Pakar Komunikasi Politik Emrus Sihombing, Pernyataan Bupati SSL Diluar Batas Kewajaran

Ditambahkannya, dari aspek hakekat manusia, tidak satupun manusia di muka bumi yang goblok. Bahkan yang mengatakan goblok kepada orang lain, tidak tepat juga dia disebut sebagai goblok. Karena itu, penyebutan goblok kepada manusia lain sudah melampaui batas.

Di samping itu, jika seseorang pejabat, bupati misalnya, apalagi dari partai yang memuliakan manusia sebagai ciptaaan Tuhan Yang Maha Esa, sangat tidak pantas menyebut goblok kepada sesama manusia. Diksi goblok yang dilontarkan SSL sangat jauh dari aksiologi (moral dan etika) komunikasi.

Oleh karena itu, seorang pemimpin dalam situasi dan kondisi apapun, pesan yang diucapkan di ruang publik harus selalu mengindahkan tata krama dan sekaligus mengandung unsur mendidik. Ucapan SSL sejenis ini, oleh siapapun, utamanya pejabat publik, tidak boleh terulang di ruang publik.

Kemudian penyebutan negara sudah mau bangkut juga berlebihan dan sangat tidak tepat, karena tidak bebasis fakta, data dan bukti serta analisis yang menyertai. SSL telah menghiperpola (membesar-besarkan) persoalan atau situasi. Sebab, bangkrut bisa diartikan “gulung tikar” alias bubar.

Selain bermakna pesimis, diksi ini berpotensi menciptakan opini publik sangat tidak produktif terhadap eksistensi negara kebangsaan kita. Karena itu, diksi tersebut selayaknya tidak terucap dari seorang pemimpin dalam keadaan apapun. Kalaupun itu karena “keseleoh lidah”, tidak ada salahnya secepat mungkin minta maaf.

“Saya sangat berbeda pendapat dengan SSL. Menurut saya, Indonesia tidak akan, apalagi sudah mau bangkrut karena Covid-19. Yakinlah saudaraku SSL, kita sesama anak bangsa harus optimis, badai pasti berlalu,” tutup Emrus.

(M-01)

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *