Akhirnya, bika tadi menjadi laris manis sehingga membuat para warga transmigran lainnya ikut mengadu untung di bisnis ini. Nama bika Ambon menurut versi yang ketiga ini diambil dari Bika “Amplas-Kebon” yang diakronimkan menjadi “Bika Ambon”.
Versi keempat mengatakan bahwa pada saat zaman Belanda yang masih ada di Tanah Deli, ada warga keturunan Tionghoa yang melakukan sebuah eksperimen dengan sebuah kue. Eksperimen tersebut dilakukan di rumahnya yang tidak jauh dari Jalan Majapahit, Medan.
Kemudian setelah matang, kue tersebut dicobakan pada pembantunya, yang merupakan pria asal Ambon. Dan ternyata pria ini sangat menyukai kue tadi sampai memakannya dengan sangat lahap. Dari situlah kemudian kenapa kue ini disebut dengan Bika Ambon.
Cerita kelima terkait dengan asal mula bika Ambon yang dianalisa berdasarkan dari bahasanya. Nama Ambon sebenarnya bukanlah nama jalan dari tempat bika Ambon ini populer, bukan juga asal seseorang yang membawa bika Ambon ini, atau bahkan akronim dari nama daerah asal bika Ambon itu sendiri, namun istilah ini sebenarnya diambil dari bahasa Medan yang berarti lembut.
Dan sampai saat ini, belum ada yang berhasil memastikan sejarah penamaan dari bika Ambon ini. Artinya, hingga sekarang masih ada jejak sosiokultur yang masih belum bisa tersibak terhadap sepotong kue yang dinamai bika Ambon ini.
Meskipun untuk proses pembutannya terbilang bukan hal yang mudah, apalagi waktu yang dibutuhkan untuk membuat bika Ambon ini kurang lebihnya membutuhkan waktu selama 12 jam, semua itu akan terbayarkan oleh kelegitan dan juga kenikmatan dari kue bika Ambon ini.
Jadi meskipun namanya adalah bika Ambon namun ternyata bukan merupakan makanan khas dari Ambon, tetapi bika Ambon ini adalah salah satu makanan khas dari kota Medan, Sumatera Utara.(JB01)
