KETUA BUMDES SAMBANGAN GEDE FERIAWAN MUNDUR


SAMBANGAN-LIPUTAN68.COM – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sambangan, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali, guncang. Ini lantaran Gede Feriawan, 30, tiba-tiba mundur dari jabatan empuk Ketua BUMDes Sambangan.

Hasil investigasi media ini menyebutkanbahwa Feri – sapaan akrab Gede Feriawan – mundur dari jabatan empuk Ketua BUMDes Sambangan pertanggal 30 Agustus 2020. Kabar tidak sedap pun berhembus keras seiring pengunduran diri Feri.

Ia dikabarkan menggelapkan uang BUMDes Sambangan sekitar Rp 250 juta. Bukan hanya Feri sebagai Ketua BUMDes yang menggelapkan uang badan usaha itu tetapi juga seorang staf BUMDes juga menggunakan uang badan usaha tersebut secara illegal.

Isu lain menyebutkan bahwa akibat manajemen keuangan BUMDes Sambangan di bawah kepimpinan Feri yang tidak sehat menyebabkan dua bulan lebih warga Desa Sambangan harus bergiliran mendapatkan air bersih.

Dugaan miring kian kuat lantaran saat terjadinya krisis air bersih malah Ketua BUMDes Feri malah mundur dari jabatan itu per 30 Agustus 2020..

Benarkah? Fery yang ditemui media ini di kediamannya di Sambangan, Selasa (6/10/2020) siang malah tertawa saat dikonfitmasi bahwa ia diisukan menggelapkan uang BUMDes sebanyak Rp 250 juta.

Feri secara gentle mengakui bahwa ia menggunakan uang BUMDes saat ibunya sakit. Namun jumlahnya tidak sefantastis itu. Kata dia, dirinya Cuma menggunakan uang BUMDes Rp 24 juta. “Wah, kalau Rp 250 juta si saya bisa beli mobil, haaaa… Saya terbuka saja bahwa memang benar saya pakai uang BUMDes saat ibu saya sakit opname di RS. Jumlahnya Rp 24 juta, tidak sampai ratusan juta lah,” ungkap Feri.

Feri mengaku, dia sebelum mundur dair jabatannya, dia sudah melakukan pertangungjawab terhadap hasil kerjanya termasuk pertanggungjawaban keuangan BUMDes yang dipakai itu. “Pertanggungjawaban saya diterima dan memang ada tunggakan saya sebesar Rp 24 juta. Saya minta waktu maksimal satu tahun untuk mengembalikannya,” paparnya.

Fery membantah bila krisis air bersih yang melanda Sambangan itu karena pengelolaan yang kacau. Dia berdalih, kekeringan itu karena alam karena debit air yang berkurang di setiap musim panas seperti bulan-bulan seperti saat ini.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *