Lebih lanjut, Astika mengatakan potensi tata muka masih ada. Namun, persiapan harus dilakukan. Sekolah harus menyiapkan sesuatunya untu menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Pembelajaran luring ini pun terjadi karena ada orangtua yang belum mengizinkan anaknya mengikuti pembelajaran tatap muka. “Karena masih khawatir. Tentu keselamatan dan kesehatan anak-anak mereka lebih penting daripada proses pembelajaran tatap muka di sekolah,” katanya.
Sementara itu, salah satu guru kelas empat SD Negeri 3 Pedawa, Ni Komang Susilawati mengungkapkan jumlah siswa yang diajar adalah 22 orang. Pembelajaran luring dilakukan di rumah siswa yang saling berdekatan. Siswa dibagi menjadi enam kelompok. Anggota kelompok ada yang empat dan tiga orang. Dalam satu minggu, kelompok-kelompok kecil ini diajar tiga kali. Satu hari diambil dua kelompok. “Selasa diambil dua kelompok, Kamis dua kelompok dan Jumat juga dua kelompok. Setiap kelompok bertemu dengan saya seminggu sekali,” ungkapnya.
Untuk tempat, dirinya menambahkan hanya menggunakan rumah siswa. Ini dikarenakan tatap muka belum diperbolehkan di sekolah. Ia mencari rumah siswa yang saling berdekatan sehingga memudahkan untuk kehadiran siswa. Proses pembelajaran yang diberikan hanya metode luring saja. Mengingat, tidak semua siswa memiliki handphone. “Sulit saya memberikan metode daring. Oleh karena itu, seluruhnya saya berikan dengan metode luring,” pungkas Susilawati. frs/jmg/*

