Pagelaran seni gambus, elekton, organ tunggal, tari, dangdut, joged poco- poco mewarnai makan malam dan acara bebas. Untuk mengembangkan seni budaya perlu kiranya proses pembelajaran kesenian dari wilayah lain. Pelajar sebisa-bisanya dikirim ke luar daerah. Dibuat program pertukaran pelajaran dengan spesial keahlian. Seleksi sesuai bakat dan minat siswa. Ketrampilan dan kesenian pelan-pelan akan memperkokoh jiwa anak didik.
Perlu dicatat bahwa seni dengan alat mesin sebisa -bisanya dihindari. Prinsip efektif efisien untuk kesenian jangan menggerus dan mengganti alat asli. Nanti menjadi kebiasaan yang kurang baik. Ada legitimasi atau pembenaran menggeser alat dan pemain. Kaset amat menumpas ketrampilan para wiyaga, ini tidak kita harapkan. Kekompakan waranggana wiyaga dalam karawitan kita jaga bersama.
Pemikiran diperoleh dengan beragam cara. Seminar dengan menampilkan penyaji makalah dimulai lagi pada hari Sabtu, 13 Juni 2015 pukul 08.00. Pak Mukhlis dari Badan Sensor Perfilman menawali seminar. Disambung dengan presentasi mbak Mujiāah, istrinya mas Bambang Jogja. Paparan selanjutnya dilakukan oleh utusan Lembaga Adat Kesultanan Buton. Dalam hati kami ingat dengan keberadaan Kasunanan Surakarta. Di sana masih berjalan dengan upacara, kegiatan administrasi, ritual, sosial, yuridis, dan pendidikan seni budaya. Sedangkan Buton dalam pemaparan ini memerlukan perhatian lebih serius.
Asal usul kesultanan Buton ditinjau dari perspektif historis. Mereka mengawali cerita dengan mengambil kisah kedatangan bangsawan Majapahit, Mataram, Melayu dan Cina. Kerajaan keenam memulai perubahan sistem. Kesultanan Buton Keenam raja itu lantas menjadi Islam. Ki Panjongan menyusun kaum yang bertugas memilih raja. Malaka memimpin pemerintahan dalam tradisi kesultanan, Malaka dianggap bapak, kaum adalah anak. Untuk tatanan sekarang dengan gelar Khalifatul ini asasnya adalah Islam.
Pusat pemerintahan di Bau-bau. Terdapat 4 bareta, merupakan wilayah yang menjadi koordinator pemerintahan. Kaledupa menjadi koordinator Wakatobi. Hubungan antar barata ini bersifat koordinatif. Dulu banyak bajak laut, oleh karena itu perlu pengamanan wilayah. Hutan lindung tidak boleh dibuka untuk umum kecuali untuk keperluan khusus. Tiap barata punya seni, tari dan adat khusus. Utusan Sultan Buton ini amat memikat dalam penyampaian materi.
Partisipasi peseta yang berasal dari Wakatobi berbeda dengan seminar ATL di Tanjung Pinang dan Manado. Dulu peserta lokal hadir, terdiri dari LSM, seniman, budayawan, guru, politikus dan birokrat. Acara besar lebih utama kalau bisa dirasa oleh tuan rumah dan warga sekitar. Rancangan pertemuan ATL ke depan tentu akan mengubah kebijakan. Sungguh menyenangkan apabila masyarakat terlibat aktif.
Memang anak sekolah yang bisa bermain kesenian ditampilkan saat makan siang. Mereka pentas seni dengan ciri keprajuritan. Pengiringnya musik kempul, gong suwuk, kendang ketipung, kendang balungan, bonang berjumlah tiga. Nabuh kempul dengan cara nitir jelas keliru. Gong suwuk ditabuh dengan batangan kayu sangat tidak enak. Mungkin mereka perlu dilatih dasar- dasar karawitan. Dikirim ke Jawa untuk belajar gamelan.
C. Alam Lingkungan Kabupaten Wakatobi
Pembentukan kabupaten Wakatobi berdasarkan modal alam dan sumber daya manusia yang telah mencukupi. Selingan waktu kami gunakan untuk survey di lapangan dengan naik sepeda motor sewaan. Saya dan mas Bambang Widyatmoko keliling sampai kota Wakatobi. Informasi dari penduduk, ternyata warga Wakatobi banyak yang menjadi perantau laut. Bila suami berangkat, maka istrinya pun menyusul. Makanya banyak rumah dibangun bagus bentuknya, tapi kosong penghuni karena mereka sama- sama merantau mengadu nasib.
Sepanjang jalan tumbuh jambu mete. Tanah gersang, tandus dan berkapur bisa tumbuh kelapa dan jambu mete. Sambil bekerja sebagai nelayan atau bisnis kecil-kecilan. Sebagian lagi merantau ke Singapura dan Malaysia. Kini mulai mencari kerja di Australia.
Pelabuhan Pangulu Belo Wakatobi membawa kapal ke Kendari dan Buton. Air amat jernih, bisa melihat dasar laut. Turis asing datang, meskipun biaya mahal. Turis domestik khusus yang punya uang berlimpah.
Tempat wisata lain yatu Kampung Suku Bajo. Pada mulanya mereka hidup terus menerus di laut. Orang laut kini tinggal di darat layaknya orang kebanyakan. Tapi mereka harus beradaptasi. Seharusnya kebijakan ini dipikir ulang, mumpung masih ada waktu. Pemda Wakatobi tentu punya konsep dan program yang rinci. Program transmigrasi misalnya, kadang- kadang sekedar memindahkan penduduk. Di tempat rantau tidak dipikirkan tingkat keberhasilan, karena kesulitan transportasi dan infromasi mudah, maka dengan enak saja kembali. Bila ada pendaftaran, mereka ikut program lagi. Begitu terus berulang ulang. Seperti mereka cuma bermain.
Cara pandang ini belum tentu diterima semua pihak. Terbukti program beginian tetap jalan dan ada pendukung. Namanya proyek, di situ ada yang diuntung, ada yang tersisih. Demi proyek biasa dukung -mendukung. Iklan, mobilisasi, promosi, survey, pengawasan, pelaksanaan, evaluasi dan peresmian. Alangkah hebatnya jika proyek itu dikerjakan atas dasar konsep, pemikiran, kebutuhan dan kepentingan yang tepat.
Perdebatan itu pun terjadi saat makan malam. Pak Bandono, Bu Rita membuat argumentasi yang berbeda. Keduanya punya pengalaman di lapangan. Sama- sama berangkat dari dunia akademis. Pak Bandono adalah dosen ITB. Mbak Rita kini sedang mengambil program doktor linguistik UGM dibimbing oleh pak Inyo Fernandes dan Pak Supomo. Mereka mengadi di jalan keilmuan.
Pertemuan berjalan lancar. Hari ketiga, 14 Juni 2015, sidang komisi dibagi menjadi tia bagian. Dari penginapan sampai ruang sidang kami jalan kaki, sambil olahraga. Dosen, peneliti, wartawan, LSM datang menyampaikan makalah yang ditulis untuk ATL. Rata-rata mereka menulis seni pinggiran, adat istiadat yang sudah hilang atau tersisih, mereka jelaskan. Jadilah seminar ATL itu semacam advokasi seni budaya tradisional.
Kadang- kadang sempat terlintas kenapa para intelektual itu muncul demi memperoleh tempat. Apakah seni budaya tradisional hanya dijadikan penelitian saja, jadi objek penulisan sekedar untuk proposal? Ya, ini pahit sekali. Selesai acara bubar dengan sendirinya. Aja lamis, jangan pura- pura. Memperhatikan pada seni budaya secara total, menyeluruh utuh.
Orientasi para peneliti yang hanya sebatas melaporkan hasil penelitian tak ubahnya proyek bangunan. Tiap tahun dicari- cari proyek apa yang bisa dilakukan. Tentu yang ada uangnya. Ajukan proposal sebanyak- banyaknya. Ditanggung mendapat imbalan berlimpah ruah. Pikiran ini berlangsung terus. Perlu diubah, jangan diwariskan. Tujuannya agar mengalami kemajuan.
Jarak yang menganga antara peneliti dengan tradisi tidak perlu terjadi. Dua-duanya menjadi bagian integral kehidupan sehari- hari sebaiknya berhubungan. Bila mungkin kerap melakukan kerjasama. Latar belakang dan tata sosial jangan dibawa. Orang tradisi dekat dengan para nelayan. Kelas menengah hidup mapan, terjamin, berkuasa dan terdidik. Jadikan simbiosis mutualisme.
Sejarah hidup yang penting, pada 14 Juni 2015 pukul 11.00 WIT, saya menjadi pembicara di Wakatobi. Dihadiri oleh Yang Mulia Sultan Buton. Beliau adalah Dr. H. Laode Muhammad Izat Manarfa, M.Sc. Alamatnya di istana/rumah Baadiya Bau-bau, email [email protected]. Sebelumnya belum sempat mengutarakan rasa keprihatinan tentang status hukum kasultanan Buton. Pemerintah memperbolehkan atau melarang. Kalau dilarang berilah surat pelarangan. Jika masih diperlukan, cobalah diberi kejelasan posisi dalam struktur kenegaraan.
Ungkapan hati Sultan Buton tersebut mewakili rekan- rekan kesultanan lain. Jika tidak punya posisi yang jelas, sudah barang tentu diremehkan baik dari dalam maupun dari luar istana, dan dalam istana konflik berkepanjangan bisa meledak. Contoh saja adanya raja kembar. Kejadian itu sudah meluas terjadi di Cirebon, Yogyakarta dan Solo. Bahkan di istana Bau -bau terdiri dari 3 raja. Tarik menarik pengaruh yang kurang sehat.
Untuk memberi solusi sebaiknya inginmasing -masing kasultanan mencari keadilan di lembaga peradilan yaitu Mahkamah Konstitusi atau MK. Proses peradilan di MK mudah, singkat dan sederhana. Posisi Kraton Surakarta pernah dibicarakan di MKRI. Meskipun belum berhasil, proses peradilan tersebut bisa diusahakan kembali.
Kinanth
Kesadaran sejarah perlu digali. Prof. Dr. Silvana Sinar, putri Raja Kesultanan Serdang dalam pertemuan ini juga sepakat untuk memuliakan leluhurnya. Putri Sultan Serdang ini sedang melakukan pengkajian lebih mendalam.
Moderator kali ini bernama Laode Ali Basri. Dia menempuh pendidikan di FKIP Universitas Haluoleo, lantas melanjutkan pascasarjana di Bandung. Program doktor ditempuh di Udayana Bali. Orangnya supel, hitam manis, rambut modis, micara, luwes.
Sambil bercanda dia terkesan dengan putri Solo. Entah apa kok bisa berpikiran begitu. Menguras energi dan perasaan. Kini dia tinggal di dekat Bandara Haluoleo Kendari.
Presentasi empat pemakalah selama satu jam sesuai dengan jadwal yang disediakan. Masing masing dapat jatah 15 menit. Dengan memakai blangkon, samir, radya laksana, tanda pengenal, batik dan celana hitam paparan tentang upacara maesa lawung di Kraton Surakarta bisa disampaikan lancar. Diawali dengan tembang Pocung dan Kinanthi.
Presentasi dari pak One dari Belanda di sebelan Susi. Sejak menginjak di Wahatobi, Susi Iffati, sibuk meliput berita. Sebagai orang sama sama pernah kuliah di fakultas sastra UGM, maka pertemaun ini mengundang hidup masa silam. Pernah menjadi ketua panitia pemilihan ketua HMJ Imaba dengan ditemani Umar bin Khatab, Susi menjadi orang yang sangat sibuk kerja. Terpilih ketua HMJ Imaba tahun 1992 yatiu Bakhtiar Ali. Tempat pemilihan di gedung STO. Gedung ini terbuat dari kayu, kepang dan gedheg. Kini berubah menjadi gedung Sumargono Joyohadikusumo. Seharusnya gedung STO menjadi BCB, benda cagar budaya.
Malam penutupan Minggu, 14 Juni 2015. Diawali dengan diberi buku karya Prof. Dr. Pudentia, pangarsa ATL. Terlebih dulu dipentaskan Tari gagarag Surakarta dengan judul Joged Gunung Sari. Dibawakan oleh Pak Sulistyo Tirto Kusumo. Beliau berasal dari Solo. Bersahabat erat dengan Gusti Mung. Menjadi pelopor paguyuban Anggara Kasih. Pernah menjabat koordinator kepercayaan kemendikbud. Priyayi gagah, grapyak sumarah, luwes merak ati.
Bedanya Wakatobi bernama Tari Lari Angi. Penari lemah gemulai, suara nyaring merdu mistis. Sedang diusulkan untuk mendapat pengakuan Unesco. Mudah- mudahan berhasil. Di bawah kepemimpinan Ir. Hugua Wakatobi dikenal dunia.
Luas Wakatobi kebanyakan lautan, 5 persen saja terdiri dari pulau- pulau kecil. Tari Kaledupa ini ditonton oleh masyarakat dunia. Institusi adat di bawah kekuasaan Kasultanan Buton. Dahulu wakatobi punya status Propinsi Buton.
Para penari dari Pulau Tomia berkeinginan untuk meniti karier. Disarankan untuk kuliah di ISI Yogyakarta. Pelajar SMA ini masih punya masa depan dan jalan hidup yang panjang. Tugas para orang tua untuk memberi harapan, konsep dan karier anak muda hendaknya berpikir bersama-sama. Rancangan yang jelas membuat gairah hidup semakin bersemangat. Anak-anak yang pentas menari ini didatangkan Pemda Wakatobi untuk mengisi acara penutupan ATL.
Sajian tari sejenis poco-poco melibatkan banyak orang. Pejabat, elit, panitia, peserta dan tamu undangan bersama-sama berjoged suka ria. Menari dan menyanyi, sesuai dengan gerakan yang indah. Waktu menari sejak pukul 20.00 sampai 24.00. Memang waktu selesai sudah larut malam. Upacara penutupan seminar ATL ini boleh dibilang sukses. Semua senang. Energi, pikiran dan waktu harus dhemat. Pagi harinya pulang ke tempat asal masing- masing.
Kembali pulang hari Senin, tanggal 15 Juni 2015. Sepanjang jalan membayangkan Wakatobi masa lalu, kini dan esok. Tarik menarik politik dan persaingan kekuasaan terbaca jelas. Spanduk, baliho dna iklan tokoh parpol brmunculan. Mereka berebut untuk menjadi bupati Wakatobi dan calon gubernur Sultra. Program populis dan kata -kata iklan politik menjadi bahan jualan. Bagaimana hasil program yang berjalan nanti? Apakah penguasa baru berseda meneruskan program pendahulunya. Sebagai kabupaten pemekaran memang memerlukan perhatian khusus.
Antar pulau bisa ditempuh dengan mudah. Senin, 15 Juni 2015 pukul 09.30 semua peserta ATL berkumpul di bandara Matahora. Sudah lumayan ada bandara Matahora. Berarti jarak waktu tempuh dengan Kendari- Makassar dan daerah lain bisa diperpendek. Naik perahu Kendari- Bau-bau Buton bisa 6 jam. Sedang Buton -Wakatobi 10 jam. Total bisa 16 jam. Dengan pesawat terbang Kendari- Wakatobi cuma 45 menit. Inilah sumbangan ilmu pengetahuan.
Bekal perjalanan dipersiapkan teliti. Tas, baju, sandal, sepatu, topi, peci, makanan, nyamikan, minuman dan oleh-oleh. Lengkap dipersiapkan. Jangan sampai ketinggalan. Sambil menunggu pesawat, di sebelah bandara ada warung yang menjual jagung godhog. Warna putih dan terasa gurih. Untuk menambah energi, makan jagung godhog.
Kawan- kawan yang duduk di ruang tunggu bandara turut serta menikmati jagung godhog. Kaget, geran dan gumun bercampur embira. Masih ada jagung godhog di sekitar bandara. Dengan senda gurau, semoga tidak ada guna- guna. Sebelum dimakan perlu dilangkahi dulu. Supaya jagungnya merata, maka dipotong- potong. Karena jumlahnya banyak, tampak lahap.
Dalam perjalanan tumbuh rasa kekeluargaan. Mereka menikmati sekali. Kenikmatan itu berulang ketika bekal jagung godhog dibagikan dalam pesawat. Setelah pesawat berhenti di Bandara Haluoleo Kendari, mereka tampak lapar. Jagung yang tersedia itu menjadi sasaran untuk mengganti makan siang. Demikian pula bakpia yang tinggal 10 biji dapat menambah kenikmatan perjalanan.
Rute Makassar- Yogya bersama Mas Didik. Dia sudah 27 tahun berdagang bakso di Sulawesi Selatan. Bersama istri dan anaknya, dia sukses bisnis. Ayahnya merintis jualan bakso, ibunya bisnis jamu gendhong. Perantau Jawa di Makassar hidupnya berhasil. Sehari rata- rata punya untung bersih Rp 500.000. Keuntungan itu senilai dengan gaji seorang profesor PTN. Dunia usaha memang menjanjikan.
Penerbangan Ujung Pandang Yogyakarta ditempuh antara pukul 14-16. Dari udara masih terkesan Wakatobi dengan segala latar belakangnya. Tanggal 12-15 Juni 2015 merupakan hari bersejarah yang terkenang sepanjang jaman. Laut, pantai, perahu, penyelam, pelabuhan, kapur, hutan, mente, pisang goreng pedas, ikan, suku Bajo, jalan lengang, air laut jernih adalah kenangan seminar ATL di Kabupaten Wakatobi.
Potensi alam dan sumber daya manusia Wakatobi telah diusahakan secara maksimal oleh Kepala Daerah beserta aparatnya. Pemimpin dan rakyat sejiwa untuk membangun daerah Wakatobi sebagai bagian utuh dari wilayah negara Kesatuan Republik Indonesia. Masa depan Kabupaten Wakatobi tampak sejahtera bahagia berwibawa dan berjaya.
(LM-01)

