Sejarah Kabupaten Karanganyar

Lain dengan yang gemar kepada rokhaniah,
nampak selalu mengampuni,
segala kesalahan,
bersikap sabar karena berbudi baik.

Asal benar dalam meningkatkan pikiran,
bila terkabul terbukalah
dalam derajat keinginan hidup,
seperti diutarakan tembang sinom tadi.

Namanya ilmu cocoknya dengan pendapat,
berhasilnya dengan bertapa,
bagi satria Jawa,
dahulu yang menjadi pegangan tiga hal.

Rela apabila kehilangan tidak kecewa,
menerima bila mendapat cobaan
yang menyakitkan hati
ikhlas, menyerahkan kepada Tuhan.

Ajaran Serat Wedhatama di atas menjadi bahan refleksi bagi para pengageng Pura Mangkunegaran dan masyarakat Karanganyar. Sri Mangkunegara VII adalah pujangga ulung. Beliau produktif dalam menciptakan karya sastra yang bertopik tentang lakon pewayangan.

Lakon pewayangan dari pakem balungan untuk daerah Surakarta bersumber dari Serat Pedhalangan Ringgit Purwa karya KGPAA Mangkunegara VII. Pakem Serat Pedhalangan Ringgit Purwa terdiri dari 37 jilid, berisi 177 lakon yang terbagi menjadi 4 bagian yaitu: Cerita dewa-dewa (7 lakon), Cerita Arjuna Sasrabahu (5 lakon), Cerita Ramayana (18 lakon), Cerita Pandawa Korawa (147 lakon).

Kesenian tumbuh maju dan berkembang sangat mengagumkan. Pada masa pemerintahan Sri Mangkunegara VII ini. Kyai Trunodipo dari Baturetno, Solo, membuat Wayang Menak untuk pergelaran cerita-cerita dari Kitab Serat Menak dengan tokoh tokoh Wong Agung Jayengrana, Umar Maya, Umar Madi, Prabu Nusirwan.

Pakem pedalangan disusun demi wibawa seni pakeliran. Karya KGPAA Mangkunegara VII menjadi acuan para dalang di daerah Surakarta dan pendukungnya. Nama kecilnya yaitu Raden Mas Suryasuparta, putra ketiga KGPAA Mangkunegara V. Beliau lahir pada tanggal 4 Sapar 1815 H atau 12 November 1885. Beliau wafat pada tanggal 19 Juli 1944. Rupanya Mangku-negara VII mewarisi bakat kepujanggan kakeknya yaitu Mangkunegara IV. Pura Mangkunegaran melahirkan seniman besar dan berbakat.

Sebaiknya generasi muda bersedia belajar biografi Sri Mangkunegara VII. Beliau telah mewariskan budaya adi luhung bagi masyarakat kabupaten Karanganyar. Sri Mangkunegara VIII Putradalem K.G.P.A.A. Mangkunegoro VII. Putra kakung pambajeng mios saking ampil R.Ay. Retnaningrum. Asma timur: B.R.M. Saroso. Wiosandalem: 10 Rabingulakir Jumadilakir 1850 utawi 1 Januari 1920.

Wonten Puro Mangkunegaran. Jumeneng Pangeran: Saptu Kliwon 9 Rabingulakir Ehe 1868. Utawi 19 Juni 1937. Asma K.P.Ar. Hamijoyo Saroso. Krama pikantuk R.Aj. Sunituti. Putranipun K.P.A. Suryokusumo. Ing dinten Akad Pon. 8 Sawal Be 1872. Utawi Surya kaping 19 Oktober 1941. Sasuruddalem Ramadalem K.P.A. Hamijoyo Saroso dipun jumenengaken Mangkunegoro, dene parentah Japan dipun tanda tangani Harada Kumatiti. Jumeneng K.G.P.A.A. Mangkunagoro VIII, ing dinten Kemis Pon tanggal 19 wulan Juli 1944.

Keturunan Pura Mangkunegaran sampai sekarang selalu berusaha sekuat tenaga untuk memajukan Kabupaten Karanganyar. Putra putridalem: K.P.A. Prabu Kusumo. B.R.M. Radityo. B.R.Aj. Retno Satutu. Rahadiyan Yamin. B.R.Aj. Retno Rosati Hudiono Kadarisman. K.G.P.A.A. Mangkunegoro, B.R.M. Sujiwo. B.R.M. Susaktyo. B.R.M. Herwasto. B.R.M. Kumiyakto. B.R.Aj. Retno Astrini. Garwadalem G.K. Putri Mangkunegoro VIII.

Ampildalem Raden Sotyowati. Suruddalem: dinten Kemis Pon 9 Suro 1920 utawi 3 September 1987.
Pura Mangkunegaran bersama dengan rakyat turut membantu demi kemajuan Karanganyar.

Pengageng Pura Mangkunegaran sekarang yaitu Sri Mangkunegara IX. Beliau tetap menjalin hubungan dengan warga Karanganyar. Sri Mangkunegara IX Asma timur: Gusti Raden Mas Sujiwo Kusumo. Saat ini beliau aktif dalam kegiatan pengembangan kebudayaan. Beliau dinobatkan sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegara IX pada tahun 1987. Beliau merupakan pepundhen Kabupaten Karanganyar yang tetap kita hormati.

C. Kejayaan Kabupaten Karanganyar berbasis Industri Gula yang dikelola oleh Pura Mangkunegaran

Pura Mangkunegaran mendirikan dan membina Kabupaten Karanganyar bermodalkan kekayaan yang bersumber dari keuntungan pabrik gula.

Mangkunegara IV betul betul berhasil memakmurkan rakyat Karanganyar secara keseluruhan. Masa kejayaan gula dalam lintasan sejarah telah mendukung eksistensi kebudayaan Jawa.

KGPAA Mangkunegoro IV adalah disebut juga sebagai Raja Gula Indonesia pada masanya. Beliau adalah keturunan Panembahan Senapati, raja Mataram. Pabrik gula yang memproduksi gula kristal, seperti PG Colomadu Karanganyar dan PG Tasikmadu Karanganyar diprakarsai oleh KGPAA Mangkunegoro IV, termasuk PG Candi di Jawa Timur pada 1830-an.

Dalam hal sastra budaya Jawa beliau adalah pengarang Serat Wedhatama dan Tripama yang terkenal itu. Mangkunegoro IV lahir pada tahun 1736, menjadi penguasa Mangkunegaran pada tanggal 17 Mei 1850. Wafat pada tanggal 2 September 1881.

Kemilaunya karier Mangkunegoro IV di bidang pergulaan, yang langka digeluti oleh raja pribumi ini akhirnya berembus sampai penjuru dunia. Saban orang luar, pegawai tinggi atau swasta manakala berkunjung ke Solo minta diperbolehkan untuk melihat pabrik gula Mangkunegaran untuk menghapus rasa penasaran yang melanda dan belajar manajemen perkebunan raja gula dari Jawa itu. Raja yang pintar usaha.

Mangkunegoro IV telah meninggalkan warisan berharga berupa semangat berwirausaha.Bukti sejarah ini telah menghantam dengan sekeras -kerasnya citra merugikan yang diberikan oleh pejabat kolonial bahwa orang pribumi Jawa pemalas dan selalu kalah tanding dengan orang asing dalam usaha.

Titik awal pemerintahan Sri Mangkunegoro IV inilah yang oleh Pringgodigdo disebut menginjak zaman baru, karena pada era Sri Mangkunegoro IV inilah muncul perusahaan -perusahaan Mangkunegaran, yang peninggalannya berdiri dan berjalan, serta dapat disaksikan sampai tahun 1937.

Perusahaan perusahaan itulah yang mempunyai pengaruh sangat besar terhadap keuangan raja, dan juga keuangan pemerintahan Mangkunegaran, sehingga Mangkunegaran mampu menyejajarkan diri dengan raja raja besar yang ada di Jawa waktu itu.

Kraton Surakarta Hadiningrat juga mewariskan pabrik gula yang besar. Namanya Pabrik Gula Manisharja. Ternyata para pemimpin Jawa itu dulu ulung dalam memutar roda ekonomi. Raja Jawa menyadari arti penting industri yang berbasis pertanian. Bermacam macam jenis gula yang dikenal masyarakat. Gula Tebu adalah gula kristal putih sakarosa yang diperoleh dari tanaman tebu. Terkadang dijual dalam bentuk gula coklat brown sugar di Eropa.

Pada awalnya gula tebu dikenal oleh orang orang Polinesia, kemudian menyebar ke India. Pada tahun 510 Sebelum Masehi, ketika menguasai India, Raja Darius dari Persia menemukan batang rerumputan yang menghasilkan madu tanpa lebah Seperti halnya pada berbagai penemuan manusia lainnya, keberadaan tebu sangat dirahasiakan dan dijaga ketat, sedangkan produk olahannya diekspor dan untuk menghasilkan keuntungan yang sangat besar.

Produksi gula menguntungkan pura. Untuk gula lokal terdapat gula Jawa yang tetap diproduksi sampai sekarang. Gula Jawa adalah istilah gula merah, biasanya diasosiasikan dengan segala jenis gula yang dibuat dari nira, yaitu cairan yang dikeluarkan dari bunga pohon dari keluarga palma, seperti kelapa, aren, dan siwalan. Biasanya diasosiasikan dengan segala jenis gula yang dibuat dari nira. Proses ini hendaknya diketahui.

Proses masih panjang. Lebih spesifik masyarakat Banyumas punya pengalaman yang panjang. Bisa jadi sarana pembelajaran ketrampilan.

