Sejarah Ki Ageng Giring

Oleh: Dr Purwadi M.Hum. 

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA. Hp 087864404347)

A. Ilmu Manah dan Ilmu Giring.

Ilmu memanah dimiliki Ki Ageng Pemanahan. Ilmu menggiring dimiliki Ki Ageng Giring. Ilmu manggalih dimiliki Panembahan Senapati.

Ki Ageng Giring putra Syekh Ketib Anom Batang. Pernah mengabdi kepada Sultan Trenggana, raja Demak Bintara.

Nama kecil Ki Ageng Giring yaitu Raden Abdul Manan. Pada tahun 1547 Ki Ageng Giring bertugas di sepanjang pegunungan Serayu. Sehari hari mengajar ilmu kanuragan, guna kasantikan.

Ki Ageng Giring tinggal di Gumelem Susukan Banjarnegara. Kawasan pegunungan Serayu merupakan daerah binaan. Atas dhawuh Kanjeng Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir.

Pada saat pergi ke tegalan, Ki Ageng Giring mendapat suara gaib. Barang siapa mampu minum degan kambil ijo sampai habis. Maka anak keturunan bisa menjadi raja di tanah Jawa.

Untuk bisa minum sampai habis, Ki Ageng Giring harus betul betul haus. Degan dibawa pulang. Beliau kembali ke tegalan yang berhawa panas.

Tiba tiba Ki Ageng Pemanahan datang. Langsung menuju tempat degan yang disimpan di atas paga. Air degan habis diminum Ki Ageng Pemanahan.

Alangkah terkejut Ki Ageng Giring. Namun beliau bisa menata perasaan. Sudah menjadi takdir Tuhan. Bahwasanya Ki Ageng Pemanahan akan menurunkan raja di tanah Jawa. Nak tumanak run tumurun, akan menjadi narendra gung binathara mbahu dhendha nyakrawati.

Wahyu keprabon itu bernama wahyu jatmika. Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pemanahan pun menjalin sumpah janji. Kelak bila mendapat kawibawan kawidadan kabagyan sarta kamulyan akan dinikmati bersama. Sumpah janji itu memang ditepati. Trah Ki Ageng Giring setia mendampingi keturunan Ki Ageng Pemanahan.

Alas Mentaok merupakan ganjaran dari Sultan Hadiwijaya. Raja Pajang ini memberi Alas Mentaok kepada Ki Ageng Pamanahan. Inilah cikal bakal wilayah Mataram.

Ngeksiganda adalah sebutan untuk daerah pusat Mataram. Babad Kotagedhe merupakan dokumen historis. Nilai keluhuran dan keagungan menyertai berdirinya kerajaan Mataram. Babad Alas Mentaok atas restu Sultan Hadiwijaya raja Pajang.

Kraton Mataram berdiri pada tahun 1582. Raden Ajeng Waskitha Jawi adalah adalah permaisuri Panembahan Senapati raja Mataram.

Raden Ajeng Waskitha Jawi adalah putri Ki Ageng Penjawi Bupati Pati. Sebagai garwa prameswari raja Mataram, Raden Waskitha Jawi memberi sumbangan buat pembangunan ibukota kerajaan Mataram di Kotagedhe.

Tenaga, pikiran, harta benda diberikan kepada Kerajaan Mataram. Kecerdasan, kekayaan dan kewibawaan putri Bupati Pati sungguh memancar berseri seri. Kerajaan Mataram memang berhutang budi.

Garwa prameswari Panembahan Senapati dari Pati memang mustikaning putri, tetungguling widodari. Layak mendampingi Wong Agung ing Ngeksiganda.

Sinom

Nulada laku utama,
Tumrape wong Tanah Jawi,
Wong agung ing Ngeksiganda,
Panembahan Senapati,
Kepati amarsudi,
Sudane hawa lan nepsu,
Pinesu tapa brata,
Tanapi ing siyang ratri,
Amamangun karyenak tyasing sasama.

Deskripsi tentang keteladanan Panembahan Senapati yang mendirikan kerajaan Mataram tahun 1582 diterangkan dalam serat Wedhatama. Sri Mangkunegara IV sebagai keturunan langsung Panembahan Senapati mengajak masyarakat untuk mencontoh perilaku Panembahan Senapati. Sebagai raja yang mengutamakan kepentingan orang banyak.

Lagu sinom yang diciptakan tahun 1853 ini berisi tentang ajaran keutamaan yang telah diwariskan oleh Panembahan Senopati. Beliau adalah raja Mataram yang pertama. Sebagai seorang pemimpin Panembahan Senopati berhasil mengendalikan tingkah lakunya. Beliau mau memperkokoh jati diri dan selalu mawas diri. Dengan rakyatnya senantiasa berbuat kebajikan yang dapat menyenangkan pada sesama. Sikap hidup yang perlu dicontoh oleh sekalian pemimpin.

Tembang sinom Parijatha iku kapethik saka Serat Wedhatama kang dianggit dening Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV. Panjenengane ngasta minangka adipati ing Mangkunegaran nalika taun 1853 – 1881. Kanggone para seniman tembang sinom mau mathuk minangka mat matan. Lagune kepenak lan cakepane mawa pitutur luhur. Wong Jawa perlu nulad kautaman kang wis diwarisake dening Panembahan Senapati, raja ing Kraton Mataram.

Dalam lintasan sejarah Kotagedhe telah sukses menyumbangkan keagungan peradaban. Kerajaan Mataram didirikan setelah babad Alas Mentaok. Mataram beribukota di Kotagedhe atau Kutha Ageng.

Pendiri kerajaan Mataram yaitu tiga serangkai yang amat misuwur. Ketiga tokoh itu adalah Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Penjawi dan Ki Ageng Juru Martani. Sesepuh Mataram ini nyata sebagai jalma limpat seprapat tamat. Beliau berilmu tinggi, kebak ngelmu sipating kawruh, putus ing reh saniskara.

Dalam Babad Mentawis disebutkan kiprah Ki Ageng Giring yang mempunyai spesialis ilmu nggiring. Orientasi keilmuan sebatas pada wacana menggiring. Titik temannya sebatas tut wuri handayani. Sebagai rakyat sewajarnya memberi dorongan pada pemerintah yang mendapat mandat. Inilah penerapan konsep manunggaling kawula Gusti.

Adapun Ki Ageng Pemanahan memiliki ilmu manah. Tempat tinggalnya di Manahan yang masih wewengkon Kasultanan Pajang. Beliau penasihat utama raja Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya. Bagi Ki Ageng Pemanahan pola pikir hendaknya selaras dengan laku dikir. Penerapannya terjabar pada konsep Kejawen sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, sembah rasa. Tasawuf Islam mengajarkan syariat tarikat hakikat makrifat.

Pemilik ilmu tingkat sangkan paraning dumadi yakni Panembahan Senapati. Manggalih adalah manunggaling barang kalih, yaitu kepala dada yang digambarkan dengan orong orong. Ajaran Kanjeng Sunan Kalijaga, guru suci ing Tanah Jawi cukup menjadi solusi. Pada saat pembangunan Masjid Agung Demak Bintara perlu penyempurnaan. Saka guru Masjid lantas dijangkepi dengan anyaman tatal kang sambung sinambung.

Panembahan Senapati tokoh yang mampu membangun peradaban besar. Saben mendra saking wisma lelana laladan sepi. Ngingsep sepuhing sopana mrih pana pranaweng kapti. Dalam prakteknya beliau selalu amemangun karyenak tyasing sesama. Ikut serta dalam memelihara perdamaian dunia yang berdasarkan keadilan abadi.

Begitu tangguh, sepuh, utuh, wanuh, gambuh penghayatan ilmu pengetahuan yang dimiliki Panembahan Senapati. Kanjeng Ratu Kidul, penguasa pantai selatan pun kalah perbawa. Dari Kotagedhe menuju Kedaton Kanjeng Ratu Kidul yang disebut Saka Domas Bale Kencana. Di sanalah Panembahan Senapati melakukan meditasi dan refleksi spiritual. Ilmu iku kelakone kanthi laku.

Nama kecil Panembahan Senapati adalah Sutawijaya, yang bermakna anak Sultan Hadiwijaya, raja Pajang. Sejak lahir hingga dewasa, Sutawijaya atau Ngabehi Loring Pasar memang diasuh oleh Sultan Hadiwijaya. Di Kasultanan Pajang Sutawijaya digembleng lahir batin. Diberi pelajaran ilmu kanuragan jaya kawijayan. Ilmu tata negara diberikan Ki Juru Martani. Ilmu diplomasi kenegaraan diajarkan oleh Ki Ageng Penjawi. Sutawijaya menjadi pribadi paripurna.

Alas Mentaok merupakan cikal bakal bumi Mataram Kotagedhe. Mentaok berarti dimen taberi olah kawruh. Maka trah Mataram harus wignya tembung kawi. Kawruh agal alus, sesuai kumandang sastra gendhing. Danang Sutawijaya dipilih oleh Sultan Hadiwijaya sebagai raja Mataram Kotagedhe atas restu Kanjeng Sunan Giri Parepen. Kebijaksanaan Sultan Pajang ini dalam rangka politik kompromi antara trah Pajang dan keturunan Sultan Demak Bintara.

Kanjeng Sultan Hadiwijaya membekali dua pusaka utama. Tombak Kyai Plered dan Rontek Tunggul Wulung. Tombak Kyai Plered warisan Ki Ageng Banyubiru. Ampuhnya setarap dengan Tombak Kyai Baru Klinthing milik Ki Ageng Mangir. Ujung tombak Kyai Plered terdapat zat kimia yang menyemburkan gas beracun. Korbannya yaitu Arya Penangsang, adipati Jipang Panolan.

Pusaka Rontek Kyai Tunggul Wulung sejenis bendera gula kelapa. Pusaka ini warisan Adipati Sri Makurung Handayaningrat. Beliau Bupati pengging yang menikah dengan Ratu Pembayun, putri Prabu Brawijaya V. Kyai Tunggul Wulung penting sekali. Gunanya untuk menyingkirkan pageblug mayangkara. Segala macam penyakit menular akan pergi ketika Rontek Kyai Tunggul Wulung berkibar. Bencana alam, banjir, Gunung meletus, gempa bumi cukup diatasi dengan kitab pusaka Rontek Kyai Tunggul Wulung.

Danang Sutawijaya atau Ngabehi Loring Pasar dinobatkan menjadi raja Mataram Kotagedhe , nak tumanak run tumurun. Bergelar Panembahan Senapati ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panetep Panatagama. Berkuasa di kerajaan Mataram tahun 1584 sampai 1601. Beliau juga mendapat julukan Wong Agung ing Ngeksiganda. Sejak itu pedoman raja Mataram adalah agama ageming aji.

Raden Ajeng Waskitha Jawi merintis perjuangan dengan sepenuh hati. Supaya ibukota Kraton Mataram berdiri kokoh terhormat dan bermartabat.

Ngabehi Loring Pasar menunjukkan bahwa raja Mataram ahli marketing. Demi keselarasan produksi distribusi dan konsumsi. Inilah jalan untuk mewujudkan tata kelola ekonomi yang berimbang.

Perlu prasapa atau sumpah kepada leluhur. Ki Ageng Giring memberi nasihat pada putra putri, agar setia hati menjadi pengabdi. Anak cucu Giring selayaknya pana pranaweng kapti.

B. Sumpah Ki Ageng Giring.

Wasis wicaksana waskitha itulah kepribadian Ki Ageng Giring. Demi menjaga keutuhan Mataram, maka beliau bersumpah. Anak cucunya dilarang ikut politik kerajaan.

Anak cucu Ki Ageng Giring diminta untuk netral dalam Kerajaan Mataram. Tiap ada kerja, putra wayah Giring mesti mau cancut taliwanda. Mereka harus mau lila lan legawa kanggo mulyaning negara.

Iguh partikel keluarga Ki Ageng Giring sering dipakai pembesar Mataram. Panembahan Senapati mendapat gelar Wong Agung ing Ngeksiganda. Beliau akrab dengan para bupati pesisir.
Peran Kabupaten Pati di Kotagedhe Mataram. Raden Ajeng Waskitha Jawi adalah pendekar sejarah Pati. Tata wilayah Kotagedhe sebagai ibukota Mataram berhubungan erat dengan sejarah Kabupaten Pati dan Gresik. Garwa prameswari Panembahan Senapati adalah Kanjeng Ratu Waskitha Jawi. Beliau putri Bupati Pati, Ki Ageng Penjawi. Ibunya berasal dari keluarga kalangan Wali Sanga. Beliau bernama Raden Ayu Panengah, putri Kanjeng Sunan Giri Parepen di Gresik.

Asal usul Ki Ageng Penjawi cukup berbobot. Ayahnya adalah Ki Ageng Ngerang, tokoh masyarakat Juwana. Sedangkan Ki Ageng Ngerang merupakan anak Ki Ageng Getas Pendawa. Orang tua Ki Ageng Getas Pendawa adalah Raden Bondan Kejawan dan Dewi Nawangsih. Raden Bondan Kejawan putra Prabu Brawijaya V, raja Majapahit. Dewi Nawangsih adalah putri Ki Ageng Tarub yang menikah dengan Dewi Nawangwulan. Bila ditarik ke atas masih keturunan Bupati Wilwatikta Tuban.

Masa kanak kanak Ki Ageng Penjawi digunakan untuk belajar dan bekerja. Beliau pernah mengabdi kepada Pangeran Hadirin, suami Kanjeng Ratu Kalinyamat Jepara. Pangeran Hadirin adalah menantu Sultan trenggana yang menjadi saudagar kaya raya.

Berasal dari kerajaan Samudera Pasai Aceh. Kekayaan yang berlimpah ruah ini digunakan untuk menyumbang pembangunan di Karaton Demak Bintara. Melihat bakat dan kemampuan Ki Ageng Penjawi ini, Pangeran Hadirin memberi beasiswa. Biaya hidup, perjalanan dan operasional ditanggung penuh. Malah boleh dikatakan turah turah.

Pada tahun 1559 sampai 1564 Ki Ageng Penjawi berguru ke Persia Iran. Waktu itu negeri Persia Iran diperintah oleh dinasti Safawi. Rajanya bernama Sri Baginda Sultan Qajar Pahlewi Syah. Ki Ageng Penjawi belajar ilmu arsitektur, kesusasteraan, tata kota, bangunan monomen dan sejarah Britania. Selama belajar di negeri Persia Iran Ki Ageng Penjawi menggunakan nama Abdullah Mukmin Pahlewi.

Kanjeng Ratu Waskitha Jawi mendapat status the First Lady Karaton Mataram dengan modal yang sangat besar. Leluhurnya memang bangsawan terhormat, trahing kusuma rembesing madu, wijining atapa, tedhaking andana warih. Dari jalur ibu dan bapaknya adalah tokoh sejarah Jawa. Proses pendidikan dan kepribadian dijalani dengan begitu rapi. Layak menduduki permaisuri Panembahan Senapati. Dari guwa garba rahimnya lahir Raden Mas Jolang. Kelak menjadi raja kedua Mataram. Bergelar Sinuwun Prabu Hadi Hanyakrawati, yang memerintah kerajaan Mataram tahun 1601 sampai 1613.

Atas prakarsa Kanjeng Ratu Waskitha Jawi, Sinuwun Prabu Hadi Hanyakrawati menikah dengan Ratu Banuwati. Beliau putri Pangeran Benawa, putra Sultan Hadiwijaya raja Pajang. Dari pernikahan ini lahir Raden Mas Jatmika. Nanti menjadi raja ketiga Mataram dengan gelar Sultan Agung Hanyakrakusuma. Memerintah kerajaan Mataram tahun 1613 sampai 1645.

Selama bertugas sebagai ibu negara kerajaan Mataram, Kanjeng Ratu Waskitha Jawi aktif membangun Kotagedhe. Jarak antar kota dibuat sejauh 30 km. Inspirasi penjarakan kota ini berasal dari Persia Iran. Dengan alasan jalannya kuda normal ditempuh maksimal 30 km. Jarak pasar sebagai pusat perbelanjaan dibuat sekitar 5 km. Dengan argumentasi orang jalan normal dapat menempuh 5 km. Kotagedhe dibangun dengan landasan logika etika estetika.

Inspirasi dari negeri Persia Iran amat dominan dalam membangun istana Kotagedhe. Istana Mataram dibangun dengan kayu jati Cepu. Tukangnya dari juru ukir Jepara. Batu marmer dari Tulungagung. Tengah kota dibangun alun alun sebagai sarana space public. Ruang umum ini berfungsi sebagai pelepas lelah, hiburan dan menjalin komunikasi sosial. Tak lupa dibangun Masjid untuk beribadah. Masjid agung dilengkapi bedug dan kenthongan. Baru kemudian dibangun pasar untuk transaksi barang dan jasa.

Pengaruh Kanjeng Ratu Waskitha Jawi sangat kuat di Kotagedhe. Wajar saja, karena beliau orang kaya. Usaha dari keluarga Pati meliputi kayu jati, semen, minyak, pari gaga dan burung perkutut. Perusahaan multi bidang yang diwarisi dari Ki Ageng Penjawi tersohor di Asia Tenggara.

Bahkan Kanjeng Ratu Waskitha Jawi berhasil pula mengembangkan bisnis perikanan, pelayaran dan pelabuhan di Jepara, Tuban dan Semarang. Ketrampilan usaha ini dikembangkan di Kotagedhe. Pemuda pemudi Mataram dilatih untuk mengembangkan beragam kerajinan. Muncullah industri kerajinan perak berkualitas eksport.

Kerajinan perak Kotagedhe maju pesat. Kewirausahaan orang Kotagedhe teruji dalam lintasan sejarah. Ini berkat jasa Kanjeng Ratu Waskitha Jawi. Industri batik juga dibina. Hanya saja tempatnya di wilayah sekitar bengawan Solo. Tepatnya di sekitar kawasan Laweyan. Untuk penasaran hasil bumi dikembangkan di daerah Karangkajen. Pusat kuliner sate klathak dipilih sepanjang daerah wonokromo. Naluri bisnis Kanjeng Ratu Waskitha Jawi amat tajam. Kotagedhe sebagai ibukota Mataram benar benar loh subur kang sarwa tinandur, jinawi murah kang sarwa tinuku.

Kanjeng Sultan Agung membuat kebijakan baru. Pada tahun 1613 sampai 1645 ibukota Mataram pindah ke Kerta. Pada tahun 1645 sampai 1677 ibukota Mataram pindah ke Plered. Masa pemerintahan Sinuwun Amangkurat Tegal Arum. Pada tahun 1677 sampai 1745 ibukota Mataram di Kartasura. Tahun 1745 sampai 1755 ibukota Kerajaan Mataram di Surakarta. Pada tanggal 13 Pebruari 1755 ada perjanjian luhur. Namanya perjanjian Giyanti. Kerajaan Mataram semakin arum kuncara.

Namun demikian, Kotagedhe tetap dianggap sebagai pepundhen oleh para Pangageng Mataram. Tiap bulan ruwah utusan keraton Surakarta dan Yogyakarta marak sowan ing Kotagedhe. Mengapa? Karena the founding fathers Mataram kang wus surut ing kasedan jati, sumare ing Puroloyo Kotagedhe.

Agar lebih utuh dalam memahami Kotagedhe, perlu disertakan peran aktif warga Pati. Terutama peran Raden Ajeng Waskitha Jawi.

Keturunan Ki Ageng Giring mendapat perlakuan yang terhormat. Trah Mataram menganggap Trah Giring lebih senior. Namun putra wayah Giring tidak mau terlibat politik praktis.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *