Warna Warni Adat Istiadat Tradisional di Kabupaten Serdang Bedagai Sumatera Utara
Oleh: Dr. Purwadi M.Hum
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara – LOKANTARA Hp 087864404347)
A. Kesadaran Atas Keberagaman.
Pada tanggal 27 Nopember 2020 diselenggarakan dialog tentang Akulturasi dan toleransi. Ir H Soekirman, Bupati Serdang Bedagai atau Sergai ditunjuk untuk memberi paparan tentang strategi kebudayaan. Dengan tujuan meningkatkan keselarasan sosial.
Begitu pentingnya acara pembinaan karakter bangsa. Turut mendampingi sebagai narasumber yaitu Sahala Siburian, Babiet Sihombing, Herlan Panngabean, Amran Sinaga. Peserta terdiri atas para tokoh masyarakat, seniman, budayawan, agamawan, seniman. Acara ini dilakukan di desa Pematang Terang, Kecamatan Tanjung Beringin, Serdang Bedagai.
Tema kali ini mengambil tema kesadaran atas keragaman.
Semboyan Bhineka Tunggal Ika, barang kali cocok untuk menggambarkan kondisi masyarakat Sergai. Wilayah Sergai yang terdiri dari 17 kecamatan ini dihuni oleh beragam suku, agama, bahasa, adat istiadat. Pemahaman atas keberagaman perlu disadari oleh generasi muda dan pelajar. Ini wujud pelaksanaan pendidikan karakter
Sejak berdiri sebagai Kabupaten otonom tanggal 7 Januari 2004, Serdang Bedagai telah menoreh prestasi gemilang. UU no 36 tahun 2003 memberi kewenangan pada Serdang Bedagai untuk mengurus rumah tangga sendiri. Lepas Kabupaten induk Deli Serdang.
Tokoh pemekaran yaitu David Purba berhasil meletakkan pondasi pokok daerah otonom Sergai. Tenaga dan pikiran David Purba layak dikenang sepanjang masa.
Untuk melancarkan jalannya pemerintahan, Drs Chairullah MAP diberi tugas sebagai Pjs Bupati Sergai tahun 2004-2005. Kiprahnya dalam menjalankan eksekutif sementara sungguh mengagumkan. Jasa dan perjuangan Drs Chairullah MAP pantas menjadi suri teladan. Warga Sergai merasa mendapat pengayoman agung dan pengayeman hakiki.
Keteladanan Drs Chairullah dilanjutkan oleh Dr Kasim Siyo M.Si tahun 2005. Birokrat tulen Pemerintah Propinsi Sumatera Utara ini terkenal dengan kiprah sosial budaya. Disamping aktif dalam pemerintahan dan komisaris Bank Sumut, Dr Kasim Siyo M.Si dipercaya untuk memimpin PUJAKESUMA, Paguyuban Putra Jawa Kelahiran Sumatera.
Dalam lingkup teritorial Pulau Sumatera, Organisasi PUJAKESUMA tergolong besar berwibawa. Cabang cabangnya berdiri hampir di seluruh Pulau Sumatera. Sewajarnya PUJAKESUMA selalu hadir memberi sumbangan demi kelestarian budaya Jawa. Terutama bagi warga transmigrasi.
Pimpinan Kabupaten Serdang Bedagai hasil Pilkada terjadi pada tahun 2005. Pasangan Dr Tengku Erry Nurani M.Si – Ir H Soekirman dipercaya untuk mengabdi pada rakyat. Perpaduan kepemimpinan Melayu Jawa memang ideal. Dr Tengku Erry Nuradi M.Si berasal dari keluarga Kasultanan Serdang. Sedangkan Ir H Soekirman berasal keluarga terkemuka Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Sergai siap maju di segala bidang.
Kepercayaan rakyat Sergai pada pasangan Tengku Erry Nuradi – Soekirman berulang. Tahun 2010 kedua pemimpin dwi tunggal melanjutkan pengabdian. Serdang Bedagai bertambah arum kuncara, ke kanan kiri semerbak wangi.
Keberuntungan berpihak pada masyarakat Sergai. Tahun 2013 Dr Tengku Erry Nuradi M.Si ditetapkan sebagai Wakil Gubernur Sumatera Utara. Tahun 2014 naik pangkat menjadi Gubernur Sumatera Utara. Dari pejabat Kabupaten Sergai bertugas menjadi Gubernur Sumatera Utara. Sergai cerah berkilauan, terpandang dari segala arah penjuru.
Siji garising pesthi, loro temune jodho, telu tumurune wahyu, papat mundhake pangkat, lima tumibane nugraha. Sejak tahun Ir H Soekirman harus meneruskan visi misi Tengku Erry Nuradi. Tugas Bupati dilaksanakan sebaik baiknya. Lila lan legawa kanggo mulyane negara.
B. Pemimpin Sergai sebagai Pengayem dan Pengayom Budaya.
Budaya Melayu, Batak, Jawa, Minang, Banjar, Cina, Arab memperkaya warna warni daerah Sergai. Berbeda beda tetapi tetap satu. Antar komunitas budaya hidup berdampingan dan saling menghormati. Begitulah kata Sunawar Sukowati yang turut menjadi salah satu narasumber.
Prestasi gemilang diukir oleh Ir H Soekirman. Rakyat yang tinggal di pedesaan, pegunungan, perkotaan ayem tentrem. Wiridan, sholawatan, pengajian keliling diikuti dengan sepenuh hati.
Upacara Saur Matua dihadiri Ir H Soekirman dengan penuh penghormatan. Acara Batak kerap dihadiri oleh Soekirman. Bahkan Hadiah Rancage diterima, karena dianggap peduli pada budaya Batak. Ir H Soekirman pernah menulis cerpen dalam bahasa Batak. Pidato Soekirman dengan bahasa Batak lancar sekali. Melebihi fasihnya orang Batak. Ajip Roesyidi, sastrawan nasional memberi hadiah Rancage lewat seleksi ketat. Ir H Soekirman betul betul ahli budaya Batak.
Horas. Marsiurupan. Semangat kerja sama ini didukung betul oleh Drs Joni Walker Manik MM. Ketua KERABAT, Kerukunan Rakyat Batak pernah berkunjung ke Sanggar Seni Pustaka Laras Yogyakarta. Atas saran Bupati Soekirman, Pelajar dan guru Sergai belajar tembang, kerawitan dan pedalangan.
Petatah petitih Melayu dihafal di luar kepala. Pantun Melayu dibuat untuk memeriahkan suasana. Seolah olah Ir H Soekirman guru bahasa dan sastra. Maklum Ir H Soekirman lama mengabdi sebagai dosen Universitas Sumatera Utara, Fakultas Pertanian. Dunia ilmiah akademik memang habitat awal. Budaya Melayu merupakan basis tradisi maritim.
Biar orang bertanam buluh. Kita tetap menanam padi. Biar orang menebar musuh. Kita tetap bertanam budi.
Adat bersendi sarak. Sarak bersendi kitabullah. Peribahasa Minang ini berkembang pula di Tanah Bertuah, Negeri Beradat.
Jawa digawa, Arab digarap. Budaya Jawa merupakan kebiasaan sehari hari. Di rumahnya Jl Coklat 1 Batang Terap Perbaungan Serdang Bedagai. Ada seperangkat gamelan yang digunakan untuk pengembangan, pelatihan dan pengajaran. Seni karawitan, tari, pedalangan dikelola teratur. Jadwal latihan untuk segala lapisan masyarakat. Kegiatan ini dipimpin oleh Drs Henri Suharto, lewat Paguyuban Suko Budoyo.
Paguyuban Temu Kangen yang dipimpin oleh Ki Poniman. Tiap ada acara mendukung program seni budaya Pemerintah Kabupaten Sergai. Seperti pada tanggal 1-2 Maret 2020, Paguyuban Temu Kangen diberi kesempatan tampil di kabupaten Idi Aceh. Bupati Soekirman dan Bupati Hasballah Thaib menyaksikan pentas seni tari pethilan episode Ramayana.
Pendekatan budaya memang efektif. Lelagon Jawa demi menciptakan birokrasi yang bersih dan berwibawa. Pesan simbolis lebih mengena dalam himbauan yang halus. Mrih padhanging sasmita.
Kuwi apa kuwi, e kembang melati. Sing dak puja puji, aja dha korupsi. Yen padha korupsi, negarane rugi. Piye mas kuwi, aja ngono ngona ngono kuwi.
Kuwi apa kuwi, e kembange menur. Sing dak puja puji, rakyate dha jujur. Yen rakyate jujur, negarane makmur. Piye mas kuwi, aja ngono ngona ngono kuwi.
Kuwi apa kuwi, e kembang sepatu. Sing dak puja puji, ayo dha bersatu. Yen padha bersatu, negarane maju. Piye mas kuwi, aja ngono ngona ngono kuwi.
Dengan disertai segenap peserta, diskusi tentang toleransi dan keberagaman berjalan lancar gancar. Simbol simbol budaya telah berakar kuat dalam diri masyarakat Jawa transmigrasi. Mereka merantau dan berbaur dengan masyarakat suku lain. Tercipta harmoni sejati.
Tali persahabatan bisa terjadi pada saat saur matua. Peserta sebagian berbaju adat Batak. Ir H Soekirman menggunakan bahasa Batak sebagai sarana komunikasi sosial. Tepuk tangan bergemuruh atas pidato Ir H Soekirman. Serdang Bedagai menampilkan wajah yang toleran dan damai.
Hari jumat 27 nopember 2020 Sergai tampak edi peni. Kehidupan yang guyub rukun penuh dengan kekeluargaan adalah dambaan. Kabupaten Serdang Bedagai Sumatra Utara termasuk miniatur Nusantara.
(LM-01)

Tinggalkan Balasan