oleh

Mengenang Olo Panggabean Sang Legenda The Godfather Dari Sumatera Utara

MEDAN – LIPUTAN68.COM – Siapa yang tidak kenal dengan Olo Panggabean di Sumut? Hampir di seluruh pelosok Sumut, bila disebut nama Olo Panggabean pasti banyak orang yang mengenalnya, sekalipun orang tersebut belum pernah bertemu.

Meski hidupnya bergelut dengan dunia hitam, tapi kharisma dan kebaikan seorang Olo Panggabean tak kalah bersinar dengan pamornya. Dia menjadi salah satu orang paling berpengaruh di Medan, Sumatera Utara.

Siapa yang tak gentar ketika nama Olo Panggabean disebut. Olo Panggabean sosok “pengusaha” dan punya latar belakang begitu melegenda di satu sisi ia dikenal sebagai raja judi dan preman bengis, konon memiliki ilmu kebal itu masih dikenang warga ibu kota Sumatra Utara sampai sekarang, sebagaimana dilansir dari keprionline.co.id.

Bahkan Polisi sampai menjuluki dirinya sebagai Raja Judi Indonesia. Olo Panggabean memang hanyalah masyarakat biasa dan tak seterkenal artis apalagi pejabat. Dia sering dijuluki Godfather. Kalau dalam film, julukan itu hanya dipunyai oleh orang-orang dengan kekuatan besar. Diduga ia menjalankan bisnis ini dengan skala yang cukup besar. Uniknya, meskipun sering disebut si raja judi, namun Olo memiliki sisi lain yang bisa dikatakan kontradiktif tapi luar biasa.

Meski begitu, Olo Panggabean yang sering dijuluki sebagai Godfather ini. Namun, uniknya, meskipun sering disebut si raja judi, namun Olo memiliki sisi lain yang bisa dikatakan kontradiktif tapi luar biasa.

Ya, pria ini dikenal juga sebagai seorang dermawan yang kalau nyumbang benar-benar tak tahu aturan alias banyak sekali.

Dimana, pria ini dikenal juga sebagai seorang dermawan yang kalau nyumbang benar-benar tak tahu aturan alias banyak sekali. Di sisi lain, ia juga disebut preman bengis yang punya pengaruh besar.Rata-rata anak-anak jalanan dipeliharanya. Diberikan kebutuhan secukupnya. Saat judi dibuka dan diputarnya di kawasan Medan Fair (kala itu), semua anak-anak pasti mendapatkan uang.

Sosok Olo merupakan tokoh pemuda yang dermawan dan memiliki kepedulian tinggi terhadap sosial masyarakat, dimana Olo juga sering memberikan bantuan kepada mereka yang putus sekolah. Memang, di Sumatera Utara nama seorang Olo Panggabean saat ini begitu melegenda.

Menurut rumor, masa muda Olo Panggabean ini begitu keras dan sudah terjun di dunia preman dan jadi sosok yang punya nama yang ditakuti. Ia juga dikatakan pernah menjadi seorang penagih hutang bengis. Medan Petisah adalah daerah di mana Olo berkuasa.

Liputan JUGA  Sejarah Rajutan Nilai Kebangsaan Dari Kabupaten Serdang Bedagai Sumatera Utara

Yang terutama bagi Olo adalah bisa memberikan kebutuhan “urusan perut” anggotanya. Meski begitu, pengawalnya rata-rata bertubuh besar berkumis tebal dengan kepalan besar-besar.

Keterlibatan Olo dalam kepemudaan, telah dirintisnya semenjak ia menjadi anggota Pemuda Pancasila (PP) di bawah kepemimpinan HMY Effendi Nasution alias Pendi Keling, pada tahun 60-an. Pada saat itu, Olo memulai karier sebagai debt collector.Perlahan namanya dikenal banyak orang dan mulai dijadikan sandaran bagi kalangan pengusaha sebagai backup terhadap gangguan kekerasan.

Pada 28 Agustus 1969, bersama beberapa temannya, Olo Panggabean membentuk organisasi kemasyarakatan pemuda (OKP) yang diberi nama Ikatan Pemuda Karya (IPK).

Melalui IPK Olo kemudian membangun ”kerajaannya” yang sempat malang melintang di berbagai aspek kehidupan di Sumut dan menghantarkannya dengan julukan ”Ketua.”

Selain kerap disebut “Kepala Preman” atau “Keluarga Panggabean”, yang dikaitkan dari nomor seri plat kendaraannya yang seluruhnya berujung “KP”.

Ketika Brigjen Pol Sutiono menjabat sebagai Kapolda Sumatera Utara pada tahun 1999, Olo pernah mendapat tudingan sebagai pengelola sebuah perjudian besar di Medan.

Organisasi IPK pun diminta untuk menghentikan kegiatan judinya. Moses (anak buah Olo) langsung muntab. Ia sampai menantang Sutiono untuk membuktikannya.

Masalah tersebut pun diduga jadi pemicu terjadinya sebuah insiden di kawasan Petisah. Saat itu akibat penganiayaan yang dilakukan oleh sekelompok orang, ada anggota Brimob yang terluka. Korban yang terluka kemudian melaporkan kejadian itu ke rekan-rekannya.

Pada tahun 1999, rumah Olo di Medan Barat pernah diberondong anggota Brigade Mobil (Brimob). Dikabarkan beberapa anggota Brimob terluka kala itu.

Pada pertengahan 2000, Olo juga dikabarkan menerima perintah panggilan dari Jenderal Sutanto, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sumut terkait masalah perjudian. Namun panggilan tersebut dikabarkan ditolak Olo Panggabean, dengan hanya mengirimkan seorang wakil sebagai penyampai pesan.

Namun, ketika Sutanto menjabat sebagai Kepala Kepolisian RI (Kapolri) tahun 2005 dengan program pemberantasan judi, berbagai bisnis Olo Panggabean dikabarkan mengalami banyak penurunan. Meski demikian bukan berarti kekuatan finansial-nya, hilang begitu saja. Olo juga dikabarkan sempat mengelola bisnis properti dan real estate di kota Medan.

Bisnis Olo benar-benar dihabisi. Karena hal itu, Olo kemudian dikabarkan memilih melakukan bisnis yang legal. Konon kabarnya, ia lalu berbisnis di Perusahaan Otobus (PO), POM Bensin, dan sebagainya.

Tak Banyak Orang yang Bertatap Muka Langsung dengan Olo Panggabean, Saat mencari foto atau gambar Olo Panggabean di internet, mungkin kita hanya bisa menemukan satu atau dua foto saja.

Liputan JUGA  Momo Geisha dan Rumah Mewah Dengan Fasilitas yang Dimilikinya

Wajah Olo sendiri jarang diabadikan kamera wartawan. Hal tersebut tak lain karena tidak banyak orang yang pernah berkesempatan bertemu langsung dengannya.

Bahkan kisah dan sepak terjangnya tersebar lebih karena info dan cerita dari mulut ke mulut.

Lanjut kisahnya dimana, pada akhir 2008, Olo Panggabean yang kembali harus berurusan pihak polisi. Namun kali ini, kasusnya berbeda yakni untuk melaporkan kasus penipuan terhadap dirinya oleh sejumlah rekannya dalam kasus jual beli tanah sebesar Rp 20 miliar di kawasan Titi Kuning, Medan Johor.

Terlepas dari berbagai persoalan tersebut, sosok Olo Panggabean dikenal banyak masyarakat sebagai tokoh yang sangat dermawan. Ia kerap ”menabur” uang di berbagai kegiatan yang dihadirinya. Sehingga jangan heran jika masyarakat berbondong-bondong hadir untuk dekat dengannya. Tidak sedikit pula yang kagum termasuk bercita-cita sepertinya.

Membantu operasi kembar siam Anggi-Anjeli

Tidak itu saja, Sang Ketua juga tidak sungkan-sungan memberikan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan. Salah satu contoh, operasi kembar siam Anggi-Anjeli, bayi kembar siam asal Desa Serbelawan Kec Dolok Batu Nanggar Kabupaten Simalungun, yang dibiayainya untuk operasi ke Singapura.

Olo tinggal di kediamannya di Jalan Sekip, Medan, yang terkenal dengan sebutan “Gedung Putih”.

Kediamannya di Jalan Sekip, Medan juga ramai jadi buah bibir. Menurut sebuah sumber, setiap kali Olo berulang tahun atau ada perayaan Natal dan tahun baru, banyak jajaran papan bunga ucapan selamat yang memenuhi daerah kediamannya tersebut.

Walaupun dikenal sebagai preman dan sempat berbisnis di jalan yang tak halal, Olo dikenal sebagai seorang dermawan yang mengagumkan. Ketika menjadi donatur untuk pembangunan tempat ibadah, ia tak mau namanya ikut disebut.

Bahkan kisah dan sepak terjangnya tersebar lebih karena info dan cerita dari mulut ke mulut. Meski begitu, diyakini bahwa karisma seorang Olo Panggabean di Sumatera Utara bisa melebihi pejabat.

Walaupun dikenal sebagai preman dan sempat berbisnis di jalan yang tak halal, Olo dikenal sebagai seorang dermawan yang mengagumkan. Ketika menjadi donatur untuk pembangunan tempat ibadah, ia tak mau namanya ikut disebut. Pihak Olo selalu berusaha memberi bantuan dan memberikan yang terbaik pada siapa saja yang membutuhkan dana sumbangan.

Pernah pihaknya membantu sebuah keluarga yang anaknya tak bisa keluar dari rumah sakit karena “disandera” akibat tak bisa membayar biaya persalinan.Setelah biaya dilunasi dan dijamin langsung oleh Olo, pihak rumah sakit langsung memperlakukan keluarga itu dengan baik.

Liputan JUGA  Menteri ATR Tinjau Lokasi Sport Center Sumut

Olo Panggabean juga dikabarkan pernah membantu keluarga miskin. Diceritakan keluarga tersebut harus menerima nasib digusur secara paksa oleh oknum Satpol PP. Bahkan gerobak yang digunakan untuk berdagang yang jadi sumber penghasilan mereka dihancurkan. Dengan uluran tangan Olo, keluarga tersebut kemudian memiliki kios permanen sebagai tempat berjualan.

Pesan Olo kala itu agar bersama-sama dengan seluruh organisasi kemasyarakatan dan pemuda, tetap menjaga situasi kondusivitas Sumatera Utara. Daerah Sumut harus maju, masyarakatnya hidup rukun dan damai.

Olo juga memiliki kemuarahan hati dalam setiap menolong orang tanpa banyak melakukan pertimbangan. Sudah banyak jumlah orang yang sudah dibantunya dan berhasil. Ada yang sudah menjadi pejabat pemerintahan, perwira polisi.

Dari kalangan militer pun, baik itu dari Angkatan Darat (AD), Angkatan Udara (AU) maupun Angkatan Laut (AL), juga banyak yang berhasil. Selain bayi kembar siam Anggi dan Anjeli, dulu, istri pelawak Doyok pernah dibantu, sebelum meninggal.

Uniknya, Olo juga mempunyai kebiasaan memberikan uang kepada orang yang sedang bernyanyi di tempat keramaian. Tapi, kadang orang tidak tahu kalau dia itu adalah Olo Panggabean sesungguhnya. Tidak tanggung–tanggung, uang diberikannya kepada orang yang berani bernyanyi itu, mencapi jutaan rupiah.

Ini hanya sekali bernyanyi saja. Kalangan artis pun banyak yang kecipratan rejeki dibuatnya, langsung datang bila diundang untuk tampil dalam suatu acara besar. Olo Panggabean juga dikenal sebagai sahabat seluruh partai politik, tidak ada memilih–milih.

Olo sendiri wafat pada tanggal 30 April 2009 setelah menjalani pengobatan di Singapura akibat komplikasi penyakit diabetes yang dideritanya.

Dan yang bikin heran, kematiannya begitu ditangisi oleh banyak orang. Ya, meskipun preman dan raja judi, tapi di sisi lain Olo pernah membantu banyak orang. Sisi jahat Olo mungkin bukan untuk ditiru, tapi kebaikannya mungkin bisa jadi inspirasi

Almarhum Olo dikebumikan di Pekuburan Kristen Taman Eden kawasan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang. Olo merupakan anak ketujuh dari delapan bersaudara, buah hati pasangan suami istri almarhum Friedolin Panggabean dan Esther Hutabarat. Ia juga disebut merupakan satu–satunya tokoh yang berhasil merangkul seluruh suku dan agama, sehingga tidak pernah terjadi perpecahan.

Sumber: keprionline.co.id

(JM-01)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.