Alam Di Pacitan Murka. Bencana Banjir dan Tanah Longsor Terjadi Di Sejumlah Wilayah
Pacitan, liputan68.com- Alam di Pacitan, tampaknya tengah murka. Derasnya hujan yang mengguyur Pacitan sekitarnya, mengakibatkan bencana banjir dan tanah longsor, yang memporak-porandakan beberapa fasilitas umum dan permukiman warga.
Air bah, juga menggenangi sejumlah ruas jalan protokol yang ada di kawasan Kota Pacitan. Disepanjang Jalan PB Soedirman, hingga Jalan A. Yani, sempat tergenang luapan air sungai. Sontak, arus lalu-lintas sedikit terganggu.
Beberapa petugas dari Satuan Lalu-Lintas, Poles Pacitan, terpaksa harus turun ke jalan guna mengamankan pengendara yang melintas di perempatan Penceng. Mengingat saat itu air bah terus menggenangi badan jalan. Air mulai surut saat menjelang malam.
Pantauan wartawan di beberapa titik lokasi kawasan perkotaan, meski air sudah surut, namun pengendara diimbau lebih berhati-hati. Mengingat badan jalan sangat licin lantaran masih banyaknya lumpur yang meleleh di aspal jalan.
Kepala pelaksana BPBD Pacitan, Didik Alih Wibowo, melaporkan, akibat terjangan air bah, satu jembatan Dole penghubung antara Dusun Krajan, Desa Kembang dengan Dusun Mendole, Desa Sirnoboyo, dikabarkan ambles tergerus aliran sungai. Saat ini jembatan tersebut tidak bisa dilalui kendaraan roda dua, apalagi roda empat. “Konstruksi jembatan mengalami ambles dan dilaksanakan penutupan. Kerugian diperkirakan mencapai Rp 75 juta lebih,” kata Didik, Ahad (1/11).
Bencana alam juga sempat singgah di kawasan Kecamatan Kebonagung. Tepatnya di Desa Purwoasri, air bah sempat menerobos ke pemukiman warga setinggi kurang lebih satu meter.
Tak hanya itu, area persawahan seluas kurang lebih 7 hektar yang sudah siap panen, terancam puso atau gagal panen. “Lahan persawahan siap panen seluas 7 hektar dan pemukiman warga terendam banjir setinggi kurang lebih satu meter. Kerugian materil diperkirakan sebesar Rp 60 juta lebih,” sebut Didik.
Kemudian di Kecamatan Tulakan, bencana tanah longsor juga menghancurkan talud serta pagar rumah milik saudara Bibit, yang beralamatkan di Dusun Godek Wetan, Desa Jetak.
Pagar dan talud pengaman setinggi kurang lebih 4 meter dan panjang sekitar 10 meter, mengalami ambrol. “Saat ini pemilik rumah sementara tinggal di rumah tetangga. Sebab khawatir dengan kondisi rumah dan hujan belum juga reda,” terangnya.
Didik mengimbau masyarakat lebih waspada menghadapi cuaca ekstrim yang masih akan berlangsung. “Sedapat mungkin segera lakukan evakuasi mandiri, seandainya mendapati ada gejala bencana alam,” imbaunya. (yun).

Tinggalkan Balasan