Ditilik dari proses beliau berkarir, jelas pengalaman hidup terlalu berlimpah ruah.
Pejabat Kasubag Setda Kepri Kabupaten. Camat Tanjungpinang
Kepala Dispenda Kepri. Kepala Daerah Tanjungpinan. Walikota Tanjungpinang ini lahir 14 April 1953. Sehari hari bekerja tekun dan total. Saat pidato suara merdu, nyaring. Pidato enak didengar seolah-olah artis alami. Tak lupa selalu menyitir pantun nan elok.
Pemikiran kebudayaan Melayu banyak digagas di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau. Letaknya sebelah Pulau Bintan. Kira-kira 1 km, naik perahu 30 menit. Pulau Penyengat cukup diatur dalam teritorial kelurahan.
Keistimewaan Pulau Penyengat adalah simbol kejayaan bangsa Melayu pada masa silam. Para raja Melayu menjadikan pulau ini sebagai pusat pemerintahan. Beberapa raja Melayu yang bersangkut paut dengan Kasultanan Riau.
1. Sultan Abdul Jalil 1699 – 1718
2. Sultan Rahmad Syah 1718 – 1722
3. Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah 1722 – 1760
4. Sultan Muazam Syah 1760 – 1761
5. Sultan Mahmud Syah 1761 – 1812
6. Sultan Abdul Rahman 1812 – 1832
7. Sultan Muhammad Syah 1832 – 1841
8. Sultan Mahmud Muzaf 1841 – 1857
9. Sultan Sulaiman Badrul 1857 – 1883
10. Sultan Abdul Rahman 1883 – 1911
Cukup banyak pengaruh kawasan ini terhadap daerah Kepulauan Riau, Singapura, Malaysia, Kalimantan, Sumatra dan Sulawesi. Dulu kerap terjadi diplomasi politik antar bangsawan dengan melalui hubungan perkawinan. Lewat jalur pernikahan politik ini kekuatan mereka bertambah kokoh.
Bagi pengkaji sastra Indonesia terutama sastra Melayu, mesti mengenal Raja Ali Haji. Pengarang Gurindam Dua Belas. Pujangga ini sungguh cerdik dan mengagumkan. Siswa SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi terlampau familier dengan nama Raja Ali Haji. Di pulau inilah makam Ali Haji diabadikan dan dikunjungi peziarah.
Kesempatan emas buat pengkaji sastra klasik bertepuk tangan dengan penyelenggaraan seminar Tradisi Lisan. Mereka melacak kebenaran Raja Ali Haji yang telah menyusun kaedah tata bahasa, ejaan dan kamus. Beliau berhasil mengangkat bahasa Melayu sebagai dasar Bahasa Indonesia.
Kitab kitab Naskah Kuno tentang budaya Melayu banyak disimpan di Pulau Penyengat. Peneliti utamanya adalah Mujiyah Bambah Widiatmoko. Beliau berkali kali datang di pulau ini untuk mengadakan penelitian. Kebetulan para penduduk setempat yang masih keturunan raja mempunyai koleksi kitab kitab klasik.
Pulau Literer boleh diberikan sebagai gelar kehormatan pada Pulau Penyengat. Di sinilah peradaban besar amat berpengaruh pada perkembangan bangsa Indonesia. Strategis kebangsaan harus dimulai dari Pulau Penyengat. Kita tidak tahu, strategi macam apa lagi tanpa jasa Raja Ali Haji. Berbahagialah masyarakat Tanjungpinang yang punya pujangga ulung. Karya-karya harus wangi menghiasi ibu pertiwi.
Perlu kiranya diadakan revitalisasi atas peran Kasultanan Riau hingga yang berpusat di sekitar Tanjungpinang. Kebesaran, kewibawaan, kejayaan, keemasan, keagungan, keluhuran bangsa Melayu Riau hingga secepatnya dipulihkan. Para pecinta budaya harus bekerja keras, supaya budaya penting ini tidak hilang. Jangan sekedar jadi pajangan, tontonan demi wisata. Tapi tetap demi wibawa budaya.
