Batam, liputan68.com – Dalam pesta demokrasi Pilkada 2020 saat ini masyarakat dituntut untuk memilih salah satu calon yang akan dijadikan pemimpin baginya dan seluruh rakyat, dikarenakan negara kita menganut sistem demokrasi, maka semua masyarakat diharuskan untuk memilih calon pemimpinnya.
Adapun kontestan putera terbaik
pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Kepulauan Riau periode 2020-2025, adalah terdiri dari,
Dr. H. M. SOERYA RESPATIONO, SH, MH dan IMAN SUTIAWAN, SE.
ISDIANTO, S.Sos, MM dan SURYANI, SE
ANSAR AHMAD, SE, MM dan MARLIN AGUSTINA
Untuk menentukan pilihan tentu jelas kita pasti punya kriteria pemimpin yang ideal menurut kita masing-masing, namun dalam tulisan ini mencoba memaparkan kriteria pemimpin menurut para filsuf. Karena seorang filsuf terlibat secara aktif dalam pemikiran kritis tentang pertanyaan-pertanyaan besar yang tidak bisa terjawab dengan jelas.
Kita berangkat dari pendapat filsuf barat klasik guna untuk memberikan gambaran tentang kriteria seorang pemimpin, salah satunya adalah Plato yang memiliki konsep tentang pemimpin ideal, meskipun dia menolak sistem demokrasi yang kita anut ini, namun dalam memahami pendapatnya tentu tidak salah, kan?
Plato membangun konsep tentang negara, dimana ada beberapa klasifikasi didalamnya. Pertama ada para petani yang menduduki tataran paling bawah, kelompok ini tugasnya hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negara, yang kedua ada tataran penjaga, tugasnya jelas sebagai penjaga keamanan dalam negara. Kalau di Indonesia seperti TNI dan Polri.
sedangkan tingkatan paling tinggi yaitu para filsuf, dialah yang berhak memimpin dalam sebuah negara. Kenapa Plato mengatakan para filsuf? Karena filsuf itu dianggap sudah memenuhi kriteria sebagai pemimpin menurutnya.
Dalam konsepannya sebagai pemimpin harus berpihak kepada keadilan, menurut Gutharie dalam menganalisis pemikiran Plato di teori Republika-nya, menurut dia Republika itu adalah bahasa Yunani yang berarti manusia adil atau perihal keadilan.
Jadi pemimpin yang bagus menurut plato adalah manusia yang mampu berprilaku adil dan bijaksana dalam menentukan sesuatu. Keadilan dan kebijaksanaan di sini yaitu seseorang yang tetap berpihak kepada kebenaran, seperti halnya Socrates guru dari Plato sendiri. Ketika Socrates di fitnah sehingga dia menerima hukuman mati dengan meminum racun, ada seorang yang menyuruh dia kabur dari hukuman itu namun Socrates menolaknya seraya berkata “ketika saya kabur dari hukuman ini maka saya meninggalkan kebenaran, dan disini dengan meminum racun ini saya bersama kebenaran itu sendiri.” pendapat itu mungkin mewakili filsuf Yunani.
Dari Barat kita beranjak ke Timur yaitu Al-Ghazali, dimana hal ini dikaji dalam tesisnya Mahasiswa Universitas Islam Negri (UIN) Yogyakarta yang membahas tentang Al-Ghazali.
Al-Ghazali memiliki konsep ideal tentang pemimpin, yaitu pemimpin ahlak yang disebut pemimpin sejati. Pemimpin yang adil, serta memilikin ciri khas, penguasaan dalam bidang ilmu negara dan agama. Itu semua yang dapat mempengaruhi pola kepemimpinannya.
Dikarenakan intlektual, agama, dan ahlak memiliki pengaruh besar terhadap pemimpin. Yang pertama kita lihat dalam memilh seorang pemimpin yaitu dari tiga aspek tersebut. Dari segi ahlak yang kita pandang dari pemimpin pasti dari tingkah laku, dimana tingkah lakunya baik tidak pernah menyakiti orang lain, seperti halnya Rasulullah dimana beliau tidak pernah menyakiti orang lain baik itu muslim ataupun non muslim, jangankan fisik, menyakiti perasaanpun beliu tidak pernah melakukannya. Dengan salah satu contoh beliau tidak pernah memukul Siti Khotijah (istri Rosul) atau pun memarahinya.
Ketika seseorang calon pemimpin yang akan dipilih telah melakukan tindakan kriminal atau berprilaku tidak baik itu akan berpengaruh terhadap cara dia memimpin nanti, seperti halnya ketika dia telah melakukan tindakan kekerasan maka bisa jadi pada saat memimpin yang digunakan adalah kekerasan, terhadap rakyatnya sendiri.
Kedua yaitu dilihat dari agamanya, karena menurut Al-Ghazali hal ini juga berpengaruh terhadap pola kepemimpinannya, ketika agama yang dianut bukanlah agama yang mengajarkan terhadap kebenaran mungkin negara yang dipimpin akan dibawa ke ranah kesesatan, akan tetapi sejauh ini masih tidak ada agama yang mengajarkan tentang keburukan, semuanya mengajarkan kebaikan.
Dan yang terakhir, intlektual. Yakni kepandaian dalam berfikir. Karena kebanyakan yang peka terhadap keadaan yaitu orang yang mampu berpikir dan memiliki wawasan yang luas.
Dalam hal ini Al-Ghazali tidak memaparkan tentang penampilan luar dari seorang pemimpin akan tetapi lebih kepada penampilan dari dalam diri seseorang, ada sebuah kata-kata “jangan melihat orang dari luarnya saja.” Kenapa dia lebih memandang kepada sisi dalamnya, karena yang mempengaruhi pemikiran itu bukanlah penampilan luar.
Menurut Sigmund Freud dimana yang mempengaruhi tingkah laku manusia yaitu alam bawah sadar, dia petakan sebagai ID, Ego, dan Super Ego. Namun hal ini tidak akan dipaparkan secara melebar, hanya sebagai penambah wawasan tentang “jangan melihat orang dari luarnya” begitulah kira-kira.
Jadi orang yang berpenampilan amburadul belum tentu kepribadiannya buruk karena seperti yang dibahas diatas, semuanya tidak bisa dipandang dari sisi luarnya saja, namun dari sisi dalam pun juga perlu dan sangatlah fundamental dalam menilai seseorang.
