Ir H Soekirman Pelaksana Kepemimpinan Kultural Dengan Dukungan Masyarakat Bawah

Lumbung Desa pra tani padha makarya, ayo dhi. Njupuk pari nata lesung nyandhak alu, ayo yu. Padha nutu yen wis rampung nuli adang, ayo kang. Dha tumandang nyosoh beras ana lumpang.

Lelagon Jawa sarana sosialisasi. Nyanyian itu kerap berkumandang di wilayah desa. Pak Ngadimin mengajari Soekirman dengan tembang pertanian. Nasihat luhur meresap dalam sanubari para pemimpin.

Pergaulan dengan beragan kelompok itulah yang membentuk pribadi Ir H Soekirman. Dia tumbuh menjadi pemimpin kultural yang handal.

B. Bentuk Kepemimpinan Kultural Masyarakat Sergai.

Pendidikan formal dan informal melengkapi kepribadian. Pergaulan yang luas mempertajam kepekaan. Pengalaman hidup membentuk pola pikir.

Demikian juga perjalanan Ir H Soekirman yang sudah berhasil memimpin masyarakat Sergai. Semua tak lepas dari peran serta warga. Itulah wujud manunggaling gusti, seorang pemimpin yang sejiwa dengan rakyat.

Suara rakyat jadi perhatian utama. Pangan sebagai penyangga kedaulatan negeri. Itu semua sudah sepakat. Pembangunan wilayah desa menurut Ir H Soekirman harus diutamakan. Kesadaran sejarah tani amat penting dipahami. Ir H Soekirman terlebih dulu mengajak untuk berkaca pada kiprah para pendiri bangsa. Konsep tentang kemandirian sudah berlangsung dari generasi ke generasi. Harus diwujudkan swasembada pangan nasional. Itu cita cita bersama.

Masyarakat sejahtera. Murah sandang pangan papan cita cita semua bangsa. Dalam sejarah perjuangan dikenal adanya istilah Trisakti. Makna Trisakti meliputi tiga hal. Berdaulat dalam bidang politik, mandiri dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam bidang kebudayaan. Konsep trilogi ini baik kiranya direnungkan bersama. Refleksi menjadi sarana melakukan aksi. Jangan lupa terwujudnya pangan yang mandiri. Petani merupakan penyangga kedaulatan pangan.

Kerja sama dilakukan dengan harmonis. Ir H Soekirman membaca sejarah perjuangan bangsa. Penjelasan arti penting makna Trisakti disampaikan oleh Dr Radjiman Widyadiningrat pada tanggal 23 Mei 1945. Beliau adalah Ketua BPUPKI atau Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Sendi sendi kehidupan berbangsa dan bernegara dibahas secara mendalam, menukik, menyeluruh. Rakyat yang tinggal di pedesaan harus selalu diperhatikan. Kegiatan produksi pangan bermuara pada ketentraman.

Pangan harus kecukupan kapan pun. Kenyataan berbicara bahwa pertanian kekuatan utama bangsa. Olah fakta, olah faktor, olah fungsi dan olah peran. Berpijak pada fakta historis itu, Ir H Soekirman Bupati Sergai membuat wadah kegiatan sosial. Pada tahun 1980 Soekirman bertugas sebagai guru STM Pertanian Lubuk Pakam Deli Serdang. Ketika menjadi guru, Soekirman berkenalan dengan petugas petugas penyuluh lapangan atau PPL teladan. Namanya Rahmad Sutrisno. Murid murid STM dibawa ke desa desa untuk praktek tanam. Mereka menggunakan metode Playing by learning. Artinya belajar sambil praktek kerja.

Gotong royong dha tumandang gawe, ambangun jiwa Ambangun negara, Nusa bangsa ing nusantara. Lanang wadon sarta tuwa muda. Sengkut gya gumregut ngayahi kewajiban.

Pedoman hidup bersumber dari kearifan lokal. Lagu Pak Ngadimin itu memberi semangat pada Soekirman. Gotong royong mbangun desa. Blusukan ke wilayah pedesaan itu memperkaya gagasan besar. Muncul ide untuk mendirikan wadah kelembagaan. Organisasi ini diberi nama BINTARNI. Singkatan dari Bina Taruna Tani. Pendirian BINTARNI merupakan inspirasi dari BinaDesa Jakarta. Pada tahun itu pula PERHEPI, Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia mengadakan seminar. Aktivitas seminar ini melibatkan LSM. Soekirman terlibat sebagai voluntir kepanitiaan. Bakat pertanian Soekirman pun tersalur lewat kajian akademis.

Tuna satak bathi sanak. Seduluran memperlancar rejeki. Bertani dan berkebun merupakan kegiatan produktif. Dukungan dari berbagai pihak mengalir. BINTARNI mendapat perhatian dari Sumartoyo dari Bintaran Yogyakarta. Hidupnya amat sederhana. Sering pakai sarung. Beliau memimpin Yayasan Tani Pancasila. George Junus Aditjondro lama berguru pada Sumartoyo yang ahli ekonomi kerakyatan. Pernah pada tahun 2017 Soekirman dan Marilah istrinya, berkunjung ke Rumah sakit Besthesda Yogyakarta. Saat itu George Junus Aditjondro sedang dirawat. Ir H Soekirman selalu sambang sambung tulung tinulung.

Kesejahteraan petani perlu mendapat kajian yang memadai. LSM pertanian tumbuh di mana mana. Kiprah BINTARNI sungguh monumental. Patut ditiru, pantas dicontoh. BINTARNI membangun Pompa Hidram di Kotarih secara gotong royong. Camat Kotarih Robin Hotapea memberi sokongan penuh. Masyarakat cancut gumregut bersatu padu hendak maju. Berkat kesuksesan membangun Pompa air ini Robin Hotapea dipromosikan sebagai camat Sei Rampah. Soekirman pun namanya juga terangkat. Berbakti pada ibu pertiwi lewat dunia tani.

Tani dalam bahasa Jawa berarti hidup. Petani bermakna menghidupi. Perhatian sektor pertanian menarik kelas menengah. Peran LSM bersinar terang. Karier LSM Medan Sumatera Utara semakin cerah dengan berdirinya BITRA pada tanggal 26 Pebruari 1986. BITRA adalah Bina Ketrampilan Desa. Kelahirannya bersamaan dengan Marcos lengser dari kursi kepresidenan Philiphina. Kelahiran BITRA bareng dengan naiknya kepemimpinan Presiden Qory Aquino. Ngurus pertanian boleh juga berwawasan global. Ir H Soekirman senyatanya sudah nganglang jagat.

Bekerja harus tertata rapi. Struktur organisasi hendaknya rapi. Kelancaran organisasi didukung fasilitas yang memadai. BITRA bermarkas di Jl air bersih ujung 22/ 181 kelurahan Binjai kecamatan Denai Medan, kota Medan. Soekirman bertindak sebagai direktur. Kepemimpinan Soekirman selalu mengutamakan kebersamaan kemitraan. Ir H Soekirman meyakini untungnya persahabatan. Mari perhatikan nasihat ini.

Ama kabur tandur subur loh jinawi, kok ewuh aku, kok ewuh aku, nginteri jo ngono, we kecer berase, mbok sing ati ati, sinau gemi, mbokyo ngelingana, nyeblokake winih.

Kepemimpinan kultural berirama dengan struktural. Begitulah nasihat berbentuk tembang dari Pak Ngadimin
Pepatah mengatakan. Berakit rakit ke hulu, berenang renang ke tepian. Bersakit sakit dahulu, bersenang senang kemudian. Sumbangan tenaga pikiran tindakan Soekirman berbuah kemuliaan. Orang harus menanam budi baik. Gajah mati meninggalkan gading. Manusia mati meninggalkan nama yang harum. Perhatikan pada petani perlu kesadaran. Petani wajib mendapat perlindungan.

Kebahagiaan bermula dari ketekunan. Hari bersejarah telah tiba. Pada tanggal 28 Oktober 1990 Soekirman terpilih sebagai pemuda pelopor nasional. Presiden Soeharto mengundang ke istana Negara. Peringatan hari sumpah pemuda itu dihadiri oleh Menteri Penerangan Harmoko, Menteri Dalam Negeri Rudini, Menteri Pemuda dan Olahraga Akbar Tanjung, menteri Sosial Haryati Soebadio. Mereka pangembating praja yang misuwur. Soekirman punya jaringan LSM pertanian tingkat nasional. BITRA makin berkembang.

Program ketahanan pangan menjadi kepedulian. Tinta emas mencatat kiprah bidang pertanian Soekirman. Direktur BITRA mengharumkan nama Propinsi Sumatera Utara. Seleksi ketat atas pemuda pelopor itu hanya memilih pemuda terbatas. Hanya 10 pemuda pelopor dari seluruh wilayah Indonesia. Soekirman membuktikan bahwa pertanian itu menjanjikan. Kemakmuran tercapai dengan kerja keras.

Sawah menghampar luas di kabupaten Sergai. Soekirman memberi teladan yang pantas. Organisasi yang baik selalu ada regenerasi kepemimpinan. Berturut turut direktur BITRA yakni Soekirman, Job Purba, Sabastian Saragih, Safaruddin Siregar, Diana. Mereka menggerakkan masyarakat agar mandiri berdikari. Masyarakat desa selalu diutamakan. Agar petani tetap produktif.

Ir H Soekirman ke mana mana membawa biji tanaman, sebagai monomen hidup. Program pemberdayaan beraneka rupa. Bersama dengan LSM lain BITRA menjalin hubungan baik. Misalnya KSPMD, Kelompok Studi Pemberdayaan Masyarakat Desa. LSM ini berdomisili di Kabupaten Tapanuli. Yayasan Humaniora yang dipimpin Dr Rizal Nasution memberi inspirasi tentang pengelolaan bidang kemanusiaan. Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia menangani masalah kependudukan. Sedangkan LBH membantu masalah hukum yang melilit kelompok marginal. Masyarakat desa harus tegak kokoh. Kebutuhan petani sebaiknya tercukupi.

Olah tanah merupakan sentral pokok usaha tani. Unsur pertanian jadi gagasan kemuliaan. Integritas lembaga berpengaruh atas diri pengelola. Pengurus diharap untuk menjaga kepribadian luhur. Inilah yang membuat anggota BITRA dipercaya untuk menduduki jabatan penting. Kemampuan mereka cukup meyakinkan. Misalnya Yeni memimpin KPU Kota Medan. Maruli memimpin KPU Labuhan Batu. BITRA melahirkan manusia trampil berwawasan unggul. Terlebih lebih dalam pemberdayaan desa, BITRA punya pengalaman. Terutama dalam mewujudkan tercukupinya pangan nasional.

Sudah sewajarnya pangkan sehat menjadi perhatian. Kini aktivis pertanian bangkit berkiprah. Perjalanan LSM Indonesia penuh dengan warna warni. Ketulusan mereka pantas mendapat penghormatan. Pemerintah dan LSM bergandengan tangan berbakti pada nusa bangsa. Terbukti kiprah BITRA menghiasi bumi pertiwi. Soekirman punya sumbangsih dalam pengembangan pangan.

Unsur pertanian berhubungan dengan budaya. Kepedulian aktivis LSM pada hari Selasa tanggal 1 Desember 2020 pukul 20 WIB. Pembahasan tentang seluk beluk masyarakat desa dilakukan di markas BITRA, Jl Bahagia Medan. Ruang Aula BITRA cukup bersemangat. Sebelumnya Ir H Soekirman bertemu dengan petani di desa perbulakan Sei Rampah yang dikelilingi perkebunan. Ada tokoh petani seniman. Namanya Mbah Djiran yang berusia 92 tahun. Datang dari Blitar tahun 1960.

Sebagai perintis LSM bermutu, Soekirman peduli pada tanaman. BITRA sejak awal tempat mencurahkan ide pengabdian bagi Ir H Soekirman. Di sini Soekirman layaknya seorang juru among tani desa. Nasib pertanian menjadi topik diskusi. BITRA betul betul menjadi wadah ketrampilan rakyat desa. Mereka bisa hidup sejahtera lahir batin.

Ir H Soekirman mewujudkan ketahanan pangan seperti janturan pedalangan. Kemakmuran Kabupaten Serdang Bedagai persis idealisme pewayangan. Anenggih negari ingkang panjang punjung pasir wukir, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja.

Kepemimpinan Ir H Soekirman dipadukan oleh pendidikan pengalaman dan pergaulan. Pada tanggal 3 Desember sambil minum teh hangat, Soekirman berbicara dengan penuh renungan reflektif. Strategi kultural yang mengedepankan hati nurani cocok untuk masyarakat Sergai. Kesadaran yang memerlukan pengetahuan.

(LM-01)

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *