yayasan BITRA Indonesia sebagai anggota ICCA di Wilayah Barat Indonesia.

Program ini mengajak Generasi Muda (Gen Z dan milenium) untuk berperan dalam adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Salah satu kegiatan adalah kompetisi antar sekolah (School Challenge) dengan tema “Menjawab Tantangan Perubahan Iklim”, dengan tujuan; Mengurangi Emisi GRK dari sektor Pertanian dan Kehutanan (AFOLU), meningkatkan hasil pertanian keluarga dan memperkuat ketahanan pangan dengan praktik pertanian nol emisi.

Tujuan dari kompetisi ini adalah; meningkatkan kesadaran generasi muda tentang aksi iklim, mendorong partisipasi sekolah dalam isu-isu lingkungan, meningkatkan Kreativitas, aktivitas dan aksi siswa dalam adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dan menambah pengalaman generasi muda dalam bidang lingkungan.

“Hadiah yang diberikan kepada masing-masing tim kontes ini wajib digunakan untuk implementasi gagasan proyek kecil dalam karya ilmiah yang dirancang untuk kaum muda turut mengatasi perubahan iklim karena pemanasan global. Implementasi program atau proyek kecil ini merupakan tahap berikutnya dari kontes, dimana implementasi akan dinilai dan dari 2 tim pemenang dari sekolah, 1 tim akan memenangkannya dan turut diundang ke tingkat nasional dalam acara Indonesian for Climate Change Youth Conference/Konferensi Pemuda Indonesia untuk Mengatasi Perubahan Iklim yang rencananya akan digelar di Bali.” Kata Iswan Kaputra, Wakil Direktur BITRA Indonesia yang dalam kontes ini menjabat sebagai Ketua Panitia Wilayah Sumut. Hasil dari Bali, sedikitnya akan dipilih 2 orang pemuda untuk mewakili Indonesia dalam World Youth Climate Change Conference yang akan diselenggarakan tahun 2026 yang akan datang.

(LM-01)

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *