7 Ramadan 1435 H
Oppungleladjingga
(3)
Malam Seribu Impian
melarut dalam asma_Mu
mendaki aras
nun tinggi di atas
membawa tubuh durhaka
dengan selendang durjana
hilang…
hangus…
tak berbekas
(lailatul kadar)
lalu apalah daya mengayuh?
biduk laju hendak ke samudera_Mu
mengarungi gelombang impian
menjemput malam
malam-malam seribu bulan
padahal waktu terus berlalu kian
tangantangan masih bersekutu dengan kutukan
(lailatul kadar)
hening malam kurentang dalam pangkuan
menenun jalan ke rumah_Mu
yang selalu terlupakan
padahal waktu sudah jauh di depan
tinggalkan aku
dalam malam seribu impian
(lailatul kadar)
oppungleladjingga
17 ramadan 1434 H
(4)
Di Ujung Ramadan
bulan serasa hendak pamit
sesaat lagi, ya sesaat lagi
puasa masih tersisa dua hari
suara tadarus memupus
orang-orang ramai
pergi ke mall-mall membeli baju baru
membincangkan tiket pesawat
yang mahal-mahal
jalan-jalan macet
lagu ruhani terdengar merdu
mengiring para pembeli
seperti esok lebaran sudah datang
langit di luar sana
terus menangis, menangis
sebab bulan akan pergi
setahun ke depan ia akan kembali
orang-orang mulai melupakannya
melupakan kenangan sahur
melupakan kenangan tarawih
melupakan kenangan tadarus
padahal puasa masih ada dua hari lagi
padahal bulan masih tegak berdiri
di depan kelas madrasah ramadan
sebelum waktunya ia mewisuda hati
oppungleladjingga
28 ramadan 1440 h
2 juni 2019 m
