Lain itu, Aji juga menyadari bahwa selama ini ia masih sangat “miskin” pengalaman. Apalagi selama ini juga tidak pernah ada sekolah atau perguruan tinggi, yang khusus mencetak calon pemimpin. Baik presiden, kepala daerah, sampai ke tingkat RT maupun RW. “Karena itu saya secara khusus mohon saran dan masukan dari masyarakat semua, ketika nanti menjalankan roda pemerintahan.
Saya disini ingin belajar, monggo saya sangat terbuka. Saya masih tetap Aji yang dulu,” jlentrehnya.
Tak lupa ia juga tidak akan merubah kebiasaan yang ada selama ini. Dengan sikap kesederhanaan, diharapkan tidak menjadi kritikan masyarakat. “Nanti kalau saya hanya memakai sarung, bercelana pendek, mohon ampun dikritik. Yang terpenting bagaimana kita bersama menatap Pacitan yang lebih baik,” tandasnya. (yun).

