Liputan KOLOM

Pak Jokowi Dan Perjuangan Para Pahlawan

Ditulis oleh Liputan68 pada 11 November 2020 ⏱️ 2 Menit Baca

Oleh : Dr. Purwadi, M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, hp. 087864404347)

A. Meneladani Pahlawan Bangsa.

Bangsa yang besar adalah banga yang mau menghormati jasa para pahlawan. Atas pengorbanan jiwa raga para pahlawan, generasi sekarang mendapat warisan kebahagiaan berbangsa dan bernegara.

Surabaya Kota Pahlawan.

Surabaya kuthane Jawa Timur
tlatahe katelah dadi kutha Pahlawan
Sura wani Baya pakewuh cethane
dadi pawitan revolusi bangsane

Sepuluh Nopember patang puluh lima
cilaka dur angkara digempur lebur luluh
pranyata gedhe kaprawirane
pra mudha kasudirane arek Surabaya

Sura wani Baya pakewuh cethane
dadi pawitane revolusi bangsane
Singasari Majapahit nyata agung
Pangajab dadya tepa palupi ing ngaluhur

Mbata rubuh surake tur gumuruh swarane
pambarisan pahlawan Surabaya

Perlu ada tafsir penjelasan makna kebangsaan. Semangat berjuang demi bangsa dan negara perlu diteladani. Penjajahan di atas dunia harus dihapus. Kemerdekaan kita pertahankan. Kepentingan umum harus diutamakan daripada kepentingan pribadi atau golongan.

Negeri ini menurut Pak Jokowi berdiri atas jasa para pahlawan. Seorang pemimpin harus setya. Setya artinya setia atau loyal. Memiliki dedikasi dan menjadikan dedikasi itu sebagai kehormatan dirinya. Orang yang setia pada janji berarti memenuhi janji itu dan tidak melanggarnya.

Orang yang loyal pada atasan, adalah orang yang taat, hormat dan mematuhi perintahnya. Apabila atasan mendapat cobaan, ia juga ikut prihatin. Kalau atasannya jatuh, maka ia berusaha untuk menghibur. Duka atau suka dia akan tetap loyal.

Kesetiaan yang murni, tulus dan jujur memiliki nilai yang tinggi. Kesetiaan tidak dapat ditukar dengan kenikmatan lahiriah. Jabatan dan harta benda tidak dapat menggoyahkan kesetiaan yang tulus pada seseorang. Kesetiaan merupakan simpul kehormatan yang perlu dijaga.

Berkorban jiwa raga telah dilakukan para pejuang. Seorang pemimpin harus memahami konsep mituhu. Mituhu artinya berbakti, menurut, mempercayai dan meyakini ajaran orang tua atau guru. Murid atau anak yang baik tentu akan mituhu pada orang tua dan gurunya.

Orang yang mau mituhu terhadap ajaran luhur hidupnya beruntung. Murid yang mituhu akan cepat meresapkan ilmu pengetahuan di otaknya. Dengan pelan- pelan dan tertib ilmu yang diperoleh dari guru diterima dengan baik. Sedikit demi sedikit ilmu akan berkumpul menjadi banyak.

Lama- lama tanpa ada beban, orang yang mau mituhu itu menjadi menonjol. Kecakapannya diakui oleh orang lain. Masyarakat menggunakan kecakapan dan ketrampilannya sehingga dia menjadi orang yang bermanfaat.

Perjuangan para pahlawan wajib diteruskan. Seorang pemimpin harus memahami konsep mitayani. Mitayani berarti dapat dipercaya karena mampu menyelesaikan pekerjaan. Segala bentuk isi pikiran, ucapan dan perbuatan dapat dipercaya oleh orang lain. Apa yang diperbuat senantiasa dianggab benar dan dipercaya oleh orang lain. Amanat luhur yang harus diperhatikan oleh pemimpin.

Supaya orang mendapat gelar mitayani, dia harus bersih, jujur, dan bebas dari kesalahan yang fatal. Sekali berkhianat terhadap perilakunya, saat itu juga kepercayaan orang akan buyar. Cobaan dan godaan untuk menyeleweng memang bertubi- tubi datang justru biasanya di saat sedang mendapat keberuntungan. Sungguh merupakan prestasi yang tinggi, ketika seseorang tetap dikenang jasanya orang sepanjang masa.

Generasi sekarang sangat diharapkan oleh Pak Jokowi untuk terus meneladani para pahlawan. Seorang pemimpin harus bersikap mikul dhuwur. Mikul dhuwur artinya memikul tinggi- tinggi. Arti etimologisnya bahwa seorang anak berkewajiban mengharumkan nama ayah dan ibu serta martabat keluarga. Nilai kebangsaan demi nasionalisme.

Pahlawan bangsa selalu berjuang. Menghindari perbuatan tercela dan selalu berbuat mulia adalah usaha anak dalam rangka mikul dhuwur nama baik orang tuanya. Menjadi pelajar yang pintar atau mahasiswa yang cerdas, menghias diri dengan sopan santun dan ramah tamah, berprestasi dan sukses adalah wujud dari perilaku yang menyenangkan hati orang tua. Demikian pula untuk masyarakat dan negara, seorang warga memiliki kewajiban mengharumkan nama baiknya dengan menjadi warga yang baik dan berprestasi gemilang di dunia internasional.

Cita- cita para pahlawan wajib dilanjutkan oleh generasi sekarang. Seorang pemimpin harus memahami konsep mendhem jero. Mendhem bukan berarti mabuk seperti mendem kecubung, tetapi berarti mengubur. Jero artinya dalam. Mendhem jero maknanya mengubur dalam- dalam keburukan dan kekurangan orang tua, aib keluarga dan kelemahan masyarakat. Sedapat- dapatnya anak atau warga negara harus menutupi apa yang menjadi rahasia keluarga dan masyarakat.

Dhandhanggula

Yogyanira kang para prajurit. Lamun bisa sira anulada. Duking uni caritane.
Andelira Sang Prabu.
Sasrabahu ing Maespati. Aran Patih Suwanda.
Lelabuhanipun.
Kang ginelung tri pakara. Guna kaya puruning kang den antepi. Nuhoni trah utama.

Lire lelabuhan tri prakawis. Guna bisa saniskareng karya.
Budidaya mrih unggule. Kaya sayektinipun.
Duk bantu prang Magada Nagri
Amboyong putri dhomas. Katur ratunipun.
Purune sampun tetela. Aprang tandhing lan ditya Ngalengka nagri.
Suwanda mati ngrana.

Wonten malih tuladhan prayogi,
Satriya gung negari ing Alengka. Sang Kumbakarna arane.
Tur iku warna diyu
Suprandene nggayuh utami. Duk wiwit prang Alengka.
Dennya darbe atur.
Marang raka mrih raharja. Dasamuka tan keguh ing atur yekti. Dene mungsuh wanara.

Kumbakarna kinen mengsah jurit.
Mring kang raka sira pan nglenggana.
Nglungguhi kasatriyane.
Ing tekad datan purun. Amung cipta labuh negari.
Lan noleh yayah rena. Myang leluhuripun.
Wus mukti aneng Alengka. Mangka arsa rinusak ing bala kapi. Punapi mati ngrana.

Wonten malih kinarya palupi.
Suryaputra Narpati Ngawangga.
Lan Pendhawa tur kadange. Lan yayah tunggil ibu. Suwita mring Sri Kurupati.
Aneng nagri Ngatina.
Kinarya gul- agul.
Manggala golonganing prang.
Bratayuda ingadegken senapati.
Ngalaga ing Kurawa.

Den mungsuhken kadange pribadi.
Aprang tandhing lan Sang Dananjaya.
Sri Karna suka manahe. De nggonira pikantuk
Marga dennya arsa males sih. Ira Sang Duryudana.
Marmanta kalangkung.
Dennya ngetog kasudiran. Aprang rame Karna mati jinemparing.
Sumbaga wirotama.

Katri mangka sudarsaneng Jawi.
Pantes sagung kang para prawira.
Amirida sakadare.
Ing lelabuhanipun.
Ajwa kongsi buang palupi. Menawa tibeng nistha.
Marang estinipun.
Nadyan sakadaring buta. Tan prabeda budi panduming dumadi. Marsudi ing kotaman.

Tafsir dan makna ajaran lagu memberi semangat kesetiaan, kebangsaan dan keberhasilan lewat serat Tripama. Tiga suri teladan yaitu Suwanda, Kumbakarna, dan Adipati Karna adalah tokoh yang mumpuni. Ketiganya patut dijadikan suri teladan. Manajemen loyalitas ini pernah diulas disertasi mengenai kearifan lokal. Orang mengabdi kepada bangsa dan negara harus setia, berbudi luhur, rela berkorban dan memiliki kemampuan. Mereka adalah pahlawan sejati yang pantas diteladani.

Dalam lingkup yang lebih luas, pemimpin yang sedang memerintah sebaiknya dapat menyembunyikan kekurangan pemimpin terdahulu. Dengan demikian saling dendam tidak akan terjadi. Pemimpin berikutnya tinggal melanjutkan program yang sudah ada. Menjelek- jelekkan pendahulu sama saja dengan melestarian dendam dan permusuhan.

Prinsip mendhem jero sangat mulia bila diterapkan dalam kehidupan keluarga, bermasyarakat dan bernegara. Potret buram dan kenangan akan segera terhapus dan dapat menimbulkan rasa optimisme baru.

Demi nusa dan bangsa, para pahlawan mau berkorban. Seorang pemimpin harus memahami konsep bathok bolu isi madu. Bathok bolu isi madu mempunyai makna orang yang tampaknya sederhana namun memiliki bobot pribadi yang berkualitas. Bathok bolu adalah tempurung kelapa yang jelek rupanya. Meskipun tempurung kelapa tetapi mengejutkan karena berisi madu yang manis.

Orang rendahan yang merasa tidak cantik rupawan harus menutupi kekurangan dirinya dengan kepribadian yang menarik, yang meliputi aspek moral, intelektual dan sosial. Moralitas dan intesktualitas yang handal juga suatu daya tarik yang tinggi. Keduanya mudah mengundang perhatian dan kagum dari pihak lain. Bahkan ketajaman intelektual dapat merekrut banyak pengikut.

Oleh karena itu sebaiknya tidak mudah berburuk sangka kepada orang lain. Di balik kekurangan fisk belum tentu kekurangan nilai dalam dirinya, siapa tahu tersembunyi madu manis di dalamnya. Pahlawan rela hati sadar diri.

B. Berjuang Tanpa Pamrih.

Rame ing gawe, sepi ing pamrih. Peribahasa ini amat dihayati oleh Pak Jokowi. Seorang pemimpin harus selalu nulada laku utama. Nulada laku utama artinya menauladani perbuatan yang utama. Setiap komunitas pasti memiliki tokoh tauladan yang bisa dijadikan panutan.

Panutan masyarakat biasanya orang yang baik hati, luhur budi pekertinya, menyejukkan dan siap sewaktu- waktu dimintai pertolongan. Khalayak ramai berduyun -duyun minta nasehat dan bimbingan. Kalau punya hajat, pergi jauh, kesedihan, penutan itulah yang akan membantunya.

Masyarakat sering memuji tokoh panutannya ketika sudah meninggal, bahkan kadang melebih-lebihkan. Pada tingkat tertentu panutan utama itu dianggap masih hidup arwahnya, sehingga perlu dimintai berkahnya. Nenek moyang memberi keteladanan.

Sinom Parijatha

Nulada laku utama,
Tumrape wong Tanah Jawi, Wong agung ing Ngeksiganda,
Panembahan Senapati, Kepati amarsudi, Sudane hawa lan nepsu,
Pinesu tapa brata,
Tanapi ing siyang ratri, Amamangun karyenak tyasing sasama.

Ada tafsir penjelasan makna. Lagu sinom ini berisi tentang ajaran keutamaan yang telah diwariskan oleh Panembahan Senopati. Beliau adalah raja Mataram yang pertama. Sebagai seorang pemimpin Panembahan Senopati berhasil mengendalikan tingkah lakunya. Beliau mau memperkokoh jati diri dan selalu mawas diri. Dengan rakyatnya senantiasa berbuat kebajikan yang dapat menyenangkan pada sesama. Sikap hidup yang perlu dicontoh oleh sekalian pemimpin.

Tembang sinom Parijatha iku kapethik saka Serat Wedhatama kang dianggit dening Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV. Panjenengane ngasta minangka adipati ing Mangkunegaran nalika taun 1853 – 1881. Kanggone para seniman tembang sinom mau mathuk minangka mat- matan. Lagune kepenak lan cakepane mawa pitutur luhur. Wong Jawa perlu nulad kautaman kang wis diwarisake dening Panembahan Senapati, raja ing Kraton Mataram.

Rela berkorban merupakan jiwa kebangsaan. Seorang pemimpin harus memahami konsep ngelmu laku. Ngelmu laku sebenarnya berasal dari nasehat dalam Serat Wedhatama. Ngelmu iku kelakone kanthi laku, ilmu itu tercapainya hanya dengan menjalani hidup.

Lekase lawan kas berarti bermula dari kas. Kas artinya nyantosani atau memberi kesentausaan. Setya budya pangekese dur angkara atau setia pada darma itu dapat menghindari sifat angkara murka.

Orang yang mau nglakoni berarti dirinya bersedia untuk menjalankan prihatin, mempersakit diri, menghajar jiwa -raga dengan maksud mengolah dan mempertajam rasa batin.

Gantungkanlah cita- citamu setinggi langit. Begitulah penghayatan Pak Jokowi atas tekad generasi muda. Seorang pemimpin harus memahami konsep jangka jangkah. Jangka mempunyai makna cita- cita, ramalan, prediksi dan antisipasi yang mengandung pengertian menatap masa depan. Jangkah berarti melangkahkan kaki atau mulai melangkah.

Kemajuan dalam Pandangan Pak Jokowi hanya dapat dicapai dengan tangan kumrembyah, suku jumangkah, tangan yang aktif dan kaki yang berjalan. Daya upaya yang dikerahkan akan membuat lebih dinamis dan produktif. Ada istilah sapa obah mamah ‘siapa yang bergerak, maka ia akan mendapat makanan, menunjukkan pentingnya seseorang untuk berusaha.

Cita- cita untuk menuju kesejahteraan tidak akan tercapai mana kala orang cuma berpangku tangan, bertopang dagu dan ogah- ogahan. Keberuntungan lebih mulia diusahakan daripada sekedar kebetulan.

Belajar yang tekun merupakan bentuk perjuangan. Seorang pemimpin harus anggegulang kalbu. Pada gulangen ing kalbu artinya seorang pemimpin hendaknya suka merenung, kontemplasi, refleksi dan mempertajam batin agar hati lebih peka terhadap lingkungan sekitar.

Kepekaan menurut Pak Jokowi diperlukan oleh seorang pemimpin agar cepat tanggap dalam menghadapi persoalan yang terjadi. Pemimpin yang tumpul pikiran dan keras hatinya tentu akan berbuat otoriter dan semaunya. Apabila kehendaknya tidak dituruti, dia akan cepat marah. Bawahan dan rakyatnya dicurigai bila perlu diperangi.

Refleksi dan introspeksi akan mencegah perbuatan yang tak terkendali. Segala tindakan harus diukur baik dan buruknya. Perlu belajar pada aktivitas penggembala bebek di sawah.

Angon Bebek.

Mak bapak ingsun arep mlaku, Angon bebek turut pinggire banyu. Bebeke sing lagi gebyur gebyuran, Angon bebek tengah sawahan. Ra perduli panas lan udan, Bebek ilang ora karuwan. Ngrasakna awak sar- saran

Sedina- dina neng tengah sawah, Angon bebek seneng gebyur- gebyuran.
Sing angon atine bungah lan susah, Mikirna semak sing ana omah. Mikirna sing arep diolah, Urip urip sing ora betah.
Ngupayaa urip kang genah.

Mak bapak ingsun arep mlaku, Angon bebek turut pinggire banyu. Bebeke sing lagi gebyur gebyuran, Mikirna simak sing ana omah. Mikirna sing arep diolah, Urip -urip sing ora betah
Ngupayaa urip kang genah.

Pengkajian atas tafsir penjelasan makna lagu ini memberi gambaran tentang seseorang yang sedang angon bebek. Dia rajin bekerja dalam keadaan panas dan hujan. Tanggung jawab dalam mencukupi keluarga.

Dengan belajar sejarah perjuangan bangsa, Pak Jokowi punya harapan, agar anak muda mau meniru kebaikan perjuangan pahlawan. Seorang pemimpin harus tanggap sasmita. Tanggap sasmita adalah responsif terhadap informasi simbolik. Orang yang tanggap sasmita mempunyai perasaan yang halus sehingga dirinya mudah menyesuaikan diri.

BACA JUGABerfilsafat?

Sejak masih muda Pak Jokowi belajar tentang sasmitaning ngaurip. Tanda- tanda yang bersifat semiotis memerlukan ketajaman perasaan untuk menangkap maknanya. Tinggi rendahnya kepemimpinan Jawa salah satunya ditandai dengan kemampuannya dalam mengolah isyarat alamiah. Bahkan untuk memberi instruksi pun kadang -kadang lebih mengena dengan pasemon atau perlambang.

Semiotika Jawa mengandung makna yang menekankan pada perasaan. Ada ungkapan ing sasmita amrih lantip berarti supaya dapat menangkap arti simbolik dengan ketajaman batin. Sikap patriotisme dan nasionalisme perlu dipupuk, agar perjuangan para pahlawan tetap basuki lestari. Wajib anak bangsa memberi hormat pada jasa pahlawan.

(LM-01)

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian