Sejarah Kabupaten Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara
Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, Hp: 0878 6440 4347)
A. Kelahiran Kabupaten Wakatobi.
Kabupaten Wakatobi lahir pada tanggal 18 Desember 2003. Pembentukan Kabupaten Wakatobi berdasarkan UU No. 20 tahun 2003. Dasar hukum ini bersamaan dengan peresmian kabupaten Bombana dan Kabupaten Kolaka Utara. Daerah otonom semakin berkembang.
Pada awalnya kabupaten Wakatobi terdiri dari lima kecamatan yaitu kecamatan Wangi Wangi, kecamatan Kaledupa, kecamatan Tomia, kecamatan Wangi Selatan dan kecamatan Binongko. Pada tahun 2005 ditambah lagi kecamatan Kaledupa Selatan dan kecamatan Tomia Timur. Pada tahun 2007 menjadi delapan kecamatan, yakni penambahan kecamatan Togo Binongko. Antar wilayah dikelilingi lautan.
Pejabat Bupati pertama dipegang oleh Syarifudin Safaa, SH, MM. Pada tanggal 19 Januari 2004 – 19 Januari 2006. H. LM Mahufi Madra, SH, MH menjabat Bupati tanggal 19 Januari 2006 – 28 Juni 2006. Hasil pilkada menetapkan Ir. Hugua dan Ediarto Rusmin BAE sebagai Bupati Wakatobi sejak tanggal 28 Juni 2006. Upacara pelantikan dilakukan oleh Gubernur Sulawesi Tenggara Ali Mazi, SH. Kepemimpinan ini bisa dirasakan oleh semua lapisan masyarakat.
Periode selanjutnya Wakatobi dipimpin oleh Ir. Hugua dan H. Asnawi, SE sejak tanggal 28 Juni 2011. Upacara pelantikan dilaksanakan oleh Gubernur Sulawesi Tenggara H Nur Alam, SE. Saat ini H Asnawi, SE menjabat sebagai Kepala Daerah Kabupaten Wakatobi. Pendampingnya adalah Ilmiati Daud, SE, M.Si. Bupati dan Wakil Bupati serempak bekerja untuk rakyat.
Wakatobi selalu berbenah diri dengan kegiatan dengan sekub lokal, nasional dan global. Kamis, 11 Juni 2015 berangkat dari Yogyakarta pukul 06.00 pagi. Beberapa jam sebelumnya sibuk persiapan. Mulai dari pakaian, makanan, minuman, topi, peci, blangkon, sandal, sabun, odol, shampo, tas kresek, kertas dan pulpen. Semua alat kami siap dan lengkap. Tidak boleh ketinggalan. Sekitar pukul 03.00 sudah harus bangun. Anak Indonesia mengenal lagu bangun tidur.
Renungan dari perjalanan. Tiba di Surabaya pukul 07.00. istirahat sejenak, lantas membuka bungkusan ‘bontot’, isinya nasi, mie, krupuk dan telur. Lahap sekali, karena memang lapar. Praktis, tak usah beli di warung. Di sekitar bandara harganya mesti mahal. Perlu hemat, ngirit. Orang rumah pasti berharap mendapat oleh- oleh. Anggaran mesti diatur.
Perjalanan dilanjutkan pukul 09.00 menuju Kendari. Sebelah tempat duduk ada ibu-ibu pegawai kehutanan asal Jawa Timur tetapi menetap di Kendari. Kebetulan alumni IPB. Anaknya kuliah di UGM dan Unibra. Di tempat kami omong-omongan beragam persoalan leluhurnya dari Pamekasan, Madura. Meskipun Madura kenyataannya berbeda dengan Madura Bangkalan atau Sampang. Keduanya basis pedagang. Sedang Sumenep adalah komunitas keturunan priyayi Ratu Handaya, adalah permaisuri Sunan Paku Buwono IV. Dalam sejarah terkenal sebagai pelopor pendirian Kabupaten di Jawa Timur setelah tahun 1802.
Rasa ingin tahu atas Wakatobi amat tibggi. Tepat pukul 13 kami tiba di Bandara Haluoleo, bersama dengan kawan dari Bali, Manado dan Yogyakarta. Panitia menyediakan penginapan di mess Wakatobi, Jl. Bunga Seroja, Kendari. Cukup nyaman, apalagi dikawal oleh Mbak Yuyun, mahasiswa Universitas Haluoleo jurusan Teknologi Pangan. Dia berasal dari Tomia timur Wakatobi. Ternyata Wakatobi merupakan akronim dari Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, Binongko. Pulau Wanci, Kaledupa, Tomia dan Binongko dulu merupakan kepulauan Tukang Besi.
Gagasan besar muncul saat minum kopi. Makan siang di warung makan milik orang Banyuwangi, Jawa Timur. Demi rasa keakraban kami menyanyi lagu Padhang Bulan.
Padhang bulan ing pesisir Banyuwangi
Kinclong- kinclong segarane kaya kaca
Lanang wadon bebarengan suka- suka. Lagu Banyuwangi ini sangat populer.
Njajah desa milang kori. Lantas keliling kota melihat Kendari Bis atau Kebi. Sebelahnya terdapat pelabuhan Wanci dan Pelabuhan Baku-baku. Di pinggiran kota terdapat pantai Wombo. Sepertinya dikembangkan mirip Pulau Kapuk Indah Jakarta dan Pantai Losari Makassar. Rupa-rupanya kawasan ini ke depan menjadi hunian para elit. Tampak jenis bangunan yang serba mewah. Itulah perkembangan kota besar di Indonesia.
Tiap tiap kota selalu saja ada warung Lamongan, mereka berjualan nasi uduk, pecel lele, bebek goreng, tempe penyet, pergedel, mendoan dan lalapan. Tak ketinggalan mentimun dan sambal kemangi. Bakso soto juga menjadi ciri perantau Jawa. Sebagian membuka jasa kecantikan salon, spa, rias rambut. Namanya mengadu nasib, penuh dengan suka cita. Angkutan kota menuju kampus Universitas Haluoleo. Banyak angkutan kota yang siap mengantar ke mana saja.
Keliling jalan dikawal oleh mbak Rita, dengan melihat Tugu MTQ yang berdiri megah di tengah kota. Pada sore hari banyak yang bercengkerama, santai bersama keluarga. Hawanya cukup panas, karena dekat dengan pantai. Lantas ada museum yang menjadi tempat peninggalan kuno. Ada toko buku Rabang, Lipo yang menyediakan kuliner, jajan dan permainan. Keduanya termasuk perbelanjaan modern. KFC pun sudah menyerbu. Kelas menengah berkumpul dan menunjukkan eksistensi. Mereka adalah kelompok sosial mapan.
Geliat kehidupan sosial ekonomi Kendari mulai bergerak ketika ditemukan banyak aneka tambang. Nikel, baja, emas mendatangkan investor. Hotel dan jasa perhubungan direncanakan. Ketika para investor ini surut, kehidupan kembali normal. Seperti kota lain, galian jalan silih berganti. PDAM, listrik, telpon, irigasi, got tak luput dari program proyek. Kejadian ini merata di seluruh Indonesia. Penerbangan di Kendari tidak hiruk pikuk. Suasana bandara Kendari boleh dikata nyaman.
Alangkah menyenangkan melihat pandangan baru. Warna air di Kendari agak putih kekuning- kuningan. Sirkulasi air perlu perhatian lebih serius. Kebersihan, kerapian kota agak perlu ditingkatkan karena Kendari adalah ibukota propinsi. Setidak- tidaknya orang bisa membandingkan dengan kota Makassar, Manado. Sama- sama pulau Sulawesi, di sana lebih gegap gempita.
Perdagangan dan aktivitas masyarakat padat sekali. Bisnis, jasa, pendidikan aktif. Barangkali Kendari terletak agak jauh dari kekuasaan. Perlu sentuhan yang lebih gumreget. Kaum terpelajar yang berdomisili di kota Kendari sudah bertekad bulat untuk mengembangkan ibukota Sulawesi Tenggara sebagai wilayah yang gumebyar, besar, ampuh dan tangguh.
Dialog dilanjutkan di mess Pemda Wakatobi. Peserta seadanya, karena masing- masing sibuk mencari makan malam. Topik yang dibahas sekitar kebahasaan dan karir birokrasi. Kenapa saat ini membangun karier tergantung Jakarta? Negara yang sedemikian luas, apakah terus- terusan dibanggakan. Kasihan orang daerah yang jauh dari ibukota. Karier mereka sulit berkembang. Terbukti kini mereka tidak dapat tunjuk diri. Berarti identitas hilang. Kapan mereka mengalami kejayaan? Kalau boleh usul, struktur kenegaraan perlu diubah segera. Demi keseimbangan hidup.
Sampai larut malam, diskusi dengan Prof. Silvana dan Mbak Rita. Satunya dari Medan dan satunya dari Kalimantan. Tema yang dirembug adalah keberadaan kerajaan di seluruh Nusantara.
Ilmu menerangi jagad. Kebetulan Prof. Silvana Sinar, MA, Ph.D adalah keturunan Sultan Delli Serdang. Dengan penuh haru dan rasa memiliki atas leluhur, maka beliau agak menyesal dan marah atas hancurnya kesultanan. Itu pelanggaran berat. Komnas ham perlu menyelidiki hapusnya kraton dan pelanggaran historis. Prof. Silvana hendak membangun kembali kraton istana milik leluhurnya. Ayahnya kerap mengamankan dokumen dan adat istiadat Melayu.
Selama ini keluarganya telah tergabung dalam FKIKN: Forum Komuminasi dan Informasi Kraton Nusantara. Sekjen FKIKN adalah GKR Wandansari atau GRAy Koes Moertiyah, pengageng Sasana Wilapa Kraton Surakarta. Studi banding perlu dilakukan, demi menciptakan program istana Melayu yang melibatkan pendukung yang terpencar di berbagai kawasan. Terutama untuk daerah otonom yang baru.
B. Pengembangan Wilayah Kabupaten Pemekaran.
Wakatobi sebagai kabupaten pemekaran telah menunjukkan keberhasilan yang cukup membanggakan. Pemerintah dan masyarakat bahu membahu untuk menampilkan kemandirian dalam segala bidang. Sukses gemilang Wakatobi menjadi inspirasi daerah pemekaran lain, agar mendapat pengakuan bahwa daerah pemekaran itu bisa mandiri dan otonom.
Kegiatan kabupaten Wakatobi beraneka rupa. Hari kedua, Jumat 11 Juni 2015 dimulai dengan perjalanan menuju Wakatobi. Terlebih dulu sarapan pagi, beli di warung depan mess Wakatobi. Tersedia nasi kuning, ikan, mie. Karena lapar tetap dimakan lahap. Prof. Silvana, Mbak Rita dan Prof. Nyoman rupa -rupanya gemar makan nasi kuning.
Semangat peserta terus menyala. Lumayan untuk menambah energi. Terlebih dulu kami pamitan pada mbak Yuyun yang mengurus mess Pemda Wakatobi sambil kuliah di universitas Haluoleo. Mereka tampak haru dan senang atas kunjungan peseta ATL. Pertemuan yang amat berbobot.
Gegap gempita, muka berseri, saling sapa adalah tradisi antar peserta ATL. Mereka tiap tahun berjumpa. Utusan dari berbagai daerah, lembaga, Pusat Bahasa, balai bahasa, pemda, perguruan tinggi, LSM, seniman, cendekiawan mengutarakan gagasan masing -masing dengan cemerlang.
Misalnya mbak Early Wulandari Muis, adalah alumni Universitas Haluoleo. Dia pernah kuliah di jurusan antropologi program master UGM. Dosennya Prof Dr Koentjaraningrat dan Prof Dr Syafri Sairin. Mereka adalah antropolog terkemuka. Mbak Early menulis tesis tentang etnobatani Suku Moronene, kini dia siap- siap untuk mengambil program doktor. Beliau bekerja sebagai staff Balitbang Propinsi Sulawesi Tenggara. Bersama dengan pemakalah lain, mbak Early menyampaikan tulisan yang berjudul ‘Dulele Jonga, Kearifan Budaya Moronene dalam Perlindungan Satwa’. Pada masa depan menjadi juru bicara Indonesia Timur.
Pesawat menuju Wakatobi sempat tertunda lebih dari 1 jam lamanya. Kesempatan untuk melakukan aktivitas curah pendapat sambil ngobrol ngalor ngidul. Tampak senang dan asyik. Karena kenal jadi tidak jemu. Rasa bosan menunggu diganti dengan kangen-kangenan. Bayangkan kalau tidak punya teman, pasti, jemu, capai, tertekan dan perasaan tidak karu- karuan. Berbeda dengan rombongan orang banyak yang ada Cuma senang. Sebagian sibuk dengan hp dan laptop. Entah apa yang dibaca.
Jarak tempuh Kendari- Wakatobi sekitar 45 menit. Daripada tidur ngantuk lebih baik tukar pikiran dengan ahli lingkungan ITB, Iwan Darmawan. Dimulai dengan hilangnya kerajaan Pajajaran di pentas sejarah. Apakah orang Sunda sekarang tidak merasa rugi. Tidak adakah usaha untuk membicarakan masa akhir Pajajaran? Aktivitas orang Sunda muda masa kini hendaknya menjadi bahan perhatian. Mumpung jembar kalangane.
Sikap bijaksana amat diperlukan. Mereka aktif menyebarkan separatisme lewat kampus dan kos- kosan. Perilaku itu terus berjalan. ITB, IPB dan UGM menjadi sasaran. Anak- anak muda bermimpi mendirikan negara teologis. Seolah-olah hanya dengan cara itu peradaban dapat dibangun. Tidak ada alternatif lain. Ketegangan yang berulang- ulang dan tidak kapok. Sejarah menjadi kaca benggala.
Kelancaran jalan karena hasil pembangunan. Kira- kira pukul 12.00 WIT, kaki menginjak Pulau Wangi- wangi yang menjadi ibukota Wakatobi. Berjajar-jajar sesepuh berpakaian adat menjemput peserta ATL. Bu Pudentia menyalami tamu dengan anggun dan agung. Pelaksanaan ATL ini dipersiapkan matang. Datang pula Susi Iffati, alumni Sastra Arab UGM. Kini dia bertugas sebagai jurnalis di harian Kompas.
Bandara Matohara di Kabupaten Wakatobi dibuka tahun 2014. Cukup lumayan dan membantu. Pojok Sulawesi Tenggara yang terpencil dan kurang dikenal ini punya pemimpin hebat. Namanya Ir. H. Hugua. Beliau mewariskan nilai dan semangat Wakatobi yang dikenal di seluruh dunia. Tempat yang jauh dari ibukota dan sumber berita tidak menjadi masalah. Dunia luas telah mengenal Wakatobi melalui koran, majalah, televisi, datang untuk meliput. Sepanjang jalan dari Bandara Matohara sampai Patuno sekitar 10 km. Letak penginapan ini di tepi pantai yang menawan.
Acara pembukaan seminar internasional ATL dimulai pukul 19.00 di Aula Patuno Wakatobi. Sekedar diulas tentang Patuno. Tanahnya berkapur warna putih. Tidak subur. Tanah ini tidak cocok untuk menanam padi. Kebanyakan ditanami ketela pohon. Pohon kelapa tumbuh di sana-sini. Antara perbukitan dan pantai, dibuat villa- villa yang menawan untuk para turis. Orang asing banyak datang ke Wakatobi untuk wisata laut.
Bersama dengan Karkono, kawan dosen Universitas Negeri Malang, kami jalan jalan sore menelurusi kecamatan Wangi-wangi. Karkono dulu lulusan SMKI Surakarta. Pria kelahiran Gemolong Sragen ini aktif berkesenian di Pura Mangkunagaran, berkiprah dalam seni tari. Pernah menulis novel dengan judul Kembang Sepasang. Lulus dari Magister UGM, berencana menyelesaikan program doktor di UNS. Terampil membawakan Langen Mandrawanara. Sambil menari, juga dituntut untuk pintar menyanyi. Gerak tari harus indah, suara nyanyian juga perlu merdu.
Kanan kiri melihat suasana alam. Sebelah terdiri dari perbukitan dan hutan. Tidak lebat, karena tanahnya kapur. Sementara itu sebelahnya lagi adalah pantai. Ombaknya tenang, rumah rumah penduduk terbuat dari tembok. Bangunan tertata rapi dan bersih. Tidak tampak pemandangan kumuh. Untuk ukuran umum boleh dibilang cukup bersih. Penduduk berkumpul di halaman. Entah apa yang menjadi topik bahasan. Kejadian ini tidak lazim di Jawa. Di sana orang sibuk di sawah. Barangkali mata pencaharian penduduk kebanyakan adalah nelayan. Mereka kerja sebagian besar pada malam hari. Berangkat petang, kembali lagi pagi hari. Begitu terus. Pagi sore siang malam rutin dengan aktivitas lautan.
Mumpung padang rembulane. Sekitar pukul 17.30 istirahat di pinggir pantai, melihat matahari menjelang terbenam, sunset. Pemandangan indah sekali. Pesan minuman saraba terdiri dari jahe, gula dan teh. Rasanya hangat panas pedas. Habis dua gelas. Tak lupa pesan pisang goreng yang bentuknya disigar, beda dengan pisang goreng Jawa. Di Wakatobi, pisang diberi bumbu sambal. Kami mencoba mencicipi dengan rasa penasaran. Perlu studi komparatif tentang kuliner daerah.
Pembacaan doa secara adat dilakukan oleh sesepuh Wakatobi. Ikut serta yaitu Bu Pudentia, ketua Wakatobi, Bupati, Sultan Buton, ulama dan pemuka masyarakat. Terpampang di spanduk: ‘Seminar Internasional Tradisi Lisan IX: Merayakan Tradisi sebagai Warisan Budaya’. Doanya singkat pendek dan khusuk. Jenis doa tolak balak, dilanjutkan dengan dia permohonan keselamatan, keberuntungan dan kebahagiaan. Doa dilakukan bergantian dengan duduk lesehan. Mereka berpakaian kebesaran adat dan ulama khas.
Sebelum acara seremonial ini berlangsung terlebih dulu dipertunjukkan musik Tunggal Sambatin. Musik sambatin terdiri dari gitar kecil tunggal. Sederhana sekali. Liriknya suara irama Melayu klasik. Seakan akan suara percikan air mengalir yang tenang. Bernuansa mistis dan nostalgia, seni Melayu cocok untuk laut, seni Jawa cocok untuk sawah. Seni Melayu untuk nelayan di laut, seni Jawa untuk petani mencangkul.
Pimpinan memberi teladan. Ibu Pudentia pidato dengan busana yang rapi dan mriyayeni. Beliau mengucapkan rasa hormat kepada Bupati Wakatobi, Ir. H. Hugua. Beliau mendukung ATL 2008 sampai 2015. Tak ketinggalan Prof. Dr. Wardiman Djojonagoro sejak tahun 1993 mendukung ATL. Juga Prof. Dr. Edy Sedyawati, Sultan Buton, direktur Unesco, para tokoh dunia yang telah hadir dalam acara ATL. Perwakilan luar negeri menyempatkan hadir. Pembukaan di Wakatobi dengan memetik gambus. Musik gambus ini bersuara nyaring.
