Liputan BERITA

Karena Pandemi & Pariwisata yang Belum Normal, Kasus Malnutrisi di Wilayah Timur Bali Semakin Meluas

Ditulis oleh Liputan68 pada 7 Desember 2020 โฑ๏ธ 2 Menit Baca

BALI โ€” LIPUTAN68.com โ€” Kekurangan gizi/ malnutrisi yang berujung kelaparan telah menjadi masalah untuk masyarakat di Timur Pulau Bali.

Hal itu diperparah dengan pandemi Covid-19 yang belum juga reda, secara langsung pandemi menyebabkan pariwisata di Pulau Bali menurun drastis.

Bencana kelaparan telah lama menimpa masyarakat terpencil di Tanjung Timur Bali, dan semakin parah seiring dengan adanya pandemi Covid-19.

Dilansirย dari Al Jazeera, sekitar 60 % produk domestik bruto Bali berkaitan dengan sektor pariwisata.

Setelah adanya pandemi Covid-19, ekonomi Bali menjadi salah satu yang terdampak parah di Indonesia.

Bank sentral melaporkan pertumbukan negatif terjadi di Bali, pada bulan September pertumbuhan kurang dari 11 %.

Disisi lain, tingkat pengangguran naik 5,6 % pada bulan Agustus dengan 105 ribu masyarakat kehilangan pekerjaan.

Sedangkan menurut Organisasi Ketenagakerjaan Nasional jumlah pengangguran di Indonesia dapat meningkat lebih banyak.

โ€œKami melihat banyak orang yang lapar dan belum makan selama beberapa hari tanpa ada dana untuk membeli makanan, ada ribuan,โ€ kata Sarah Chapman dari Yayasan Solemen Indonesia.

Yayasan Solemen Indonesia adalah sebuah badan amal yang bergerak membantu memberi makan para lansia dan masyarakat penyandang disabilitas di Bali.

Sebelumnya, masyarakat penyandang disabilitas tersebut dibantu oleh kerabat yang bekerja di dibang pariwisata Pulau Bali.

Hal selaras juga disampaikan oleh rekan Sarah, ia mengatakan bahwa kondisi semakin buruk saat pandemi Covid-19.

“Malnutrisi kronis dan akut yang menyebabkan banyak masalah lain telah menjadi masalah selama ini. Kami merawat 2.400 orang sebelum pandemi. Tapi itu menjadi jauh lebih buruk terlihat jelas di seluruh Bali,” ujar Robert Epstone.

Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Kabupaten Karangasem, yang berlokasi di Timur Pulau Bali.

Pasalnya Kabupaten Karangasem mengalami kekeringan abadi, selain itu Karangasem bukan merupakan daerah yang sering dikunjungi wisatawan.

Banyak desa tidak memiliki jalan raya, tidak ada listrik, tidak ada telepon atau jaringan internet.

Penduduk desa bertahan hidup dengan tanaman apa pun yang dapat mereka tanam di atas tanah yang gersang.

Serta uang dikirim oleh anggota keluarga yang pindah ke daerah perkotaan untuk mendapatkan pekerjaan.

Scholars of Sustenance Foundation Bali (SOS Bali) merupakan lembaga amal yang telah mendistribusikan makanan ke wilayah Karangasem sejak 2019.

Project Manager SOS Bali, DJ Denton mengatakan bahwa kelaparan adalah masalah yang signifikan bahkan sebelum pandemi Covid-19.

โ€œKami sudah menghadapi banyak sekali masalah kekurangan gizi di daerah terpencil di timur Bali, desa dengan 15.000 penduduk di mana satu dari tiga orang kekurangan gizi sampai-sampai hal itu menyebabkan cacat fisik,โ€ kata Denton.

Kemiskinan karena Covid-19 juga menimpa kalangan menengah, yang sebelumnya memiliki upah minimum dan bisa membeli sepatu atau sepeda motor, tapi saat ini keadaan mereka mulai kurang baik.

“Kami mencoba menilai kebutuhan mereka dengan mengirimkan relawan ke daerah kumuh perkotaan dan proyek perumahan. Dalam keadaan ekstrim, mereka menemukan orang-orang yang tidak makan selama dua hari,โ€ pungkasnya.(1-M)

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian