Liputan KOLOM

Sejarah Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara

Ditulis oleh Liputan68 pada 18 Desember 2020 ⏱️ 2 Menit Baca

Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, hp. 087864404347)

A. Berdirinya Kabupaten Minahasa.

Masyarakat Minahasa telah menyepakati hari jadinya, yaitu tanggal 5 Nopember 1478. Hari jadi ini berdasarkan peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Minahasa nomor 8 tahun 1983. Pemilihan hari jadi ini bertepatan dengan ulang tahun tokoh Minahasa, Sam Ratulangi.

Wilayah Minahasa dahulu masuk kekuasaan kerajaan Bolaang Mongondow. Resmi menjadi kabupaten berdasarkan UU no. 18 tahun 1965. Sebelumnya Minahasa Raya meliputi daerah Minahasa Selatan, Minahasa Tenggara, Minahasa Utara, Bitung, Manado, Tomohon. Pada tanggal 10 Januari 1679 para Kepala Walak atau pembesar suku mengadakan kerja sama yang saling menguntungkan. Pada tahun 1856 Walak walak itu membentuk organisasi.

Pemimpin kabupaten Minahasa selalu berjuang demi kesejahteraan seluruh rakyat. Prinsipnya melayani semua lapisan masyarakat, dengan tidak membeda bedakan asal usul, suku, agama, ras dan adat istiadat. Pegangannya adalah semboyan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda -beda tetapi tetap satu jua. Pimpinan kabupaten Minahasa perlu diterangkan secara berurutan.

1. Dirk August Theodorus Gerungan 1948 – 1949
2. Jan Piet Mongula 1949 – 1950
3. Dr. Peils Maurits Tangkilisan MPA 1950 – 1951
4. Robert S. Kindangen 1951
5. Drs. Hendrik Reingardt Ticoalu 1951 – 1953
6. Hein Constantijn Mantiri 1953
7. Albert Robert Warouw 1954 – 1956
8. Laurens Frits Saerang 1956 – 1958
9. Bert Supit 1958
10. Estevanus Kandou 1958 – 1961
11. Letkol Frits Sumampouw 1961 – 1965
12. Jan Piet Mongula 1965 – 1966
13. J.H. Rumambi 1966
14. Letkol Frits Sumampouw 1966 – 1969
15. Adolf Albert Pelealu 1969 – 1970
16. Letkol H. Kourow 1970 – 1973
17. J.F. Lumentut 1973 – 1978
18. Drs. Jan Rolos 1978
19. Brigjen Willy Ghayus Alexander 1978
20. Letkol Bern Gustav Lapian BA 1978 – 1981
21. Alex Lambertus Lelengboto 1982 – 1987
22. Johan Otto Bolang 1987 – 1993
23. Drs. Karel Lasut Senduk 1993 – 1998
24. Drs. Dolfie Tanor 1998 – 2003
25. Drs. Stefanus Vreeke Runtu 2003 – 2013
26. Drs. Jantje Wowiling Sajow, MSi 2013 – 2018
27. Ir. Royke Octavian Roring, MSi 2018 – 2023.

Bupati Minahasa bekerja keras untuk mewujudkan kesejahteraan umum
Pembangunan di segala bidang dilakukan dengan tertib rapi. Rakyat mendukung sepenuh hati.

Pembahasan tentang lingkungan kabupaten Minahasa menarik bagi kalangan akademisi, pegiat sosial, pengamat politik, dan pelaku budaya. Misalnya komunitas yang tergabung dalam Asosiasi Tradisi Lisan atau ATL. Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) menyelenggarakan Seminar Internasional dan Festival Tradisi Lisan IX di kota Menado, Hotel Aryaduta pada tanggal 21 – 24 September 2014. Kegiatan ilmiah kali ini bekerjasama dengan Pemerintah Propinsi Sulawesi Utara.

Lingkungan alam perlu diberi deskripsi. Rute yang ditempuh dari Yogya lewat Surabaya, terus terbang ke Menado. Pesawat Lion Air menyediakan jasa penerbangan pukul 06.00 dari Yogyakarta, pukul 08.00 dari Surabaya. Kemudian tiba di Bandara Sam Ratulangi Menado pukul 11.40. Perjalanan Yogya – Menado boleh dikatakan mudah dan lancar. Banyak pilihan untuk penerbangan.

Sepanjang jalan banyak pengetahuan yang mesti dicatat. Perjalanan Yogya – Surabaya menggunakan Wings Air. Bertemulah dengan Dr. Muhammad Waziz Wildan, dosen Fakultas Teknik UGM. Beliau dahulu adalah aktivis mahasiswa tahun 1980-1990-an. Berasal dari Pengging, Banyudono Boyolali. Saat bercakap-cakap sempat pula menyinggung peran pujangga Kyai Yasadipura. Masjid Kapujanggan Pengging dibangun oleh Sinuwun Paku Buwana X. Tak lupa karya Kyai Yasadipura yang banyak memberi nilai pendidikan bagi masyarakat Jawa. Pada kali ini Dr. Waziz Wildan hendak ke kota Manokwari.

Pesawat diganti Lion Air di Surabaya untuk menuju ke Menado. Berkenalan dengan Khamelya Dapu. Dia warga Minahasa yang bekerja di PT. TG Services Surabaya. Untung sekali karena dia bercerita tentang Menado. Diingatkan juga tokoh-tokoh Sulawesi Utara di era reformasi yaitu Mangindaan, Theo Sambuaga dan Angelina Sondakh. Di kota Menado terdapat jenis makanan yang amat terkenal. Tidak berlebihan bila, Ir. H. Soekirman lewat SMS mengirimkan “salam bubur Menado”. Cocok benar dengan keterangan Khamelya Dapu. Lama sekali ngobrol dengan wanita periang yang suka bercerita. Umur dia kira-kira 18 tahun. Masih muda, gesit dan pintar. Untuk menambah diskusi yang akrab lantas mencicipi jajan bakpia Pathuk, tapi tak suka krupuk.

Keberagaman alam Indonesia sungguh mengagumkan. Saat tiba di lingkungan Minahasa deskripsi dilakukan. Menjelajah dari desa ke desa, saat sedang darmawisata tahu keindahan alam nusantara banyak adi luhung hutan dan gunung. Pukul 11.30 WIB atau 12.30 WITA pesawat mendarat di Bandara Sam Ratulangi Menado. Kebiru biruan Gunung Ulaban menyambut tiap penumpang. Ternyata Kota Menado dikelilingi gunung-gunung. Sopir yang mengantar bernama Robert memberitahu bahwa Menado terdapat banyak gunung berapi. Ada Gunung Tomohon, Gunung Tokon dan Gunung Sangir.

Kegundahan sedikit karena banyak gunung yang digempur untuk dijadikan pemukiman. Makanya kota Menado pernah terkena banjir bandang setinggi 2 ½ m. Begitulah komentar Daeng Dafira, dosen Unhas Makassar yang sedang menyelesaikan program doktor di Universitas Udayana Bali. Keluhan tersebut perlu direnungkan bersama. Meski bangsa manca negara sama heran dan tertegun pemandangan indah tak membosankan takdir Tuhan menata manusia.

Pencatatan kebudayaan berguna bagi generasi penerus. Begitu tiba di Hotel Aryaduta Ibu Prudentia, wanita hebat ini menyambut bersama staff. Mengingatkan acara ATL di Propinsi Kepulauan Riau, Kota Tanjungpinang pada tahun 2012. Panggilan akrab buat orang Menado untuk pria yaitu Tole. Sedang untuk wanita Keke. Di Bali laki laki disebut Bli, Jawa Mas, Sunda Akang, Minang Uda. Untuk menyebut wanita Bali Gek, Jawa Mbak, Sunda Teteh, Gorontalo Tata, Minang Uni. Pertemuan antara peserta ATL berguna untuk merajut tali kebangsaan yang menghargai perbedaan. Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau pulau. Sambung menyambung menjadi satu. Itulah Indonesia.

Selama menunggu check in kamar, para peserta terlebih dahulu dijamu makan siang. Sayang tempatnya di mall. Lidah tradisional cocoknya makan di pinggir jalan. Barangkali pecel lele made in Lamongan terasa lebih nikmat. Mereka yang turut makan siang di antaranya :

Pengkaji budaya bertugas untuk memberi deskripsi historis, sosiologis dan filosofis. Panitia ATL membagi kamar hotel. Waktu kira-kira pukul 14.00. Kalau dituruti mata amat ngantuk. Badan lelah, tenaga agak lemah. Tapi kalau tidur, lantas apa yang didapat. Timbul ide dari kawan Balai Bahari Bali. Lebih baik jalan-jalan. Peserta pun sama keluar. Di depan hotel hujan rintik-rintik. Malah semakin deras. Untung dapat gagasan angkutan kota lalu lalang ke semua jurusan. Tak ambil pusing masuk saja ke dalam angkot. Bilang sama sopir tujuannya cuma keliling kota. Sang sopir tanggap. Kedua belah pihak senang hati.

Di tengah jalan sopir memberi panduan. Lumayan ada guide gratis. Dia cerita tentang rumah pahlawan besar Menado, Sam Ratulangi. Dulu dia berjuang terus demi rakyat. Presiden Soekarno pun berguru pada Sam Ratulangi. Di mata masyarakat bawah Sam Ratulangi benar-benar pejuang yang amat merakyat. Dia membandingkan dengan pemimpin sekarang yang mudah tergoda oleh harus sogok dan suap. Kenapa sudah kaya kok terus saja kekurangan. Berarti mereka adalah berjiwa kerdil yang selalu kekurangan.

Pemandu budaya memperlancar pekerjaan penelitian. Sopir sempat pula menyinggung peradaban dan kebudayaan. Di wilayah Sulawesi Utara, tepatnya Kabupaten Minahasa Tengah, ada masyarakat Tondano kebanyakan mereka adalah keluarga Pangeran Diponegoro. Tiap bulan Syawal, tepat hari raya Idul Fitri, masyarakat Tondano ramai sekali. Barangkali nilai keislaman Jawa amat lekat dengan komunitas Jawa Tondano. Disebutkan pula terdapat makam pahlawan Imam Bonjol. Mereka adalah pejuang sejati.

Tahu- tahu angkutan kota telah sampai di depan hotel lagi. Air menggenang, kata sopir biasa sekali di Menado terjadi banjir. Kok bisa ? Padahal berhimpitan dengan pantai. Seharusnya air cepat mengalir ke laut. Ternyata gorong-gorong dan saluran tidak dibuat. Air menjadi mampat tak berjalan. Sayang sekali, aspal jalan akan cepat rusak. Mungkin juga karena pengurukan pantai untuk bangunan. Orang kaya menimbun pantai untuk hotel dan usaha. Ke depan perlu regulasi supaya lingkungan aman.

Kelancaran studi budaya berhubungan dengan kemampuan untuk berkomunikasi. Seperti layaknya kota-kota lain, di Menado banyak bertebaran warung Lamongan. Pecel lele, bebek goreng, tempe penyet, soto babad, jajakan di sepanjang jalan. Sempat pula mampir makan di warung Pak Djaelani, Lamongan Jawa Timur. Pelanggannya rata rata orang Jawa. Gule kambing terasa nikmat. Ditambah segelas teh anget, seolah -olah kembali ke Tanah Jawa. Perantau Jawa di seluruh tanah air berjualan makanan. Mereka makmur berkat ketekunan. Jaya di tanah seberang berbekal ketrampilan. Kuliner Lamongan perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Sendang megung mengairi kedhung sumber keluar air perikanan air blumbangan kemricik suara mata air bawah telaga berair kemarau lalu mengalir.

Barangkali perlu dipahami praktek kehidupan masyarakat kabupaten Minahasa yang terkait dengan konsep kebudayaan dan nilai kebangsaan. Keselarasan sosial bagi masyarakat Minahasa selalu dijunjung tinggi.

B. Lingkungan Kebudayaan Kabupaten Minahasa

Kabupaten Minahasa berhasil memadukan antara konsep kebudyaan dengan nilai kebangsaan. Konsep kebudayaan diperoleh dari adat istiadat, tradisi, bahasa, upacara tradisional yang sudah hidup berabad-abad lamanya. Kearifan lokal menjadi panduan bagi meyarakatMInahasa dalam menjalankan kehidupan sehari -hari.

Nilai kebangsaan bagi masyarakat kabpaten Minahasa merupakan bentuk nasionalisme yang rela berkorban bagi kepetingan orang banyak. Pelaksanaan nilai kebangsaan diwujudkan dengan mengutamakan kepentingan bangsa dan negara. Kepentingan pribadi atau golongan dilakukan secara wajar, dengan menghormati hak dan kewajiban pihak lain. Oleh karena itu masyarakat Minahasa bisa hidup selaras, serasi dan seimbang.

Tokoh-tokoh kebudayaan yang aktif mendukung acara ini tampak Prof. Dr. Wardiman Djoyonagoro, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 1993 – 1998. Prof. Dr. Edy Sedyawati, mantan Dirjen Kebudayaan. Kawan-kawan dari UGM, UNY, ISI, UPI, Unhar, UI dan Balai Bahasa begitu semangat agenda rutin ATL. Semua begitu akrab dengan Bu Prudentia. Seakan-akan ATL itu melembaga pada diri sang ketua legendaris. Sentuhan tangan dan keramahan menjadi kata kunci ATL tetap wibawa dan lestari.

Makan malam di hotel. Jamuan yang memberatkan lidah. Terbiasa dengan makanan tradisional, makanan yang disajikan ala hotel di mana saja, lidah ini tetap menolak. Rasa jauh dari biasa. Lebih enak kuliner di pinggir jalan. Sayuran, lauk pauk, minuman tak ada yang selera. Barangkali semua yang terbiasa dengan barang tradisional, apa-apa yang berbau modern rasanya tidak cocok, kurang pas. Lidah ini banyak kecewanya. Boleh jadi benar juga kata Clifford Geerts bahwa kaum tradisional selalu mengalami invalensi atau jalan di tempat.

Malam itu kira-kira pukul 21.30. Dinner selesai rekan-rekan dari Balai Bahasa Jakarta mengajak jalan -jalan. Kalau sekedar dalam kamar tentu sayang sekali. Jauh-jauh dari tempat asal, harus mendapat pengetahuan banyak. Diputuskan untuk menelusuri Teluk Menado. Mereka rata-rata sudah berusia 50 tahun ke atas. Tenaga mesti irit. Berjalan lebih kurang 500 m, lantas mampir di warung makan Jawa Tulen. Di sana wedangan : teh, kopi, susu hangat. Ngobrol ngalor, begitu nggayeng, sambil mencicipi gedhang goreng.

Dialog budaya memang menawarkan wawasan baru. Hari Senin 22 September 2014 siap -siap untuk memulai acara. Mandi, ibadah, sarapan dan kemas-kemas. Pertemuan seminar di Balai Kota Bitung. Jarak kota Menado – kota Bitung sekitar 60 km, sejauh Yogyakarta – Surakarta. Naik bus carteran 1 ½ jam. Panitia – peserta berangkat dari Aryaduta Hotel pukul 07.30. 2 bus dan 2 mobil dengan dikawal kendaraan polisi. Sopir bus di tengah jalan mengenalkan gedung, gunung, pabrik dan tokoh masyarakat.

Sopir bus sudah 40 bekerja menjalankan kendaraan. Mulai dari melayani pejabat, bus umum dan angkot. Istrinya orang Banyuwangi. Imajinasi tentang orang Jawa dengan sendirinya akrab. Sopir mengenalkan rumah tokoh nasional, mantan Ketua DPA, AA Baramuli. Anaknya Aryanti Baramuli menjadi Wakil Bupati Minahasa Utara. Dia punya usaha pabrik tapioka. Di bawah gunung Dua Saudara, kota Bitung dituju dari Manado, Minahasa Utara.

Tiba di Balai Kota Pemerintah Kota Bitung disambut dengan Tari Prajurit Burung. Busananya pakai paruh atau cucuk yang dipadu dengan pakaian keprajuritan, iringan 2 kendang. Merdu sekali. Satu per satu peserta masuk aula. Di sana disuguhi musik kolintang. Pemain masih muda. Seragam biru, mereka lincah memainkan musik kolintang. Dua tabuh digerakkan dengan gesit. Cantik dan tampan. Begitulah gambaran wiyaga musik kolintang.

Walikota Bitung, Hanny Sondakh dan Wakil Walikota, Max J. Lomban bersemangat membantu ATL. Bitung merupakan pintu gerbang Sulawesi Utara, baik darat maupun laut. Kota Bitung mendapat kehormatan karena peserta ATL berasal dari seluruh Indonesia ditambah utusan manca negara. Belanda, Australia, Jepang, Cina, Malaysia, Singapura, Norwegia, India. Sambutan Pemkot cukup hangat. Tak lupa memberi promosi daerah. BIMOLI : Bitung Minahasa Oil, merupakan pabrik minyak kelapa.

Sungguh beruntung Pemkot Bitung mendapat apresiasi untuk acara bertaraf internasional telah terselenggara. Presentasi makalah para pakar dunia mendapat apresiasi dan applaus. Peserta bersemangat sampai hari pertama usai. Babak demi babak dilampaui dengan gegap gempita. Makan siang dijamu Pemkot Bitung dengan lahap. Dilanjutkan lagi diskusi dengan pembicara Mantan Mendikbud Prof. Dr. Wardiman Joyonagoro. Sambil diskusi peserta disuguhi kopi, teh dan pisang goreng.

Peradaban Minahasa terkait dengan keramahan ekologi. Pukul 17.00 meninggalkan kota Bitung. Peserta menuju Kota Menado untuk melihat stand pameran. Peserta diarahkan ke stand pameran. Peserta diarahkan ke stand milik Kota Bitung. Kebetulan Kepala Dinas Kota Bitung Pak Ferdy adalah alumni Yogyakarta. Peserta ATL kopen dan kajen. Aneka makanan tradisional disajikan. Tanaman buah, sayur dipamerkan. Malam ini pesta mewah dan megah. Makan malam pun disiapkan di rumah panggung. Atraksi kesenian diselenggarakan dengan meriah. Hujan rintik -rintik yang mengguyur Kota Menado menambah semarak.

Aneka ragam kesenian dipentaskan dalam stand pameran. Tabuh -tabuhan, tari-tarian, drama, puisi lagu, musik menghiasi malam. Makan malam terasa lebih lengkap. Penonton berjubel, jalanan macet. Bus pengangkut peserta ATL berjalan nggremet. Mandi dan ganti pakaian pun berlangsung. Dalam lobby hotel penginapan berkumpul tokoh pemerintahan. Sebut saja Prof. Dr. Kacung Maridjan. Beliau Dirjen Kebudayaan Kemendikbud. Pukul 22.30 Bupati Wakatobi bergabung di hotel. Beliau tampak akrab dengan pengurus ATL. Tertawa lepas kerap muncul dalam percakapan. Dalam jadwal Bupati Wakatobi memang menjadi narasumber.

Sisa malam dilanjutkan dengan begadang. Diskusi mengenai peran komunitas tani, priyayi, seni dan santri. Keempatnya menjadi penyangga kehidupan masyarakat Jawa. Kelompok tani sibuk dengan bercocok tanam, berkebun, beternak, pertukangan. Kelompok seni mewajibkan diri untuk mempromosikan keindahan, cipta karya yang menarik. Kelompok santri diharapkan memberi ketenangan batin. Kelompok mantri sedapat dapatnya hadir untuk mengatur, memimpin dan mengabdi. Keempatnya berbeda idiologi, tetapi mesti harmonis. Meskipun puncak gunung banyak pemandangan asri wisma pesanggrahan untuk menghibur diri penuh pariwisata kembang -kembang menghiasi

Bagi peneliti Minahasa semua peritiwa historis adalah obyek kajian yang menarik. Hari Selasa tanggal 23 September 2014, hari kedua seminar kembali ke kota Bitung. Pola angkutan seperti sebelumnya, yaitu naik bus carteran. Semua gegap gempita, senang berbahagia. Siap-siap dengan berbaju rapi, sarapan pagi dan menempuh perjalanan 1½ jam. Sempat melihat warteg, Warung Tegal. Pecel lele Lamongan bersaing dengan warteg. Di tengah jalan dijumpai makam Walanda Maramis, pahlawan wanita dari Minahasa Utara. Anak SD semua tahu foto dan riwayat Walanda Maramis. Di situlah cara untuk menguatkan nilai kebangsaan.

Gunung Kalabat merupakan gunung tertinggi di Sulut, tapi tak aktif. Maka lebih terkenal Gunung Lokon. Di dalamnya terdapat genangan air yang berlimpah. Maka di sana terdapat bisnis mata air. Kebijakan yang perlu koreksi. Di sebelahnya terdapat makam. Tempat untuk mengubur para bangsawan Minahasa. Tak jauh dari situ ada nama jalan SBY yang menghubungkan dengan Bandara Sam Ratulangi. Pohon kelapa menghiasi pemandangan sepanjang jalan. Karena penghasil kopra yang besar. Pohon kelapa tinggi- tinggi.

Kota Bitung merupakan kawasan industri. Teringat di daerah Surabaya yang dikitari kawasan industri Gresik, Sidoarjo, Mojokerto, Pasuruan. Kalau di Jakarta mirip dengan Bekasi, Tangerang. Kehidupan di kota Bitung cukup ramai. Perdagangan, bisnis, jasa berputar cepat sejak dulu kala. Tersedia pelabuhan yang memperlancar arus barang dan jasa. Pemilik modal dari China berbondong-bondong ke Kota Bitung untuk berinvestasi.

Seminar pada hari kedua ini menghadirkan ketua KITV Belanda, Bupati Wakatobi dan Ketua ATL. Ketiga tokoh tersebut sedang menanjak karier. Malah Bupati Wakatobi layak diusulkan menjadi Menteri Maritim dan Kelautan. Ketua KITV layak menjabat sebagai duta besar Belanda. Sedang Bu Prudentia bisa diusulkan menjadi Menteri Kebudayaan. Ini usulan berdasarkan dari prestasi kerja. Oleh karena itu ATL penting. Kewibawaan forum yang diselenggarakan ATL diikuti oleh pejabat dan mantan pejabat. Sebut saja Prof. Dr. Edi Sedyawati, Prof. Dr. Wardiman Joyonagoro, Prof. Dr. Kacung Maridjan, Prof. Dr. Windu Nuryanti.

Lingkungan budaya Minasaha memberi banyak instpirasi. Selesai penutupan ATL dilanjutkan di Taman Marga Satwa Tandurusa di Kota Bitung Sulut. Pelestarian margasatwa ini dikelola oleh perorangan. Swakelola atas kesadaran untuk turut serta melestarikan anugerah Tuhan. Dana untuk pemeliharaan tentu besar. Tiap hari mesti memberi jatah makanan pada hewan- hewan yang dipelihara. Kera, burung, ular memerlukan biaya. Taman Marga Satwa Tandurusa ini didirikan pada tahun 2007. Letaknya di pinggiran bukit, tepi danau yang bersambung dengan laut. Lalu lalang perahu motor berjalan. Di antara perbukitan itu air beriak dan bergelombang mengikuti asal angin.

Lingkungan budaya Minahasa terkenal. Bu Jois Natarang, dari Dinas Pariwisata Kota Bitung setia menemani peserta ATL di Kungkungan by Resort. Tempat makan minum sekaligus penginapan. Cuma ongkosnya pakai dollar. Sudah bisa ditebak harganya agak lumayan. Pintu gerbang lalu lintas barang di Sulut, tetapi nama Bitung kenapa tak dikenal. Minahasa sesungguhnya daerah sepi. Tapi lebih populer. Bahkan lebih kondang dibanding Menado. Sebagai kawasan pabrik dari jalan sudah tercium baunya. Bila ada bau sedap, wangi jelas itu pabrik kopra. Bila ada bau apek, menusuk hidung sudah bisa dipastikan itu pabrik ikan. Taman-taman mengimbangi gunung jalan bersih merata tanaman tumbuh subur cocok untuk bercocok tanam segala pariwisata indahnya tak terkatakan.

Dua hari seminar berlangsung antara Menado, Minahasa dan Bitung. Satu yang tidak pernah dijumpai, yaitu sawah. Tidak ada tanaman padi. Untuk bisa melihat sawah kata sopir hanya berada di kampung Tondano. Mayoritas mereka adalah orang Jawa. kalau begitu orang Jawa itu identik dengan sawah. Maka sebaiknya semua generasi muda Jawa kembali saja ke tradisi sawah. Kebanggaan yang besar bila bisa menggunakan sawah. Di sana ada proses produksi. Dari membajak, ngrakel, ngluku, nggaru, macul, mopok, matun, tandur, ndangir, klacen, cemplong, gulut, ndaut. Semua aktivitas itu menuju pada kemakmuran.

Minahasa menawakan butir- butir kearifan lokal. Pukul 18.00 Selasa 23 September 2014, peserta ATL diundang makan malam oleh Gubernur Sulut, Pak Sinyo. Beliau adalah teman sekamar Pak Soetrisno, mantan Bupati Nganjuk. Keduanya sama-sama pernah belajar di Pitsburg Amerika Serikat. Sebelum datang ke Menado, Pak Tris memang titip salam buat Pak Sinyo. Malam itu terdengar suara musik kolintang. Ciri khas musik kolintang adalah kalem, melankolis, miyayeni, mirip dengan keroncong. Pemain berpakaian rapi, halus bertutur kata. Kebetulan Propinsi Sulut sedang merayakan ulang tahun ke 50. HUT Emas Sulut ini tepat pada tanggal 23 September 2014. Minahasa punya alam yang menawan.

Setiap kali perayaan kenegaraan baik tingkat kabupaten, propinsi maupun pemerintah pusat selalu teringat Kraton Surakarta Hadiningrat. Acara kraton mesti diikuti oleh ribuan abdi dalem. Kegiatan kultural tersebut berlangsung selama berabad- abad. Meski monarki, namun politik kerakyatan sudah dilalui dengan tepat. Para peserta datang sendiri, tanpa menghitung biaya. Mereka relawan yang benar-benar sukarela dalam bekerja kebudayaan.

Kajian atas kearifan lokal Minahasa menjadi rekreasi kultural. Rabu, 24 September 2014 acara bebas. Bangun tidur tak harus terburu- buru. Sarapan pagi bersama kawan yang mempersiapkan pulang. Jalan-jalan ke pasar untuk mencari jajan, sebagai bekal di kendaraan. Bila terlanjur di bandara, sulit mendapat makanan. Kalau toh ada, harganya mahal dan rasanya hambar, sepa. Lebih baik mbontot atau membawa makanan yang dibeli di warung Lamongan. Harga murah rasanya enak. Nyamleng tenan. Tidak lupa membawa kacang goreng, pokis, roti bolu dan air mineral. Bersih pangkal sehat.

Lingkungan kebudayaan Minahasa hendaklah dikaji terus menerus. Pukul 10.30 taksi menjemput dan selanjutnya meninggalkan Hotel Aryaduta. Pelan- pelan menuju bandara. Tampak gunung pegunungan yang mengitari alam Minahasa. Selama ini Kota Menado digambarkan seperti Makassar. Ternyata berbeda sekali. Ada kesamaan penduduknya dalam membangun tempat tinggal yang aman nyaman.

Rumah Minahasa terdiri dari kayu dan ijuk. Masyarakat Menado dan Minahasa masih mencintai rumah adat. Dibuat lantai dua. Arsitekturnya indah sekali. Karena berbahan baku dari kayu, bisa dipastikan harganya amat mahal. Tepat pukul 11.30 WITA pesawat Lion Air siap untuk menjemput. Segera menuju Yogyakarta dengan melewati Surabaya dan Jakarta. Selama empat hari Menado melekat dalam hati. Keramahan masyarakat Minahasa memang mengesankan.

Pengkajian atas peradaban masyarakat Minahasa berguna untuk memperkokoh nilai kebangsaan. Kesadaran hidup berbangsa dan bernegara dalam naungan Negara kesatuan Republik Indonesia disokon golehn ilai keafiran lokalyang tersbar ari Sabang sampa Merauke. Kabupaten Minahasa telah memberi sumbangan yang bermakna bagi pengembangan kepribadian nasional.

(LM-01)

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian