Ayah satu orang anak itu tetap setia menjaga kios yang sudah dihuninya bertahun-tahun. Sekalipun pembeli sepi, dia berharap ada yang mencari buku bekas atau buku baru. Sembari menghela nafas panjang, Hotlin merapikan satu persatu buku dalam tumpukan etalase dagangannya. Menyusun sesuai dengan kelompok bacaan kebutuhan pembeli.
Itulah kondisi Hotlin saat ditemui Gatra.com, Jumat (23/10). Hotlin adalah satu dari sekian banyak pedagang buku yang saat ini mengalami kerugian yang sangat besar akibat covid 19. Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) belum mampu mengembalikan sumber perekonomian mereka. Terlebih saat ini dunia pendidikan dihadapkan pada proses belajar jarak jauh atau belajar dari rumah.
Sehingga tidak ada keharusan siswa memiliki buku bacaan seperti saat mereka belajar di sekolah. Hotlin menuturkan bahwa biasanya, di awal bulan Juni hingga Agustus mereka melayani para pelajar di tahun ajaran baru. Buku yang dipasarkan sesuai dengan kurikulum pendidikan yang berlaku.
Selanjutnya antara bulan Agustus hingga Oktober pelanggan mereka adalah mahasiswa yang akan mengikuti perkuliahan baru. “Kalau kerugian yang besar itu untuk buku pelajaran sekolah. Karena kurikulum selalu berubah. Nanti yang tidak laku akan dijual kiloan ke pengumpul botot. Kalau buku mahasiwa masih bisa kita simpan,” jelasnya.
Hotlin mengungkapkan bahwa mereka juga tidak pernah menerima bantuan. Padahal mereka salah satu pelaku usaha yang terdampak cukup besar atas kebijakan pemerintah untuk belajar di rumah. “Kalau kami hampir tidak ada bantuan seperti teman-teman pedagang sayur dan pedagang di pasar. Kami hanya berjuang memenuhi kebutuhan kami, menjaga tumpukan buku kami tidak berlapuk dimakan rayap,” jelasnya.
Hotlin menambahkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir mereka selalu mengalami kerugian. Terlebih sejak populernya penggunaan buku digital atau buku elektronik. Selanjutnya pengelolaan dana bos di sekolah yang membuat mereka juga mengalami penurunan pendapatan.
“Ditambah lagi covid, membuat kami semakin terjepit diantara tumpukan buku ini. Kami hanya berharap ada dukungan dari pemerintah agar kami dapat bertahan. Karena kami memasarkan kebutuhan utama untuk pendidikan,” ujarnya.
Hal yang sama juga dituturkan oleh Tiperjon Sirait, 40. Pedagang buku yang sudah puluhan tahun berjualan di kawasan Lapangan Merdeka tersebut mengurai bahwa kerugian mereka mencapai 70 persen dari biasanya.








