Kisah Perang Bubat yang Menguak Mitos Larangan Orang Sunda Menikah Dengan Orang Jawa

Prabu Maharaja Linggabuana Wisesa merasa harga dirinya terinjak-injak dengan perlakuan dari Patih Gajahmada tersebut. Namun Prabu Maharaja Linggabuana Wisesa tidak bertindak gegabah untuk serta merta mengadakan perlawanan di tempat tersebut.

Akan tetapi kearifan hati Prabu Linggabuana Wisesa tidak diikuti oleh seluruh rombongannya.

Dalam situasi tersebut, rombongan dari kerajaan Sunda merasa dilecehkan. Karena hal tersebut rombongan dari kerajaan Sunda pun mendesak Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka Citraresmi sebagai pengantin bukan sebagai tanda takluknya kerajaan Sunda terhadap Majapahit.

Menurut Kidung Sunda, Hayam Wuruk disebutkan bimbang atas permasalahan tersebut, mengingat Patih Gajahmada adalah Patih yang sangat ia andalkan. Terjadilah insiden antara utusan Prabu Maharaja Linggabuana Wisesa dengan Patih Gajahmada.

Perselisihan tersebut berakhir dengan dicaci makinya Patih Gajahmada oleh utusan kerajaan Sunda yang terkejut bahwa kedatangan mereka hanya untuk menyerahkan tanda takluk atau pengakuan atas superioritas kerajaan Majapahit dan bukan karena undangan pesta pernikahan sebelumnya.

Banyak para pemimpin naik pitam ketika mengetahui dari niat Patih Gajahmada, akhirnya mereka melakukan perlawanan terhadap pasukan dari Majapahit.

Sebelum Hayam Wuruk memberikan keputusan, Patih Gajah Mada telah mengerahkan pasukannya ke lapangan Bubat dan mengancam Prabu Maharaja Linggabuana Wisesa untuk mengakui superioritas kerajaan Majapahit.

Demi mempertahankan kehormatan sebagai kesatria Sunda, Prabu Linggabuana Wisesa menolak ancaman tersebut.

Melesatlah satu anak panah entah dari busur siapa menerjang utusan Patih Gajahmada hingga terkapar ditanah. Suasana pun menjadi tidak terkendali. Perang pun tidak terelakkan lagi.

Rombongan dari kerajaan Sunda yang tidak siap berperang terpaksa menghunus pedang dan menentang ke Dewa untuk menghadapi pasukan dari kerajaan Majapahit yang telah siaga untuk berperang.

Timbulah peperangan yang tidak seimbang antara pasukan dari Patih Gajahmada yang berjumlah besar dengan pasukan dari kerajaan Sunda.

Pasukan Sunda menyerang ke arah selatan, disana pasukan Majapahit dibuat kocar-kacir. Namun, serangan dari pasukan Sunda tersebut dapat dipatahkan oleh pasukan dari Majapahit.

Pasukan dari Kerajaan Sunda pun menyingkir ke arah barat daya dan berhasil dikepung oleh pasukan dari kerajaan Gajahmada.

Setiap pasukan dari kerajaan Sunda yang berhasil menghadang kereta dari Patih Gajahmada berhasil disingkirkan satu per satu, sehingga peristiwa tersebut berakhir dengan gugurnya Prabu Maharaja Linggabuana Wisesa dan para menteri serta pejabat kerajaan Sunda.

Mengetahui kejadian tersebut, Dyah Pitaloka Citraresmi pun akhirnya memutuskan untuk bunuh diri setelah ayahnya dan seluruh rombongan kerajaan Sunda gugur dalam pertempuran.

Hayam Wuruk pun menyesalkan atas insiden yang terjadi di pesanggrahan Bubat, karena hal tersebut Hayam Wuruk mengutus Darma Diyaksa dari Bali untuk menyampaikan permohonan maaf pada Mangkubumi Suradibati yang menjadi pejabat sementara kerajaan Sunda.

Disamping itu, Darma Diyaksa menyampaikan bahwa semua peristiwa di Bubat akan dibuat dalam Kidung Sunda dan Kidung Sundayana.

Serat Pararathon menyebutkan bahwa sesudah peristiwa di Bubat, Hayam Wuruk menyelenggarakan upacara besar untuk menghormati orang-orang Sunda yang gugur dalam peristiwa tersebut.

Akibat dari peristiwa Bubat, hubungan Hayam Wuruk dengan Gajahmada menjadi renggang.

Akibat dari peristiwa Bubat, dikalangan keluarga kerajaan Sunda diberlakukanlah peraturan yaitu larangan untuk menikahi diluar lingkungan keluarga Sunda atau dari pihak wilayah timur lingkungan kerajaan Sunda.(1-M)

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *