Persahabatan Dua Bapak Bangsa Presiden Ho Chi Minh dan Presiden Soekarno
Oleh: Agus Marwan
(Penulis Buku “Revolusi di Sungai Merah: Perjuangan Vietnam di Pusaran Kolonialisme & Globalisasi”)
Persamaan Perjuangan
Bangsa Indonesia dan bangsa Vietnam adalah dua bangsa yang memiliki nasib yang sama, yakni bangsa yang melawan kolonialisme bercorak kapitalisme. Puncak perjuangan dari kedua bangsa ini tatkala sama-sama merdeka dari Jepang. Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, sedangkan Vietnam pada 2 September 1945.
Setelah merdeka, Indonesia dan Vietnam masih harus menghadapi perjuangan yang sama, karena para kaum imperialis tidak menghendaki kedua bangsa ini merdeka. Indonesia dan Vietnam harus kembali melawan mantan penjajah pasca kemerdekaan. Indonesia harus melawan kembali penjajah Belanda, sedangkan Vietnam harus melawan kembali penjajah Perancis.
Dalam perjuangan kemerdekaannya, kedua bangsa ini sama-sama dipimpin oleh dua tokoh yang anti kolonialisme dan kapitalimse. Kedua tokoh ini sangat kharismatik dan melegenda, dan memiliki peran yang sangat penting dalam memerdekakan bangsanya. Di Indonesia dipimpin oleh Soekarno, dan di Vietnam dipimpin oleh Ho Chi Minh.
Vietnam
Pada awal abad 19, Vietnam sudah menjadi wilayah koloni Perancis. Kelompok nasionalis Vietnam melakukan beberapa kali pemberontakan kepada Perancis tapi gagal. Perancis kalah perang dari Jerman 1940. Posisi Perancis di Vietnam diambil alih Jepang.
Perjuangan kemerdekaan Vietnam menguat setelah lahirnya Vieth Nam Doc Lap Dong Minh/Vieth Min (Liga Pembebasan Vietnam). Vieth Minh terbentuk pada Mei 1941 di Chiangsi, Provinsi Kwangsi. Viet Minh dimotori oleh Ho Chi Minh. Dibawah perjuangan pasukan Vieth Minh dengan berbenderakan ideologi sosilalis-komunis, perlawanan bangsa Vietnam terhadap kaum kolonialis semakin menggelora. Perjuangan Vieth Minh membuahkan hasil, Vietnam menyatakan kemerdekaannya dari Jepang pada 2 September 1945.
Januari 1946, Vieth Minh menang mutlak dalam pemilu Vietnam pertama. Vieth Minh meraih 444 kursi dari 514 kursi di Majelis Permusyawaratan Nasional. Perancis berusaha kembali menjajah Vietnam pada Febaruari 1946. The French Expeditionary Corps dipimpin Jendral Leererc menyerang Ibukota Saigon. Kehadiran kolonialis Perancis ini dapat diusir oleh pasukan Vieth Minh, dan Perancis pun kalah perang –dengan ditandai jatuhnya Benteng Bien Dien Phu tahun 1954.
Setelah menang dari Perancis, pada 20 Juli 1954 Vietnam menyetujui perjanjian Jenewa yang membagi Vietnam menjadi dua negara: Utara dan Selatan. Dengan harapan dan optimisme yang tinggi kedua Utara dan Selatan ini akan segera menyatu. Namun dalam perkembangannya pihak Selatan mengingkari kesepakatan reunifikasi dalam satu wadah negara Vietnam. Konflik pun tak terhindarkan, dan situasi ini membuat Amerika Serikat melakukan intervensi ke Vietnam.
Babak baru peperangan anatara Amerika Serikat dengan Vietnam pun tak terhindarkan. Bahkan peperangan ini menjadi peperangan terlama bagi Amerika Serikat. Nasib Amerika pun sama dengan Perancis, harus menelan pil pahit kekalahan. Pada tahun 1975 Amerika harus hengkang dari Vietnam. Dari Perang Vietnam ini, sebanyak 57.000 tentara Amerika Serikat tewas, 300.000 tentara cedera/cacat, 700 tentara ditahan, dan 5000 tentara dinyatakan hilang.
Ho Chi Minh
Ho Chi Minh lahir 19 Mei 1890 di Desa Kim-Lien, Provinsi Nghe-An, Vietnam Tengah. Keluarganya berlatar belakang ningrat dan penganut Konfusianisme. Tidak seperti keluarganya yang cenderung tertutup dengan pendidikan Barat, Ho Chi Minh justru menerima dan terbuka dengan pikiran Barat. Di usia 17 tahun, Ho Chi Minh menyelesaikan pendidikan dari Franco Annamite School. Ia sempat mengajar sebagai guru Sekolah Dasar (SD).
Ho Chin Minh mendapatkan belajar dan matang berpolitik setelah berkelana ke berbagai negara dengan modal keberanian. Ia pergi ke Perancis, Inggris, Afrika dan berbagai negara lainnya. Ia mulai belajar Marxisme, namun Ho Chi Minh tetap pencinta perdamaian.
Tahun 1917, Ho Chi Minh membentuk The Vietnamese Marxist Group di Paris. Tahun 1919, Ho Chi Minh mengajukan kemerdekaan Vitenam dalam perundingan Versailes. Sejak itu nama Ho Chi Minh menjadi popular. Tahun 1920, Ho Chi Minh menjadi orang Vietnam pertama yang menjadi anggota Partai Komunis Perancis. Ia mewakili Perancis dalam The Congress of Peasant International di Moskow. Sejak menjadi anggota Partai Komunis Perancis, Ho Chi Minh aktif di Komunisme Internasional (Komintern).
Tahun 1925, Ho Chi Minh membentuk The Revolutionary Youth Fraternity of Vietnam di Canton, Tiongkok. Dan di tahun yang sama, Ho Chi Minh diangkat menjadi agen Komunisme Internasional untuk daerah Tiongkok.
Pada 2 September 1945, Ho Chi Minh mendeklarasikan Kemerdekaan Vietnam. Ho Chi Minh melawan pemisahan Vietnam Utara dan Selatan sebagai dampak perjanjian Jenewa tahun 1954. Ho Chi Minh menginggal dunia 2 September 1969. Sepeninggal Ho Chi Minh, perjuangan bangsa Vietnam terhadap penjajah tidak lantas padam. Ideologi, organisasi, dan semangat perjuaangan yang diwariskan oleh Ho Chi Minh masih tetap menyala, dan dilanjutkan oleh para penerusnya. Hingga perjuangan itu berbuah manis dengan kemerdekaan penuh bangsa Vietnam pada tahun 1975.
Ho Chi Minh & Soekarno
Ho Chi Minh dan Soekarno sama-sama dipengaruhi paham kiri (marxisme). Ho Chi Minh berpaham komunis, Soekarno berpaham sosialis (Marhaenisme). Keduanya sama-sama anti kapitalis, kolonialisme dan imprealisme.
Ho Chi Minh mengunjungi Indonesia pada Februari 1958. Kunjungan ini memperkokoh hubungan Indonesia-Vietnam sebagai “Comrades in Arms”. Ho Chi Minh ikut meresmikan Institut Teknologi Bandung (ITB). Ho Chi Minh mendapat gelar Doctor Honaris Causa bidang Hukum dari Universitas Padjajaran (UNPAD) Bandung.
Soekarno membalas kunjungan Ho Chi Min pada 24-29 Juni 1959. Dalam kunjungan ini, Soekarno menekankan pentingnya tidak menggunakan istilah minoritas dan mayoritas dalam politik.
Soekarno mengagumi Strategi Pertahanan Nasional Vietnam. “Pertahanan terbaik itu adalah pertahanan yang mempergunakan pengetahuan dan pengalaman-pengalaman dari perjuangan rakyat bangsa itu sendiri”, ungkap Bung Karno.
Ada kisah menarik saat Bung Karno bertemu dengan Ho Chi Minh di Hanoi saat itu. Seperti diceritakan Bung Karno, saat itu ada delegasi dari golongan minoritas hendak bertatap muka dengan Bung Karno. Ho Chi Minh kemudian menyampaikannya kepada Bung Karno, “Bung Karno, ini adalah delegasi dari minoritas, ingin bertemu muka dengan Bung Karno”, dengan lantang Bung Karno menjawab, “sebetulnya di Indonesia kita tidak mengenal minoritas.”
Kepada Ho Chi Minh, Bung Karno menjelaskan, Indonesia tidak mengenal konsep minoritas. Yang ada hanya suku-suku. Dan, kata Bung Karno, tak satupun suku itu yang boleh disebut minoritas. Bahkan, Bung Karno menegaskan, peranakan Tionghoa pun bukanlah minoritas. “Engkau adalah bangsa Indonesia, kita semuanya adalah bangsa
lndonesia,” kata Bung Karno.
Bagi Bung Karno, ketika ada istilah minoritas, maka pasti ada mayoritas. Dengan sendirinya, pasti terjadi eksploitasi dari pihak mayoritas terhadap kalangan minoritas. Dan sebaliknya, karena dieksploitasi, pasti ada kebencian minoritas terhadap mayoritas.
Mendengar jawaban Bung Karno, Ho Chi Minh hanya berkata: “Ya, that is better.“
Pesan Paman Ho
Di Parlemen Indonesia, Ho Chi Minh menyampaikan dukungan Vietnam kepada Indonesia untuk mengambil kembali Papua dan Papua Barat dari Belanda. Di ITB, Ho Chi Minh menekankan pentingnya kesempatan yang sama antara anak laki-laki dan perempuan untuk mendapat pendidikan.
Di UNPAD, Ho Chi Minh menekankan pentingnya para orang terdidik (sarjana) untuk tidak meninggalkan rakyat. Pada saat diresmikan ITB memiliki 4000 mahasiswa (pelajar laki-laki) dan hanya 600 mahasiswa (pelajar perempuan). Ia mengatakan perbandingan jumlah mahasiswa dan mahasiswa di Vietnam Utara hampir setara (atau 50 persen).
Kisah Tertinggal: Sepatu Paman Ho
Ho Chi Minh adalah orang yang sangat bersahaja. Hidup sederhana, hanya memakai sendal karet dan tidak menikah seumur hidupnya. Saat mengunjungi Istana Negara, Ho Chi Minh tetap menggunakan sendal karet. Megawati Soekarno Putri bertanya kepada Soekarno, mengapa pejabat penting seperti Ho Chi Minh tidak memakai sepatu. “…Nanti kalau Vietnam sudah menang, kamu (Megawati) kirim sepatu buat saya ya”.
Ho Chi Minh meninggal dunia pada 2 September 1969. Dalam kematiannya, ada dua yang Ia tidak berhasil lihat: pertama, Unifikasi Vietnam Utara dan Vietnam Selatan. Secara resmi Vietnam Utara mengalahkan Vietnam Selatan yang didukung AS pada tahun 1973. Empat tahun setelah kematian Paman Ho. Kedua, Dia tidak sempat menerima kiriman sepatu dari Megawati Soekarnoputri.
(LM-01)

Tinggalkan Balasan