Kini apa kaitannya penjelasan diatas dengan Lailatul Qadar. Saya kutip penjelasan di Google sbb: Sebuah hadis melalui mujahid yang menceritakan, bahwasanya Rasulullah pernah menceritakan tentang seorang lelaki dari kalangan kaum Bani Israil, ia menyandang senjatanya selama seribu bulan untuk berjuang di jalan Allah. Kaum muslimin merasa takjub atas hal tersebut. Maka Allah segera menurunkan firman-Nya:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan,” (QS Al Qadr 1-3). Jelas di malam itu ketika malaikat-malaikat turun ke bumi maka suasana alam akan berbeda dari biasanya. Lebih hangat dan lebih sejuk daripada sebelumnya. Pernahkah ada yang melihatnya, Wallohu Alam. Tetapi saya, mang Engkoes, Yakin Malam Lailatul Kadar ini. Pasti Ada. Nah, kaum muslimin semua PASTI punya keyakinan bahwa, Malam Kemuliaan itu ADA.
Selain itu doa-doa yang dipanjatkan kepada Ilahi akan diaminkan oleh malaikat-malaikat tersebut sehingga menjadi mempercepat pengabulan doa hamba-hambaNya. Maka sungguh beruntunglah orang-orang yang ketika malam Lailatul Qadar dapat memohon doa kepada-Nya dengan didoakan pula oleh malaikat-malaikat yang kebetulan sedang bertugas turun ke muka bumi. Insya Allah, INI BENAR.
Apa yang menjadi ujian bagi umat Islam?. Disinilah saya berpendapat, bahwa Lailatul Kadar itu tak bisa kita dekati hanya dengan pola IQ saja, atau pola EQ atau SQ saja. Dengan perkataan lain Lailatul Kadar harus dimaknai secara integratif antara _Akal Pikiran, Perasaan dan Keimanan_ Kalau kita memaknai secara integratif seperti itu, maka kita tak akan menghina atau mengejek orang yang Lek-Lek-an, bagadang menunggu lailatul Kadar, karena akan datang malam hari, jangan sampai ketika Lailatul Kadar datang, kita sedang tidur. Bismillah, tulisan mang Engkoes ini, mengajak kita menantinya dengan penuh harap. Bahkan menjaganya dari siang hari. Kegiatannya beragam. Mulai dari Itiqaf (diam di masjid), membaca Al Quran, membaca buku buku agama dan ilmu lainnya. Bersilaturahmi (maaf, sementara di rumah saja-covid 19) dan lain lain yang bermanfaat, termasuk berbagi kepada sesama.
Hanya saja, para ulama banyak yang berpendapat agar, ditunggu disepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, bahkan ada petunjuk agar ditunggu, pada tanggal ganjil _yakni, 21, 23, 25, 27 dan 29 Ramadhan_ Nah, tepat tanggal 21 Ramadhan 1414H inilah tulisan mang Engkoes dipersembahkan kepada pembaca sambil menunggu datangnya Lailatul Kadar. Semoga ada yang memahaminya dengan seksama. Mengapa ini ujian berat?, karena sungguh tidak mudah, akal-pikiran-perasaan dan keimanan, secara serempak, menanti datangnya Malam Kemuliaan ini. Tidak mudah. Saya berharap, semua yang membaca ini, berjumpa dengannya. Sampai jumpa di Ramadhan 1442H yah. Semoga Bangsaku tetap jaya. AAMIIN. /Red-liputan68/Ichwan Aridanu
Editor ; SA
