Raden Wijaya Mendirikan Kerajaan Majapahit

Oleh: Dr Purwadi M.Hum. 

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA. Hp 087864404347)

A. Membangun Ibukota Kerajaan Majapahit.

Raden Wijaya membangun ibukota kerajaan Majapahit didukung penuh oleh segenap lapisan masyarakat. Rakyat perkotaan pedesaan pegunungan bersatu padu melangkah untuk maju.

Daerah Jombang memiliki andil yang besar atas berdirinya kerajaan Majapahit. Asal usul nama Jombang, yaitu bejo bejane wong seneng nyenyumbang. Penamaan ini langsung diberikan oleh Raden Wijaya. Saat itu beliau didampingi warga Lodaya Blitar.

Wajar sekali kota Blitar tempat menyimpan abu para raja Majapahit. Candi Penataran merupakan monumen spiritual yang penting bagi para penguasa kerajaan Majapahit. Hubungan Blitar dengan Majapahit dekat sekali.

Jombang menurut Raden Wijaya memiliki makna filosofis yang sangat bagus dan luhur. Kata Jombang bermakna bejone wong seneng nyumbang. Kata bejo berarti keuntungan, nyumbang berarti bersedekah, donatur, menyumbang, memberi, menolong, darma bakti, mengabdi. Jombang dapat diartikan sebagai masyarakat yang selalu beruntung karena gemar menyumbangkan tenaga, pikiran dan harta buat kemajuan bersama.

Nama Jombang ini diberikan oleh Raden Wijaya pada tanggal 21 Oktober 1293. Berdirinya kerajaan Majapahit sebetulnya pada awal mula berada di daerah Jombang. Raden Wijaya membangun istana kraton Majapahit melalui proses panjang.

Rencana pembangunan istana dilakukan di beberapa pesanggrahan. Pengadaan kayu dilakukan di daerah Mojojejer. Pembuatan denah istana digarap di daerah Mojowarno. Rapat para pembesar Majapahit berada di daerah Mojotengah. Tiap malam rapat koordinasi dan evaluasi dalam suasana penuh kerukunan.

Mandor dan tukang bangunan berkumpul di daerah Mojongapit. Tukang marmer berasal dari Junjung Tulungagung. Tukang kayu dari Kayutrejo Widodaren Ngawi. Khusus juru ukir didatangkan dari Jepara.

Ibu ibu yang mengurusi logistik konsumsi dan makanan berada di daerah Mojokuripan. Rujak cingur kerap menjadi santapan tambahan. Sekali tempo disajikan wedang angsle asli Malang. Suguhan tahu takwa dibawa oleh rekanan dari Kediri.

Gathot thiwul dibawa oleh relawan dari Bedander Bojonegoro. Jaringan Raden Wijaya terbukti amat luas. Tentu memperlancar kerja pembangunan istana. Penerangan lampu disumbang oleh warga Randublatung Blora. Umumnya mereka punya usaha minyak tanah.

Warga Lumajang juga basis pendukung kerajaan Majapahit. Leluhur para pembesar Majapahit banyak yang berasal dari kawasan Gunung Bromo. Mereka ahli dalam bidang tata negara. Misalnya Empu Prapanca yang mengarang kitab Negara Kertagama.

Istana Majapahit dikerjakan dengan semangat gotong royong. Solidaritas terbentuk karena kehendak yang utama. Mereka membangun negara yang kuat dan berwibawa. Untuk itu aspek logistik harus selalu tersedia. Logika jangan diganggu oleh logistik.

Makanan mengalir deras. Untuk menu pagi selalu tersedia sego pecel. Siang rawon, sore soto ayam. Ibu ibu mendirikan dapur umum. Beras bumbu dan sayur tersedia berlimpah ruah. Juru masak berasal dari Bandungan Klangon Saradan Madiun.

Pesanggrahan Raden Wijaya dan pejabat Majapahit berpusat di daerah Mojoagung. Pekerjanya banyak yang berasal dari Tempuran Ngluyu Nganjuk.

Bersama dengan istri istrinya, Raden Wijaya menempati rumah dinas yang berlokasi di Mojoagung timur tahun 1293 – 1295. Kanjeng Ratu Tri Bhuwanaswari, Gayatri Rajapatni, Indraswari Dara Petak, Indraswari Dara Jingga, Pradnya Paramita dan Narendra Duhita tinggal di Mojoagung dalam rangka melancarkan pembangunan utama Majapahit di Trowulan.

Raden Wijaya yang bergelar Prabu Kertarajasa Jayawardhana adalah seorang raja bijak bestari. Narendra gung binathara, mbahu dhendha nyakrawati, ambeg adil paramarta, ber budi bawa leksana, memayu hayuning bawana. Beliau berlaku adil terhadap istri istrinya. Guyub rukun kompak bersatu demi cita cita luhur.

Pada tanggal 10 – 12 Oktober 1293 diselenggarakan gotong royong patirtan, dengan mengambil tempat di daerah aliran sungai. Raden Patah kerap lelaku di grojogan Sedudo kaki gunung Wilis.

Kanjeng Ratu Tri bhuwaneswari memimpin gotong royong patirtan di Kali Brantas. Beliau diikuti oleh warga dari daerah Bandar Kedungmulyo, Perak, Jogoroto, Gudo, Peterongan, Diwek, Megaluh. Ratu Gayatri Rajapatni bertugas di patirtan Kali Konto. Beliau diikuti oleh warga dari daerah Ngoro, Tembelang, Mojowarno. Ratu Indreswari Dara Petak bertugas di patirtan Kali Jurangjero. Beliau diikuti oleh warga dari daerah Kudu, Bareng, Kesamben.

Kegiatan gotong royong diikuti segenap lapisan masyarakat. Ratu Indreswari Dara Jingga bertugas di patirtan Kali Ngretak. Beliau diikuti oleh warga dari daerah Wonosalam, Ploso, Mojoagung. Ratu Pradnya Paramita bertugas di patirtan Kali Marmoyo. Beliau diikuti warga dari daerah Kabuh, Sumobito, Plandaan, Ngusikan. Ratu Narendraduhita bertugas di patirtan Kali Widas. Beliau diikuti oleh warga dari daerah Balunggebang, Patianrowo, Kertosono.

Program gotong royong patirtan berlangsung gancar lancar, ayu hayu rahayu, nir bita nir baya, nir sambikala. Rakyat bersatu padu bergembira ria mendukung para bangsawan Majapahit. Begitulah cara kerja trahing kusuma rembesing madu.

Para ratu yang menjadi pendamping Raden Wijaya amat luhur budi pekerti. Para istri putri tetunggule widodari. Penampilan mereka menjadi panutan, patuladan, pengayom, pengayem bagi seluruh rakyat yang tinggal di kawasan desa ing ngadesa, gunung ing ngagunung, kutha ing ngakutha.

Lagu gugur gunung Laras pelog pathet barang.

Ayo kanca ayo kanca
ngayahi pakaryan praja.
Kono kene kono kene gotong royong nyambut gawe.
Sayuk sayuk rukun bebarengan ro kancane.
Lila lan legawa kanggo mulyane negara.

Siji loro telu papat
Bareng maju papat papat.
Diulang ulungake murih enggal rampunge.
Holobis kontul baris
Holobis kontul baris
Holobis kontul baris
Holobis kontul baris.

Dewan pertimbangan kerajaan Majapahit bersidang pada tanggal 16 Oktober 1293. Para sesepuh Majapahit menganjurkan agar kegiatan gotong royong patirtan dilestarikan. Hasil rapat menganjurkan agar daerah ini diberi nama yang abadi, sebagai bentuk penghormatan. Raden Wijaya yang didampingi Adipati Ranggalawe, Adipati Wiraraja, Adipati Mangkubumi dan Pangeran Jayanegara merasa amat gembira.

Pada tanggal 21 Oktober diadakan peresmian nama Jombang. Abdi dalem dari kawasan bang wetan dan bang kulon hadir lengkap. Tak lupa rekanan dari wilayah pesisir lor yang meliputi Lamongan Rembang dan Tegal.

Upacara diselenggarakan dengan tumpengan. Malam harinya digelar pentas seni rakyat dan pasar malam. Siang hari dipentaskan jathilan, jaranan, barongan, reyog. Malam hari dipentaskan seni ludruk, kethoprak, wayang wong dan wayang kulit. Tayuban dari Kledhek Ngrajek. Suasana meriah sekali.

Majapahit lekat dengan Jombang. Sejak itu Jombang semakin terkenal di seluruh dunia. Jombang, bejone wong seneng nyumbang. Nama yang pas, cocok, sesuai dengan karakter masyarakat. Kenyataannya Jombang adalah kabupaten yang subur makmur. Wajar sekali berdiri pondok pesantren Tambak Beras.

Lembaga pendidikan Islam yang mendukung program ketahanan pangan. Pondok pesantren Tambak Beras secara spiritual, cocok dengan ungkapan negara gemah ripah loh jinawi.

Adanya pondok pesantren Tebu Ireng merupakan kiblat kawruh agama di Tanah Jawa. Tebu iku antebing kalbu.
Orang mencari ilmu mesti bertekat kuat untuk memperoleh pengetahuan.

Sebagai bekal kesempurnaan hidup di dunia sampai akhirat. Agama ageming aji, bahwa beragama itu akan mendapat derajat yang mulia. Oleh karena seseorang perlu menuntut ilmu. Berdirilah pondok pesantren Darul Ulum, sebagai bangunan rumah yang mbabar dan membentangkan ilmu pengetahuan. Pondok pesantren Tambak Beras, Darul Ulum dan Tebu Ireng menjadi pewaris ajaran Kanjeng Nabi.

Ilmu iku kelakone kanthi laku. Lembaga pendidikan ini mengutamakan nilai keagamaan yang selaras dengan nilai kebangsaan. Butir butir kearifan lokal dihormati sebagai fakta historis. Muncullah suasana keselarasan.

B. Penerus Perjuangan Raden Wijaya.

Jasa Raden Wijaya besar sekali. Anak cucu siap melanjutkan perjuangan. Peran masyarakat Jombang dalam lintasan sejarah memang amat besar

Daerah Mojoagung Jombang selalu mendapat perhatian utama dari para raja Majapahit. Prabu Jayanegara pada tahun 1310 menyelenggarakan sarasehan budaya dan wilujengan. Diikuti segenap pejabat Majapahit. Prabu Tri Buana Tungga Dewi yang memerintah Majapahit tahun 1328 – 1350 tiap tahun selalu melakukan upacara sarada di Mojogagung untuk napak tilas sejarah. Demikian Prabu Hayamwuruk yang memerintah kerajaan Majapahit tahun 1350 – 1386.

Daerah Mojoagung Jombang betul betul anggun dan agung. Empu Tantular pernah tinggal di Mojoagung untuk menyusun kitab Sutasoma. Berisi tentang pergaulan yang baik dalam kenegaraan. Saat penyusunan didampingi oleh sahabat dari Blambangan.

Sejak tahun 1482 wilayah Jombang dibina oleh kraton Demak Bintara. Sultan Trenggana atau Kanjeng Sultan Syah Alam Akbar Mahmud Rosyid Sirullah II melakukan kunjungan ke wilayah Bang Wetan. Beliau datang dengan diiringi Kanjeng Sunan Kalijaga, Sunan Giri, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati dan Maulana Malik Ibrahim.

Dewan Wali Sanga itu rapat metode Dakwah Islamiyah di Kadipaten Surabaya. Putri Sunan Ampel menjadi garwa prameswari Raden Patah Jimbun Sirullah Syah Alam Akbar I, raja Demak. Bernama Kanjeng Ratu Mas Panggung.

Kanjeng Sunan Bonang mendapat tugas untuk menyiarkan agama Islam di sepanjang aliran sungai Brantas. Kanjeng Sunan Kalijaga hadir di daerah Kedung Cinet pojok klethik Plandaan selama lima hari. Kemudian datang di daerah Tretes Galengdowo Wonosalam. Dilanjutkan meditasi di Gua Segolo golo Panglungan Wonosalam.

Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga menyebarkan agama Islam melalui jalur kebudayaan. Gamelan Sekaten diciptakan untuk penyiaran agama secara damai dan beradab.

Gamelan dibuat Sunan Bonang dengan suara merdu. Terbuat dari gangsa, yaitu campuran tiga nikel dan sedasa perunggu. Gangsa berwarna kebiru biruan, bila ditabuh berkumandang nyaring. Penabuhnya bernama wiyaga atau tukang mengheningkan cipta. Wiyaga adalah pengrawit gamelan yang berlau seperti orang bersemedi. Tenang, halus, sopan dan penuh tata krama.

Waranggana adalah pesinden yang melantunkan gendhing. Wara berarti wanita, anggana berarti indah, elok, bagus. Waranggana bertugas untuk melantunkan gendhing yang indah.

Pagelaran wayang yang dilakukan Sunan Kalijaga mengandung unsur tontonan, tuntunan dan tatanan. Wulangan wejangan dan wedharan menjadi kunci keberhasilan pentas wayang purwa. Lakonnya Jimat Kalimasada, yang berarti dua kalimat syahadat. Pentas wayang purwa dengan lakon Jimat Kalimasada bertujuan untuk dakwah Islamiyah secara kultural. Agama Arab digarap budaya Jawa tetep digawa. Agama ageming aji.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *