Oleh: Dr. Purwadi M.Hum
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA)
A. Pewaris Kebudayaan Agung Melayu.
Kehadiran Tengku Muhammad Ryan Novandi pada pertemuan budaya sungguh mencerahkan. Kegiatan kultural ini berlangsung di desa Pematang Ganjang, Serdang Bedagai, Sumatra Utara. Dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 2 Desember 2020.
Penyelenggaraan acara budaya ini atas prakarsa Drs Joni Walker Manik MM. Beliau ketua Kerabat, Kerukunan Masyarakat Batak. Hadir segenap lapisan masyarakat yang peduli pada seni budaya tradisional.
Selaku narasumber yaitu Ir H Soekirman. Juga tampak tokoh Bitra, Mas Wahyudi. Penggerak organisasi wanita Hj Marliah yang menyumbangkan suara merdu. Etnis Jawa diwakili Kyai Legimin yang ahli dalam bidang rohani.
Giliran Tengku Ryan Novandi sebagai tokoh millenial. Perkembangan budaya Sergai mendapat perhatian khusus. Statusnya sebagai pewaris Kerajaan Serdang tentu amat menguntungkan forum pertemuan budaya.
Ayahnya adalah Dr Tengku Erry Nuradi M.Si adalah Bupati Serdang Bedagai tahun 2005 – 2013. Juga menjabat sebagai Wakil Gubernur Sumatera Utara tahun 2013-2014. Dilanjutkan dengan jabatan Gubernur Sumatera Utara tahun 2014-2018. Keluarga keturunan Sultan Serdang terdidik dalang bidang pengabdian.
Dalam hal ini Tengku Ryan Novandi bisa mengambil pelajaran sejarah leluhur. Kebudayaan Melayu dikembangkan oleh para Sultan Serdang. Kepustakaan dibangun dengan melibatkan pakar kesusateraan.
Sastra Melayu yang tumbuh di Istana Kasultanan Serdang berguna untuk membentuk kepribadian luhur. Nilai tradisional ini bisa digunakan sebagai sarana membina pendidikan karakter. Bahan ajar muatan lokal bersumber dari sejarah budaya yang lahir di lingkungan kerajaan. Warisan Sastra ini berguna bagi Tengku Ryan Novandi untuk bekal mengabdi.
Pengalaman Kasultanan Serdang sejak tahun 1723 kaya dengan kreasi dan produksi budaya. Tuanku Umar Johan Pahlawan Alam Shah berjasa meletakkan dasar-dasar pemerintahan dan kenegaraan. Rintisan perjuangan berlanjut pada periode pemerintahan berikutnya. Tak lupa pembesar kasultanan Serdang bekerja sama dengan kerajaan lain. Misalnya Kasultanan Deli dan Kasultanan Langkat.
Tengku Ryan Novandi belajar sejarah masa silam. Bentuk kerja sama ini perlu ditiru. Peradaban besar dilakukan oleh Kerajaan masa silam. Sejarah berdirinya kerajaan Serdang berhubungan erat dengan Kesultanan Deli dan Kesultanan Langkat. Prestasi gemilang diukir dengan penuh pesona. Kemewahan masa silam membentuk identitas naratif.
Kasultanan Deli lahir lebih senior. Secara geneologis masih ada hubungan kekerabatan dengan Sultan Serdang. Berturut turut raja yang memerintah Kesultanan Deli, yaitu:
1. Tuanku Panglima Gocah Pahlawan, tahun 1632-1668.
2. Tuanku Panglima Parungit, tahun 1668-1698.
3. Tuanku Panglima Padrap, tahun 1698-1728.
4. Tuanku Panglima Pasutan tahun, 1728-1761.
5. Tuanku Panglima Gandar Wahid, tahun 1761-1805.
6. Sultan Awaluddin Mangendar, tahun 1805-1850.
7. Sultan Osman Alam Shah, tahun 1850-1858.
8. Sultan Mahmud Al Rasyid, tahun 1858-1873.
9. Sultan Makmun Al Rasyid, tahun 1873-1824.
10. Sultan Osman Al Sani, tahun 1924-1945.
11. Sultan Perkasa Alam Shah, tahun 1945-1967.
12. Sultan Azmy Perkasa Alam Al Haj, tahun 1967-1998.
13. Sultan Osmab Perkasa Alam, tahun 1998-2005.
14. Sultan Mahmud Lamanjiji Perkara Alam, tahun 2005-2020.
Inspirasi ini membekas dalam sanubari Tengku Ryan Novandi. Hubungan kekerabatan antar Sultan dilakukan dengan pernikahan. Dalam kekerabatan Kesultanan Melayu, para raja masih ada hubungan famili. Antara sultan Serdang dengan Para Sultan Langkat pun berhubungan erat. Adapun para Sultan Langkat yakni:
1. Panglima Dewa Shahdan, tahun 1568-1580.
2. Panglima Dewa Sakti, tahun 1580-1612.
3. Raja Kahar, tahun 1612-1673.
4. Bendahara Raja Badiuzzaman, tahun 1673-1754.
5. Raja Kejuruhan Hitam, tahun 1754-1818.
6. Raja Ahmad bin Raja Indra Bungsu, tahun 1818-1840.
7. Tuanku Sultan Musa Al Khalid Al Mahadiah Muazzam Shah, tahun 1840-1893.
8. Tuanku Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad Shah, tahun 1893-1927.
9. Tuanku Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah, tahun 1927-1948.
10. Tengku Athaar, tahun 1948-1990.
11. Tengku Mustafa Kamal Pasha, tahun 1990-1999.
12. Tengku Herman Shah, tahun 1999-2001.
13. Tuanku Sultan Iskandar Hilali Abdul Jalil Rahmad Shah Al Haj, tahun 2001-2003.
14. Tuanku Sultan Azwar Abdul Jalil Rahmad Shah Al Haj, tahun 2003-2020.
Para leluhur itu amat dihormati oleh Tengku Ryan Novandi. Kekerabatan antar keluarga kerajaan memang berguna sebagai sarana ikatan politik. Ini umum sifatnya. Penulisan urutan raja berguna untuk memahami sistem kerajaan. Pewarisan nilai pun mudah dipetakan. Sedangkan para raja kasultanan Serdang Darul Arif yakni:
1. Tuanku Umar Johan Pahlawan Alam Shah, tahun 1723-1767.
2. Sultan Aman Johan Pahlawan Alam Shah, tahun 1767-1817.
3. Sultan Thaf Sinar Basyar Shah 1817-1850.
4. Sultan Basyaruddin Syariful Alam Shah, tahun 1850-1879.
5. Sultan Sulaiman Syariful Alam Shah, tahun 1879-1946.
6. Tuanku Rajih Anwar, tahun 1946-1960.
7. Sri Sultan Tuanku Abu Nawar Sharifaullah Alam Shah Al Haj, tahun 1960-2001.
8. Sri Sultan Tuanku Lukman Sinar Bashar Shah, tahun 2001-2011.
9. Sri Sultan Tuanku Ahmad Thalla Syariful Alam Shah, tahun 2011-2020.
Barangkali sudah menjadi suratan Illahi. Tengku Ryan Novandi melanjutkan tradisi. Ketiga kerajaan ini berjuang gigih demi jayanya kebudayaan Melayu. Kerajaan Serdang masih berlangsung hingga kini. Kehidupan kerajaan dalam rangka keseimbangan jiwa raga. Lahir batin harus berjalan selaras serasi seimbang. Sastra Melayu membentuk nilai kebangsaan yang tinggi. Sekaligus sebagai sarana mengembangkan imajinasi historis.
Historiografi ditulis dengan penuh warna. Sehingga muncul semangat juang. Kesadaran untuk melestarikan sistem kerajaan perlu diberi tempat yang tepat. Rumusan pada era modern ini sangat penting. Supaya tidak terjadi salah paham antar warga bangsa. Keselarasan menjadi cara utama. Sultan Serdang berkiprah begitu megah.
Untung sekali Kabupaten Serdang Bedagai dipimpin oleh pribadi yang berbudaya. Ir H Soekirman terlalu menghayati nilai historis para Sultan Serdang.
Pada hari Senin tanggal 30 Desember 2020, Ir H Soekirman, Bupati Serdang Bedagai Sumatra Utara melakukan ziarah di makam Sultan Sulaiman Syariful Alam Shah. Raja Kasultanan Serdang ini memerintah tahun 1879-1946. Makam raja Serdang ini berada di sebelah barat Masjid Raya Perbaungan. Sambil sholat Zhuhur berjamaah Ir H Soekirman berdoa buat pembesar Kasultanan Serdang yang banyak jasa.
Kewibawaan pembesar kerajaan bisa memberi tuah. Kasultanan Serdang Darul arif mengutamakan kearifan. Suri teladan banyak ditemukan dalam perjalanan kebijakan pemerintahan Sultan Serdang. Peribahasa Melayu Sergai mengajarkan keluhuran. Gajah mati meninggalkan gading. Harimau mati meninggalkan belang. Manusia mati meninggalkan nama. Jasa perjuangan dikenang sebagai suri tauladan.
Rakyat dan pejabat kerajaan melayu bersatu padu. Dalam perjalanan sejarah mesti berlaku pasang surut. Ajaran warisan nenek moyang ini sangat dihayati oleh Tengku Muhammad Ryan Novandi. Hal ini didukung benar oleh para pemangku adat Sergai. Darul arif berarti rumah pengetahuan. Misalnya pada tanggal 2 Desember 2020 bertempat di Pematang Ganjang Sei Rampah, Tengku Ryan Novandi menjalin hubungan dengan Kerabat, Kerukunan Masyarakat Batak.
Bentuk diplomasi budaya amat mulia. Ilmu menyinari alam raya. Nilai Luhur yang bersumber dari sejarah kerajaan dapat menjadi panduan masa kini. Semasa hidupnya manusia harus punya nilai yang berguna. Yakni nama yang harum, karena jasa dan perjuangan yang agung. Nilai keluhuran budaya Sergai sudah diwariskan oleh Tuanku Umar Johan Pahlawan Alam Shah. Beliau adalah raja Kasultanan Serdang yang memerintah tahun 1723-1767. Pancaran kejuangan menerangi jagad raya. Dunia pun tentram bahagia.
Sastra Melayu memang mengagumkan. Sumber kearifan perlu dikaji secara ilmiah akademis. Dalam berbagai forum Ir H Soekirman, Bupati Sergai menekankan arti penting sejarah peradaban. Leluhur Tengku Ryan Novandi ini memang raja yang bijak bestari, berwibawa dan selalu memikirkan nasib rakyat. Wujud kesalahan sosial, sebagaimana tersurat dalam pantun Melayu yang perlu dibaca dan dihayati sepenuh hati.
Pengetahuan Sastra Melayu tersedia di berbagai pustaka. Rahmatan lil Alamin, sifat rahman rahim, bertaburan ke segala penjuru. Kepedulian Raja Serdang pada rakyat pantas dijadikan sebagai suri teladan oleh generasi millenial. Pada tahun 1725 Tuanku Umar Johan Pahlawan Alam Shah membawa tim ekonomi ke daerah Lasem Rembang Jawa Tengah. Mereka melakukan studi lapangan yang menggabungkan teori dan praktik. Tim ekonomi Kasultanan Serdang belajar menejemen produksi trasi. Kegiatan ini dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Sergai secara kreatif. Budaya Melayu menyumbangkan kebijaksanaan hidup.
Lokal wisdom bertebaran dari Sabang sampai Merauke. Kunjungan kenegaraan dilacak, agar wawasan aparat bertambah luas. Kota Lasem Rembang memang pusat pengembangan maritim yang besar. Potensi kelautan, pelayaran, perdagangan maju dan modern sekali. Pelabuhan Lasem Rembang memiliki fasilitas lengkap. Meliputi perkantoran, transportasi, penginapan, pergudangan, pemasaran, wisata, kuliner serta perpustakaan. Refleksi historis menerangkan pemikiran sistematis. Perpustakaan sumber informasi. Maka layak untuk dikunjungi.
Sumber penghidupan masa silam sungguh beragam. Ekonomi kuat, negara bertambah sehat. Perekonomian berlanjut urut patut. Kedatangan Tim ekonomi Kerajaan Serdang disambut hangat oleh Raja Mataram, Kanjeng Sinuwun Amangkurat Jawi. Hubungan diplomasi antara Kasultanan Serdang dengan Kerajaan Mataram terjalin akrab. Kedua belah pihak saling bertukar cindera mata. Kerja sama ini dilaksanakan demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sesuai dengan UUD 1945 yang memajukan kesejahteraan umum. Kitab warisan kerajaan menawarkan petunjuk hidup. Kasultanan Serdang menjadikan ajaran Sastra Melayu sebagai pedoman.
Peran pujangga istana besar sekali. Pujangga kerajaan berpikir kedamaian. Nasihat Ir H Soekirman pada yang muda memberi pencerahan. Sebagai keturunan langsung Dinasti Kasultanan Serdang, tentu saja Tengku Ryan berusaha melanjutkan tradisi kejuangan. Ketika membaca sejarah masa lampau, tentu banyak pelajaran yang bisa diambil. Kerajaan Serdang lantas dipimpin oleh Sultan Aman Johan Pahlawan Alam Shah tahun 1767-1817. Kasultanan Serdang makin makmur sejahtera bahagia. Inilah tujuan bernegara yang betul.
Kebanggaan atas adat tepat amat. Gelar kerajaan punya konsekuensi tindakan. Para Raja Serdang bekerja ulet untuk membangun segala bidang. Pertanian menyediakan pangan berlimpah ruah. Perkebunan mendatangkan barang komoditas mahal. Perdagangan memberi keuntungan berlipat ganda. Seluruh rakyat negeri dalam keadaan suka gembira. Semua merasa aman damai. Kerajaan Serdang Darul Arif sumbernya kearifan lokal. Pengkajian nilai Melayu amat penting.
Sultan Serdang mahir dengan petatah petitih Melayu. Wacana seluk beluk kerajaan mendapat perhatian dari generasi penerus. Dalam dialog kebudayaan di rumah kayu, Tengku Muhammad Ryan Novandi yang lahir di Medan pada tanggal 7 Nopember 1992 ini suka sejarah masa silam. Dengan belajar dirinya bisa bercermin tentang peradaban. Tengku Ryan Novandi belajar di SD Harapan 1 Medan, SMP Harapan 1 Medan, SMA 1 Medan. Selama menempuh pendidikan inilah jiwanya selalu terasah dengan nilai kearifan lokal. Memang sebaiknya punya akar budaya sendiri. Terutama dari sistem kerajaan. Sinar kerajaan memancarkan keteguhan.
Hasil kajian kesusateraan dijadikan bahan pengajaran. Pengetahuan dan pengalaman bergerak maju. Secara pribadi ilmu pengetahuan diusahakan terus menerus. Jiwa kebangsaan semakin terpatri mendalam setelah menempuh kuliah Bachelor of International Business Kuala Lumpur Malaysia tahun 2004. Lalu ilmunya diperdalam lagi dengan mengambil program Master of International Business di Boston Amerika Serikat tahun 2015. Kepribadian makin mantab yang didukung pendidikan. Inilah makna Darul Arif yang layak dijadikan bahan renungan.
Sebaiknya silaturahmi budaya menjadi tradisi. Para Sultan diajak rembugan. Menurut Ir H Soekirman, kepribadian perlu diasah lewat pendidikan dan pengalaman. Lengkap sudah wawasan lokal nasional global sebagai bekal pengabdian pada masyarakat luas. Peranan para Sultan sebatas bidang kebudayaan. Dinas Kebudayaan dan pariwisata bisa ambil peran strategis.
Istana Sultan Serdang pusat pengkajian. Rumusan pujangga istana tepat sekali. Butir butir kearifan lokal masih relevan. Kebesaran masa lampau menjadi inspirasi bagi Tengku Ryan Novandi. Pertemuan Sultan Aman Johan Pahlawan Alam Shah dengan Kanjeng Sinuwun Paku Buwana IV, Raja Karaton Surakarta Hadiningrat terjadi pada tahun 1803 di Kota Tamasek Singapura. Pembicaraan pokok kedua pemimpin mengenai tata niaga gatam. Permaisuri Sinuwun Paku Buwana IV bernama Kanjeng Ratu Kencono Wungu. Beliau direktur pabrik garam Kalianget Madura. Pernah datang ke Perbaungan untuk membicarakan strategi pemasaran garam. Sistem ekonomi kerajaan juga menciptakan kemakmuran.
Darul Arif berkaitan dengan katalog pustaka. Buku referensi bisa menjadi bahan pertimbangan. Perhatian Tengku Ryan pada perjuangan Kasultanan Serdang selalu tinggi. Misalnya kiprah keutamaan Sultan Thaf Sinar Basyar Shah. Beliau menjadi raja Serdang tahun 1817-1850. Demi memajukan budaya Melayu, para pakar diminta untuk menyalin ulang kitab kitab klasik. Kesusateraan Melayu berkembang di Aceh lewat tangan pujangga Hamzah Fansuri, Syekh Abdur Rauf Singkel dan Syamsudin Al Sumatrani. Karya karyanya lestari sepanjang masa.
Kajian akademik membuktikan pujangga Karaton memang hebat. Buku karangan Pujangga Kerajaan Samudra Pasai, Nuruddin Ar Raniri ditulis dan diperbanyak. Judulnya kitab Bustanus Salatin, yang berarti taman para raja. Isinya tentang Ketuhanan, kemanusiaan, kebangsaan, kerakyatan dan keadilan. Secara akademik kerap dikaji buat penyusunan ilmu pengetahuan.
Kesusateraan Melayu berkembang di Kasultanan Serdang. Sultan Thaf Sinar Basyar Shah seorang raja yang mengutamakan nilai budaya. Seniman Serdang yang berasal dari wilayah Pantai Cermin, Tanjung Beringin, Dolog Masihul, Sipispis, Sei Rampah, Tebing Tinggi diajak berguru di Pulau Penyengat, Tanjung Pinang. Di sini pula berkembang Sastra gurindam.
Bahasa menunjukkan bangsa. Studi banding Kesusateraan berhasil mencetak ahli pantun. Pada tahun1837 mereka belajar menyusun pantun Melayu. Terdiri atas pantun keagamaan, pantun orang tua, pantun jenaka dan pantun anak anak. Pendidikan karakter dibentuk dengan pendekatan budaya. Pantun Melayu sarana pembelajaran karakter buat para pelajar.
