NTT, Liputan68.com- Tim Akabeluk Desa Kereana, Kecamatan Botinleobele, mencuri perhatian pada lomba Akabeluk tingkat Kabupaten Malaka yang digelar Minggu malam, 12 Agustus 2025.
Dengan kostum kuning menyala dan penampilan penuh semangat, mereka tampil memukau sejak awal hingga akhir pertunjukan.
Akabeluk sendiri adalah seni nyanyian berpantun yang dibawakan secara berpasangan oleh laki-laki dan perempuan saat menumbuk sagu.
Tradisi ini telah diwariskan turun-temurun dan menjadi salah satu kekayaan budaya Kabupaten Malaka.
Camat Botinleobele, Gregorius Mau, mengungkapkan rasa bangga atas penampilan tim Desa Kereana.
“Mereka tampil beda, luar biasa, dan memuaskan. Jumlah peserta 12 orang, 6 laki-laki dan 6 perempuan, sesuai petunjuk teknis panitia. Latihan dilakukan intensif selama delapan hari, hingga hafal di luar kepala tanpa teks,” ujarnya.
Tim Akabeluk Desa Kereana mendapat giliran tampil pertama, disusul peserta dari desa-desa lainnya. Durasi penampilan mereka mengikuti aturan panitia, yakni 10–12 menit.
Gregorius menambahkan, hasil perlombaan akan diumumkan pada 17 Agustus 2025 di Lapangan Umum Betun, setelah upacara peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
“Kami menunggu hasil dengan penuh harap. Apapun nanti, ini persembahan untuk masyarakat Malaka,” katanya.
Penjabat Kepala Desa Kereana turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta, pelatih, dan warga desa yang mendukung penuh.
Ucapan terima kasih juga diberikan kepada Pemerintah Kabupaten Malaka, khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, serta tim juri dan panitia lomba yang menyelenggarakan acara dengan baik dan lancar.
Ia menegaskan, Akabeluk adalah warisan nenek moyang yang harus dijaga.
“Ini bukan sekadar lomba, tapi upaya melestarikan tradisi adat Malaka agar tetap hidup di tengah masyarakat,” tandasnya.*** (Eki Luan)
