Teknologi ini nantinya digunakan untuk melindungi sistem pertanian, di mana faktor cuaca menjadi satu hal yang sangat berpengaruh.
Pada tahun 2008 saat pelaksanaan Olimpiade Beijing, alat ini telah menyemai awan untuk mengurangi kabut asap dan menghindari hujan.
Langit cerah di ibu kota Cina menjelang pertemuan politik juga disebut-sebut adalah hasil dari program modifikasi buatan manusia ini.
Pemerintah Cina menyatakan akan melanjutkan operasi cuaca buatan ini di daerah-daerah penting seperti dataran tinggi Qinghai-Tibet, serta zona perlindungan ekologi utama sungai Kuning dan Yangtze.
The Guardian melaporkan bahwa para ilmuwan Cina kini juga sedang mengerjakan penelitian “sky-river” atau sungai di langit.
Negara pimpinan Xi Jinping ini diketahui telah membuat sistem modifikasi cuaca baru di dataran tinggi Qinghai-Tibet yang memiliki cadangan air tawar terbesar di Asia.
Penelitian ini bekerja dengan mengalihkan uap air dari cekungan Yangtze ke cekungan sungai Kuning yang kemudian akan bertransformasi menjadi curah hujan.
Rupanya penelitian modifikasi cuaca ini tidak hanya memberikan manfaat tapi dikhawatirkan bisa membahayakan negara lain di sekitar Cina.
Kekhawatiran ini muncul karena upaya untuk merekayasa air langit ini dapat menambah curah hujan di bagian utara Cina yang kering.
Tapi ini menjadi mimpi buruk bagi wilayah Asia Tenggara dan India karena proyek itu bisa mempengaruhi aliran sungai Mekong, Salween atau Brahmaputra yang semuanya bersumber dari Dataran tinggi Qinghai-Tibet.
Diketahui bila penelitian modifikasi cuaca ini telah menelan biaya mencapai 1,34 miliar dolar AS (19 triliun) dalam kurun waktu 5 tahun, yakni dari 2012 hingga 2017.(1-M)