Nderes jadi pekerjaan pokok. Pembuatan gula Jawa di Banyumas telah berumur ratusan tahun, tapi proses produksinya tidak banyak mengalami perubahan, yakni menggunakan pongkor penadah nira dari bambu. Untuk menjaga nira tidak terkontaminasi bakteri, pongkor lebih dulu diisi cairan laro, terbuat dari larutan kapur tohor dan kulit buah manggis atau tatalan pohon kulit buah nangka. Yang penting berasa manis.

Tebu antebing kalbu. Ada sebagian petani yang menggunakan natrium bisulfit, tetapi ini tidak dianjurkan. Proses pembuatannya, nira hasil sadapan dimasak dengan kayu bakar sekitar tiga jam, hingga membentuk caramel siap dicetak. Ada yang menggunakan potongan bambu untuk mendapatkan ukuran sebagai alat cetak, ada juga yang menggunakan cetakan aluminium untuk memperoleh gula ukuran berat. Supaya terasa mirasa.

Bagi masyarakat pedesaan, tanah pekarangan ditanami jenis karang kitri. Misalnya kelapa untuk menambah penghasilan. Gula kelapa adalah gula yang terbuat dari air buah kelapa cocos nucifera. Cara membuatnya air kelapa dimasak di dalam kuali hingga kental dan dicetak sesuai ukuran. Takaran harus pas.

Gula ini berwarna merah dan dapat menambah energi seseorang, seperti misalnya atlit pelari, balap sepeda dan sebagainya. Secara tradisi masyarakat Jawa sangat menyukai gula jawa sebagai teman minum kopi.

Minuman orang Jawa bermacam -macam jenisnya. Misalnya kunir asem, beras kencur, secang, es degan, es kopyor, sekoteng, dan bajigur. Gula asem adalah minuman ramuan yang terbuat dari gula dicampur buah asem tamarindus Indica. Minuman ini disajikan dalam keadaan panas hangat dan diyakini sebagai minuman kesehatan. Pancen nyata kasiyate jamu Jawa.

Edi mirasa yang nyamleng. Rasanya asam tetapi segar. Gula Barbados adalah gula tebu yang berwarna coklat. Gula Barley bukan termasuk gula, melainkan permen Amerika yang keras dan memiliki citarasa jeruk lemon. Terbuat dari cairan barley dengan penambahan gula. Lantas ingat tembang dhandhanggula.

Dalam masyarakat dikenal pula gula batu. Tentu manfaatnya berbeda dengan jenis gula lainnya. Gula batu disebut juga Rock Sugar adalah gula yang dibuat dari gula pasir, yang dikristalkan, melalui bantuan air yang dipanaskan. Biasanya ditambahkan ke dalam teh, harum dan manis rasanya. Tidak semanis gula granulasi biasa. Gula batu diperoleh dari kristal bening berukuran besar berwarna putih atau kuning kecoklatan. Kristal bening dan putih dibuat dari larutan gula jenuh yang mengalami kristalisasi secara lambat. Gula ini disajikan secara terpisah dari minuman kopi maupun teh. Di warung Hiik memang nikmat.

Orang Jawa senang manid. Untuk membuat gula batu diperlukan alat dan bahan sebagai berikut: panci, gula pasir, benang kapas atau wol penyangga benang, jar tempat yang terbuat dari kaca.Tuangkan air ke dalam panci dan panaskan air hingga mendidih. Kecilkan pemanas, sedikit demi sedikit tambahkan gula, sambil diaduk perlahan lahan. Matikan pemanas. Sambil diaduk, tambahkan lagi gula, sampai terlihat butiran butiran gula yang tidak dapat larut dalam air. Biarkan hingga dingin. Masyarakat karangayar biasa wedangan.

Gula menjadi ikon Kabupaten Karanganyar. Sejak tanggal 18 November 1917 Karanganyar ditetapkan sebagai daerah kabupaten. Adapun bupati yang pernah memimpin Karanganyar yaitu: KRMT Harjo Hasmoro, RMT Sarwoko Mangunkusumo, RMT Darko Sugondo, Sudarmaji, Dr. Hj. Rina Iriani Sri Ratnaningsih, S.Pd., M.Hum, Drs. H. Juliyatmono. Para pemimpin Karanganyar ini telah bekerja maksimal, demi kesejahteraan rakyat.

Kita berharap Kabupaten Karanganyar semakin maju sejahtera, panjang punjung pasir wukir, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja. Panjang dawa pocapane, punjung luhur kawibawane. Pasir samudra, wukir gunung. Loh subuh kang sarwa tinandur, murah kang sarwa tinuku. Masyarakat Karanganyar yang tinggal di perkotaan, pedesaan, pegunungan hidup guyub rukun, ayem tentrem aman damai.

Karanganyar merupakan tempat yang cocok untuk menganyam kesenian, kebudayaan dan kebangsaan. Dari Karanganyar dipersembahkan buat kemajuan ibu pertiwi Nusantara yang jaya sejahtera.

(LM-01)

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *