Oleh: Agus Marwan (Sekjend Forum Masyarakat Literasi Indonesia)
Semestinya negara yang paling khawatir dengan munculnya wabah Covid-19 di Wuhan, China, adalah Vietnam. Karena Negara ini berbatasan langsung dengan China di sebelah Utara, disamping itu tidak sedikit warga Vietnam yang bekerja dan tinggal di kota Wuhan.
Negeri berjuluk “Naga Biru” ini memiliki jumlah penduduk 97.300.000 jiwa dengan luas wilayah 331.212 kilometer persegi, dengan ibukota Hanoi. Selain berbatasan langsung dengan China, Vietnam juga berbatasan langsung dengan Laos dan Kamboja.
Tak satupun negara di dunia ini yang siap menghadapi wabah Covid-19. Sekalipun negera itu memiliki sistem kesehatan yang baik, peralatan kesehatannya yang canggih, dan memiliki tenaga medis yang banyak dan terlatih. Buktinya beberapa Negara maju dan bahkan negara adi kuasa pun gagal dalam memerangi wabah Covid-19.
Amerika Serikat (AS) tak berdaya menghadapi serangan wabah virus ini. Malah kini AS menduduki negara yang paling banyak terinfeksi Covid-19 di dunia. Menurut data yang dirilis oleh www.worldometers.info, update data yang terinfeksi Covid-19 di seluruh dunia per tanggal 16/4/2020 pada pukul 18.30, tercatat 2.096.573 kasus, dengan jumlah kematian 135.662 orang. Jumlah warga AS yang terpapar Covid-19 sebanyak 644.348 orang, dengan kamatian sebanyak 28.554 orang. Menyusul Spanyol 182.816 kasus, dengan kematian 19.130 orang, dan kemudian disusul Italia dengan 165.155 kaus, Perancis 147.000 kasus, Jerman 134.753 kasus dan Inggris 98.476 kasus.
Di saat banyak negara maju gagal melawan Covid-19, Justru Vietnam berhasil. Jumlah yang terinfeksi di Vietnam sampai saat ini sebanyak 268 kasus dengan 0 (zero) angka kematian. Keberhasilan Vietnam ini bahkan mendapat pujian dari dunia internasional.
Bagaimana strategi Vietnam dalam melawan wabah covid-19 ini? Dengan sumber dayanya yang terbatas, apa yang sesunggunya mereka lakukan, sehingga dapat memenangkan peperangan melawan wabah ini.
Untuk memenangkan sebuah peperangan, tentu harus memiliki strategi dan perencanaan yang baik. Jauh sebelum wabah ini mengganas, para pimpinan tertinggi di negeri sosialis ini telah melakukan konsolidasi untuk menyusun langkah-langkah penanggulangan dengan menyesuaikan kondisi dan sumber daya yang ada.
Strategi dan upaya yang dilakukan Vietnam dalam memerangi covid-19 adalah sebagai berikut:
Pertama, Pemerintah Vietnam membangun sebuah propaganda bahwa Covid-19 adalah musuh bersama yang harus diperangi secara bersama. Sama halnya, peperangan melawan penjajah yang mengerahkan seluruh sumber daya yang ada untuk menggempur lawan. Setelah perayaan Tahun Baru Tet pada akhir Januari 2020, Pemerintah Vietnam telah mendeklarasikan perang terhadap Covid-19. Perdana Menteri (PM) Vietnam Nguyen Xuan Phuc telah menyerukan kepada seluruh rakyat Vietnam untuk memerangi wabah Covid-19. “Memerangi epidemi ini, berarti memerangi musuh”, ujar sang PM sebagaimana dikutip dari dw.com (26/3/2020).
Kedua, Pemerintah Vietnam memberlakukan kebijakan karantina wilayah secara terbatas. Di Vietnam, wilayah yang kedapatan virus Covid-19 langsung ditutup. Semua warga tanpa kecuali dilarang keluar dari area tersebut. Tatkala area itu ditutup, pemerintah menyediakan dan mengantarkan kebutuhan pokok seperti makanan, minuman, dan obat-obatan, dengan standart penjagaan yang ketat dari petugas kemanan. Sejak ditemukannya kasus Covid-19 pertama kali pada 17 Januari 2020 di desa Son Loi, Provinsi Vinh Phuc di Utara Hanoi, pemerintah langsung bergerak cepat untuk menangani kasus. Dan untuk menahan supaya tidak terjadi penyebaran yang meluas, pemerintah Vietnam melakukan isolasi atau karantina desa tersebut selama 20 hari. Sebanyak 10.000 warga desa Son Loi dikarantina dengan penjagaan yang sangat ketat dari aparat keamanan. Begitu juga dengan daerah-daerah lain yang kedapatan kasus positif, daerahnya langsung ditutup dan diisolasi.
Ketiga, Pemerintah Vietnam melakukan pengawasan dan penjagaan secara ketat di daerah perbatasan. Sejak kasus pertama muncul, Vietnam melakukan pengawasan dan penjagaan perbatasan, utamanya di utara Hanoi yang berbatasan langsung dengan China. Semua orang yang masuk dari China diperiksa secara ketat, dan langsung dilakukan karantina yang lokasinya dibuat di perbatasan Vietnam dengan China. Pemerintah Vietnam telah menyediakan fasilitas 950 kamp militer dan fasilitas lainnya untuk tempat karantina.
Keempat, Pemerintah Vietnam melakukan penutupan penerbangan dari dan ke China. Dan menutup semua penerbangan ke Negara-negara yang telah terpapar Covid-19, seperti dari dan ke Korea Selatan, Jepang, Italia dan beberapa negara lain. Membatasi kunjungan turis asing ke Vietnam, dan memprioritaskan orang yang berurusan terkait diplomatik. Siapapun orang yang masuk ke Vietnam, langsung dilakukan karantina selama 14 hari.








