Sejarah Pesanggrahan Pracimoharjo di Lereng Gunung Merapi

Pesanggrahan Pengging untuk mbabar kawruh. Sedangkan Kebo Kenongo dipandang sebagai tokoh politik kerakyatan. Ayah Joko Tingkir ini terbiasa hidup mandiri. Bertani di sawah, beternak dan berkebun diusahakan dengan sungguh sungguh, agar tidak bergantung pada kekuasaan. Pengikut Kebo Kenongo lintas batas. Terdiri dari para guru spiritual, penghayat Kejawen dan penggerak sosial. Bergerak atas dasar tradisi leluhur.

Lereng Merapi Merbabu tempat penggemblengan. Para murid Syekh Siti Jenar ini begitu solid membangun jaringan sosial. Tampil Ki Ageng Butuh, Ki Ageng Selo Ki Ageng Banyubiru, Ki Ageng, Pring Apus, Ki Ageng Ngerang, Ki Ageng Sobo, Ki Ageng Karanglo. Kiprah mereka menjadi embrio tumbuhnya aliran kejawen. Lereng gunung Merapi sebelah timur cocok untuk berefleksi.

B. Pesanggrahan Pracimoharjo di Lereng Gunung Merapi.

Warisan budaya Karaton yang berupa Pesanggrahan Pracimoharjo begitu agung dan anggun. Atas lilah ketua Lembaga Dewan Adat Karaton Surakarta, GKR Dra Wandansari Koes Moertiyah M.Pd, kunjungan budaya terselenggara. KRT Sukoco Madunagoro dan KMT Ida Madusari beserta rombongan Pakasa Nganjuk diterima dengan hangat oleh pengurus Pakasa Kabupaten Boyolali. Keramahan sesama pelaku peradaban.

Kerja organisasi selalu rapi. Pamong Pakasa Boyolali bernama Kanjeng Teguh Hadinagoro hendak berdialog di Pesanggrahan Pracimoharjo. Letaknya di desa Paras Cepogo Boyolali. Program antar Pakasa terjalin. Pakasa Nganjuk dan Boyolali merintis kegiatan bersama. Kerja sama yang saling menguntungkan.

Historio filosofis sumber kearifan lokal. Minggu 20 Desember 2020 ini hari bersejarah. Adapun pembahasan mengenai Kyai Slamet merupakan program khas Pakasa Boyolali. Kepercayaan Kraton pada pengurus Pakasa Boyolali merupakan kemuliaan. Berkah yang menjadi anugerah. Kekayaan kultural sekaligus spiritual.

Dari Pesanggrahan Pracimoharjo mendapat inspirasi. Pemeliharaan Maesa keturunan Kyai Slamet memiliki arti filosofis yang dalam. Arti kata slamet berarti selamat. Istilah lain slamet yakni wilujeng, rahayu, widada, basuki, sugeng. Kebo Kyai Slamet mengacu pada tujuan keselamatan lahir batin. Hidup ayem tentrem.

Kejawen jiwa kang walaka. Masyarakat percaya bahwa dengan menghormati Kyai Slamet hidupnya selalu ayem tentrem sejahtera. Keluarga lancar rejeki. Warga sehat kuat. Penghormatan kepada Maesa keturunan Kyai Slamet menjadi tradisi yang turun tumurun berkelanjutan.

Kepedulian sejarah Pesanggrahan Pracimoharjo tinggi. Peranan pelopor Pakasa terasa betul. Misalnya Kanjeng Surojo, pamong Pakasa yang bersemangat. Dari alur keluarga masih keturunan Trah Kepatihan. Aktif dalam Forum Budaya Mataram, Musium dan benda purbakala. Dinamika budaya Boyolali disertai dengan pengkajian, penelitian dan penghayatan. Di tangannya bentuk tradisi dan modernisasi berjalan serasi. Berjalan amat mengagumkan.

Angon angen lumantar angin. Lapangan puluhan Pengging tempat menggembala Kebo Bule. Kanjeng Ahmadi bekerja tiap hari. Berdarma bakti pada Karaton Surakarta Hadiningrat. Dengan keyakinan mendapatkan berkah. Sebuah keyakinan yang sudah terbukti kebenaran. Pesanggrahan Pracimoharjo dijadikan markas kesaksian

Warisan penuh berkah. Maesa Kyai Slamet selalu mendapat penghormatan dari para raja. Empu Supo jaman Karaton Pengging diperintah oleh Prabu Kusumo Wicitro tahun 423. Empu Supo turut serta mengasuh Kyai Maesa Slamet. Atas dhawuh raja Pengging dari waktu ke waktu.

Turun tumurun jadi kewajiban. Pujangga Kyai Yasadipura diberi wasiat oleh ayahanda Bupati Padmonagoro. Pusaka Kyai Slamet memberi berkah pada Kawula dalem karaton Surakarta Hadiningrat. Juga pujangga Raden Ngabehi Ranggawarsita selalu memberi penghormatan yang tinggi pada pusaka Kerajaan yang bertuah.

Gawa gawe Karaton Surakarta dilakukan. Jumlah Kyai maesa yang diasuh KRA Ahmadi Hadinagoro sejumlah 11 ekor. Terdiri dari jsntan dan betuna. Kategori jantan yaitu Kyai Pahang, Kyai raji, Kyai jalu, Kyai jlitheng. Kategori betina yakni Nyai Pon Sepuh, nyai inem, nyai nora, nyai iyeng, nyai melati cemeng, nyai pon muda, nyai wanti. Tanah Pengging berwibawa.

Tanggung jawab dipikul sebenarnya. Jabatan KRA Ahmadi Hadinagoro di karaton Surakarta Hadiningrat yaitu Abdi Dalem Srati maesa ing Pengging. Ada lagi yang bertugas di Cepogo lereng Gunung Merapi dan gunung Merbabu yang asri.

Pesanggrahan Ngeksipurno meriah. Tiap malam Jumat Pahing pusaka Maesa keturunan Kyai Slamet dikirap. Rute kitab dari kandang menuju alun Alun Pengging. Berakhir di Masjid Cipto Mulyo. Pamong berpakaian Srati. Peserta dari berbagai kawasan daerah.

Abdi dalem menghayati keyakinan spiritual. Menurut KRA Ahmadi Hadinagoro Kyai Maesa keturunan Kyai Slamet mendapat sesaji dan wilujengan. Malam Jumat Pahing berdoa bersama dipimpin abdi dalem ulama. Doa tertuju bagi segenap alam.

Dunia Kraton mengandung unsur mistik. Keterangan abdi dalem Srati dilanjutkan di Pesanggrahan Pracimoharjo Paras Boyolali. Sekaligus memantau perkembangan gunung Merapi dan Gunung Bibi. Lahar dan lava gunung Merapi terlindungi oleh Wibawa gunung Bibi. Gunung Bibi dianggap lebih sepuh wutuh tangguh dan berpengaruh. Abdi dalem meyakini tanda tanda alam.

Timur gunung Merapi tampak magis asri. Pusaka maesa keturunan Kyai Slamet memberi berkah pada masyarakat. Karaton Surakarta Hadiningrat menjadi penjaga keselarasan jagad gumelar dan jagad gumulung. Bermarkas di kagungan dalem Pesanggrahan Pracimoharjo.

(LM-01)

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *