Sejarah Kabupaten Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara

        Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, Hp: 0878 6440 4347)

A. Kelahiran Kabupaten Wakatobi.

Kabupaten Wakatobi lahir pada tanggal 18 Desember 2003. Pembentukan Kabupaten Wakatobi berdasarkan UU No. 20 tahun 2003. Dasar hukum ini bersamaan dengan peresmian kabupaten Bombana dan Kabupaten Kolaka Utara. Daerah otonom semakin berkembang.

Pada awalnya kabupaten Wakatobi terdiri dari lima kecamatan yaitu kecamatan Wangi Wangi, kecamatan Kaledupa, kecamatan Tomia, kecamatan Wangi Selatan dan kecamatan Binongko. Pada tahun 2005 ditambah lagi kecamatan Kaledupa Selatan dan kecamatan Tomia Timur. Pada tahun 2007 menjadi delapan kecamatan, yakni penambahan kecamatan Togo Binongko. Antar wilayah dikelilingi lautan.

Pejabat Bupati pertama dipegang oleh Syarifudin Safaa, SH, MM. Pada tanggal 19 Januari 2004 – 19 Januari 2006. H. LM Mahufi Madra, SH, MH menjabat Bupati tanggal 19 Januari 2006 – 28 Juni 2006. Hasil pilkada menetapkan Ir. Hugua dan Ediarto Rusmin BAE sebagai Bupati Wakatobi sejak tanggal 28 Juni 2006. Upacara pelantikan dilakukan oleh Gubernur Sulawesi Tenggara Ali Mazi, SH. Kepemimpinan ini bisa dirasakan oleh semua lapisan masyarakat.

Periode selanjutnya Wakatobi dipimpin oleh Ir. Hugua dan H. Asnawi, SE sejak tanggal 28 Juni 2011. Upacara pelantikan dilaksanakan oleh Gubernur Sulawesi Tenggara H Nur Alam, SE. Saat ini H Asnawi, SE menjabat sebagai Kepala Daerah Kabupaten Wakatobi. Pendampingnya adalah Ilmiati Daud, SE, M.Si. Bupati dan Wakil Bupati serempak bekerja untuk rakyat.

Wakatobi selalu berbenah diri dengan kegiatan dengan sekub lokal, nasional dan global. Kamis, 11 Juni 2015 berangkat dari Yogyakarta pukul 06.00 pagi. Beberapa jam sebelumnya sibuk persiapan. Mulai dari pakaian, makanan, minuman, topi, peci, blangkon, sandal, sabun, odol, shampo, tas kresek, kertas dan pulpen. Semua alat kami siap dan lengkap. Tidak boleh ketinggalan. Sekitar pukul 03.00 sudah harus bangun. Anak Indonesia mengenal lagu bangun tidur.

Renungan dari perjalanan. Tiba di Surabaya pukul 07.00. istirahat sejenak, lantas membuka bungkusan ‘bontot’, isinya nasi, mie, krupuk dan telur. Lahap sekali, karena memang lapar. Praktis, tak usah beli di warung. Di sekitar bandara harganya mesti mahal. Perlu hemat, ngirit. Orang rumah pasti berharap mendapat oleh- oleh. Anggaran mesti diatur.

Perjalanan dilanjutkan pukul 09.00 menuju Kendari. Sebelah tempat duduk ada ibu-ibu pegawai kehutanan asal Jawa Timur tetapi menetap di Kendari. Kebetulan alumni IPB. Anaknya kuliah di UGM dan Unibra. Di tempat kami omong-omongan beragam persoalan leluhurnya dari Pamekasan, Madura. Meskipun Madura kenyataannya berbeda dengan Madura Bangkalan atau Sampang. Keduanya basis pedagang. Sedang Sumenep adalah komunitas keturunan priyayi Ratu Handaya, adalah permaisuri Sunan Paku Buwono IV. Dalam sejarah terkenal sebagai pelopor pendirian Kabupaten di Jawa Timur setelah tahun 1802.

Rasa ingin tahu atas Wakatobi amat tibggi. Tepat pukul 13 kami tiba di Bandara Haluoleo, bersama dengan kawan dari Bali, Manado dan Yogyakarta. Panitia menyediakan penginapan di mess Wakatobi, Jl. Bunga Seroja, Kendari. Cukup nyaman, apalagi dikawal oleh Mbak Yuyun, mahasiswa Universitas Haluoleo jurusan Teknologi Pangan. Dia berasal dari Tomia timur Wakatobi. Ternyata Wakatobi merupakan akronim dari Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, Binongko. Pulau Wanci, Kaledupa, Tomia dan Binongko dulu merupakan kepulauan Tukang Besi.

Gagasan besar muncul saat minum kopi. Makan siang di warung makan milik orang Banyuwangi, Jawa Timur. Demi rasa keakraban kami menyanyi lagu Padhang Bulan.

Padhang bulan ing pesisir Banyuwangi

Kinclong- kinclong segarane kaya kaca

Lanang wadon bebarengan suka- suka. Lagu Banyuwangi ini sangat populer.

Njajah desa milang kori. Lantas keliling kota melihat Kendari Bis atau Kebi. Sebelahnya terdapat pelabuhan Wanci dan Pelabuhan Baku-baku. Di pinggiran kota terdapat pantai Wombo. Sepertinya dikembangkan mirip Pulau Kapuk Indah Jakarta dan Pantai Losari Makassar. Rupa-rupanya kawasan ini ke depan menjadi hunian para elit. Tampak jenis bangunan yang serba mewah. Itulah perkembangan kota besar di Indonesia.

Tiap tiap kota selalu saja ada warung Lamongan, mereka berjualan nasi uduk, pecel lele, bebek goreng, tempe penyet, pergedel, mendoan dan lalapan. Tak ketinggalan mentimun dan sambal kemangi. Bakso soto juga menjadi ciri perantau Jawa. Sebagian membuka jasa kecantikan salon, spa, rias rambut. Namanya mengadu nasib, penuh dengan suka cita. Angkutan kota menuju kampus Universitas Haluoleo. Banyak angkutan kota yang siap mengantar ke mana saja.

Keliling jalan dikawal oleh mbak Rita, dengan melihat Tugu MTQ yang berdiri megah di tengah kota. Pada sore hari banyak yang bercengkerama, santai bersama keluarga. Hawanya cukup panas, karena dekat dengan pantai. Lantas ada museum yang menjadi tempat peninggalan kuno. Ada toko buku Rabang, Lipo yang menyediakan kuliner, jajan dan permainan. Keduanya termasuk perbelanjaan modern. KFC pun sudah menyerbu. Kelas menengah berkumpul dan menunjukkan eksistensi. Mereka adalah kelompok sosial mapan.

Geliat kehidupan sosial ekonomi Kendari mulai bergerak ketika ditemukan banyak aneka tambang. Nikel, baja, emas mendatangkan investor. Hotel dan jasa perhubungan direncanakan. Ketika para investor ini surut, kehidupan kembali normal. Seperti kota lain, galian jalan silih berganti. PDAM, listrik, telpon, irigasi, got tak luput dari program proyek. Kejadian ini merata di seluruh Indonesia. Penerbangan di Kendari tidak hiruk pikuk. Suasana bandara Kendari boleh dikata nyaman.

Alangkah menyenangkan melihat pandangan baru. Warna air di Kendari agak putih kekuning- kuningan. Sirkulasi air perlu perhatian lebih serius. Kebersihan, kerapian kota agak perlu ditingkatkan karena Kendari adalah ibukota propinsi. Setidak- tidaknya orang bisa membandingkan dengan kota Makassar, Manado. Sama- sama pulau Sulawesi, di sana lebih gegap gempita.

Perdagangan dan aktivitas masyarakat padat sekali. Bisnis, jasa, pendidikan aktif. Barangkali Kendari terletak agak jauh dari kekuasaan. Perlu sentuhan yang lebih gumreget. Kaum terpelajar yang berdomisili di kota Kendari sudah bertekad bulat untuk mengembangkan ibukota Sulawesi Tenggara sebagai wilayah yang gumebyar, besar, ampuh dan tangguh.

Dialog dilanjutkan di mess Pemda Wakatobi. Peserta seadanya, karena masing- masing sibuk mencari makan malam. Topik yang dibahas sekitar kebahasaan dan karir birokrasi. Kenapa saat ini membangun karier tergantung Jakarta? Negara yang sedemikian luas, apakah terus- terusan dibanggakan. Kasihan orang daerah yang jauh dari ibukota. Karier mereka sulit berkembang. Terbukti kini mereka tidak dapat tunjuk diri. Berarti identitas hilang. Kapan mereka mengalami kejayaan? Kalau boleh usul, struktur kenegaraan perlu diubah segera. Demi keseimbangan hidup.

Sampai larut malam, diskusi dengan Prof. Silvana dan Mbak Rita. Satunya dari Medan dan satunya dari Kalimantan. Tema yang dirembug adalah keberadaan kerajaan di seluruh Nusantara.

Ilmu menerangi jagad. Kebetulan Prof. Silvana Sinar, MA, Ph.D adalah keturunan Sultan Delli Serdang. Dengan penuh haru dan rasa memiliki atas leluhur, maka beliau agak menyesal dan marah atas hancurnya kesultanan. Itu pelanggaran berat. Komnas ham perlu menyelidiki hapusnya kraton dan pelanggaran historis. Prof. Silvana hendak membangun kembali kraton istana milik leluhurnya. Ayahnya kerap mengamankan dokumen dan adat istiadat Melayu.

Selama ini keluarganya telah tergabung dalam FKIKN: Forum Komuminasi dan Informasi Kraton Nusantara. Sekjen FKIKN adalah GKR Wandansari atau GRAy Koes Moertiyah, pengageng Sasana Wilapa Kraton Surakarta. Studi banding perlu dilakukan, demi menciptakan program istana Melayu yang melibatkan pendukung yang terpencar di berbagai kawasan. Terutama untuk daerah otonom yang baru.

B. Pengembangan Wilayah Kabupaten Pemekaran.

Wakatobi sebagai kabupaten pemekaran telah menunjukkan keberhasilan yang cukup membanggakan. Pemerintah dan masyarakat bahu membahu untuk menampilkan kemandirian dalam segala bidang. Sukses gemilang Wakatobi menjadi inspirasi daerah pemekaran lain, agar mendapat pengakuan bahwa daerah pemekaran itu bisa mandiri dan otonom.

Kegiatan kabupaten Wakatobi beraneka rupa. Hari kedua, Jumat 11 Juni 2015 dimulai dengan perjalanan menuju Wakatobi. Terlebih dulu sarapan pagi, beli di warung depan mess Wakatobi. Tersedia nasi kuning, ikan, mie. Karena lapar tetap dimakan lahap. Prof. Silvana, Mbak Rita dan Prof. Nyoman rupa -rupanya gemar makan nasi kuning.

Semangat peserta terus menyala. Lumayan untuk menambah energi. Terlebih dulu kami pamitan pada mbak Yuyun yang mengurus mess Pemda Wakatobi sambil kuliah di universitas Haluoleo. Mereka tampak haru dan senang atas kunjungan peseta ATL. Pertemuan yang amat berbobot.

Gegap gempita, muka berseri, saling sapa adalah tradisi antar peserta ATL. Mereka tiap tahun berjumpa. Utusan dari berbagai daerah, lembaga, Pusat Bahasa, balai bahasa, pemda, perguruan tinggi, LSM, seniman, cendekiawan mengutarakan gagasan masing -masing dengan cemerlang.

Misalnya mbak Early Wulandari Muis, adalah alumni Universitas Haluoleo. Dia pernah kuliah di jurusan antropologi program master UGM. Dosennya Prof Dr Koentjaraningrat dan Prof Dr Syafri Sairin. Mereka adalah antropolog terkemuka. Mbak Early menulis tesis tentang etnobatani Suku Moronene, kini dia siap- siap untuk mengambil program doktor. Beliau bekerja sebagai staff Balitbang Propinsi Sulawesi Tenggara. Bersama dengan pemakalah lain, mbak Early menyampaikan tulisan yang berjudul ‘Dulele Jonga, Kearifan Budaya Moronene dalam Perlindungan Satwa’. Pada masa depan menjadi juru bicara Indonesia Timur.

Pesawat menuju Wakatobi sempat tertunda lebih dari 1 jam lamanya. Kesempatan untuk melakukan aktivitas curah pendapat sambil ngobrol ngalor ngidul. Tampak senang dan asyik. Karena kenal jadi tidak jemu. Rasa bosan menunggu diganti dengan kangen-kangenan. Bayangkan kalau tidak punya teman, pasti, jemu, capai, tertekan dan perasaan tidak karu- karuan. Berbeda dengan rombongan orang banyak yang ada Cuma senang. Sebagian sibuk dengan hp dan laptop. Entah apa yang dibaca.

Jarak tempuh Kendari- Wakatobi sekitar 45 menit. Daripada tidur ngantuk lebih baik tukar pikiran dengan ahli lingkungan ITB, Iwan Darmawan. Dimulai dengan hilangnya kerajaan Pajajaran di pentas sejarah. Apakah orang Sunda sekarang tidak merasa rugi. Tidak adakah usaha untuk membicarakan masa akhir Pajajaran? Aktivitas orang Sunda muda masa kini hendaknya menjadi bahan perhatian. Mumpung jembar kalangane.

Sikap bijaksana amat diperlukan. Mereka aktif menyebarkan separatisme lewat kampus dan kos- kosan. Perilaku itu terus berjalan. ITB, IPB dan UGM menjadi sasaran. Anak- anak muda bermimpi mendirikan negara teologis. Seolah-olah hanya dengan cara itu peradaban dapat dibangun. Tidak ada alternatif lain. Ketegangan yang berulang- ulang dan tidak kapok. Sejarah menjadi kaca benggala.

Kelancaran jalan karena hasil pembangunan. Kira- kira pukul 12.00 WIT, kaki menginjak Pulau Wangi- wangi yang menjadi ibukota Wakatobi. Berjajar-jajar sesepuh berpakaian adat menjemput peserta ATL. Bu Pudentia menyalami tamu dengan anggun dan agung. Pelaksanaan ATL ini dipersiapkan matang. Datang pula Susi Iffati, alumni Sastra Arab UGM. Kini dia bertugas sebagai jurnalis di harian Kompas.

Bandara Matohara di Kabupaten Wakatobi dibuka tahun 2014. Cukup lumayan dan membantu. Pojok Sulawesi Tenggara yang terpencil dan kurang dikenal ini punya pemimpin hebat. Namanya Ir. H. Hugua. Beliau mewariskan nilai dan semangat Wakatobi yang dikenal di seluruh dunia. Tempat yang jauh dari ibukota dan sumber berita tidak menjadi masalah. Dunia luas telah mengenal Wakatobi melalui koran, majalah, televisi, datang untuk meliput. Sepanjang jalan dari Bandara Matohara sampai Patuno sekitar 10 km. Letak penginapan ini di tepi pantai yang menawan.

Acara pembukaan seminar internasional ATL dimulai pukul 19.00 di Aula Patuno Wakatobi. Sekedar diulas tentang Patuno. Tanahnya berkapur warna putih. Tidak subur. Tanah ini tidak cocok untuk menanam padi. Kebanyakan ditanami ketela pohon. Pohon kelapa tumbuh di sana-sini. Antara perbukitan dan pantai, dibuat villa- villa yang menawan untuk para turis. Orang asing banyak datang ke Wakatobi untuk wisata laut.

Bersama dengan Karkono, kawan dosen Universitas Negeri Malang, kami jalan jalan sore menelurusi kecamatan Wangi-wangi. Karkono dulu lulusan SMKI Surakarta. Pria kelahiran Gemolong Sragen ini aktif berkesenian di Pura Mangkunagaran, berkiprah dalam seni tari. Pernah menulis novel dengan judul Kembang Sepasang. Lulus dari Magister UGM, berencana menyelesaikan program doktor di UNS. Terampil membawakan Langen Mandrawanara. Sambil menari, juga dituntut untuk pintar menyanyi. Gerak tari harus indah, suara nyanyian juga perlu merdu.

Kanan kiri melihat suasana alam. Sebelah terdiri dari perbukitan dan hutan. Tidak lebat, karena tanahnya kapur. Sementara itu sebelahnya lagi adalah pantai. Ombaknya tenang, rumah rumah penduduk terbuat dari tembok. Bangunan tertata rapi dan bersih. Tidak tampak pemandangan kumuh. Untuk ukuran umum boleh dibilang cukup bersih. Penduduk berkumpul di halaman. Entah apa yang menjadi topik bahasan. Kejadian ini tidak lazim di Jawa. Di sana orang sibuk di sawah. Barangkali mata pencaharian penduduk kebanyakan adalah nelayan. Mereka kerja sebagian besar pada malam hari. Berangkat petang, kembali lagi pagi hari. Begitu terus. Pagi sore siang malam rutin dengan aktivitas lautan.

Mumpung padang rembulane. Sekitar pukul 17.30 istirahat di pinggir pantai, melihat matahari menjelang terbenam, sunset. Pemandangan indah sekali. Pesan minuman saraba terdiri dari jahe, gula dan teh. Rasanya hangat panas pedas. Habis dua gelas. Tak lupa pesan pisang goreng yang bentuknya disigar, beda dengan pisang goreng Jawa. Di Wakatobi, pisang diberi bumbu sambal. Kami mencoba mencicipi dengan rasa penasaran. Perlu studi komparatif tentang kuliner daerah.

Pembacaan doa secara adat dilakukan oleh sesepuh Wakatobi. Ikut serta yaitu Bu Pudentia, ketua Wakatobi, Bupati, Sultan Buton, ulama dan pemuka masyarakat. Terpampang di spanduk: ‘Seminar Internasional Tradisi Lisan IX: Merayakan Tradisi sebagai Warisan Budaya’. Doanya singkat pendek dan khusuk. Jenis doa tolak balak, dilanjutkan dengan dia permohonan keselamatan, keberuntungan dan kebahagiaan. Doa dilakukan bergantian dengan duduk lesehan. Mereka berpakaian kebesaran adat dan ulama khas.

Sebelum acara seremonial ini berlangsung terlebih dulu dipertunjukkan musik Tunggal Sambatin. Musik sambatin terdiri dari gitar kecil tunggal. Sederhana sekali. Liriknya suara irama Melayu klasik. Seakan akan suara percikan air mengalir yang tenang. Bernuansa mistis dan nostalgia, seni Melayu cocok untuk laut, seni Jawa cocok untuk sawah. Seni Melayu untuk nelayan di laut, seni Jawa untuk petani mencangkul.

Pimpinan memberi teladan. Ibu Pudentia pidato dengan busana yang rapi dan mriyayeni. Beliau mengucapkan rasa hormat kepada Bupati Wakatobi, Ir. H. Hugua. Beliau mendukung ATL 2008 sampai 2015. Tak ketinggalan Prof. Dr. Wardiman Djojonagoro sejak tahun 1993 mendukung ATL. Juga Prof. Dr. Edy Sedyawati, Sultan Buton, direktur Unesco, para tokoh dunia yang telah hadir dalam acara ATL. Perwakilan luar negeri menyempatkan hadir. Pembukaan di Wakatobi dengan memetik gambus. Musik gambus ini bersuara nyaring.

Malam ramah tamah diisi dengan jamuan makan dan pentas seni. Hanya saja menu yang disajikan tetap berasa tanah Jawa. Ada ketan, cucur dan gedang goreng. Jelas ini menu Jawa Tengah, jajan model Mataram ini ternyata diterima oleh Pemda Wakatobi. Maklum pak sekda bernama Sudjito, dipastikan dia keturunan Majapahit. Beliau cukup berpengaruh. Tentu saja ide- ide kejawen berkembang di Wakatobi. Meskipun Wakatobi pusat kehidupan ikan, tetapi tidak serta merta pemasakan khas ikan terjadi. Orang Wakatobi perlu belajar cara masak atau mengolah bumbu.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *