Dari asal usulnya KRT Reksoyudo masih kerabat Pangeran Pekik penguasa wilayah Surabaya. Kakek moyangnya keturunan raja Kahuripan Airlangga.
Kerajaan Kahuripan mengalami masa kejayaan di bawah kepemimpinan raja Airlangga. Dia adalah keturunan raja Bali yang diambil menantu oleh Prabu Darmawangsa Teguh.
Berkat kecakapan dan kesaktian Airlangga, rakyat di seluruh kerajaan Kahuripan dapat hidup makmur, sejahtera aman dan damai. Pelayaran perdagangan di kawasan Jawa bagian timur berlangsung lancar. Para saudagar dari Asia Selatan, Asia Barat dan Asia Timur ramai berdatangan untuk bisnis. Dalam bidang kebudayaan kraton Kahuripan mempunyai seorang empu yang ampuh tangguh, sepuh dan utuh. Dia bernama Empu Kanwa yang menciptakan kakawin Arjuna Wiwaha. Kitab mahakarya ini mengandung filosfis yang luhur serta nilai estesis yang benar- benar agung.
Dalam perkembangannya kakawin Arjuna Wiwaha disadur dalam bentuk serat wiwaha jarwa. Cerita pedalangan ini lebih populer menyebut lakon Begawan Mintorogo atau Begawan Ciptaning. Peninggalan kraton Kahuripan yang terpenting saat ini adalah Pelabuhan Tanjung Perak. Kota Surayaba menjadi pusat aktivitas ekonomi dan bisnis di Jawa Timur sesungguhnya berkat jasa kepemimpinan kerajaan Kahuripan. Sebuah prestasi historis yang amat membanggakan.
9. KRT Reksowijoyo (1710-1723)
KRT Reksowijoyo mengabdi kepada Sinuwun Paku Buwono I. Beliau dilibatkan dalam penyusunan Serat Kandha. Industri rumah tangga mendapat perhatian serius dari Bupati Banjar Patambakan yang bernama KRT Reksowijoyo.
Pada tahun 1714 ibu-ibu yang memiliki usaha kerajinan dikirim untuk belajar tentang cara membuat payung. Ada jenis payung untuk bupati, wedana, mantri, demang dan abdi dalem.
Masing- masing payung memiliki lambang hirarkis. Tem-pat pelatihan kerajinan ini di desa Tanjung kecamatan Juwiring Klaten. Sampai sekarang wilayah ini tetap melestarikan industri payung. Mereka mempunyai ketrampilan yang diwariskan secara turun temurun. Bupati Banjar Patambakan berkepentingan un-tuk membuat ketrampilan para wanita untuk menambah tingkat kesejahteraan.
10. KRT Purwowijoyo (1723-1730)
KRT Purwowijoyo diangkat sebagai Bupati oleh Sri Amangkurat Jawi. Beliau diajak untuk memajukan pelabuhan di Semarang. KRT Purwowijoyo benar- benar menunjukkan bupati yang cakap, mumpuni dan berwawasan luas.
Segala tugas yang diberikan dapat diselesaikan dengan cemerlang.
Prestasi gemilang KRT Purwowijoyo sebagai teknokrat dan birokrat membuat beliau diajak untuk ikut serta membangun ibukota kerajaan. Baik Amangkurat Jawi dan Paku Buwono II menggunakan tenaga dan pikirannya.
Sekedar diketahui bahwa Kartasura dipilih sebagai ibukota Mataram oleh Sri Susuhu-nan Amangkurat II tahun 1677. Letak Kartasura amat strategis. Terhubung langsung dengan jalur penting kota di pesisir dan pedalaman. Umbul Cakra dan Pengging mengalir ke Kartasura dan bertemu di Kali Larangan. Tanah subur di bawah kaki Gunung Merapi Merbabu. Mata air dari Gunung Sewu mengalir sampai selat Madura.
Pada masa kejayaan Kraton Mataram Kartasura, berkembang pesat kesusasteraan, kesenian dan kerajinan. Kitab -kitab Jawa klasik diolah menjadi sastra dengan metrum macapat. Babad Tanah Jawi, Serat Menak, Serat Kandha dan Serat Panji diproduksi besar-besaran. Kurun waktu antara tahun 1677-1745 Kartasura menjadi pusat pembelajaran seni kerawitan, tari dan pedalangan.
Kerajinan gamelan dan wayang diekspor sampai ke Asia Timur, Selatan, Barat, dan Tengah. Sebagian dipasarkan di negeri Eropa. Puncak- puncak kebudayaan gagrag Kartasura ber-kontribusi besar terhadap peradaban global. Dunia berhutang budi pada produktivitas, kreativitas dan aktivitas kebudayaan Kartasura. Warisan luhur yang mendapat apresiasi.
11. KRT Wironagoro (1730-1738)
KRT Wironagoro diangkat sebagai bupati oleh Sinuwun Paku Buwono II. Pada saat itulah beliau diajak untuk memikir-kan perdamaian di Mataram Kartasura. Beliau berperan dalam pengadilan Syekh Mutamakin.
Demang Ngurawan sebagai ahli hukum keraton Kartasura bersahabat erat dengan KRT Wironegoro. Ketika ada masalah hukum, maka keduanya mendapatkan tugas tentang pro-blematika yuridis.
12. KRT Sosroyudo (Banyakwide) (1738-1780)
KRT Sosroyudo diangkat menjadi bupati oleh Sinuwun Paku Buwono II. Beliau berperan besar dalam pemindahan ibukota dari Kartasura ke Surakarta Hadiningrat. Selanjutnya beliau menjadi penasihat utama Paku Buwono III. Putra Raden Tumenggung Mertoyudo, Bupati Bayumas ke-4 dengan garwa padmi Nyai Embah Mertoyudo dari Banjarmertakanda. Banyak wide menjadi bupati Banjar I sesudah pemerintahan Ngabei Wiroyudo, adik ipar Wargahutama II.
Kyai Raden Ngabei Banyakwide, adik kandung Raden Ngabei Mertoyudo II, berputra 4 orang yaitu: Kyai Ngabei Mangunyudo (menjadi menantu Kyai Raden Adipati Yudonegoro I). Raden Kentol Kertoyudo. Raden Bagus Brata. Mas Ajeng Basiah. Setelah wafat diganti putranya yang bergelar Raden Ngabei Mangunyudo I yang kemudian dikenal sebagai Adipati Mangunyudo Seda Loji. Dalam melaksanakan pembangunan KRT Sosroyudo selalu berkoordinasi dengan penguasa daerah sebelahnya. Misalnya pada tahun 1763 diadakan kerjasama anta-ra kabupaten Banjar Petambakan dengan kabupaten Purbalingga yang dipimpin oleh KRT Dipoyudo. Bahkan beliau turut serta membantu pemindahan ibukota dari Karanglewas.
Bupati Banjarmangu yang bernama KRT Sosroyudo memang gemar bermain teater kethoprak atau sandiwara. Pada tahun 1763 rombongan pemain teater Banjarmangu dikirim oleh Bupati untuk mengikuti pelatihan akting. Kebetulan sekali Sinuwun Paku Buwana III adalah seorang seniman panggung. Beliau mengarang Serat Wiwaha Jarwa. Isinya tentang perjuangan Begawan Ciptoning yang bertempur melawan Prabu Niwata Kawaca, raja Negeri Hima Himantaka. Para seniman Banjarmangu merasa beruntung mendapatkan ilmu tata bahasa, tata sastra, tata busana, tata panggung. Mereka menjadi seniman berkualitas.
D. Perkembangan Kabupaten Banjarmangu.
Kabupaten Banjar Petambakan berganti nama menjadi kabupaten Banjar Watu Lembu atau banjar Mangu.
Upacara penggantian nama Kabupaten ini dihadiri pula oleh para tokoh Girilangan. Mereka merupakan undangan kehormatan.
13. KRT Mangunyudo (1780-1812)
KRT Mangunyudo diangkat menjadi bupati oleh Sinuwun Paku Buwono IV. Sejak itu pula Banjar Patambakan diubah men-jadi Kabupaten Banjar Watu Lembu atau Banjarmangu. Riwayat Kanjeng Sunan Giri Wasiyat, Kyai Panembahan Giri Pit, Nyai Ageng Sekati dan sebagainya, menyebutkan bahwa pengganti RNg. Mangunyudo I ialah adik kandungnya, Raden Ngabei Kentol Kertoyudo yang bergelar RNg. Mangunyudo II.
Masa pemerintahan ini kabupaten dipindahkan ke sebelah barat Kali Merawu dan kemudian dinamakan kabupaten Banjar Watu Lembu. Dalam buku Inti Silsilah dan Sejarah Banyumas yang disusun oleh Raden Mas Brotodirejo dan Raden Ngatidjo Darmosuwondo disebutkan bahwa pengganti Kyai Raden Ngabei Mangunyudo I adalah putranya bergelar Kyai Mangunyudo II atau disebut juga Kyai Raden Ngabei Mangunyudo Mukti. Kabupaten lau berpindah ke sebelah barat Sungai Merawu dan kemudian dinamakan Banjar Watulembu.
Kerjasama antar bidang dilakukan juga dengan Bupati Purbalingga ke 2 yang bernama KRT Dipokusumo yang meme-rintah antara taun 1787-1811. Kedua penguasa daerah ini beker-jasama dalam bidang perencanaan, perdagangan, pertukangan, perkebunan dan pertanian.
Pada tahun 1784 Bupati Banjarmangu yang bernama KRT Mangunyudo mengikuti pelatihan manajemen pelabuhan di Surabaya. Saat itu penguasa pelabuhan Tanjung Perak adalah Pangeran Pekik. Kegiatan workshop dan training ini diikuti para bupati di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tujuannya agar para kepala daerah memiliki wawasan bisnis dan marketing Bupati Banjar berkepentingan untuk memasarkan produk gula kelapa.
14. KRT Kertoyudo (1812-1831)
KRT Kertoyudo berturut-turut mengabdi kepada tiga raja, yaitu Sinuwun Paku Buwono IV, V, VI. Beliau merupakan Bupati Banjar Watu Lembu yang dilibatkan dalam penyusunan Serat Wulangreh dan Serat Centhini. Kyai RNg. Mangunyudo II kemudian digantikan oleh putranya dengan gelar Kyai RNg. Mangunyudo III lalu berganti nama menjadi Kyai RNg. Mangunbroto, Bupati Anom Banjar Selolembu. Raden Kenthol Kertoyudo putra ke-2 RNg. Banyakwide (kliwon Banyumas), berputra 4 orang: R. Mangkuprojo, menjadi patih Kartosuro dan setelah wafat dimakamkan di Pasarean Pakuncen. R. Bagus Bengawan. Mas Ajeng Aminah. Mas Ajeng Bariah. Mereka semua adalah trahing kusuma rembesing madu.
Kerjasama dengan kabupaten Banjarnegara dilaksana-kan dengan KRT Brotosudiro. Mereka berdua menjadi contoh kepala daerah yang sukses membangun peradaban. Bupati Brotosudiro ini memerintah dari tahun 1811-1831. Setelah wafat Bupati Brotosudiro dimakamkan di Pekuncen Purbalingga.
Tenaga pertukangan dari Banjarmangu dikirim oleh Bupati Banjarmangu yang bernama KRT Kertoyudo untuk belajar ukir- ukiran di Jepara pada tahun 1813. Sejak jaman Majapahit Kabupaten Jepara trampil mengukir kayu. Hasil ukir- ukiran Jepara terkenal di seluruh dunia. Semua istana kerajaan dunia mengundang tukang ukir yang mahir. Jepara dijadikan pusat pelatihan para tukang Banjarmangu untuk meningkatkan ketrampilan.
Peningkatan sumber daya manusia yang dilakukan Bupati Banjarmangu patut dijadikan teladan. Tukang-tukang ini pulang dengan rasa bangga. Mereka telah memiliki wawasan, pengalaman, ketrampilan selama ditugaskan belajar.
Dari nama Banjarmangu kemudian berubah menjadi kabupaten Banjarnegara. Atas saran sesepuh Girilangan nama Banjarmangu atau Banjar Watu Lembu diubah namanya menjadi kabupaten Banjarnegara. Pengubahan ini setelah melalui proses meditasi spiritual. Para leluhur memberi dhawuh demikian.
Kabupaten Banjarnegara letaknya di antara 1¬¬° 31° lintang selatan, 2° 33° bujur barat serta 3° 81° bujur timur. Adapun batas-batasnya adalah sebelah utara Kabupaten Pekalongan, sebelah timur Kabupaten Wonosobo, sebelah barat Kabupaten Purbalingga dan Banyumas, sebelah selatan Kabupaten Kebumen. Kemudian dibagi menjadi 5 kawedanan: Banjarnegara, Purworejo, Wanadadi, Karangkobar, dan Batur. Adapun bupati yang memerintah sebagai berikut:
15. KRT Dipoyudo (1831-1846)
KRT Dipoyudo ditetapkan sebagai Bupati Banjarnegara oleh Sinuwun Paku Buwono VII. Sejak itu nama Banjar Watu Lembu diubah menjadi Kabupaten Banjarnegara. Menurut ‘Babad Banyumas’, Raden Dipoyudo adalah cucu adik RT Yudonegoro III (Patih Danurejo) dan putra RNg. Dipowijoyo, Ngabei Soka.
Beliau masih keturunan Raden Tumenggung Mertoyudo, bupati Banyumas IV (kakek RNg. Mangunyudo) yang kawin dengan Nyai Embah Mertoyudo.
RT Dipoyudo IV adalah putra RNg. Dipowijoyo, cucu Dipoyudo I alias Dipoyudo Seda Jenar atau Seda Ngrana. Ketika kecil beliau bernama Kadirman, yang atas perkenan Kanjeng Susuhunan Paku Buwana IV dijadikan Mantri Anom dan dianugerahi nama R. Atmosukaryo. Kemudian diangkat menjadi ngabei di Purbolinggo, bergelar Dipoyudo IV. Kemudian menjadi bupati Ayah. Berdasarkan dedikasi prestasi gemilang, tgl 22 Agustus 1831 beliau diangkat menjadi Bupati Banjarnegara. Sebagai stafnya ditetapkan pejabat nayaka praja antara lain: Mas Cakrayuda sebagai patih, Mas Mangunyudo sebagai kliwon, Raden Ngabei Mangun Subroto sebagai wadana Banjarnegara, Dipowijoyo, mantri Kabupaten Banjarnegara, Ranadikrama sebagai mantri kabupaten, Mangundimejo sebagai jaksa, Amad Pekih sebagai pengulu.
Di antara keempat daerah tersebut yang terus berkembang adalah Banyumas dan Banjar Petambakan yang kelak menjadi Banjar Watu Lembu dan akhirnya menjadi Banjarnegara Gilar- gilar. Merden dan Wirasaba sekarang hanya sebuah desa masing- masing di kecamatan Purwonegoro (Banjarnegara) dan kecamatan Bukateja. Kabupaten Banjar semakin berkembang.
KRT Dipoyudo mempunyai adik 5 orang yaitu: 1) MA Kertawijaya, Patih Ngadireja, 2) RM Surawijaya, 3) MA Dipa mohamad, Pengulu Banjarnegara, 4) RM Dipadiwirya Patih Banjarnegara, 5) RM Dipadiwirya II. Sedangkan anaknya berjumlah 8 orang yaitu: 1) R Kertapraja, Kolektur Purbalingga, 2) RA Hudasudira, 3) RA Hudadiwijaya, 4) RT Dipadiningrat, Kanjeng Bupati Banjarnegara, 5) R Ngabei Yudaatmaja, Wedana Batur, 6) R Sumadirja, Kolektur Purbalingga, 7) RA Surawijaya, 8) RA Yudakusuma.
Pembangunan kereta api dari Surakarta ke Betawi pada tahun 1839. Kereta api jurusan Banyumas Banjarnegara dan Wonosobo tahun 1867. Ada perusahaan SDS (Serayudal Stoom-trem). Para Bupati Banjarnegara amat semangat membuat wilayahnya menjadi maju. Kerjasama dengan bupati Purbalingga keempat tetap dilanjutkan, yaitu pada masa pemerintahan KRT Dipokusuma II. Bupati Purbalingga keempat ini memerintah tahun 1831-1846. Gelar KRT Dipokusuma II yaitu KRT Tarunokusumo. Setelah meninggal dimakamkan di Giri Cendana Purbalingga.
16. KRT Dipodiningrat (1846-1878).
Pelantikan KRT Dipodiningrat dilakukan oleh Sinuwun Paku Buwono VII di Sitihinggil Kraton Surakarta. Beliau akrab dengan pujangga agung Ranggawarsito. Putra Kanjeng Raden Tumenggung Dipoyudo IV wafat tahun 1878, dimakamkan di belakang mesjid besar Banjarnegara.
Daerah Merden diberikan kepada Ngabei Wirakusumo. Ngabei Wargawijaya diberi daerah Wirasaba. Ngabei Wiroyudo, diberi wilayah Banjar Petambakan (Sebelah timur sungai Merawu). Kyai Adipati Wargahutama II menjadi pemukanya (wedana bupati) bertempat di Kejawar, Banyumas).
Wilayah Banyumas (karesidenan Banyumas) terbagi menjadi empat regentschap: regentschap Banyumas; regentschap Cilacap; regentschap Purbalingga; regentschap Banjarne-gara. Regentschap Banjarnegara meliputi 5 distrik dan 18 onder distrik. Kelima distrik tersebut adalah: distrik Banjarnegara, distrik Wonodadi, distrik Karangkobar, distrik Batur, distrik Purworejo Klampok. Distrik Banjarnegara terdiri dari 4 onderdistrik dengan 75 desa. Dengan harapan semua kawula mendapat suasana gemah ripah loh jinawi.
Sinuhun Paku Buwono IX mengajak KRT Dipodiningrat untuk membahas kunjungan Ferdinand de Lepez ke pulau Tamazex Singapura. Ikut serta KRT Dipoatmojo yang menjadi bupati Purbalingga keenam tahun 1868-1881. Saat itu sedang hangat-hangatnya pembangunan Terusan Suez di negeri Mesir.
17. KRT Joyonegoro (1878-1896).
Pelantikan KRT Joyonegoro sebagai Bupati Banjarnegara dilakukan oleh Sinuwun Paku Buwono IX. Beliau ahli konstruksi bangunan. Sering diajak ketika membangun pesanggrahan Langenharjo. Putra Raden Tumenggung Kalapaking, Panjer, yang pada waktu muda bernama Raden Atmodipuro. Sebelumnya beliau patih Purworejo. Beliau pernah mendapat ganjaran pangkat ‘adipati’ dan bintang mas. Tahun 1896 beliau wafat dan dimakamkan di Kuwondo Giri.
Masih dalam pemerintahan Sinuhun Paku Buwana IX, KRT Joyonegoro bersama bupati Purbalingga ketujuh yang bernama Kanjeng Candi Wulan mengadakan kunjungan ke daerah pesisir untuk membicarakan penguatan kehidupan maritim. Pelabuhan, pelayaran dan perikanan dibicarakan secara mendalam demi mencapai kesejahteraan umum.
18. KRT Joyo Amiseno (1896-1927)
Pelantikan KRT Joyo Amiseno sebagai Bupati Banjar dilakukan oleh Sinuwun Paku Buwono X. Disertai oleh kehadiran Patih Sosrodiningrat. Beliau ahli administrasi dan moneter. Putra Raden Tumenggung Joyonegoro I, pada waktu muda bernama Raden Mas Jayamisena.
Sebelumnya menjadi wedana distrik Singomerto. Istri pertama beliau putra Kanjeng Pangeran Aria Mertodirejo di Banyumas. Beliau mendapat anugerah pangkat ‘Adipati Aria’, payung emas, bintang emas besar Officer Orange. Pembangunan di segala bidang gencar dilakukan oleh KRT Joyo Amiseno. Beliau rajin berkonsultasi dengan bupati Purbalingga yang bernama KRT Dipokusumo VI. Beliau menjadi bupati Purbalingga 1899–1925. Makam bupati Arya Dipokusumo VI di Giripurna Purbalingga.
19. KRAA Sumitro Kolopaking Purbonegoro (1927-1949)
Pelantikan KRAA Sumitro Kolopaking Purbonegoro dilakukan oleh Sinuwun Paku Buwono X. Dihadiri Patih Joyonagoro dan Wuryaningrat. Beliau wareng Kanjeng Adipati Bratadiningrat di Banyumas dan cicit Kanjeng Raden Adipati Dipodiningrat di Banjarnegara. Maka berarti kabupaten kembali kepada kekuasaan keturunan para penguasa terdahulu.
KRT Sumitro Kolopaking Purbonegoro adalah seorang aktivis pergerakan nasional yang melibatkan diri dalam pem-bentukan Dewan Rakyat (Volksraad). Lembaga ini menjadi cikal bakal kesadaran hidup berparlemen. Berdiri pada tanggal 18 Mei 1918, sebagai bentuk dari Dewan Rakyat atau Volksraad yang mewakili segala lapisan masyarakat. Tokoh- tokoh pergerakan, pendidikan, budaya, politik, sosial dan keagamaan menjadi wakil. Kesempatan untuk membicarakan soal- soal pemerintahan negeri. Anggota- anggota Volksraad adalah utusan dari Budi Utomo, Sarikat Islam, Sarikat Sumatra, Pasundan, Maluku Politiek Ver-bond, Kaum Betawi, Persatuan Minahasa.
Dari bangsa Indonesia pernah menjadi ketua Volksraad yaitu RAA Wiranakusuma dan R Sutardjo.
20. Raden Sumarto (1949-1959)
Beliau diangkat sebagai bupati di era awal pemerintahan Presiden Soekarno. Lahir di Karangjambu Purwokerto, 25 November 1898. Pangkat dan golongan terakhir sebelumnya: Bupati Pamongpraja Gol. VI/G PGP 1948 Kab. Banjarnegara. SK Menteri Dalam Negeri tgl. 5 Desember 1949 no. Up. 6/5/17/tmt. 1 Januari 1949. Kerjasama dengan Purbalingga dilanjutkan bersama dengan KRT Sugondo yang memerintah tahun 1925-1949. Makam KRT Sugondo di Giripurna Purbalingga.
Kabupaten Purbalingga dan Banjarnegara selalu berjalan harmonis dan manis.
21. Mas Soejirno (1960-1967)
Beliau mengalami masa peralihan kekuasaan dari Presiden Soekarno ke tangan Presiden Soeharto. Jabatan sebelumnya sebagai Penata Tatapraja PGPN 1961 (Wedono Kutoarjo). Beliau merupakan yang dilantik pada tanggal 1 Januari 1960 dan berhenti pada 13 September 1967. Lahir di Sokaraja Wetan tanggal 15 Desember 1911.
22. Raden Soedibjo (1967-1973).
Beliau mengalami masa awal pemerintahan awal orde baru yang dipimpin Presiden Soeharto. Ia dilantik pada 13 September 1967 dan menjabat sampai dengan 8 Februari 1973.
23. Drs. Soewadji (1973-1980).
Beliau menjadi Bupati ada saat pemerintahan Orde Baru mulai stabil. Pemerintah Orde Baru sudah melakukan pemilihan umum. Jabatan sebelumnya sebagai sekretaris wilayah daerah Kabupaten Magelang. Diangkat menjadi bupati Banjarnegara pada 8 Februari 1973 dan berhenti pada 26 Februari 1979.
24. Drs. Winarno Surya Adisubrata (1980 –1986).
Beliau mempunyai riwayat jabatan yang cemerlang. Ketika memimpin Kabupaten Banjarnegara, prestasi gemilang dicapai bersama jajaran. Sebelumnya adalah Bupati KDH Tk. II Demak. Ia dilahirkan di Solo pada 14 Oktober 1936, menempuh pendidikan dasar dan menengah di Solo kemudian melanjutkan ke APDN Malang pada tahun 1959.
25. H. Endro Soewarjo (1986-1996).
Pada masa pemerintahannya stabilitas politik memang tenang dan mantab. Puncak- puncak kejayaan Orde Baru. Dilantik menjadi Bupati Kepala Daerah kabupaten Tk. II Banjarnegara pada tahun 1986 dan berhenti pada tahun 1996.
26. Drs. Nurachmad (1996-2001).
Beliau mengalami masa peralihan dari pemerintahan Orde Baru ke tangan Orde Reformasi. Beliau mengalami pergan-tian kekuasaan Presiden yang berbeda. Jabatan sebelumnya adalah sebagai Sekwilda Tk. II Kendal. Diangkat menjadi Bupati Kepala Daerah Kabupaten dari Banjarnegara pada 1991.
27. Drs. Ir. Djasri, MM, MT dan Drs. Hadi Supeno, M.Si (2001-2011)
Rakyat memilih pasangan ini untuk memimpin Kabupaten Banjarnegara. Pilkada langsung dilaksanakan secara demokratis, aman dan damai. Kedua pasangan pemimpin ini selalu memperhatikan petilasan di Kademangan Gumelem dan kawasan cagar budaya.
28. Sutedjo Slamet Utomo dan Drs. Soehardjo, MM (2011-2016)
Dalam pilkada langsung rakyat Kabupaten Banjarnegara telah memilih pasangan Sutedjo Slamet Utomo dan Drs. Soehardjo, MM. Kademangan Gumelem juga diperhatikan, sehingga ajaran luhur tetap lestari.
29. Prijo Anggoro BR dan Drs. H. Hadi Supeno, M.Si tahun 2016.
Sejak terpilih menjadi bupati dan wakil bupati pasangan Prijo Anggoro BR dan Drs. H. Hadi Supeno, M.Si memimpin kabupaten Banjarnegara. Kedua pemimpin ini bertekad untuk terus jmengembangkan seni budaya.
Cancut gumregut tandang karya. Seluruh rakyat mendukung sang pemimpin, agar Kabupaten Banjarnegara berhasil dan sejahtera lahir batin.
(LM-01)
