Oleh: Dr Purwadi SS M. Hum
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA Hp: 0879 6440 4347)
A. Daya Linuwih Gunung Wilis
Gunung Wilis sejak dulu kala digunakan sebagai tempat meditasi bagi kalangan kraton di Jawa. Misalnya Prabu Jayabaya kerap tetirah di grojogan Seduda Sawahan yang berada di lingkungan Gunung Wilis. Patih Gajahmada melakukan tapa brata di daerah Ngliman. Prabu Brawijaya menjalankan lelaku di daerah Bajulan.
Sebegitu pentingnya kawasan gunung Wilis sebagai tempat untuk menjalankan kegiatan spiritual, maka peranannya sangat berpengaruh pada sejarah. Pada tahun 1979, Ki Panut Darmoko menciptakan lelagon Nganjuk Mranani dengan setting Gunung Wilis dan Gunung Pandan. Keindahan alam dilukiskan dengan amat asri.
Kutha cilik sangisore Gunung Wilis
iku pantes dadi pecangkramaning pra turis
yo kanca ning Seduda ing perenging arga
lelumban lan byur-byuran weh bagasing raga
rampung njajan nginep neng pesanggrahan
wis mesthi kepranan nyawang kaendahan
Jo lali jo keri kutha Nganjuk mranani
Orang Nganjuk menyebut Gunung Wilis dengan nama Gunung Kidul. Para penduduknya disebut dengan brang kidul. Seolah-olah buat orang tidak pernah bepergian, Gunung Wilis dan sekitarnya itu sudah tampak sangat jauh. Meskipun dengan kampung halaman saya letaknya agak jauh, namun Gunung Wilis tampak jelas punggungnya. Besar, gagah, biru dan sangat menawan hati. Bagi mereka yang mendaki Gunung Wilis pasti bakal ketemu dengan Grojogan Sewu yang terkenal dengan nama Air Terjun Sedhudha.
“Ada kepercayaan bahwa siapa saja yang mandi di Grojogan Sedhudha akan selalu awet muda.”
Kata Mbak Endang Puji Lestari, alumni SMAN 2 tahun 1990 yang menjadi petugas perpustakaan Pemda. Dia dulu menjadi penari gambyong yang memukau.
Ludruk adalah seni khas Jawa Timur. Ada rombongan ludruk yang amat populer. Namanya Ludruk Kopasgat Trisula Dharma. Ludruk Kopasgat Trisula Darma terkenal sekali di Jawa Timur sekitar tahun 1970-1980-an. Markas ludruk ini di Kabupaten Madiun. Sebulan sekali siaran di RRI. Rombongan Ludruk ini dibawah binaan kesatuan TNI AU yang berdomisili di Maespati. Kopasgat singkatan dari Komando Pasukan Gerak Tepat. Memang para personil yang ikut mendukung pentas Ludruk Kopasgat kebanyakan berasal dari artis-artis sekaligus tentara. Saat itu tentara memang bisa jaya dan sukses di segala bidang. Di samping itu juga karena semangat korp militer yang sangat solid. Dalam bidang seni pun kiprahnya juga cukup meyakinkan dan mengagumkan masyarakat.
Pemainnya serba terpilih, iringan karawitan juga sangat bagus disertai dengan teknik pemanggungan modern. Saat jaya-jayanya Ludruk Kopasgat di pelosok desa belum ada lampu penerangan listrik. Di mana saja ketika Ludruk Kopasgat pentas, dari segala penjuru akan berduyun-duyun menonton. Orang akan berebut tempat. Hampir bisa dipastikan semua penonton akan puas. Maka, meskipun jauh tempatnya, orang juga tidak malas menyaksikan.
Belajar kesenian sungguh sangat menyenangkan. Boleh jadi karena pengaruh pentas ludruk Kopasgat Trisula Darma, yang populer di Nganjuk. Setiap hari tiada henti tanggapan. Sebulan sekali siaran di RRI Madiun, bergantian dengan Ludruk Enggal Trisno. Kemudian disusul Ludruk Mahamurni dan Sarimurni dari Jombang. Dari Nganjuk sendiri berdiri paguyuban Ludruk Panca Marga.
Dagelan seperti Bagio, Kolik, Klowor, Gombloh, Gimo dan Sandiyo membuat kesengsem masyarakat. Tidak ketinggalan Ludruk RRI dengan tokohnya Cak Kancil dan Ludruk Sidik Cs yang aktif menjadi iklan Mixagrip dan Oskadon. Ludruk ini pentas dan siaran, di radio setiap hari. Bahkan tiap jam siaran ini bisa dinikmati oleh masyarakat luas.
Bentuk sejenis seni Tobong yaitu Kethoprak Siswo Budoyo yang terkenal di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di bawah kepemimpinan Ki Siswondo kethoprak ini berjaya. Garapannya bagus dan hidup. Berkat kerja keras Ki Siswondo muncul tokoh dan bintang kethoprak. Disebut saja Jogelo, Jorono dan Joisin. Sekali tempo siaran di TVRI Surabaya. Lakonnya Aryo Penangsang Mbalelo.
Seiring dengan berkembangnya Ludruk dan Kethoprak, tak ketinggalan seni langen tayub. Hajad mantu, sepasaran bayi dan tetakan akan terhormat dengan nanggap tayuban. Siang hari uyon-uyon, malamnya among beksa. Bintang tayub yaitu Sumiati, Sumiatun, Painem dan Taminah. Mereka adalah seniman Kledhek yang menjadi kebanggaan bapak-bapak di karang padesan.
Bocah Gunung
Nadyan aku bocah gunung
Doh banget dunungku
Ora usah ndadak nganggo bingung
Yen ta pancen tresna aku
Pancen isih dadi lakon
Ninggalke sliramu
Ra orane yen bakal kelakon
Pepisahan karo aku
Muga-muga aja nganti gawe gela
Nga dinunga tinebehna ing rubeda
Ala yo mas – yo mas yo mas
Apa kowe ra kelingan
Dolan neng omahku
Aneng latar padha lelungguhan
Geguyonan karo aku
Bagi penguasa Jakarta, Kabupaten Kediri dianggap gawat kaliwat liwat, angker kepati Pati. Sampai sekarang wilayah Kediri dipercaya sebagai daerah yang wingit, angker kepati pati. Selamanya tidak ada Presiden Indonesia yang berani datang di wilayah Kediri. Presiden RI selalu merasa sor prebawa, kalah awu dengan pimpinan Kediri.
Sikap hidup masyarakat Kediri pasti berkait dengan sejarah leluhur. Mereka bangga dengan sejarah masa silam. Daftar priyagung yang pernah memimpin Kediri, dicatat dengan tinta emas.
1. Adipati Cakraningrat I, 1832 – 1846. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta Hadiningrat. Rajanya bernama Sinuwun Paku Buwono Vll.
2. Adipati Cakraningrat II, 1846 – 1862. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta Hadiningrat. Rajanya bernama Sinuwun Paku Buwono Vll.
3. Adipati Cakraningrat III, 1862 – 1870. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta Hadiningrat. Rajanya bernama Sinuwun Paku Buwono lX.
4. Adipati Cakraningrat IV, 1870 – 1894. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta Hadiningrat. Rajanya bernama Sinuwun Paku Buwono lX.
5. Adipati Cakraningrat V, 1894 – 1906. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta Hadiningrat. Rajanya bernama Sinuwun Paku Buwono X.
6. Adipati Cakrakusuma I, 1906 – 1917. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta Hadiningrat. Rajanya bernama Sinuwun Paku Buwono X.
7. Adipati Cakrakusuma II, 1917 – 1926. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta Hadiningrat. Rajanya bernama Sinuwun Paku Buwono X.
8. Adipati Cakrakusuma III, 1926 – 1940. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta Hadiningrat. Rajanya bernama Sinuwun Paku Buwono X.
9. Adipati Cakrakusuma IV, 1940 – 1945. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta Hadiningrat. Rajanya bernama Sinuwun Paku Buwono XI.
10. R. Soeprapto 1945 – 1950. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soekarno.
11. R. Dwidjo Soemarto 1950 – 1960. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soekarno.
12. R. Soedjono 1960 – 1966. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soekarno.
13. Hartojo 1966 – 1968. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soekarno.
14. Anwar Zainuddin 1968 – 1973. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto.
15. Drs. Soedarmanto 1973 – 1978. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto.
16. Drs. Setijono 1978-1989. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto.
17. Drs. Wijoto 1989-1999. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto.
18. Drs. HA Maschut 1999 – 2009. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Habibie.
19. Dr. Samsul Ashar 2009-2014. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
20. Abdullah Abu Bakar 2014 – 2019. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Joko Widodo.