Pada tahun 1890 dibangun sebuah percetakan “Mathba’atul Riauwiyah” yang menerbitkan buku-buku bermutu. Bangsawan Melayu menjunjung tinggi nilai moralitas, integritas dan intelektualitas. Bahkan mereka membuat organisasi Rusyidah Klab. Sebuah paguyuban yang menjadi aktivitas berpikir, pengkajian, penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Boleh dikatakan bahwa Tanjungpinang merupakan pusat peradaban dunia. Kita memberi apresiasi, perhatian demi pelestarian. Sungguh kemuliaan apabila masyarakat setempat diberi kesempatan untuk tumbuh dan melanjutkan nilai agung leluhurnya. Jangan hanya menjadi pemandu wisata kita perlu menyusun strategi yang efektif.
D. Suasana Adat Istiadat Melayu Kepri.
Tuan tuan dan Puan puan, begitulah sapaan kehormatan dalam seminar ATL kali ini. Untuk sapaan laki-laki menggunakan sebutan Bang. Untuk wanita digunakan sebutan Cik. Di seluruh Nusantara ini memang banyak sapaan akrab dan kehormatan. Misalnya Cak, Rek dan Ning untuk Jawa Timur. Jeng Mas untuk Jawa Tengah. Teteh dan Bung untuk Jawa Barat. Untuk Sumatra Barat ada sebutan Uni. Di Gorontalo dikenal Tata. Bli untuk daerah Bali. Daeng dan Karaeng untuk Sulawesi Selatan.
Tanjungpinang banyak nama yang berasal dari Bugis. Ternyata dulu banyak bangsawan Melayu yang menjalin kekerabatan dengan suku Bugis. Tiap kali ada konflik politik di kerajaan Melayu, maka pembesar Bugis diundang untuk turut serta mendamaikan. Juru runding antar suku ini sekaligus faktor perekat kebangsaan. Nasionalisme Indonesia punya akar historis yang cukup kuat. Sejarah perlu mengungkap kontak kultural ini. Bila dapat, dimasukkan dalam kurikulum pendidikan.
Jatidiri yang dibangun atas dasar nilai historis lebih terasa membanggakan. Kegelapan masa silam cuma membuat mental rendah diri. Pikiran minder menghadapi dunia luar. Terlebih-lebih generasi muda, masa depan dianggap begitu suram. Tidak ada harapan. Tentu ini harus dicegah. Nenek moyang kita dulu punya prestasi keemasan lampau dikenang kembali, supaya bersinar menghadapi hari esok. Para pelajar di seluruh nusantara kita gugah perasaannya, kita bahas semangatnya. Bahwa kehidupannya nanti bertambah terang benderang.
Sejenak menoleh kehidupan negeri tetabgga. Singapura adalah pusat bisnis Asia Tenggara. Orang berbondong bondong ke Singapura untuk belanja. Pejabat Indonesia pating kemruyuk ke sini. Urusan diplomasi, liburan, demi gengsi, cari wah, sok modern dan supaya dianggap warga dunia. Semua sepakat bahwa Singapura dapat dijangkau dengan modal. Lewat Jakarta, Yogya, Surabaya dan semua ibukota propinsi serba tersedia. Singkat kata rute penerbangan amat ramai dan tersedia.
Menurut sejarah Negeri Singapura dulu dipimpin oleh para Raja Melayu. Takdir bahwa Malaya jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511. Kisruh di Semenanjung Malaka ini mengundang penguasa dari Demak untuk membantu penyerangan raja Melayu. Dia adalah Pangeran Sabrang Lor atau Adipati Yunus. Berangsur angsur Malaka di bawah pemerintahan Inggris selama berabad-abad.
Sedangkan untuk kawan Sumatra dan Kepulauan Riau dijajah Belanda. Nasib kedua kekuasaan Malaya ini pun berbeda. Singapura tumbuh menjadi kota perdagangan yang maju dan modern. Dunia menoleh Singapura sebagai tempat singgah. Kemana saja terbang, Singapura adalah tempat transit yang cocok.
Kalau dipikir panjang, Singapura punya apa? Wilayah sempit, pantai sedikit, gunung minim, sumber daya alam tidak ada. Tetapi kenapa bisa makmur. Jawabnya adalah keberanian dan ketegasan sikap dalam berhadapan dengan Indonesia. Terus terang Singapura amat tidak memberi untung apa-apa pada RI. Bila perlu RI dikuras habis habisan. Tidak ada perasaan. Kita harus mau introspeksi.
Tanah di Singapura begitu sempit. Sumpek rasanya. Tidak ada ruang yang luas dan bawera. Negeri yang amat kecil dan sempit. Untuk hidup mat-matan tentu tidak mungkin. Tiap hari warganya ngoyo dan kemrungsung. Cari duit, cari duit. Tumpuk uang sebanyak banyaknya. Akal diputar terus.
Kekayaan yang diperoleh dengan akal-akalan menciptakan kepanikan. Dirinya akan curiga terus pada orang lain. Dengan dalih ketertiban, peraturan yang kaku dan ketat diterapkan. Dua kawasan yang berdekatan, tetapi punya aturan yang amat berlainan. Tanjungpinang egaliter, terbuka dan demokratis. Sementera negeri Singapura menerapkan peraturan yang kolot. Betul sekali bahwa rakyatnya cuma butuh makan, tetapi tata sosial demikian lambat laun terkikis juga.
Apabila ditelusuri lebih lanjut, sebenarnya banyak kejanggalan. Singapura tak punya sawah, ladang, laut, gunung, kerajinan dan pabrik. Mereka semata mata jual jasa dan bisnis. Kadang-kadang menggelikan. Barang produk Yogya, dijual di Singapura, tetapi yang beli orang Bantul, Sleman, Wonosari dan Gunung Kidul. Batik asal Solo di jual di Singapura, yang beli orang Boyolali, Sragen, Klaten, Wonogiri dan Sukoharjo. Sepatu buatan Bandung dijual di Singapura yang beli orang Tasikmalaya, Garut dan Ciamis.
Bisnis tipu menipu berlangsung terus. Batam, Kepri, Dumai, Lingga dan sekitarnya diperalat Singapura. Bangka Belitung sudah lama dikuasai, Sumatra Daratan dieksploitasi. Sungguh tidak enak bertetangga seperti ini. Indonesia itu besar, tetapi dipermainkan negara kecil. Malah dianggap remeh. Seolah olah Singapura itu atasan Indonesia. Citra sudah menjadi keyakinan umum. Elit politik, bisnis dan militer bermarkas di Singapura.
Orang Melayu yakin bahwa Singapura adalah tanah leluhur dan daerah kekuasaannya. Sekarang mereka tersingkir, tersungkur dan tergusur. Pendatang menjadi penguasa mutlak. Dunia ini cuma dibatasi soal ekonomi. Eksistensi bidang lain dianggap tidak ada. Elektronik, teknik dan politik bersatu. Berbungkus barang modern dan atas nama kemajuan alam agraris dan tradisi dijatuhkan. Tapi ingat, benda-benda alam itu menyehatkan. Segala bentuk rekayasa genetika tak ubah sampah. Polusi yang mengganggu peradaban.
Orang Melayu punya peradaban besar. Jangan ditukar dengan baru. Pengalaman berabad abad jangan ditukar benda sesaat. Nanti akan menyesal. Keaslian kita jaga. Itulah jalan yang benar.
Kebudayaan dengan akarnya memperkokoh kepribadian. Berdasarkan paparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa eksistensi kebudayaan Melayu terkait dengan faktor historis. Identitas naratif dan kearifan lokal. Dari perspektif historis kebudayaan Melayu mempunyai akar kesejarahan yang panjang, dalam konteks pergaulan antar bangsa.
Ditinjau dari aspek sosiologi masyarakat Melayu telah mewarnai suku-suku besar yang ada di Tanah Air. Melayu Palembang, Bangka Belitung, Padang, Riau, Deli Serdang, Aceh dan Medan merupakan bentuk komunitas yang khas dan harmonis. Demikian penyebaran suku Melayu di Semenanjung Malaka, Singapura dan Malaysia mempunyai ciri yang kokoh. Termasuk suku Melayu di kawasan Phatan Thailand. Hal serupa terjadi di Pulau Kalimantan serta Sulawesi, keberadaan budaya Melayu sungguh memberi kontribusi positif.
Identitas naratif Melayu menjadi sumbangan berharga bagi kokohnya jatidiri bangsa. Nilai-nilai luhur bangsa Melayu bisa menjadi tuntunan hidup, buat menggapai keselarasan, keserasian dan keseimbangan.
Propinsi Kepulauan Riau kaya tentang kearifan lokal. Dengan mengkaji budaya Melayu secara sistematis, integral dan komprehensif diharapkan memperkuat tali persaudaraan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
(LM-01)

