Ngaji Tani 2 GMNI Pacitan: Menautkan Lahan, Pasar, dan Masa Depan Desa

Pacitan,Liputan 68.com- Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Pacitan kembali menegaskan komitmennya untuk tetap berpihak pada persoalan rakyat melalui kegiatan edukatif bertajuk “Ngaji Tani 2”, yang digelar di Griya Rimbun Sejahtera, Desa Jeruk, Kecamatan Bandar, Sabtu (7/2/2026).

Kegiatan ini diikuti ratusan peserta yang sebagian besar merupakan anggota Kelompok Tani (Poktan) setempat. Suasana diskusi berlangsung hangat dan partisipatif, menandai kuatnya antusiasme masyarakat desa dalam memperdalam pemahaman seputar pertanian, tidak hanya sebagai aktivitas produksi, tetapi juga sebagai fondasi kesejahteraan ekonomi.

Ketua DPC GMNI Pacitan sekaligus penanggung jawab kegiatan, Dela Prastisia, menyampaikan bahwa Ngaji Tani lahir dari kesadaran akan tanggung jawab moral mahasiswa untuk tidak terlepas dari realitas sosial masyarakat desa, khususnya sektor pertanian yang menjadi denyut utama kehidupan rakyat.

Menurutnya, mahasiswa memiliki peran strategis sebagai jembatan pengetahuan dan kesadaran kritis, agar persoalan pertanian tidak dipahami secara parsial.

“Selama ini persoalan pertanian kerap berhenti di lahan. Kita bicara menanam, merawat, dan panen, tetapi jarang membahas ke mana hasil itu dibawa, bagaimana harga ditentukan, serta siapa yang paling diuntungkan. Padahal dari lahan hingga pasar adalah satu rangkaian utuh yang tidak bisa dipisahkan,” ungkap Dela.

Diskusi Ngaji Tani 2 menghadirkan dua narasumber yang memberikan perspektif saling melengkapi mengenai penguatan ekonomi desa. Paryanto, penggerak ekonomi pedesaan, menekankan pentingnya kreativitas masyarakat dalam mengelola lahan serta keberanian melakukan regenerasi petani dan membaca tren pasar.

Ia menilai bahwa masa depan desa sangat bergantung pada kemampuan masyarakatnya dalam melihat peluang dan beradaptasi dengan kebutuhan pasar.

“Regenerasi petani muda harus terus didorong. Lahan yang ada juga perlu dioptimalkan dengan komoditas yang memiliki pangsa pasar jelas, seperti porang yang saat ini potensinya sangat besar,” tuturnya.

Sementara itu, narasumber kedua, Ketua DPRD Kabupaten Pacitan, Arif Setia Budi, menyoroti pentingnya adaptasi teknologi dan pemahaman ekonomi digital dalam sektor pertanian. Menurutnya, perubahan lanskap ekonomi menuntut masyarakat desa untuk tidak hanya produktif, tetapi juga cakap membaca nilai ekonomis hasil tani.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *