Oleh: Dr. Ichwan Azhari
(Sejarawan Tinggal di Medan)
Jika Tuan dan Puan datang kekotaku saat ini, maka akan terlihat kota ku sedang mengalami duka kebudayaan. Sebuah situs budaya yang melahirkan beribu karya, beribu aktifitas kesenian, beribu renungan dan mimpi seniman nya, segera lenyap.
Tuan dan Puan, memori kesenian segera dikubur dari Taman Budaya Jalan Jati itu. Sama dengan Gedung Kesenian masa Belanda sisi Titi Gantung dulu yang juga sudah dikubur, menjadi benar benar sebagai kuburan menjulang ke atas. Pemerintah kota dan parlemen yang digaji oleh warga kotaku, tak peduli, atau pura pura peduli.
Tuan dan Puan, kotaku kini tak lagi punya Taman Budaya yang penuh historis itu, yang bertahun jalan ditempat tanpa dikelola dan tidak sejalan dengan kemajuan ekonomi kota ku. Aku berpuluh tahun menyaksikan bangunan bangunan besar, permukiman permukiman mewah atas nama pembangunan, atas nama pertumbuhan ekonomi sebuah kota besar, dibangun. Tapi Taman Budaya lebih buruk dari dahulu.
Dan kini Tuan dan Puan, Taman Budaya dipindah, itupun atas nama institusi provinsi, ke pojok kota. Dan instusi Pemko Medan tak punya Taman Budaya, walau lahan ini miliknya. Jadi apa tempat ini nanti bagi pemerintah kota? Ladang ekonomi kapitalisme baru? . Ah tentulah begitu agaknya.
