***
Esai-esai Sapardi, yang tak cukup sering muncul di media massa, tak sekuat puisi-puisinya. Komposisinya pun terasa disusun dengan cara yang tidak selancar arus puisinya.
Tapi ia seperti ingin mengembalikan ulasan atau kritik sastra pada rel aslinya: menelaah sastra sebagai karya sastra, dengan disiplin yang dikenal dalam bidang itu — ringkasnya: sastra sebagai paparan tentang human condition — bukan merujuknya ke berbagai arah yang jauh melampaui tujuan sastra (sebagai kritik sosial, sebagai “analisis” politik, dan semacamnya). Ia enggan, bahkan cenderung heran, mengapa sastra diperlakukan sebagai alat analisis sosial dalam bingkai “cultural studies.”
Bagi Sapardi, sastra sebagai cerita tentang kondisi manusia sudah merupakan ambisi yang memadai; tak perlu “ditingkatkan” dengan membidik isu-isu sosial yang pasti membuatnya gagal sebagai ilmu sosial dan niscaya lemah sebagai karya sastra.
Belakangan ia juga menjajal penulisan cerita pendek, bahkan novel. Di sini sebetulnya Sapardi seperti melakukan gerak melingkar: ia memulai karir sebagai penulis novel berbahasa Jawa, ketika ia masih menetap di Solo, kota kelahirannya.
Di titik ini pula ia tampaknya tergiur oleh potensi sukses komersial; dan ia sudah tahu pasti seberapa kecil potensi itu untuk puisi, setelah setengah abad menerbitkan sejumlah kumpulan puisi. Ketergiuran itu sampai pada titik kerelaannya melakukan self-plagiarism atas frasenya yang terkenal: Hujan Bulan Juni.
Belakangan ia juga menerbitkan sendiri buku-buku kumpulan puisinya, berdasarkan pesanan (print on demand). Ia rupanya letih menunggu munculnya royalti dari penerbit atas buku-bukunya yang cukup laris — tapi aliran imbalan tak selancar kelarisan itu.
Penulis A.S Laksana, yang berkawan dekat dengan Sapardi, mengritik banyaknya pemakaian ragam lisan dalam novelnya itu, dalam diskusi tentang novel itu dan novel Goenawan Mohamad di Komunitas Salihara, tahun lalu. Terhadap kritik itu, Sapardi menangkis: asal muasal bahasa adalah bahasa lisan; jadi ia ingin mengembalikan kelisanan itu dalam novelnya. Lalu ia membuat ruangan pecah oleh tawa ketika ia menambahkan bahwa novelnya itu laku keras — jauh lebih laris dibanding buku-buku puisinya (atau jauh lebih lancar kehadiran royaltinya?).
Tentu saja argumen Sapardi itu bisa dipersoalkan, kalaupun kita pasti setuju bahwa bahasa bermula sebagai modus komunikasi lisan. Dengan kontra-intuisi pun orang bisa segera menyanggahnya: jika demikian, apa perlunya ia memindahkan kelisanan itu dalam bentuk tertulis? Bukankah cara terbaik untuk mengembalikan kelisanan itu adalah dengan menyajikannya secara lisan?
Sejak pukul 9.17 pagi tadi, kita tak akan lagi bergurau dengan Sapardi Djoko Damono. Setelah melewati beberapa kali stroke ringan dan cuci darah untuk aneka penyakit di tubuhnya yang konstan kurus, ia terhenti di sebuah rumah sakit di Serpong, dalam usia 80 tahun lebih 3 bulan.
Kita tak akan lagi melihat ia melangkah lambat dengan topi golf dan syal kotak-kotaknya, dengan kacamata minus yang selalu pas di wajah tirusnya. Tapi: Sajakmu Abadi, Mas Sapardi. ***
Jakarta, 19 Juli 2020
(M-01)
