14. Jenang Sengkala.
Yaitu jenang yang terbuat dari tepung beras. Dicampur gula dan santan. Tengah warna putih. Empat bagian pinggir diberi warna putih. Bertujuan untuk menghindari mala petaka. Semua cobaan dan bahaya dicegah dari empat penjuru mata angin. Sluman slumun slamet.
15. Jenang Pliringan.
Yaitu jenang yang terbuat dari beras. Dicampur gula Jawa. Diwadahi takir kecil. Sajian cukup banyak. Melambangkan pemimpin yang selalu didukung oleh rakyat.
16. Jenang Grendul.
Terbuat dari tepung beras ketan. Dibentuk mbendul. Besarnya seperti onde obde kecil. Rasanya manis dan bikin kenyang. Maknanya pemimpin yang bisa menangkap aspirasi masyarakat.
17. Jenang Garut.
Yakni jenang yang terbuat dari pati garut. Rasanya manis gurih. Berguna untuk memberi semangat pada masyarakat, agar selalu kreatif dan inovatif. Pertanian perkebunan dan peternakan adalah kegiatan produktif. Ini jalan menuju kemakmuran.
B. Jenang Lambang Kemakmuran dan Kebersamaan.
Kemakmuran menjadi tujuan bersama. Kebersamaan adalah sarana untuk mencapai kesejahteraan umum. Pitulas jumlah jenang. Pitulas adalah pitulungan dan kawelasan. Berarti seseorang akan mendapat pertolongan dan belas dari Tuhan. Supaya warga
selalu makmur aman damai.
Kegiatan sosial budaya sebaiknya menyertakan jenang. Warga Jawa perantau biasa dengan pasugatan jenang dalam berbagai acara. Setiap kali mempunyai hajad yang melibatkan kepentingan umum, sebisa bisanya diselenggarakan wilujengan.
Dalam lingkup budaya wilujengan disebut juga dengan istilah slametan, kenduri, bancaan. Sedekah yang dibungkus dengan suasana kekeluargaan menciptakan kerukunan. Masyarakat lantas guyub rukun bersatu padu melangkah untuk maju.
Ternyata jenang telah menjadi identitas nasional. Semua suku dari Sabang sampai Merauke leluasa dengan sajian jenang atau bubur. Kuliner jenang lebih bersifat spiritual.
Generasi muda perlu memahami kearifan lokal. Warisan budaya Indonesia harus dilestarikan. Pemuda pemuda adalah pewaris peradaban. Siswa siswi Sergai suka gembira dalam hati. Karena kearifan lokal bisa memperhalus budi pekerti.
Kearifan lokal menjadi penyangga pengamalan Pancasila. Dari masyarakat lokal itu terhimpun nasihat luhur. Masyarakat Sergai siap melestarikan tradisi.
Muatan lokal dianjurkan dalam pengajaran formal. Kurikulum nasional bertambah berbobot dengan digalinya butir butir nilai tradisional. Ragam seni budaya tradisional sudah berakar kuat dalam perjalanan sejarah bangsa.
Pengalaman sebagai seorang pendidik, para guru menganggap tradisi ini penting. Pengalaman Soekirman ketika menjadi dosen di Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Mahasiswa diajak turun lapangan. Berbaur dengan masyarakat pedesaan.
Kehidupan Soekirman dengan masyarakat desa sejak kecil di Tualang Perbaungan. Lantas masa kanak kanak di Pagarjati Lubukpakam.
Aktivitas sosial dilakukan di LSM BINTARNI yang didirikan oleh Soekirman tahun 1980. Kegiatan lebih luas pada tahun 1986 dengan berdinya BITRA atau Bina Ketrampilan Desa. Selama memimpin LSM pedesaan ini, Soekirman mantab dengan pendekatan kebudayaan.
Masyarakat Sumatera Utara memang majemuk. Ragam budaya adat keyakinan bahasa berbeda beda. Namun mereka saling menghormati. Dengan prinsip Bhineka Tunggal Ika. Kerukunan warga pun tercipta dengan baik.
Upacara selamatan menggunakan media jenang. Jenis jenis jenang itu memuat nilai etis filosofis. Maknanya untuk melakukan permohonan kepada Tuhan. Hidup ini biar berjalan ayem tentrem aman damai. Tata cara wilujengan dilaksanakan dengan gembira bersama handai taulan sanak famili.
Semangat untuk berbagi tinggi sekali. Jenang rasanya manis, semanis cita cita utama. Pada masa mendatang diharap generasi muda tetap melestarikan upacara adat warisan nenek moyang.
(LM-01)
