Sejarah Candi Lor Sebagai Tugu Penghormatan Wangsa Mataram

B. Pelestarian Cipta Budaya Bangsa.

Usaha pelestarian Candi Lor atau Sasana Nguntara dilakukan oleh Kanjeng Sultan Trenggana, raja Demak Bintara pada tahun 1523. Hadir pula Kanjeng Sunan Bonang untuk memberkati. Tumpeng sewu dan tumpeng robyong disediakan. Tak ketinggalan dupa garu rasamala. Kukusing dupa kumelun. Sumundhul ing ngawiyat.

Tata cara ritual di Candi Lor juga dilakukan oleh Joko Tingkir. Lara lapa tapa brata. Trah pembesar Pengging ini memang biasa dengan unggah ungguhing basa, kasar alusing rasa, jugar genturing tapa.

Berkat gembleng tekade, nyawiji pambudi dayane, doa Joko Tingkir terkabul. Dia menjadi pemuda yang Sakti mandraguna, ora tedhas tapak palune pandhe, sisane gerinda tanapi tedhane kikir. Sing lanang ngondhange baguse, sing wadin ngondhangake baguse.

Kelak Joko Tingkir berhasil menjadi raja Pajang pada tahun 1546. Bergelar Kanjeng Sultan Hadiwijaya Kamidil Syah Alam Akbar Panetep Pantagama. Turut ngestreni jumenengan Ki Ageng Banyubiru, Ki Ageng Butuh, Ki Ageng Pringapus. Kerajaan Pajang yuwana rahayu, nir ing sambikala.

Pada tanggal 28 Oktober 2020 Paguyuban Kawula Karaton Surakarta Hadiningrat atau PAKASA cabang Nganjuk mengadakan peringatan sumpah pemuda. Dengan dipimpin oleh KRT Sukoco Madunagoro acara Sumpah Pemuda ini berlangsung produktif dan kreatif. KMT Ida Madusari mencatat dengan teliti. Rekaman lagu Nganjuk Mranani bersama para siswa. Hari itu Candi Lor jadi saksi kegiatan budaya. Supaya lancar, Pengageng PAKASA Nganjuk ini menunjuk asisten dari Grogol Mojorembun Rejoso Nganjuk. Namanya Purwadi. Sekedar untuk bantu bantu bawa buku tulis dan pulpen.

Siswa SLTA yang ikut peringatan Sumpah Pemuda diberi keterangan sejarah. Kata Bung Karno Jasmerah, jangan sekali kali meninggalkan sejarah. Kok yo mathuk. Semua sepakat. Semua setuju. Playing by learning, bermain sambil belajar.

Mereka menyanyi bersama. Lagunya sederhana yaitu Nganjuk Mranani, Kali Bening, Kutha Angin, Gunung Wilis, Gunung Pandhan. Keplok ambal ambalan. Pratandha yen atine kalegan. Pelajar SLTA Nganjuk yang segar bugar ini tekun belajar. Masa depan mereka jelas cerah ceria.

Dokumentasi budaya ini lewat rekaman dan penulisan. Berguna untuk memahami owah gingsire jaman. Jroning urip ana urup, jroning urup ana urip kang sejati. Aran rasa jati atau sarira sejati.

Wit nagasari tumbuh rindang selama 12 abad. Pohon ini ditanam oleh Resi Mayangkara di Pertapan Kendalisada. Pohon nagasari menjadi ramuan obat jaman Prabu Jayabaya di Kerajaan Kediri tahun 1136. Putri Wates, Pare, Mamenang, Ngadiluwih gemar ramuan obat akami.

Daun wit nagasari berguna untuk ramuan jamu. Bila diminum badan langsung sehat. Khusus pengantin baru, minum ramuan godhong nagasari akan cepat punya momongan. Ibu ibu yang mau ngunjuk jampi roning nagasari akan selalu awet ayu. Muka berseri seri menawan hati. Meskipun usia menginjak lima puluh tahun, wajahnya tampak dua puluh tiga tahun.

Pohon nagasari yang tumbuh di lingkungan candi Lor Nganjuk sangat berarti. Pengantin baru dan Ibu ibu sebaiknya ngunjuk jamu. Untuk membuktikan, mari datang ke candi Lor. Ramuan godhong nagasari siap sedia. Kediri tahu takwane, sin dadi rak nyatane.

(LM-01)

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *