Liputan KOLOM

Ir H Soekirman Mengembangkan Budaya Literasi Lewat Pantun Melayu

Ditulis oleh Liputan68 pada 16 Juli 2020 ⏱️ 2 Menit Baca

Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara
LOKANTARA)

A. Pendidikan Karakter dalam Literasi Pantun Melayu

Ir. H. Soekriman selaku tokoh masyarakat selalu mengembangkan kesadaran literasi melalui media sosial budaya. Nilai luhur banyak ditemukan dalam budaya Batak, Cina, Arab, Jawa dan Melayu. Pengkajian atas kearifan lokal dilakukan dengan cara studi pustaka dan studi lapangan. Pada tanggal 15 – 20 Mei 2014 dilakukan kunjungan di Kabupaten Serdang Bedagai untuk melakukan wawancara dengan berbagai tokoh budaya Jawa dan budaya Melayu. Menurut Ir. H. Soekirman Bupati Sergai jumlah penduduk di Kabupaten Sergai terdiri dari lebih kurang 35% suku Jawa, 20% suku Batak (Toba, Simalungun, Mandailing, Fakfak), 25% suku Melayu, sisanya etnis Cina dan Arab. Mereka berinteraksi dan hidup berdampingan.

Kebudayaan Melayu, menurut Ir. H. Soekirman, ditandai dengan hadirnya pantun. Pantun di Sergai digunakan dalam berbagai peristiwa. Ada jenis-jenis pantun yaitu: pantun anak, pantun remaja, pantun cinta, pantun sindiran, pantun agama, pantun upacara dan pantun komunikasi politik. Semua mengandung nilai pendidikan karakter bagi para pelajar.

1. Pantun Nasehat
Kalau tidak karena bulan
Tidaklah bintang memanggil hari
Kalau tidak karena tuan
Tidaklah saya datang kemari

Ikan kakap ikan muara
Anak kancil di pinggir kali
Saya hormat pada saudara
Besar dan kecil sama sekali.

(Pantun ini digunakan untuk jula-juli ludruk Sergai)

Bismillah mulai ngaji
Baca kitab bukan berzanji
Saya hormat saudara di sini
Besar kecil sama sekali

Layang-layang terbang melayang
Jatuh di tanah digambar wayang
Siapa bilang aku tak sayang
Siang malam terbayang-bayang

2. Pantun Agama
Asam kandis asam glugur
Asam dipotong di hari siang
Mayat menangis di pintu kubur
Teringat di dunia tak sembahyang

Kalau tuan mandi ke hulu
Ambilkan saya bunga kamboja
Kalau tuan mati dahulu
Nantikan saya di pintu surga

Pendidikan karakter banyak ditemukan dalam butir-butir kearifan lokal. Di bawah ini contoh Pantun yang terjadi pada tahun 2005. Pantun tersebut menurut Ir. H. Soekirman, merupakan sarana untuk berkomunikasi dengan masyarakat. Dengan ungkapan yang dibungkus dengan syair pantun ternyata masyarakat bisa lebih menerima pesan yang disampaikan.

Kepiting menjapit kerang
Kerang dijual di batubara

Pasang kuping yang terang-terang
Erry Soekirman mau bicara

Daripada jadi preman, bagus kita jualan kain
Kalau sudah ada Erry Soekirman
Ngapain cari yang lain

Jalan-jalan ke Kuala Lama
Jangan lupa kain pelekat
Kalau kita kompak bersama
Beban yang berat pasti terangkat

Edi Mujoko nama kadesnya
Desa Bingkat nama kampungnya
Kalau tuan orang bijaksana
Erry Soekirman itu pilihannya

Ikan sepat ikan gabus
Ikan lele ikan mujahir
Lebih cepat lebih bagus
Tidak bertele-tele langsung cair

Sungguh enak makan kikil
Makan di bawah kembang melati
Sekarang Pak Kirman hanya wakil
Mudah-mudahan besuk jadi bupati

Hari raya kunjungi kerabat
Indah rumah dihias melati
Pak Kirman tak mimpi jadi pejabat
Karena ikhlas jadi Bupati

Biarlah bertanam buluh
Kita tetap menanam padi
Biar orang menebar musuh
Kita tetap bertanam budi

Burung pipit burung tempua
Burung bersarang di bawah rumah
Makanan sedikit dibagi dua
Banyak mulut bisa mengunyah

Pantun di atas tentu berisi nasihat luhur yang dapat meningkatkan pendidikan karakter. Menurut Ir. H. Soekirman, Semua sepakat karakter seseorang terkait dengan soal SDM. Masalah utama SDM pendidikan di era Globalisasi ini, adalah kekurangan tenaga pendidik yang berkualitas, baik dari segi kepemimpinan, manajemen maupun kemampuan, dan keterampilan teknis yang sesuai dengan kebutuhan kurikulum.

Dinas Pendidikan Sergai berusaha dengan sekuat tenaga untuk meningkatkan kecerdasan siswa. Pada perspektif lain, pendidikan cenderung bersifat lepas dari proses pengawasan anak didik. Dalam hal ini seolah-olah pendidikan menjadi menara gading yang tidak tersentuh. Dengan demikian tak jarang dijumpai berbagai peran yang kurang kondusif seperti perilaku yang kurang proaktif serta sikap tidak tanggap dan responsifnya aparatur dalam melakukan beragam fungsi pendidikan dan pengajaran.

B. Peran Telangkai dalam Perkawinan

Budaya menurut Ir. H. Soekirman, mesti mengandung ajaran budi pekerti. Misalnya adat istiadat perkawinan tradisional. Telangkai berarti mediator atau utusan khusus dalam adat-istiadat perkawinan budaya Melayu. Telangkai bekerja menilik: dilakukan untuk penjajagan pada calon yang akan dilamar. Telangkai: utusan keluarga laki-laki untuk meminang. Antaran: membawa hadiah atau pasok tukon, uang perangko, uang kasih sayang, peningset. Menikah: ijab kabul. Resepsi: pesta.

Peran telangkai dengan menggunakan pantun. Di Sergai pernah dilombakan telangkai tahun 2009 di Istana Haji Manaf Lubis, Jl. Kabupaten. Peserta dari Sergai, Medan, Langkat, Asahan. Dalam telangkai itu akan ada jual beli pantun. Antar pihak laki sebagai pembeli. Mereka berbalas pantun. Jangan sampai kalah. Menyangkut marwah, kehormatan. Contoh:

A. Kalau tidak karena bulan

B. Sungguh indah sinarnya bulan
indah bersinar lagi menawan
kami memang menyambut tuan
tolong jelas apa tujuan

A. Sinar bulan di malam hari
sungguh indah anak menari
maksud kami datang kemari
karena ada bunga mawar mekar berduri

B. Kalau berlayar di pulau bekal
bawa raut dua dan tiga
kakulah kail panjang sejengkal
jangan laut hendak diduga

A. Gunung Gontang kali di bawah
terbang melayang si burung dara
kami datang tak cari musuh
kami datang cari sandar

B. Kalau begitu apa maksud saudara?

A. Pohon jelatang tumbuh beriringan
terbang melayang si burung camar
kami datang satu rombongan
niat hati mau melamar

B. O begitu
A. Ke Tarih sudah
ke Penang sudah
ke Mekah sudah
kita saji yang belum

Menisih sudah meminang
memilih saja yang belum

B. Kalau begitu hei menikahlah

Percakapan di atas perlu dihayati oleh segenap guru budaya. Secara konvensional, pembangunan SDM diartikan sebagai investasi Human Capital yang harus dilakukan sejalan dengan investasi Physical Capital. Alasan yang sangat fundamental mengapa hal tersebut perlu dilakukan ialah bahwa untuk menghadapi tuntutan tugas sekarang maupun untuk menjawab tantangan masa depan, pengembangan SDM merupakan keharusan mutlak.

C. Sanggar Teater Cermin

Para siswa Serdang Bedagai belajar juga tentang budaya literasi melalui teater. Sebagai wadah untuk peningkatan kualitas diri. Pada tanggal 4 Mei hari Minggu hadir pecinta sastra mengadakan sarasehan budaya Melayu. Mereka terdiri dari: Hasanudin alias Pak Cidik penyiar radio Wisata suka pantun, jadi telengkai, Safii Harahap, Mantan Kepala Bidang Dinas Pendidikan Kebudayaan, Pecinta ludruk wayang, Kepala sekolah SMAN I Perbaungan, Kepala sekolah SMAN I Sei Rampah, DKSU: Dewan Kebudayaan Sumatra, Komunitas sastra Unimet, RAWI: Sanggar Teater Cermin yang berdiri tahun 1984 merupakan wadah sandiwara tentang bangsawan. Ada unsur cerita tari, lawak, lagu, musik.

Mitra adalah media tradisional dalam jenis komedi bangsawan. Dipimpin oleh M. Syafii Harahap, juaran pantun 2x Asia Tenggara. Pada tanggal 16 Mei 2014 pukul 14 – 17 diadakan diskusi kebudayaan Melayu. Acaranya dibuat santai, ringan, asyik. Bertindak sebagai pembicara utama adalah H. Syafii Harahap. Dihadiri pula oleh Drs. Henry Suharto selaku Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Serdang Bedagai. Tempat acara di pilih Pantai Lestari Sergai. Beragam topik dibicarakan, dirumuskan, dianalisis bagaimana masa depan seni budaya di Serdang Bedagai, agar tetap berkembang.

Pengembangan SDM dalam asas ini menekankan pentingnya “kemampuan” (empowerment) manusia, kemampuan manusia untuk mengaktualisasikan segala potensinya sebagai manusia. Proses ini menumbuhkan concentization manusia, kesadaran sendiri (self conscious) yang memungkinkan mereka untuk secara kritis melihat situasi sosial yang melingkupi eksistensinya. Concentization memberikan kemampuan pada mereka untuk menjadi subjek yang ikut membentuk proses sejarah, berpartisipasi dalam proses transformasi anak didiknya.

Pada setiap kesempatan, Ir. H. Soekirman menekankan arti penting pembelajaran tentang seni budaya. Sanggar sebagai kegiatan ekstrakurikuler didukung penuh oleh Dinas Pendidikan Serdang Bedagai. Ini merupakan usaha untuk mewujudkan peningkatan pendidikan karakter pelajar.

Ditulis oleh Dr. Purwadi, M.Hum. 15 Juli 2020. Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara (LOKANTARA), Jl. Kakap raya 36 Minomartani, Yogyakarta. Hp: 0878 6440 4347.

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian