Kakak Beradik, Indra Widya Agustina Dan Indrata Nur Bayuaji Punya Jasa Besar Terhadap Pemenangan Bupati Indartato dan Demokrat. Ini Sekilas Ceritanya
Pacitan, Liputan 68.com-Caleg DPRD Provinsi Dapil VII Jatim dari Partai Demokrat, Indra Widya Agustina (IWA) ternyata memiliki rekam jejak sangat bersejarah dibalik suksesi pemenangan Indartato saat kali pertama macong sebagai Calon Bupati di Pacitan.
Menurut sumber media yang bisa dipercaya, IWA punya andil besar mempersuasif pamannya, Presiden ke enam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kala itu, hingga turunnya surat rekomendasi pecalonan kepada Indartato saat macong sebagai cabup Pacitan di periode pertama silam.
“Secara kebetulan saat itu Mas Indra masih berdomisili di Jakarta. Sehingga akses untuk bertemu Pak SBY dan juga almarhumah Bu Ani sangat mudah. Kesempatan itulah sama Mas Indra dimanfaatkan untuk lobi-lobi memperkenalkan nama Pak In (Indartato, Red) untuk bisa mendapatkan rekomendasi sebagai cabup Pacitan yang diusung Partai Demokrat,” kata sumber saat ngopi bareng bersama awak media, Senin (9/10) malam kemarin.
Dari sekelumit cerita diatas, setidaknya bisa menjadi pemahaman untuk khalayak luas, kalau peran IWA untuk Demokrat dan Pacitan, sangatlah besar. “Mungkin tanpa peran Mas Indra, belum tentu Pak In bisa melenggang sebagai Bupati Pacitan selama dua periode,” jelas sumber yang mewanti-wanti tidak disebutkan jati dirinya dalam pemberitaan media.
Selain IWA, juga ada figur kunci yang ikut berjasa meloloskan Indartato saat konfensi perebutan surat rekomendasi pencalonan bupati dari Partai Demokrat.
Dia adalah Indrata Nur Bayuaji, yang saat ini melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan Indartato sebagai Bupati Pacitan.
Rahman Wijayanto, salah seorang saksi kunci atas peran Mas Aji (Indrata Nur Bayuaji, Red) dalam meloloskan rekomendasi pencalonan untuk Indartato, pernah bertutur kepada media, tanpa campur tangan Mas Aji, mungkin surat rekomendasi tak akan jatuh ke tangan Indartato.
“Saat itu Cikeas (kediaman pribadi SBY) tak kenal siapa Pak Indartato itu. Lantaran upaya keras Mas Aji, akhirnya almarhumah Bu Ani saat itu mulai membuka hati dan mengutus orang DPP Demokrat untuk turun ke Pacitan dan melakukan survey elektabilitas dari Pak In,” terang Mas Wiwit begitu mantan Kades Arjowinangun itu saat ditemui wartawan beberapa waktu silam.
Sebagai bukti kalau Indartato punya chance besar memenangi pilkada saat itu, sambung Mas Wiwit, sampai-sampai Mas Aji rela menjadi bakal cawabupnya Indartato saat mengikuti proses penjaringan.
Sementara pada proses penjaringan tersebut juga banyak jago-jago lain yang ikut berkontestasi. Seperti misalnya Brigjen Aziz Ahmadi. Juga ada calon petahana, yaitu H.Suyono yang saat itu berpasngan dengan mantan Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Suyatno.
Ada juga pelukis kondang Soedibyo, dan pengacara kawakan Sugeng Nugroho yang juga putra mantan Bupati Pacitan Tedjo Soemarto.
Peliknya persaingan perebutan surat rekomendasi itulah, Mas Aji terus berupaya sekuat tenaga dan pikiran, agar Indartato bisa dikenal oleh Cikeas.
“Saat itu, Mas Aji masih menjabat sebagai anggota DPRD Pacitan. Tujuan Mas Aji mau ikut penjaringan sebagai bakal calon wakil bupati, agar Pak Indartato di kenal oleh orang pusat (DPP Demokrat) dan juga keluarga besar Cikeas. Harapannya surat rekomendasi pencalonan bisa jatuh ke tangan Pak In dan tidak ke yang lain.
Memang saat itu antusiasme masyarakat Pacitan untuk menjadikan Pak In sebagai Bupati Pacitan sangat tinggi,” bebernya.
Kalaupun saat ini IWA harus bersaing dengan Sulung mantan Bupati Indartato, yaitu Eko Prasetya Wahyudiarto pada perhelatan Pileg 2024 di Dapil VII Jatim, itulah sebuah dinamika kehidupan yang mungkin harus terjadi.
Sekalipun jasa IWA dan Mas Aji untuk Pacitan dan Demokrat pada khususnya, menjadi suratan sejarah yang tak bisa terlupakan. (Red/yun).

Tinggalkan Balasan