Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, hp. 087864404347)
A. Berdirinya Kabupaten Minahasa.
Masyarakat Minahasa telah menyepakati hari jadinya, yaitu tanggal 5 Nopember 1478. Hari jadi ini berdasarkan peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Minahasa nomor 8 tahun 1983. Pemilihan hari jadi ini bertepatan dengan ulang tahun tokoh Minahasa, Sam Ratulangi.
Wilayah Minahasa dahulu masuk kekuasaan kerajaan Bolaang Mongondow. Resmi menjadi kabupaten berdasarkan UU no. 18 tahun 1965. Sebelumnya Minahasa Raya meliputi daerah Minahasa Selatan, Minahasa Tenggara, Minahasa Utara, Bitung, Manado, Tomohon. Pada tanggal 10 Januari 1679 para Kepala Walak atau pembesar suku mengadakan kerja sama yang saling menguntungkan. Pada tahun 1856 Walak walak itu membentuk organisasi.
Pemimpin kabupaten Minahasa selalu berjuang demi kesejahteraan seluruh rakyat. Prinsipnya melayani semua lapisan masyarakat, dengan tidak membeda bedakan asal usul, suku, agama, ras dan adat istiadat. Pegangannya adalah semboyan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda -beda tetapi tetap satu jua. Pimpinan kabupaten Minahasa perlu diterangkan secara berurutan.
1. Dirk August Theodorus Gerungan 1948 – 1949
2. Jan Piet Mongula 1949 – 1950
3. Dr. Peils Maurits Tangkilisan MPA 1950 – 1951
4. Robert S. Kindangen 1951
5. Drs. Hendrik Reingardt Ticoalu 1951 – 1953
6. Hein Constantijn Mantiri 1953
7. Albert Robert Warouw 1954 – 1956
8. Laurens Frits Saerang 1956 – 1958
9. Bert Supit 1958
10. Estevanus Kandou 1958 – 1961
11. Letkol Frits Sumampouw 1961 – 1965
12. Jan Piet Mongula 1965 – 1966
13. J.H. Rumambi 1966
14. Letkol Frits Sumampouw 1966 – 1969
15. Adolf Albert Pelealu 1969 – 1970
16. Letkol H. Kourow 1970 – 1973
17. J.F. Lumentut 1973 – 1978
18. Drs. Jan Rolos 1978
19. Brigjen Willy Ghayus Alexander 1978
20. Letkol Bern Gustav Lapian BA 1978 – 1981
21. Alex Lambertus Lelengboto 1982 – 1987
22. Johan Otto Bolang 1987 – 1993
23. Drs. Karel Lasut Senduk 1993 – 1998
24. Drs. Dolfie Tanor 1998 – 2003
25. Drs. Stefanus Vreeke Runtu 2003 – 2013
26. Drs. Jantje Wowiling Sajow, MSi 2013 – 2018
27. Ir. Royke Octavian Roring, MSi 2018 – 2023.
Bupati Minahasa bekerja keras untuk mewujudkan kesejahteraan umum
Pembangunan di segala bidang dilakukan dengan tertib rapi. Rakyat mendukung sepenuh hati.
Pembahasan tentang lingkungan kabupaten Minahasa menarik bagi kalangan akademisi, pegiat sosial, pengamat politik, dan pelaku budaya. Misalnya komunitas yang tergabung dalam Asosiasi Tradisi Lisan atau ATL. Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) menyelenggarakan Seminar Internasional dan Festival Tradisi Lisan IX di kota Menado, Hotel Aryaduta pada tanggal 21 – 24 September 2014. Kegiatan ilmiah kali ini bekerjasama dengan Pemerintah Propinsi Sulawesi Utara.
Lingkungan alam perlu diberi deskripsi. Rute yang ditempuh dari Yogya lewat Surabaya, terus terbang ke Menado. Pesawat Lion Air menyediakan jasa penerbangan pukul 06.00 dari Yogyakarta, pukul 08.00 dari Surabaya. Kemudian tiba di Bandara Sam Ratulangi Menado pukul 11.40. Perjalanan Yogya – Menado boleh dikatakan mudah dan lancar. Banyak pilihan untuk penerbangan.
Sepanjang jalan banyak pengetahuan yang mesti dicatat. Perjalanan Yogya – Surabaya menggunakan Wings Air. Bertemulah dengan Dr. Muhammad Waziz Wildan, dosen Fakultas Teknik UGM. Beliau dahulu adalah aktivis mahasiswa tahun 1980-1990-an. Berasal dari Pengging, Banyudono Boyolali. Saat bercakap-cakap sempat pula menyinggung peran pujangga Kyai Yasadipura. Masjid Kapujanggan Pengging dibangun oleh Sinuwun Paku Buwana X. Tak lupa karya Kyai Yasadipura yang banyak memberi nilai pendidikan bagi masyarakat Jawa. Pada kali ini Dr. Waziz Wildan hendak ke kota Manokwari.
Pesawat diganti Lion Air di Surabaya untuk menuju ke Menado. Berkenalan dengan Khamelya Dapu. Dia warga Minahasa yang bekerja di PT. TG Services Surabaya. Untung sekali karena dia bercerita tentang Menado. Diingatkan juga tokoh-tokoh Sulawesi Utara di era reformasi yaitu Mangindaan, Theo Sambuaga dan Angelina Sondakh. Di kota Menado terdapat jenis makanan yang amat terkenal. Tidak berlebihan bila, Ir. H. Soekirman lewat SMS mengirimkan “salam bubur Menado”. Cocok benar dengan keterangan Khamelya Dapu. Lama sekali ngobrol dengan wanita periang yang suka bercerita. Umur dia kira-kira 18 tahun. Masih muda, gesit dan pintar. Untuk menambah diskusi yang akrab lantas mencicipi jajan bakpia Pathuk, tapi tak suka krupuk.
Keberagaman alam Indonesia sungguh mengagumkan. Saat tiba di lingkungan Minahasa deskripsi dilakukan. Menjelajah dari desa ke desa, saat sedang darmawisata tahu keindahan alam nusantara banyak adi luhung hutan dan gunung. Pukul 11.30 WIB atau 12.30 WITA pesawat mendarat di Bandara Sam Ratulangi Menado. Kebiru biruan Gunung Ulaban menyambut tiap penumpang. Ternyata Kota Menado dikelilingi gunung-gunung. Sopir yang mengantar bernama Robert memberitahu bahwa Menado terdapat banyak gunung berapi. Ada Gunung Tomohon, Gunung Tokon dan Gunung Sangir.
Kegundahan sedikit karena banyak gunung yang digempur untuk dijadikan pemukiman. Makanya kota Menado pernah terkena banjir bandang setinggi 2 ½ m. Begitulah komentar Daeng Dafira, dosen Unhas Makassar yang sedang menyelesaikan program doktor di Universitas Udayana Bali. Keluhan tersebut perlu direnungkan bersama. Meski bangsa manca negara sama heran dan tertegun pemandangan indah tak membosankan takdir Tuhan menata manusia.
Pencatatan kebudayaan berguna bagi generasi penerus. Begitu tiba di Hotel Aryaduta Ibu Prudentia, wanita hebat ini menyambut bersama staff. Mengingatkan acara ATL di Propinsi Kepulauan Riau, Kota Tanjungpinang pada tahun 2012. Panggilan akrab buat orang Menado untuk pria yaitu Tole. Sedang untuk wanita Keke. Di Bali laki laki disebut Bli, Jawa Mas, Sunda Akang, Minang Uda. Untuk menyebut wanita Bali Gek, Jawa Mbak, Sunda Teteh, Gorontalo Tata, Minang Uni. Pertemuan antara peserta ATL berguna untuk merajut tali kebangsaan yang menghargai perbedaan. Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau pulau. Sambung menyambung menjadi satu. Itulah Indonesia.
Selama menunggu check in kamar, para peserta terlebih dahulu dijamu makan siang. Sayang tempatnya di mall. Lidah tradisional cocoknya makan di pinggir jalan. Barangkali pecel lele made in Lamongan terasa lebih nikmat. Mereka yang turut makan siang di antaranya :
Pengkaji budaya bertugas untuk memberi deskripsi historis, sosiologis dan filosofis. Panitia ATL membagi kamar hotel. Waktu kira-kira pukul 14.00. Kalau dituruti mata amat ngantuk. Badan lelah, tenaga agak lemah. Tapi kalau tidur, lantas apa yang didapat. Timbul ide dari kawan Balai Bahari Bali. Lebih baik jalan-jalan. Peserta pun sama keluar. Di depan hotel hujan rintik-rintik. Malah semakin deras. Untung dapat gagasan angkutan kota lalu lalang ke semua jurusan. Tak ambil pusing masuk saja ke dalam angkot. Bilang sama sopir tujuannya cuma keliling kota. Sang sopir tanggap. Kedua belah pihak senang hati.
Di tengah jalan sopir memberi panduan. Lumayan ada guide gratis. Dia cerita tentang rumah pahlawan besar Menado, Sam Ratulangi. Dulu dia berjuang terus demi rakyat. Presiden Soekarno pun berguru pada Sam Ratulangi. Di mata masyarakat bawah Sam Ratulangi benar-benar pejuang yang amat merakyat. Dia membandingkan dengan pemimpin sekarang yang mudah tergoda oleh harus sogok dan suap. Kenapa sudah kaya kok terus saja kekurangan. Berarti mereka adalah berjiwa kerdil yang selalu kekurangan.
Pemandu budaya memperlancar pekerjaan penelitian. Sopir sempat pula menyinggung peradaban dan kebudayaan. Di wilayah Sulawesi Utara, tepatnya Kabupaten Minahasa Tengah, ada masyarakat Tondano kebanyakan mereka adalah keluarga Pangeran Diponegoro. Tiap bulan Syawal, tepat hari raya Idul Fitri, masyarakat Tondano ramai sekali. Barangkali nilai keislaman Jawa amat lekat dengan komunitas Jawa Tondano. Disebutkan pula terdapat makam pahlawan Imam Bonjol. Mereka adalah pejuang sejati.
Tahu- tahu angkutan kota telah sampai di depan hotel lagi. Air menggenang, kata sopir biasa sekali di Menado terjadi banjir. Kok bisa ? Padahal berhimpitan dengan pantai. Seharusnya air cepat mengalir ke laut. Ternyata gorong-gorong dan saluran tidak dibuat. Air menjadi mampat tak berjalan. Sayang sekali, aspal jalan akan cepat rusak. Mungkin juga karena pengurukan pantai untuk bangunan. Orang kaya menimbun pantai untuk hotel dan usaha. Ke depan perlu regulasi supaya lingkungan aman.
Kelancaran studi budaya berhubungan dengan kemampuan untuk berkomunikasi. Seperti layaknya kota-kota lain, di Menado banyak bertebaran warung Lamongan. Pecel lele, bebek goreng, tempe penyet, soto babad, jajakan di sepanjang jalan. Sempat pula mampir makan di warung Pak Djaelani, Lamongan Jawa Timur. Pelanggannya rata rata orang Jawa. Gule kambing terasa nikmat. Ditambah segelas teh anget, seolah -olah kembali ke Tanah Jawa. Perantau Jawa di seluruh tanah air berjualan makanan. Mereka makmur berkat ketekunan. Jaya di tanah seberang berbekal ketrampilan. Kuliner Lamongan perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Sendang megung mengairi kedhung sumber keluar air perikanan air blumbangan kemricik suara mata air bawah telaga berair kemarau lalu mengalir.
Barangkali perlu dipahami praktek kehidupan masyarakat kabupaten Minahasa yang terkait dengan konsep kebudayaan dan nilai kebangsaan. Keselarasan sosial bagi masyarakat Minahasa selalu dijunjung tinggi.
B. Lingkungan Kebudayaan Kabupaten Minahasa
Kabupaten Minahasa berhasil memadukan antara konsep kebudyaan dengan nilai kebangsaan. Konsep kebudayaan diperoleh dari adat istiadat, tradisi, bahasa, upacara tradisional yang sudah hidup berabad-abad lamanya. Kearifan lokal menjadi panduan bagi meyarakatMInahasa dalam menjalankan kehidupan sehari -hari.
Nilai kebangsaan bagi masyarakat kabpaten Minahasa merupakan bentuk nasionalisme yang rela berkorban bagi kepetingan orang banyak. Pelaksanaan nilai kebangsaan diwujudkan dengan mengutamakan kepentingan bangsa dan negara. Kepentingan pribadi atau golongan dilakukan secara wajar, dengan menghormati hak dan kewajiban pihak lain. Oleh karena itu masyarakat Minahasa bisa hidup selaras, serasi dan seimbang.
Tokoh-tokoh kebudayaan yang aktif mendukung acara ini tampak Prof. Dr. Wardiman Djoyonagoro, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 1993 – 1998. Prof. Dr. Edy Sedyawati, mantan Dirjen Kebudayaan. Kawan-kawan dari UGM, UNY, ISI, UPI, Unhar, UI dan Balai Bahasa begitu semangat agenda rutin ATL. Semua begitu akrab dengan Bu Prudentia. Seakan-akan ATL itu melembaga pada diri sang ketua legendaris. Sentuhan tangan dan keramahan menjadi kata kunci ATL tetap wibawa dan lestari.

