Jakarta,liputan68.com | Sebagai bagian dari anak bangsa, Saya sungguh bersyukur dan terima kasih atas edukasi yang berikan oleh Ibu Siti Fadilah Supari Mantan Menkes dan Watimpres RI khususnya terkait dengan pengalaman Beliau dalam menangani Virus SARS, keberanian Beliau dalam menegakkan kebenaran meskipun harus berhadapan dengan WHO kala itu, serta pencerahan Beliau terkait dengan Pandemi Covid-19 saat ini.
Terus terang dengan pembelajaran yang disampaikan Beliau, harusnya membuka pemikiran dan mata hati kita bahwa pentingnya keberpihakan negara, keberpihakan pemerintah dan pemimpin untuk terus membangun dan berinvestasi dalam bidang sumber daya manusia, dan bukan infrastruktur saja.
Sebagai negara besar dan berpenduduk besar pula, harusnya kita terus aware dengan potensi munculnya konspirasi global yang berbasis bisnis dan komersialisasi penyakit dan virus. Pemimpin kita harus paham kekuatan bangsa dan tantangannya ke depan. Hanya kemandirian yang basis dan pondasinya kekuatan SDM sendiri yang akan mampu menyelamatkan Indonesia dari berbagai ancaman termasuk potensi konspirasi global.
SDM kita hebat-hebat, sudah mampu membuat berbagai temuan obat, vaksin untuk menangkal berbagai penyakit dan Virus. Tinggal political will Pemimpin kita mau kemana? Ikut dan menjadi bagian konspirasi global atau mandiri melindungi dan membentengi rakyatnya dari kekejaman konspirasi global? Seharusnya Pemimpin yang bijak, melindungi rakyat dan negaranya, tahu mana yang akan dipilihnya? Mudah”an motif ekonomi & komersialisasi penyakit atau virus bukan yang di pilih.
Ada bijaknya para pemimpin bangsa ini mendengar setiap masukan anak bangsa termasuk Ibu Siti Fadilah Supari dalam kapasitas dan kompetensi serta pengalaman Beliau dalam menangani persoalan kesehatan. Beliau pernah membatalkan penetapan pandemi SARS yang ditetapkan WHO waktu itu yang disinyalir tidak transparan, dan terbukti, tanpa Anti Virus yang direkomendasikan oleh WHO, Indonesia bisa menghentikan penyebaran Virus SARS waktu itu.
Meskipun Beliau saat ini berstatus warga binaan, namun negara, pemerintah, pemimpin dan pejabat tidak boleh lupa dengan jasa-jasa beliau u/ Masyarakat, u/ Indonesia, bahkan u/ Dunia. Terlalu picik dan naif apabila ada pejabat yang menistakan itu. Disiplin ilmu dan pengalaman Beliau tidak boleh dimatikan dan dinafikkan hanya karena statusnya. U/ kepentingan yang lebih besar bagi bangsa ini, seharusnya sebaliknya.