Malam ramah tamah diisi dengan jamuan makan dan pentas seni. Hanya saja menu yang disajikan tetap berasa tanah Jawa. Ada ketan, cucur dan gedang goreng. Jelas ini menu Jawa Tengah, jajan model Mataram ini ternyata diterima oleh Pemda Wakatobi. Maklum pak sekda bernama Sudjito, dipastikan dia keturunan Majapahit. Beliau cukup berpengaruh. Tentu saja ide- ide kejawen berkembang di Wakatobi. Meskipun Wakatobi pusat kehidupan ikan, tetapi tidak serta merta pemasakan khas ikan terjadi. Orang Wakatobi perlu belajar cara masak atau mengolah bumbu.
Pagelaran seni gambus, elekton, organ tunggal, tari, dangdut, joged poco- poco mewarnai makan malam dan acara bebas. Untuk mengembangkan seni budaya perlu kiranya proses pembelajaran kesenian dari wilayah lain. Pelajar sebisa-bisanya dikirim ke luar daerah. Dibuat program pertukaran pelajaran dengan spesial keahlian. Seleksi sesuai bakat dan minat siswa. Ketrampilan dan kesenian pelan-pelan akan memperkokoh jiwa anak didik.
Perlu dicatat bahwa seni dengan alat mesin sebisa -bisanya dihindari. Prinsip efektif efisien untuk kesenian jangan menggerus dan mengganti alat asli. Nanti menjadi kebiasaan yang kurang baik. Ada legitimasi atau pembenaran menggeser alat dan pemain. Kaset amat menumpas ketrampilan para wiyaga, ini tidak kita harapkan. Kekompakan waranggana wiyaga dalam karawitan kita jaga bersama.
Pemikiran diperoleh dengan beragam cara. Seminar dengan menampilkan penyaji makalah dimulai lagi pada hari Sabtu, 13 Juni 2015 pukul 08.00. Pak Mukhlis dari Badan Sensor Perfilman menawali seminar. Disambung dengan presentasi mbak Muji’ah, istrinya mas Bambang Jogja. Paparan selanjutnya dilakukan oleh utusan Lembaga Adat Kesultanan Buton. Dalam hati kami ingat dengan keberadaan Kasunanan Surakarta. Di sana masih berjalan dengan upacara, kegiatan administrasi, ritual, sosial, yuridis, dan pendidikan seni budaya. Sedangkan Buton dalam pemaparan ini memerlukan perhatian lebih serius.
Asal usul kesultanan Buton ditinjau dari perspektif historis. Mereka mengawali cerita dengan mengambil kisah kedatangan bangsawan Majapahit, Mataram, Melayu dan Cina. Kerajaan keenam memulai perubahan sistem. Kesultanan Buton Keenam raja itu lantas menjadi Islam. Ki Panjongan menyusun kaum yang bertugas memilih raja. Malaka memimpin pemerintahan dalam tradisi kesultanan, Malaka dianggap bapak, kaum adalah anak. Untuk tatanan sekarang dengan gelar Khalifatul ini asasnya adalah Islam.
Pusat pemerintahan di Bau-bau. Terdapat 4 bareta, merupakan wilayah yang menjadi koordinator pemerintahan. Kaledupa menjadi koordinator Wakatobi. Hubungan antar barata ini bersifat koordinatif. Dulu banyak bajak laut, oleh karena itu perlu pengamanan wilayah. Hutan lindung tidak boleh dibuka untuk umum kecuali untuk keperluan khusus. Tiap barata punya seni, tari dan adat khusus. Utusan Sultan Buton ini amat memikat dalam penyampaian materi.
Partisipasi peseta yang berasal dari Wakatobi berbeda dengan seminar ATL di Tanjung Pinang dan Manado. Dulu peserta lokal hadir, terdiri dari LSM, seniman, budayawan, guru, politikus dan birokrat. Acara besar lebih utama kalau bisa dirasa oleh tuan rumah dan warga sekitar. Rancangan pertemuan ATL ke depan tentu akan mengubah kebijakan. Sungguh menyenangkan apabila masyarakat terlibat aktif.
Memang anak sekolah yang bisa bermain kesenian ditampilkan saat makan siang. Mereka pentas seni dengan ciri keprajuritan. Pengiringnya musik kempul, gong suwuk, kendang ketipung, kendang balungan, bonang berjumlah tiga. Nabuh kempul dengan cara nitir jelas keliru. Gong suwuk ditabuh dengan batangan kayu sangat tidak enak. Mungkin mereka perlu dilatih dasar- dasar karawitan. Dikirim ke Jawa untuk belajar gamelan.
C. Alam Lingkungan Kabupaten Wakatobi
Pembentukan kabupaten Wakatobi berdasarkan modal alam dan sumber daya manusia yang telah mencukupi. Selingan waktu kami gunakan untuk survey di lapangan dengan naik sepeda motor sewaan. Saya dan mas Bambang Widyatmoko keliling sampai kota Wakatobi. Informasi dari penduduk, ternyata warga Wakatobi banyak yang menjadi perantau laut. Bila suami berangkat, maka istrinya pun menyusul. Makanya banyak rumah dibangun bagus bentuknya, tapi kosong penghuni karena mereka sama- sama merantau mengadu nasib.
Sepanjang jalan tumbuh jambu mete. Tanah gersang, tandus dan berkapur bisa tumbuh kelapa dan jambu mete. Sambil bekerja sebagai nelayan atau bisnis kecil-kecilan. Sebagian lagi merantau ke Singapura dan Malaysia. Kini mulai mencari kerja di Australia.
Pelabuhan Pangulu Belo Wakatobi membawa kapal ke Kendari dan Buton. Air amat jernih, bisa melihat dasar laut. Turis asing datang, meskipun biaya mahal. Turis domestik khusus yang punya uang berlimpah.
Tempat wisata lain yatu Kampung Suku Bajo. Pada mulanya mereka hidup terus menerus di laut. Orang laut kini tinggal di darat layaknya orang kebanyakan. Tapi mereka harus beradaptasi. Seharusnya kebijakan ini dipikir ulang, mumpung masih ada waktu. Pemda Wakatobi tentu punya konsep dan program yang rinci. Program transmigrasi misalnya, kadang- kadang sekedar memindahkan penduduk. Di tempat rantau tidak dipikirkan tingkat keberhasilan, karena kesulitan transportasi dan infromasi mudah, maka dengan enak saja kembali. Bila ada pendaftaran, mereka ikut program lagi. Begitu terus berulang ulang. Seperti mereka cuma bermain.
Cara pandang ini belum tentu diterima semua pihak. Terbukti program beginian tetap jalan dan ada pendukung. Namanya proyek, di situ ada yang diuntung, ada yang tersisih. Demi proyek biasa dukung -mendukung. Iklan, mobilisasi, promosi, survey, pengawasan, pelaksanaan, evaluasi dan peresmian. Alangkah hebatnya jika proyek itu dikerjakan atas dasar konsep, pemikiran, kebutuhan dan kepentingan yang tepat.
Perdebatan itu pun terjadi saat makan malam. Pak Bandono, Bu Rita membuat argumentasi yang berbeda. Keduanya punya pengalaman di lapangan. Sama- sama berangkat dari dunia akademis. Pak Bandono adalah dosen ITB. Mbak Rita kini sedang mengambil program doktor linguistik UGM dibimbing oleh pak Inyo Fernandes dan Pak Supomo. Mereka mengadi di jalan keilmuan.
Pertemuan berjalan lancar. Hari ketiga, 14 Juni 2015, sidang komisi dibagi menjadi tia bagian. Dari penginapan sampai ruang sidang kami jalan kaki, sambil olahraga. Dosen, peneliti, wartawan, LSM datang menyampaikan makalah yang ditulis untuk ATL. Rata-rata mereka menulis seni pinggiran, adat istiadat yang sudah hilang atau tersisih, mereka jelaskan. Jadilah seminar ATL itu semacam advokasi seni budaya tradisional.
Kadang- kadang sempat terlintas kenapa para intelektual itu muncul demi memperoleh tempat. Apakah seni budaya tradisional hanya dijadikan penelitian saja, jadi objek penulisan sekedar untuk proposal? Ya, ini pahit sekali. Selesai acara bubar dengan sendirinya. Aja lamis, jangan pura- pura. Memperhatikan pada seni budaya secara total, menyeluruh utuh.
Orientasi para peneliti yang hanya sebatas melaporkan hasil penelitian tak ubahnya proyek bangunan. Tiap tahun dicari- cari proyek apa yang bisa dilakukan. Tentu yang ada uangnya. Ajukan proposal sebanyak- banyaknya. Ditanggung mendapat imbalan berlimpah ruah. Pikiran ini berlangsung terus. Perlu diubah, jangan diwariskan. Tujuannya agar mengalami kemajuan.
Jarak yang menganga antara peneliti dengan tradisi tidak perlu terjadi. Dua-duanya menjadi bagian integral kehidupan sehari- hari sebaiknya berhubungan. Bila mungkin kerap melakukan kerjasama. Latar belakang dan tata sosial jangan dibawa. Orang tradisi dekat dengan para nelayan. Kelas menengah hidup mapan, terjamin, berkuasa dan terdidik. Jadikan simbiosis mutualisme.
Sejarah hidup yang penting, pada 14 Juni 2015 pukul 11.00 WIT, saya menjadi pembicara di Wakatobi. Dihadiri oleh Yang Mulia Sultan Buton. Beliau adalah Dr. H. Laode Muhammad Izat Manarfa, M.Sc. Alamatnya di istana/rumah Baadiya Bau-bau, email [email protected]. Sebelumnya belum sempat mengutarakan rasa keprihatinan tentang status hukum kasultanan Buton. Pemerintah memperbolehkan atau melarang. Kalau dilarang berilah surat pelarangan. Jika masih diperlukan, cobalah diberi kejelasan posisi dalam struktur kenegaraan.
Ungkapan hati Sultan Buton tersebut mewakili rekan- rekan kesultanan lain. Jika tidak punya posisi yang jelas, sudah barang tentu diremehkan baik dari dalam maupun dari luar istana, dan dalam istana konflik berkepanjangan bisa meledak. Contoh saja adanya raja kembar. Kejadian itu sudah meluas terjadi di Cirebon, Yogyakarta dan Solo. Bahkan di istana Bau -bau terdiri dari 3 raja. Tarik menarik pengaruh yang kurang sehat.
Untuk memberi solusi sebaiknya inginmasing -masing kasultanan mencari keadilan di lembaga peradilan yaitu Mahkamah Konstitusi atau MK. Proses peradilan di MK mudah, singkat dan sederhana. Posisi Kraton Surakarta pernah dibicarakan di MKRI. Meskipun belum berhasil, proses peradilan tersebut bisa diusahakan kembali.
Kinanth
Kesadaran sejarah perlu digali. Prof. Dr. Silvana Sinar, putri Raja Kesultanan Serdang dalam pertemuan ini juga sepakat untuk memuliakan leluhurnya. Putri Sultan Serdang ini sedang melakukan pengkajian lebih mendalam.
Moderator kali ini bernama Laode Ali Basri. Dia menempuh pendidikan di FKIP Universitas Haluoleo, lantas melanjutkan pascasarjana di Bandung. Program doktor ditempuh di Udayana Bali. Orangnya supel, hitam manis, rambut modis, micara, luwes.
Sambil bercanda dia terkesan dengan putri Solo. Entah apa kok bisa berpikiran begitu. Menguras energi dan perasaan. Kini dia tinggal di dekat Bandara Haluoleo Kendari.
Presentasi empat pemakalah selama satu jam sesuai dengan jadwal yang disediakan. Masing masing dapat jatah 15 menit. Dengan memakai blangkon, samir, radya laksana, tanda pengenal, batik dan celana hitam paparan tentang upacara maesa lawung di Kraton Surakarta bisa disampaikan lancar. Diawali dengan tembang Pocung dan Kinanthi.
Presentasi dari pak One dari Belanda di sebelan Susi. Sejak menginjak di Wahatobi, Susi Iffati, sibuk meliput berita. Sebagai orang sama sama pernah kuliah di fakultas sastra UGM, maka pertemaun ini mengundang hidup masa silam. Pernah menjadi ketua panitia pemilihan ketua HMJ Imaba dengan ditemani Umar bin Khatab, Susi menjadi orang yang sangat sibuk kerja. Terpilih ketua HMJ Imaba tahun 1992 yatiu Bakhtiar Ali. Tempat pemilihan di gedung STO. Gedung ini terbuat dari kayu, kepang dan gedheg. Kini berubah menjadi gedung Sumargono Joyohadikusumo. Seharusnya gedung STO menjadi BCB, benda cagar budaya.
Malam penutupan Minggu, 14 Juni 2015. Diawali dengan diberi buku karya Prof. Dr. Pudentia, pangarsa ATL. Terlebih dulu dipentaskan Tari gagarag Surakarta dengan judul Joged Gunung Sari. Dibawakan oleh Pak Sulistyo Tirto Kusumo. Beliau berasal dari Solo. Bersahabat erat dengan Gusti Mung. Menjadi pelopor paguyuban Anggara Kasih. Pernah menjabat koordinator kepercayaan kemendikbud. Priyayi gagah, grapyak sumarah, luwes merak ati.
Bedanya Wakatobi bernama Tari Lari Angi. Penari lemah gemulai, suara nyaring merdu mistis. Sedang diusulkan untuk mendapat pengakuan Unesco. Mudah- mudahan berhasil. Di bawah kepemimpinan Ir. Hugua Wakatobi dikenal dunia.
Luas Wakatobi kebanyakan lautan, 5 persen saja terdiri dari pulau- pulau kecil. Tari Kaledupa ini ditonton oleh masyarakat dunia. Institusi adat di bawah kekuasaan Kasultanan Buton. Dahulu wakatobi punya status Propinsi Buton.
Para penari dari Pulau Tomia berkeinginan untuk meniti karier. Disarankan untuk kuliah di ISI Yogyakarta. Pelajar SMA ini masih punya masa depan dan jalan hidup yang panjang. Tugas para orang tua untuk memberi harapan, konsep dan karier anak muda hendaknya berpikir bersama-sama. Rancangan yang jelas membuat gairah hidup semakin bersemangat. Anak-anak yang pentas menari ini didatangkan Pemda Wakatobi untuk mengisi acara penutupan ATL.
Sajian tari sejenis poco-poco melibatkan banyak orang. Pejabat, elit, panitia, peserta dan tamu undangan bersama-sama berjoged suka ria. Menari dan menyanyi, sesuai dengan gerakan yang indah. Waktu menari sejak pukul 20.00 sampai 24.00. Memang waktu selesai sudah larut malam. Upacara penutupan seminar ATL ini boleh dibilang sukses. Semua senang. Energi, pikiran dan waktu harus dhemat. Pagi harinya pulang ke tempat asal masing- masing.
Kembali pulang hari Senin, tanggal 15 Juni 2015. Sepanjang jalan membayangkan Wakatobi masa lalu, kini dan esok. Tarik menarik politik dan persaingan kekuasaan terbaca jelas. Spanduk, baliho dna iklan tokoh parpol brmunculan. Mereka berebut untuk menjadi bupati Wakatobi dan calon gubernur Sultra. Program populis dan kata -kata iklan politik menjadi bahan jualan. Bagaimana hasil program yang berjalan nanti? Apakah penguasa baru berseda meneruskan program pendahulunya. Sebagai kabupaten pemekaran memang memerlukan perhatian khusus.
Antar pulau bisa ditempuh dengan mudah. Senin, 15 Juni 2015 pukul 09.30 semua peserta ATL berkumpul di bandara Matahora. Sudah lumayan ada bandara Matahora. Berarti jarak waktu tempuh dengan Kendari- Makassar dan daerah lain bisa diperpendek. Naik perahu Kendari- Bau-bau Buton bisa 6 jam. Sedang Buton -Wakatobi 10 jam. Total bisa 16 jam. Dengan pesawat terbang Kendari- Wakatobi cuma 45 menit. Inilah sumbangan ilmu pengetahuan.
Bekal perjalanan dipersiapkan teliti. Tas, baju, sandal, sepatu, topi, peci, makanan, nyamikan, minuman dan oleh-oleh. Lengkap dipersiapkan. Jangan sampai ketinggalan. Sambil menunggu pesawat, di sebelah bandara ada warung yang menjual jagung godhog. Warna putih dan terasa gurih. Untuk menambah energi, makan jagung godhog.
Kawan- kawan yang duduk di ruang tunggu bandara turut serta menikmati jagung godhog. Kaget, geran dan gumun bercampur embira. Masih ada jagung godhog di sekitar bandara. Dengan senda gurau, semoga tidak ada guna- guna. Sebelum dimakan perlu dilangkahi dulu. Supaya jagungnya merata, maka dipotong- potong. Karena jumlahnya banyak, tampak lahap.
Dalam perjalanan tumbuh rasa kekeluargaan. Mereka menikmati sekali. Kenikmatan itu berulang ketika bekal jagung godhog dibagikan dalam pesawat. Setelah pesawat berhenti di Bandara Haluoleo Kendari, mereka tampak lapar. Jagung yang tersedia itu menjadi sasaran untuk mengganti makan siang. Demikian pula bakpia yang tinggal 10 biji dapat menambah kenikmatan perjalanan.
Rute Makassar- Yogya bersama Mas Didik. Dia sudah 27 tahun berdagang bakso di Sulawesi Selatan. Bersama istri dan anaknya, dia sukses bisnis. Ayahnya merintis jualan bakso, ibunya bisnis jamu gendhong. Perantau Jawa di Makassar hidupnya berhasil. Sehari rata- rata punya untung bersih Rp 500.000. Keuntungan itu senilai dengan gaji seorang profesor PTN. Dunia usaha memang menjanjikan.
Penerbangan Ujung Pandang Yogyakarta ditempuh antara pukul 14-16. Dari udara masih terkesan Wakatobi dengan segala latar belakangnya. Tanggal 12-15 Juni 2015 merupakan hari bersejarah yang terkenang sepanjang jaman. Laut, pantai, perahu, penyelam, pelabuhan, kapur, hutan, mente, pisang goreng pedas, ikan, suku Bajo, jalan lengang, air laut jernih adalah kenangan seminar ATL di Kabupaten Wakatobi.
Potensi alam dan sumber daya manusia Wakatobi telah diusahakan secara maksimal oleh Kepala Daerah beserta aparatnya. Pemimpin dan rakyat sejiwa untuk membangun daerah Wakatobi sebagai bagian utuh dari wilayah negara Kesatuan Republik Indonesia. Masa depan Kabupaten Wakatobi tampak sejahtera bahagia berwibawa dan berjaya.
(LM-01)

Tinggalkan Balasan