Ir H Soekirman Mengembangkan Budaya Literasi Lewat Pantun Melayu

Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara
LOKANTARA)

A. Pendidikan Karakter dalam Literasi Pantun Melayu

Ir. H. Soekriman selaku tokoh masyarakat selalu mengembangkan kesadaran literasi melalui media sosial budaya. Nilai luhur banyak ditemukan dalam budaya Batak, Cina, Arab, Jawa dan Melayu. Pengkajian atas kearifan lokal dilakukan dengan cara studi pustaka dan studi lapangan. Pada tanggal 15 – 20 Mei 2014 dilakukan kunjungan di Kabupaten Serdang Bedagai untuk melakukan wawancara dengan berbagai tokoh budaya Jawa dan budaya Melayu. Menurut Ir. H. Soekirman Bupati Sergai jumlah penduduk di Kabupaten Sergai terdiri dari lebih kurang 35% suku Jawa, 20% suku Batak (Toba, Simalungun, Mandailing, Fakfak), 25% suku Melayu, sisanya etnis Cina dan Arab. Mereka berinteraksi dan hidup berdampingan.

Kebudayaan Melayu, menurut Ir. H. Soekirman, ditandai dengan hadirnya pantun. Pantun di Sergai digunakan dalam berbagai peristiwa. Ada jenis-jenis pantun yaitu: pantun anak, pantun remaja, pantun cinta, pantun sindiran, pantun agama, pantun upacara dan pantun komunikasi politik. Semua mengandung nilai pendidikan karakter bagi para pelajar.

1. Pantun Nasehat
Kalau tidak karena bulan
Tidaklah bintang memanggil hari
Kalau tidak karena tuan
Tidaklah saya datang kemari

Ikan kakap ikan muara
Anak kancil di pinggir kali
Saya hormat pada saudara
Besar dan kecil sama sekali.

(Pantun ini digunakan untuk jula-juli ludruk Sergai)

Bismillah mulai ngaji
Baca kitab bukan berzanji
Saya hormat saudara di sini
Besar kecil sama sekali

Layang-layang terbang melayang
Jatuh di tanah digambar wayang
Siapa bilang aku tak sayang
Siang malam terbayang-bayang

2. Pantun Agama
Asam kandis asam glugur
Asam dipotong di hari siang
Mayat menangis di pintu kubur
Teringat di dunia tak sembahyang

Kalau tuan mandi ke hulu
Ambilkan saya bunga kamboja
Kalau tuan mati dahulu
Nantikan saya di pintu surga

Pendidikan karakter banyak ditemukan dalam butir-butir kearifan lokal. Di bawah ini contoh Pantun yang terjadi pada tahun 2005. Pantun tersebut menurut Ir. H. Soekirman, merupakan sarana untuk berkomunikasi dengan masyarakat. Dengan ungkapan yang dibungkus dengan syair pantun ternyata masyarakat bisa lebih menerima pesan yang disampaikan.

Kepiting menjapit kerang
Kerang dijual di batubara

Pasang kuping yang terang-terang
Erry Soekirman mau bicara

Daripada jadi preman, bagus kita jualan kain
Kalau sudah ada Erry Soekirman
Ngapain cari yang lain

Jalan-jalan ke Kuala Lama
Jangan lupa kain pelekat
Kalau kita kompak bersama
Beban yang berat pasti terangkat

Edi Mujoko nama kadesnya
Desa Bingkat nama kampungnya
Kalau tuan orang bijaksana
Erry Soekirman itu pilihannya

Ikan sepat ikan gabus
Ikan lele ikan mujahir
Lebih cepat lebih bagus
Tidak bertele-tele langsung cair

Sungguh enak makan kikil
Makan di bawah kembang melati
Sekarang Pak Kirman hanya wakil
Mudah-mudahan besuk jadi bupati

Hari raya kunjungi kerabat
Indah rumah dihias melati
Pak Kirman tak mimpi jadi pejabat
Karena ikhlas jadi Bupati

Biarlah bertanam buluh
Kita tetap menanam padi
Biar orang menebar musuh
Kita tetap bertanam budi

Burung pipit burung tempua
Burung bersarang di bawah rumah
Makanan sedikit dibagi dua
Banyak mulut bisa mengunyah

Pantun di atas tentu berisi nasihat luhur yang dapat meningkatkan pendidikan karakter. Menurut Ir. H. Soekirman, Semua sepakat karakter seseorang terkait dengan soal SDM. Masalah utama SDM pendidikan di era Globalisasi ini, adalah kekurangan tenaga pendidik yang berkualitas, baik dari segi kepemimpinan, manajemen maupun kemampuan, dan keterampilan teknis yang sesuai dengan kebutuhan kurikulum.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *