“Malnutrisi kronis dan akut yang menyebabkan banyak masalah lain telah menjadi masalah selama ini. Kami merawat 2.400 orang sebelum pandemi. Tapi itu menjadi jauh lebih buruk terlihat jelas di seluruh Bali,” ujar Robert Epstone.
Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Kabupaten Karangasem, yang berlokasi di Timur Pulau Bali.
Pasalnya Kabupaten Karangasem mengalami kekeringan abadi, selain itu Karangasem bukan merupakan daerah yang sering dikunjungi wisatawan.
Banyak desa tidak memiliki jalan raya, tidak ada listrik, tidak ada telepon atau jaringan internet.
Penduduk desa bertahan hidup dengan tanaman apa pun yang dapat mereka tanam di atas tanah yang gersang.
Serta uang dikirim oleh anggota keluarga yang pindah ke daerah perkotaan untuk mendapatkan pekerjaan.
Scholars of Sustenance Foundation Bali (SOS Bali) merupakan lembaga amal yang telah mendistribusikan makanan ke wilayah Karangasem sejak 2019.
Project Manager SOS Bali, DJ Denton mengatakan bahwa kelaparan adalah masalah yang signifikan bahkan sebelum pandemi Covid-19.
“Kami sudah menghadapi banyak sekali masalah kekurangan gizi di daerah terpencil di timur Bali, desa dengan 15.000 penduduk di mana satu dari tiga orang kekurangan gizi sampai-sampai hal itu menyebabkan cacat fisik,” kata Denton.
Kemiskinan karena Covid-19 juga menimpa kalangan menengah, yang sebelumnya memiliki upah minimum dan bisa membeli sepatu atau sepeda motor, tapi saat ini keadaan mereka mulai kurang baik.
“Kami mencoba menilai kebutuhan mereka dengan mengirimkan relawan ke daerah kumuh perkotaan dan proyek perumahan. Dalam keadaan ekstrim, mereka menemukan orang-orang yang tidak makan selama dua hari,” pungkasnya.(1-M)
